
Hari penting sudah ada di depan mata. Renan berdiri di dekat tempat tidur, tersenyum dengan bangga melihat apa yang berjejer rapi di atas tempat tidurnya. Semua amunisi pengintaian hari ini. Kacamata hitam, topi, jaket, syal dan juga koran. Dia bahkan sudah merasa menang bahkan saat belum keluar dari kamarnya sekali pun.
" Apa-apaan kamu?" Kakak kedua terpingkal melihat aksi penyamaran adiknya. Sementara mama tersenyum sambil memalingkan wajah menahan tawa. Dia tahu, anaknya akan marah kalau dia ikut tertawa.
" Mama!" Nah kan benar, Renan sudah merengek kesal. " Diam Kak!" ujarnya gusar pada kakak kedua yang belum berhenti dengan tawanya. " Ma, apa aku terlihat mencolok begini? Tidak kan?" Tawa kakak kedua semakin menjadi mendengar pertanyaan adiknya. Setelah melotot Renan mengacuhkan kakak kedua dan beralih meminta pendapat mama, yang menurutnya jauh lebih objektif. " Ma!"
" Hemm." Mama bergumam serius sambil memperhatikan dari ujung topi sampai kaki putranya. "Tapi Mama gak enak mau bilang, nanti kamu marah lagi." Renan menggeleng keras. Kalau dia tidak akan marah walaupun mama berkata jujur. " Sebenarnya yang paling mencolok itu wajahmu." Langsung di sambut tawa kakak kedua dengan sangat kejamnya.
" Mama!"
" Haha, habis gimana anak Mama kan memang yang paling tampan." Muncul seringai tawa, sambil masih melirik kakak kedua.
" Sudah-sudah, sini kamu." Kakak kedua menarik tangan Renan setelah puas menertawai adik kesayangannya. "Kacamata, topi, bolehlah. Tapi ini, apa-apaan coba." Menarik jaket dan syal yang melingkar menutupi sebagian wajah. " Memang ini negara apa? lagi musim dingin, lepas!"
"Nanti wajahku ketahuan donk." Menahan syal di lehernya.
" Ckck, sepertinya benar kata mama. Dari semua benda ini yang paling mencolok mata itu wajahmu.Tinggal saja wajahmu di meja dapur sana." Masih dengan tawa di ujung kalimatnya.
" Kakak!"
" Haha. Ia, maaf, bercanda." Menepuk pipi adiknya gemas. " Lepas jaket sama syal kamu. Ini lagi, apa-apaan si." mengibaskan koran yang ada di tangan kiri Renan. "Kamu belajar jadi detektif dari film prasejarah ya. Memang ada anak muda zaman sekarang yang baca koran." Merebut apa yang dipegang adiknya.
" Itu kan, bukan buat dibaca,tapi buat menutupi mukaku."
" Sudah kubilang, tinggal saja mukamu yang mencolok itu."
" Kakak!"
Kakak kedua berhasil membuat adiknya murka, sekaligus puas tertawa.
" Lagi pula dapat dari mana si kamu koran ini." Melihat ke arah mama. " Memang Mama masih langganan koran ya?" Menggeleng tidak percaya.
" Papamu kan masih suka baca koran," jawab mama. Melestarikan kebiasaan lama yang sudah nyaris punah hilang ditelan peradaban maju.
" Ckckck." Kakak kedua berdecak.
" Kakak! Penting gitu bahas koran sekarang."
Ketiga orang itu masih meributkan koran, dan ntah kenapa membahas koran ternyata menyenangkan. Sampai akhirnya Renan tersadar dengan bunyi alarrm yang ada di hpnya. Ayana tertulis jelas di hpnya.
***
Akhirnya penyamaran hari ini hanya menggunakan topi dan kacamata hitam. Walaupun tidak sanggup menutupi semua bagian yang paling mencolok darinya. Itu lebih baik, setidaknya dia terlihat seperti remaja normal lainnya.
Misi pengintaian dimulai.
“ Mama, aku sudah melihatnya.” Laporan pertama.
Sebuah pesan terkirim, tanda getar yang menyusul tidak lama setelah pesan terkirim adalah tanda
balasan. Renan mengetikan pesan lagi di hpnya, sementara matanya tetap siaga
melihat ke depan. Tidak ingin terlewatkan sedikit pun pengamatannya.
Siaga satu, calon istrimu ada di depan sana. Begitu kobaran semangat yang menyala-nyala di belakang punggungnya.
“ Dia cantik.” Begitu bunyi pesan yang ia tulis lagi, membalas deretan pesan penasaran mama. Wanita itu sedang senyum-senyum sendiri di rumah. Sambil ngemil somai yang dia beli di Central Park sepulang dari tokonya di Grand Mall.
