Suamiku Posesif

Suamiku Posesif
Ulang tahun pernikahan


__ADS_3

Selepas sholat isya, malam yang sejuk, diluar angin juga berhembus dengan tenang. cuaca cerah namun tidak panas. diluar rumah masih terdengar suara anak-anak berlarian selepas sholat dari masjid. memanfaatkan waktu bermain sampai maksimal, sebelum para ibu berteriak memanggil.


Sementara aku dan Ren menikmati waktu kami berdua.


“ Selamat ulang tahun.” Aku dan Ren duduk di karpet di depan


tv. Di depan kami ada kue coklat yang dia beli ditoko tempat kami makan es


cream gratisan waktu itu. Lilin dua buah ada diatasnya. Kami bernyanyi dengan suara alakadarnya, lalu


tertawa dan meniupnya bersama.


“ Selamat ulang tahun untuk kita berdua.” Muah, muah, muah.


Ren menciumku sampai aku ambruk di atas bantal. “ Terimakasih untuk dua tahun


ini. Aku mencintai kakak.” Kami berciuman cukup lama, sampai dia sudah tidak


bisa mengkondisikan tangannya.


“ Sayang, kita mau makan kuenya dulukan. Bangun!” kudorong tubuhnya, aku tahu sia-sia, tapi terus saja kucoba.


“ Gak mau. Mau peluk kakak lebih lama.” Dia benar-benar


memeluku sampai dia merasa puas, setelah dia merasa cukup dia bangun sendiri. Lalu


menarik tanganku.


“ Hari ini kakak makin cantik dari biasanya lho?” mengusap pipiku dengan tangannya yang lembut. mencium pipiku sekali lagi.


“ Benarkah?”


“ Kakak makan apa ya kok bisa jadi makin cantik begini.” Ren


menempelkan hidungnya kehidungku, lalu mengoyangkan wajahnya gemas.


“ Gak makan apa-apa kok, cuma makan cintanya ren.” haha, ada yang mau kebelakang, muntah. Haha, bercanda.


Aku mengambil piring, mengiris kue, lalu meletakan


potongan besar disana. Kuserahkan sendok padanya, aku juga memegang sendok. “


Ayo makan! Untuk cinta Ayana dan Ren, semoga Allah menjaganya sampai akhir usia


kita.” Ren mencium bibirku lembut, lalu kami makan kue.


“ Rasanya masih sama enaknya ya.”


“ Kakak suka.” Ren mengusap kepalaku. Lalu dia juga makan. Kami


menghabiskan potongan besar cake yang ada dipiring. Kutawari dia apa mau lagi


dia menolak. “ Sekarang saatnya membuka hadiah!” dia bangun dari duduk. Bersemangat


sekali.


Ren muncul dari luar rumah membawa setumpuk hadiah. Dua buah


kotak besar, tas kertas. Dia meletakan di depanku. Apa ini! Dia tidak


membelikan aku barang-barang mewahkan.


“ Mama kasih apa ya? Kunci mobil bukan ya. Haha, bercanda


kakak, aku gak minta mobil kok, beneran.” Ren terbahak saat melihatku


menatapnya tajam. Awasya kamu kalau beneran minta mobil. “ Ini dari mama sama


papa.” Ren menyodorkan kotak berukuran kecil, meletakannya di depanku. “Ini


dari kakak pertama.” Sebuah kotak besar. “Ini dari kakak kedua, haha, taulah


dia paling malas suruh pilih barang, jadi dia kasih uang tunai.” Apa coba.


Aku membayangkan kakak kedua melemparkan amplop uang pada Ren sambil


rebahan di sofa, sambil bilang “ Ambil ini, jangan menyusahkan orang, cari

__ADS_1


sendiri hadiah yang kalian suka.” Kakak kedua Ren hanya rajin kalau memasak


saja, diluar itu jangan tanya.


“ Kalau ini dari kakak ketiga.” Ren menyodorkan Tas kertas. “


Dan ini spesial dariku, tarara, untuk istriku tercinta.” Kotak paling besar


dari semuanya. “ Ayo buka satu-satu, dari punyaku dulu.”


Ren mendoron kotak besar kedepanku. Kuusap kotak itu


ditanganku, meraba isinya. Jangan bilang baju tidur seksi dengan belahan dada


terbuka.


“ Haha, tebakan kakak benar.” Ren tertawa terbahak-bahak


saat aku membuka kotak. Aku meliriknya. “Apa? Wajib dipakai setiap hari ya.” Dia


masih tertawa. Lalu memeluk dan menciumku. “I love you kak, terimakasih karena


mencintaiku.” isinya banyak sekali.


Kutepuk bahunya lama. “ Terimakasih ya, untuk semua cintamu.”


Lalu satu persatu kubuka semua hadiah yang diberikan


keluarga Ren. Mama dan papa memberi kami tempelan kulkas yang sangat cantik,


ada foto kami berdua saat pernikahan. Dan sepertinya ini bukan barang murah,


aku bahkan melihat sertifikat di bagian bawahnya. Dan juga ada cincin cantik


yang tidak akan mungkin aku pakai kalau tidak keacara khusus. Duh mama, ini


pasti dibuat khusus untuk kami. Kakak pertama memberiku dua buah tas, dan aku


rasa harganya pasti diluar jangkauan gajiku. Kakak kedua memberi kami uang


kakak ketiga memberiku pakaian untuk bekerja. Lho, kenapa semuanya untukku. Inikan


ulang tahun pernikahan kami, bukannya ulang tahunku.


