Suamiku Posesif

Suamiku Posesif
Muridku (Part 1)


__ADS_3

Akhir pekan yang menyenangkan sudah


lewat. Aku harus kembali kerutinitas harianku. Pergi mengajar. Ren juga


demikian, sudah harus mulai kembali bekerja. Beginikan yang namanya kehidupan.


Kita harus menjalani setiap rutinitas seperti waktu yang berputar. Tanpa henti,


dari satu hari kehari berikutnya. Mungkin dengan kegiataan yang sama, bertemu


dengan orang yang sama. Jadi saranku, pilihlah pekerjaan atau apapun yang


kalian jalani sekarang adalah sesuatu yang kalian sukai. Karena dengan menyukai


apa yang kalian lakukan akan membuat kalian menjalani hari yang menyenangkan.


Aku sedang menyiapkan bahan ajar  di kantor, duduk di kursiku. Pelajaranku nanti


setelah kelas pagi. Di kelasku sendiri dimana aku adalah wali kelasnya. Beberapa


guru juga sedang melakukan hal yang sama di ruangan ini.  Aku kembali berfikir tentang bocah bernama


Andrian. Dua hari tidak bertemu apa dia masih akan memelototiku sepanjang


pelajaran.


“ Bu Aya sedang sibuk gak?”


Pak Bahar menghampiri meja kerjaku.


Dia membawa sebuah buku tulis. Mungkin buku PR anak-anak.


“ Ada apa pak bisa dibantu? saya sudah


selesai menyiapkan bahan untuk mengajar nanti.”


Dia menarik kursi dari sebelah meja


kerjaku, duduk di depanku. Ada apa ini, biasanya kalau sudah seserius ini


kadang ada masalah dengan salah satu muridku dimata pelajarannya. Dia


menyerahkan buku yang dia pegang. Kubuka lembar pertama, ingin melihat buku


apa. Tertulis nama pemiliknya dan kelas. Aku sudah menghela nafas.


“ Sudah tiga kali PR dia tidak


mengerjakan bu, cuma kumpul buku PR aja, tapi tidak ada yang dikerjakan.”


Hanan Satria, pelajar SMU yang


konon katanya sedang merintis karir menjadi selebgram dan juga seleb vidio di


channel pemutaran vidio. Vlogger begitu katanya. Aku sudah gemas dengan anak


ini dari lama. Jadi, dia pernah terlibat dalam rekaman diam-diam di dalam


kelas. Padahal di sekolah ini ada peraturan di larang membawa hp. Jadi hp


dikumpulkan pada saat masuk dan akan dikembalikan pada jam pulang. Tapi tahu


yang dia pakai untuk merekam apa, dia membawa kamera profesional.


Belum lagi suka menjahili siswa


perempuan dengan alasan prank, prank. Alhamdulillah, aku belum pernah kena


kejahilannya. Dia masih menghormatiku sebagai gurunya. Sekian dulu penjelasan tentang


Hanan ya.


“ Bapak sudah coba bertanya pada Hanan?” Kembali kepada Pak Bahar ya.


“ Dia jawab tidak ada waktu karena


harus update content sosial medianya. Apa gak kelewatan anak itu, saya sudah


marahi beberapa kali di depan kelas, tapi sepertinya dia gak ada malu atau


jeranya.”


Ya, sia-sia jika membuat Hanan


malu, karena sepertinya dia terlalu percaya diri. Memang itu modal utama


menjadi seleb dunia maya.


“ Pelajaran bu Aya gimana?” Tanya pak Bahar lagi.


“ Baik-baik saja pak, dia mengumpulkan semua tugas dan ikut tes. Ya nilainya masih rata-rata memang.”


“ Dasar! jadi cuma pelajaran saya dia begitu.” Suara pak Bahar terdengar agak gusar, karena dia jadi berfikir


bahwa Hanan tidak menghargai dia.


“ Maaf ya pak, nanti saya panggil dia untuk tanya alasannya apa. Bukunya Hanan saya pinjam ya pak.” Aku meminta maaf mewakili Hanan terlebih dahulu. Paling tidak membuat pak Bahar tidak


merasa kecewa.


Pak Bahar mengangguk saja, dia


sudah berdiri dan memulangkan kursi di tempatnya semula.

