Suamiku Posesif

Suamiku Posesif
Kesibukan kerja


__ADS_3

Menuju ujian semester. Bekerja keras sebelum menjemput libur yang panjang. Sepertinya rencana bulan madu kedua akan terealisasi. Hehe, Ren sudah membuat list dana yang difasilitasi kakak-kakaknya. Papa ikut-ikutan. Mama bahkan punya rencana menyusul kami saat bulan madu nanti. Duh.


Sekarang saatnya untuk semangat bekerja.


Mari melanjutkan hidup dengan penuh syukur, dengan semua bahagia yang


setiap hari kita rasa. Kumasukan lembaran uang yang sudah ku gulung kecil dalam


toples bulat di atas kulkas. Hehe, ini sedekah harianku. Berapa nominalnya, gak


banyak kok. Aku malu menyebutkan angkanya. Mungkin hanya lembaran uang terkecil yang banyak beredar


di masyarakat. Aku sudah memulai rutinitas ini bahkan sebelum menikah dengan Ren.


Alhamdulillah masih tetap berlanjut sampai sekarang. Dalam toples kecil itu kurangkai doa setiap kali memasukan uang ke dalamnya.


Terkadang tanpa sepengetahuanku Ren memasukan lembaran uang di sana. Kok


aku tahu? karena nominalnya beda dengan yang setiap hari aku masukan. Jadi aku tahu, hehe. Ah,


itu hanya cara sederhanaku mensyukuri banyaknya nikmat yang Allah berikan.


Setelah terkumpul selama satu bulan, semua yang ada dalam toples itu akan


kumasukan dalam kantung kecil tanpa kuhitung. Kuberikan pada orang yang kurasa


membutuhkan.


Semakin banyak kita mensyukuri apa yang Tuhan berikan, aku selalu merasa


Tuhan semakin banyak memberiku kebahagiaan.


Kutepuk toples kecil itu. Memanjatkan doa kepada Tuhan.


Mari bersemangat lagi.


Aktivitas harian kembali di


hadapi. Aku masih mengikat ujung rambutku sedikit di belakang telinga. Aku sedang berada dalam gejolak batin. Namun belum berani mengambil langkah maju tentang hijab. Ren masih menunggu dengan sabar saat hatiku masih maju mundur. Bimbang.


Ya, hati serapuh benang yang cuma bisa dikuatkan oleh keyakinan iman. Aku sedang berjalan di atasnya.


Ditengah-tengah perang hatiku, persiapan ujian semester sudah ada di depan mata. Kesibukan guru membuat soal


ujian. Kerja keras siswa untuk belajar.  Diantara terpaan angin pagi ini, aku lihat kerumunan anak-anak yang


memulai hari dengan semangat. Seperti biasa bercerita tentang akhir pekan yang


menyenangkan.


Aku tersenyum dan membalas sapaan hangat dari murid-muridku. Mimpi kalian masih terbentang luas anak-anak. Belajarlah dengan giat.  Dan isi hari-hari berharga kalian dengan banyak


hal menyenangkan. Masa SMU akan selalu jadi kenangan indah.


Aku juga pasti tidak akan pernah lupa pernah berurusan dengan siswa yang satu ini.

__ADS_1


Dia menghadangku di depan gerbang kecil. Sepertinya memang menungguku. Berdiri dengan menekuk kaki menempel di tembok kelas. Tenang Ayana, tersenyum dulu saja. Andrian mendekat.


“ Makan bersama guru yang lainnya ya bu.” Menyodorkan sebuah boks bergambar


donat di depanku. “ Ini bukan pernyataan cinta, saya sudah tahu diri kok, setelah bertemu suami ibu.” Wahhh,


pelankan suaramu nak. Atau seantero sekolah bisa mendengarnya.” Ambilah bu.” Aku


ingin menolaknya. Sungguh. “Apa kabar suaminya Bu Aya?” Setelah Andrian


menanyakan itu, akhirnya boks donat berpindah tangan.


Aku masih kalah darinya.


“ Baik alhaamdulillah.”


“ Baiklah, sampaikan salam saya padanya.” Apa-apaan dia, pakai salam-salam. Mau membakar api lagi.


“ Tidak mau, hehe.” Memang aku mau cari masalah. Menjawab tegas tapi masih dibumbui tawa. “ Kembalilah ke kelas,


terimakasih donatnya. Ini yang terakhir ya. Ibu gak mau kalau masih ada setelah ini.” Aku mengangkat boks donat di tanganku.


“ Huh! Baiklah. “ Andrian menghela nafas. Ya, dia memang harus menyerah. “ Saya akan selalu mendoakan


kebahagiaan ibu.”


“ Terimakasih ya nak. Ibu juga akan mendoakan yang terbaik buat kamu.


Belajar yang rajin ya, semoga sukses persiapan ujian semesternya.”Kuucapkan tegas sebagai jarak pemisah yang jelas antara kami.