“ Sayang.” Aku mengusap kepala Ren disampingku, dia sedang


melihat pakaian yang diberikan kakak ketiganya. “ Kok semuanya hadiahnya buat


aku? Inikan pernikahan kita, bukan ulang tahunku.”


Lalu berceritalah Ren.


Hari ini Ren pulang kerumah mama, karena mama bilang ada hadiah


pernikahan untuknya dan aku. Ini memang kebiasaan dikeluarga Ren, setiap ada


momen khusus mereka memang selalu berbagi hadiah. Tapi tentu saja yang paling


spesial kalau semua berhubungan dengan Ren. ulang tahun Ren, ulang tahun


pernikahan kami, ataupun ulangtahunku. Kami selalu dibanjiri hadiah mewah. Terkadang


aku merasa tidak enak, karena aku tidak bisa membalas mereka. Tapi setiap kali


aku mengutarakan ketidaknyamananku, mama atau ketiga akakak Ren selalu


mengatakan. “ Ayana kau mencintau Renan kami itu sudah lebih dari cukup sebagai


hadiah untuk kami.” Aku menangis saat itu saat mereka bicara.


Baiklah, kembali kecerita Ren.


Dirumah mama Ren membuka semua kado. Protes dia.


“ Kenapa kadonya buat kakak semua? Mama juga cuma kasih buat


kakak. Inikan ulang tahun pernikahan kami.” Gerutunya memandang kado yang

__ADS_1


diberikan orangtua dan ketiga saudaranya.


Kakak kedua mendekat. Menepukan amplop kedadanya. “Nih beli


sendiri ya kadonya, tapi jatah Aya lebih besar dari jatah buat kamu.”


“ Aaaa, gitukan pilih kasih. Adik kalian aku atau kakak si.”


Merengek, sambil memasukan amplop kedalam tas, bercampur dengan hadiah kakak


ketiga.


“ kemarilah adikku yang tampan dan manis. Kakak kasih tahu


ya.” Renan mendekat, duduk disebelah kakak kedua dan mama. “ Kamu sudah gak


perlu hadiah apa-apa dari mama dan kami, karena apa, kamu sudah dapat hadiah


paling besar yang ada dimuka bumi ini.”


“ Apa?” Renan menjawab binggung.


“ Apa lagi, ya istrimulah. Kamu sudah dapat hadiah besar itu


Ayana, memang apalagi.”


Ren memeluk kakak keduanya dan mama bergantian, mencium pipi


mereka.


“ Kalian kok tahu si, haha, kakak memang hadiah istimewa


yang diberikan Tuhan padaku.”


Akhirnya dia membawa semua kado dari keluarganya dengan


perasaan bahagia.


Aku tertawa, memeluk Ren, apa si keluarga ini. Aku ingin


ngakak sekaligus malu secara bersamaan. Cara berfikir mereka kadang diluar batas


manusia normal sepertiku. “Terimakasih ya, untuk semuanya, karena Ren membuatku


disayangi oleh banyak orang.”


" Sekarang mana hadiahku?" seringai muncul dibibirnya, ya, ini pasti momen yang paling dia tunggukan. meminta hadiahku.


Aku bangun dari duduk. "Tunggu ya, aku ambil dikamar."


" Wahh, kakak mau kasih apa ni ya kira-kira." Ren sudah mau bergerak mengikuti. aku berhenti melangkah menyuruhnya diam ditempatnya. Dia patuh, dan kembali duduk dikarpet.


Agak cukup lama aku di dalam kamar. ya Tuhan, apa benar aku tidak setau malu ini. antara maju dan mundur, sudahlah, biarkan aku tidak tahu malu untuk hari ini.


" Sayang, pejamkan matamu dulu ya, aku mau bawa hadiahnya ni."


" Kenapa harus pakai memejamkan mata segala." protes.


" Kalau gak mau gak jadi ya hadiahnya." aku mengancam sambil mengintipnya dibalik pintu. saat memastikan dia sudah menutup mata aku berjinjit keluar kamar mendekat.


" Sekarang sudah boleh buka mata."


Ren duduk, membuka matanya perlahan menatapku. Wajahnya tiba-tiba berubah merah.


" Kakak jangan menyesal lho sudah memberiku hadiah ini." Aaaa, tunggu, aku bahkan belum bergaya seksi atau mengodamu. Ren sudah mengangkatku dalam gendongannya.


" Suka?"


" Ini hadiah terindah untukku, jangan pernah mengambilnya lagi ya." Muah, muah, mencium bibirku sambil membawaku masuk kekamar, dia menendang pintu dengan kedua kakinya.


 


BERSAMBUNG...........


Epilog:


Aku pasti sudah gila, hari ini aku membeli baju tidur yang masuk kategori seksi untuk ukuranku biasanya. sebuah pita warna senada dengan baju tidur, juga bantal bulu imut dengan warna pink. aku akan memakai baju tidur ini, membuat simpul pita dileherku dan memegang bantal berbentuk hati di dadaku. serta bergaya seksi dan mengodanya. Ya inilah aku, hadiah ulang tahun untuk Ren dipernikahan kami yang kedua. setengah mati menahan malu, apa aku akan berani melakukan perbuatan ini. ntahlah, aku juga masih ragu.

__ADS_1


__ADS_2