__ADS_1


“ Makasih ya bu, saya jadi merepotkan.”


“ Gak papa pak inikan sudah tanggung jawab saya.”


Pak Bahar berlalu setelah menyelesaikan urusannya denganku.


Aku kembali ke kursiku. Sebentar


lagi pergantian kelas. Kusiapkan buku teks dan absensi. Setelah beres kuambil


hp. Ren sedang apa ya, hehe. Aku ingin mengodanya kalau dia tenang begini. Aneh


ya, kalau dia menghujaniku dengan pesan kadang aku sampai malas membalas, tapi


kalau hp sepi dari pesannya aku jadi kangen. Dasar manusia gak punya pendirian.


Hehe.


Aku mengambil foto selfi dengan


gaya imut, lalu kuedit dengan filter biar makin membuat Ren gemas. Dasar ya,


lupa deh usiaku berapa. Kadang bersifat kekanakan begini manis juga. Haha.


Kukirim gambarku. Tiga gambar rasanya cukup.


Apa! dia menelpon. Aku terkejut


melihat hp yang berkedip-kedip. Balas chat aja ngapa, sewotkan aku. Tadi


bilangnya kangen. Lagi-lagi perempuan, banyak maunya.


“ Assalamualaikum.” Aku menempelkan


tanganku di depan mulut, agar suaraku tidak keluar dengan keras.


“ Kakak sudah melakukan kejahatan


apa?” Haha apa coba ini anak. Pasti berfikir kalau aku baik kalau tidak ada


maunya pasti kalau aku melakukan pelanggaran peraturannya.


“ Apa lho sayang, lagi iseng sambil


nunggu jam pelajaran. Kamu lagi apa? Kok malah bisa nelfon?” aku celingukan,


memastikan suaraku masih dalam radius aman pendengaran orang lain. Guru-guru


masih sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.


“ Habis kakak mengodaku, aku jadi


ingin pergi menjemput kakak sekarang.”


“ Hei, hei jangan gitu donk, aku mengajar sebentar lagi ni. Sudah dulu ya?”


“ Hei akukan yang nelfon.” Katanya kesal.


Peraturan perihal telefon, siapa yang menelfon dialah yang boleh menutupnya duluan. Atau kalau tidak harus


mendapat izin menutup telfon duluan. Aku melirik jam dinding. Sebentar lagi bel


pergantian kelas.


“ Sayang sebentar lagi aku harus mengajar lho.”


“ Aku merindukan kakak, apa kakak juga merindukanku.” Tidak perduli aku bilang apa sepertinya.


“ Ia kangen, tidak lihat fotoku tadi, itu istri yang lagi kangen sama suaminya. Hehe.” Kumohon, sudahi telfon


ini Ren.


“ I love you kak.” Aku mendengar Ren


bicara dengan seseorang, suara seorang wanita. Terimakasih Tuhan, sepertinya


dia juga sedang sibuk.


“ Sedang sibuk ya, kalau gitu tutup dulu ya sayang.”


“ Itu bu Tiwi, minta laporan divisi.” Ia, ia ayo tutup telfonnya Ren aku mau mengajar. Sepertinya aku sudah


cari mati dengan keisenganku mengiriminya pesan.


“ Kakak aku akan pulang agak cepat


nanti, mau kubelikan sesuatu untuk makan malam.” Tawarannya membuatku bahagia.


Serius ya, kalau dia menawariku ingin dibelikan apa, artinya dia menyuruhku


main sepuasnya. Gak usah mikirin makan malam. Siapa juga yang tidak akan girang.


“ Asik, aku gak usah masak ya berarti?” Santai sore hari ini, sambil ngumpul tetangga kompleks.


“ Kakak mau apa?” Tanyanya lagi.


“ Apa aja boleh?” Jurus jitu karena aku sedang malas berfikir.


“ Kakak yang putuskan, kirimi aku


pesan nanti ya. Kalau gitu sekarang boleh tutup telfonnya, tapi bilang dulu i


love you.” Aku bisa mendengar dia tertawa.

__ADS_1


“ Ia, ia, i love you sayang. Aku


tutup ya.” Aku mendengarnya menjawab dengan kata-kata yang sama. Lalu kututup


telfon. Bertepatan dengan bell pergantian pelajaran.