Hubungan kami ternyata tidak secanggung yang aku bayangkan. Lebih tepatnya dia yang bisa


menyapaku secara normal. Ya termasuk sekotak donat ini. Aku melanjutkan langkah


menuju kantor, mendapat sapaan beberapa murid.


Semoga waktu membunuh perasaan sukanya padaku.


“ Pagi Bu Aya.” Masih sibuk membereskan pekerjaannya. Guru menyapa.


“ Pagi Bu.”


“ Bu Aya bawa apa?” Melihat tanganku sumringah, sepertinya dia belum sempat sarapan.


“ Donat. Ada yang mau sarapan. Silahkan ambil” Tanpa sungkan datang menyerbu.


“Ih lucunya donatnya.Topingnya lucu-lucu. Beli di mana bu.” Ha, toping donat apa? Memang toping bisa seaneh apa sampai diributkan. Aku tidak mengintip boksnya tadi.


Apa-apaan itu bocah. Kenapa memberi toping donat dengan bentuk hati begitu. Ah, sepertinya waktu masih akan lama membuatmu melupakan perasaanmu.


***


Side Story


Renan di penghujung siang.

__ADS_1


Dia mengetuk pintu, setelah terdengar suara dari dalam dia masuk. Wajahnya dingin, tak mau basa-basi sekedar memberi senyuman ringan. Saat menghirup udara di ruangan yang sama saja dia merasa jengah.


“ Renan.” Bu Tiwi bangun dari kursi kerjanya.Sejak hari itu, saat melihat


bawahannya ini, dia merasa canggung dan malu. Dia sebisa mungkin menghindar. Terkejut ketika Renan sendiri yang ada di hadapannya tanpa dia panggil.  Berdehem pelan sambil mempersilahkan Renan duduk. Dia pun duduk lagi di kursinya. Renan tetap berdiri, dan tidak mau berlama-lama.  “ Kenapa?” Berusaha menghindari pertemuan pandangan mata.


“ Saya mau mengajukan cuti tahunan Bu di akhir tahun ini.” Renan


menyerahkan suratnya, meletakan langsung di meja.


“ Baiklah, akan saya periksa nanti.”


“ Terimakasih Bu.Saya permisi.” Benar-benar tak mau basa-basi.


“ Tunggu Renan.” Renan menghentikan langkah kakinya.  Berbalik ke arah Bu Tiwi.Masih tanpa mengendurkan syaraf bibirnya.“ Terimakasih


nasehatnya, saya sangat berterimakasih karena perkataan Renan saya tersadar.” Bu Tiwi melanjutkan kalimatnya.


“ Saya sudah mengatakannya akan melupakan kejadian itu, saya anggap


tidak pernah terjadi. Ibu tidak perlu melaporkan apa-apa pada saya.” Lagi-lagi


memberi garis batas yang sangat jelas.


" Baiklah. Sekali lagi maaf ya."


" Saya permisi Bu."


Renan tidak pernah membuat ruang abu-abu di depannya.


“ Senior, senior dari mana?” Mita  mengekor setelah melihat seniornya muncul. Sedari tadi dia menunggu. " Kenapa ke ruangan Bu Tiwi? Dia gak pernah lagi makan siang di kantin kantor, padahal dulu sering banget ngikut kita makan di kantin." Nyerocos tanpa diminta. " Senior, sudah dengar cerita dari Kak Aya belum."


" Hemm." Menenteng kotak bekal sambil membuka pesan hp.


" Kak Aya bilang apa? Bilang aku ketemu cowok manis banget kemaren di kampus gak. Haha, jadi  malu." Padahal Renan cuma memicingkan mata, lebih antusias membaca pesan dari istrinya. " Senior aku mau melepas masa jomblo. Hihi, jadi malu."


" Memang dia sudah mengajakmu pacaran?"


Mita seketika membatu.


" Sudah sana pesankan aku jus, pacaran itu hubungan yang terjalin antara dua belah pihak." Tertawa. "Kalau hanya sepihak itu jomblo ngarep namanya. Haha, hapus airmatamu, belum apa-apa sudah nangis."


Mita lupa fakta itu. Dia bahkan belum mendapat pesan apa pun dari adik tingkatnya. Padahal dia sudah berdebar menunggu.


" Senior jahat!"


" Haha. Jangan sedih gitu donk. Sudah sana pesankan aku jus." Ntahlah, dengan Mita Renan bisa mengumbar candaan seenaknya.


Merengut, tapi pergi juga.


Mita berdiri, pandangannya menerawang jauh. Dilihatnya layar hpnya. Sepi. Saat dia menunggu jus dan makanan pesanannya hpnya bergetar. Walaupun agak malas diambilnya hp dari kantong baju. Saat melihat siapa yang mengirim pesan, dia langsung memekik dan melompat-lompat girang. Pesan dari si Manis Haikal.


Waahhh teman siapa si anak itu. Renan.


Bersambung....

__ADS_1


Wahhh Mita, aku gak nyangka kamu satu kampus sama Haikal  ^_^


__ADS_2