- - -


Kelasku dimulai. Melihat sekumpulan


remaja penuh semangat, aku juga ikut merasa bertenaga setiap masuk ke kelas.


Ya, masa SMU masa menyenangkan dimana kamu bisa melakukan banyak hal. Kamu


punya energi dan semangat tanpa batas. Untuk berusaha mewujudkan impian.


“ Selamat pagi semuanya.” Aku menyapa


sambil membawa langkahku memasuki kelas.


“ Pagi bu Aya!” Kompak semua menjawab.


“ Apa kalian semua bersenang-senang selama akhir pekan?”


Suasana menjadi ramai lagi. Aku meletakan buku dan duduk di kursi. Semua bercerita dengan teman sebangku. Mereka sebenarnya berbisik-bisik. Tapi itu namanya bukan berbisik anak-anak.


Aku bahkan bisa mendengar apa yang kalian bicarakan.


“ Ada yang mau bercerita ke depan


pengalaman menyenangkan kalian akhir pekan ini.” Percayalah, ini adalah sesi


paling menyenagkan di hari senin. Sebelum belajar aku selalu memulai kelas


seninku dengan hal seperti ini.


Aku menunggu sambil menyapu


ruangan, memandang muridku satu persatu. Banyak yang menunjukan jarinya,


anak-anak yang belum pernah maju kedepan tentunya. Saat mereka melihat Andrian


mengangkat tangannya, mereka yang tadi menunjuk dirinya sendiri berubah haluan


menjadi pendukung Andrian. Sudah seperti sponsor mereka meneriakan nama Andrian


berulang.


“ Andrian aja bu, Andrian yang maju ke depan. Kita ingin tahu dia ngapain akhir pekan ini.” Beberapa anak sangat bersemangat mempengaruhi yang lainnya. Mereka pasti penasaran sekali.


“ Silahkan maju Andian, sepertinya


teman-temanmu ingin sekali mendengar cerita akhir pekanmu.”


Dia tidak menjawabku. Tapi langsung


berjalan ke depan. Fansnya memberi semangat tanpa dikomando, kompak sekali.


Kapan mereka membuat yel-yel dukungan itu. Aku hanya bisa geleng kepala. Kekuatan


fans itu luar biasa ya.


“ Baiklah tenang! Silahkan Andrian waktu dan tempat ibu persilahkan.” Aku tersenyum kepadanya. Apa! dia malah menatapku setajam itu.


“ Assalamualaikum, saya Andrain.


Disini saya akan menceritakan pengalaman menyenangkan saya diakhir pekan.”


Tepuk tangan dari segala penjuru kelas, anak-anak cowok juga ikut tepuk tangan karena dipelototi fans Andrian.


“ Saya pergi kencan makan es cream di sebuah toko es cream yang baru dibuka.”


Gaduh. Selamat Andian, aku geram sendiri, kamu membuka kalimat pengantarmu dengan sebuah pukulan telak bagi para fans kamu. Dan telah menciptakan kegaduhan.


“ Kencan? Jadi Andian sudah punya pacar.” Lebih pada keprotes.


Lho kok protes, melotot padaku lagi. Apa salahku nak, yang bercerita ada di depan kalian sekarang. Silahkan layangkan protes kalian pada tempatnya.


“ Siapa pacarnya Andrian?”


“ Bisa tenang anak-anak, biarkan


Andrian melanjutkan ceritanya.” Ketika kelas kembali tenang, aku mempersilahkan


Andrian untuk memulai ceritanya.


Wahhh, ternyata anak ini


benar-benar sangat populer di sekolah ya. Aku jadi teringat kejadian makan


siang di depan lab kimia. Kalau dia sepopuler itu, kenapa sampai makan siang


sendirian.


Cerita Andrian cukup mendetail,


baik tentang tempat ataupun perasaan yang ia rasakan saat ia kencan makan es


cream. Mungkin benar, ia sedang berkencan dengan kekasihnya. Ah, aku juga ingat


kencan menyebalkan saat aku makan es cream bersama Ren. Bagaimana kami bisa


punya kencan yang sama diakhir pekan begini.

__ADS_1


BERSAMBUNG...........


__ADS_2