Dari ratusan orang yang berkumpul tidak jauh darinya, Renan bisa langsung
menemukan sosok yang ia kenali hanya dari melihat foto-fotonya saja. Ayana bahkan
__ADS_1
jauh lebih cantik daripada yang di foto, gumamnya sendiri.
Renan masih ada di tempatnya mengintai. Walaupun wajahnya jelas terlihat
mencolok, bahkan, sejak dia duduk di tempatnya dia sudah mendengar beberapa gadis
berbisik membicarakannya. Tapi misi utamanya hari ini jauh lebih mulia daripada
sekedar tebar pesona. Membuatnya sama sekali tidak meladeni sapaan mereka. Baik yang terang-terangan mendekat, atau yang sekedar melirik.
Dari kejauhan terlihat kesibukan. Beberapa guru mengatur anggota rombongan. Mereka
mengelompokan anak-anak perkelas dengan wali kelas masing-masing sebagai
pendamping. Memudahkan pengawasan.
“ Kalian sudah menyelesaikan semua agenda sekolah hari ini, setelah ini
makan siang dan acara bebas.” Suara keras dari guru penanggung jawab acara.
“ Horeeee!” teriakan tanpa dikomando menyambut.
Penanggung jawab acara memberi
pengarahan sebentar tentang acara bebas. Apa yang harus diperhatikan, apa yang harus dijaga. Sejauh mana siswa harus tetap mentaati peraturan sekolah. Setelah selesai, anak-anak bubar dan mulai mengantri, mengambil makanan dari guru pendamping mereka.
“ Bu Aya, Bu Aya, sini, makan di sini!” Seorang guru wanita menoleh
mencari asal suara. Beberapa siswa membentuk kelompok kecil sudah mulai membuka makan siang
mereka. “ Lihat Bu Aya pakai baju bebas seperti anak SMU lagi ya?” seseorang
nyeletuk saat guru wanita itu sudah duduk. Disusul anggukan sependapat dari
Sementara itu Renan semakin mendekat, walaupun tetap tidak terlihat
karena kerumunan pelajar SMU di sekitarnya.
“ Mama, dia baik. Murid-muridnya menyukainya.” Pesan kembali terkirim.
Kesimpulan yang ia dapatkan setelah mengamati calon istrinya. Renan bahkan mengutuki dirinya sendiri, dia benar-benar seperti terhipnotis. Dulu dia ingat sekali, saat kakak keduanya mengatakan tentang
cinta pada pandangan pertama saat bertemu suaminya yang sekarang. Dia ingat
sekali, dia yang paling kencang tertawa. Ya, kakak beradik itu memang senang menertawakan kelakuan satu sama lain.Tapi sekarang, dengan tidak berdayanya dia mengakui. Bahwa takdir Tuhan itu
penuh misteri di dalamnya. Bahwa perasaan suka terkadang muncul tanpa alasan
yang masuk akal.
Dan kenapa hatiku mengiyakan begini.
Masih tidak habis pikir, lebih-lebih saat matanya hanya bisa melihat Ayana. Walaupun gadis itu di kelilingi banyak orang.
Dan acara bebas datang setelah selesai acara makan siang. Si pengintai
kembali menajamkan indranya. Mengikuti ke mana guru wanita itu berjalan. Dia menubruk tembok keras, saat tiba-tiba Ayana berbalik. Gadis itu celingukan mencari sesuatu. Lalu dia terlihat mengelengkan kepala dan mengeryit.
Sial! aku tidak ketahuan kan?
Jantung Renan berdebar kencang, dia masih menempel di tembok dan berhenti mendekat. Mencari ruang aman. Mengintip dengan sedikit kepala yang muncul. Ayana masih celingukan seperti mencari sesuatu. Renan tanpa sengaja membenturkan kepala ke tembok. Dia menjerit karena terkejut sendiri. Beberapa orang terlihat berbisik, tapi sepertinya memaafkan karena wajah tampannya.
__ADS_1
“ Bu Aya, ikut kami jalan-jalan yuk. Nanti kita sama-sama naik wahana bermain ya Bu.” Dua orang siswa menarik tangan guru wanita itu, saat ia masih terlihat melihat ke berbagai arah. Guru itu sedang memperhatikan persebaran murid-muridnya.
" Baiklah, sebentar ya, Ibu pamit sama yang lain dulu." Dia berbalik dan menemui guru yang lain.
Setelah berpamitan dengan guru-guru lain yang masih menghabiskan makan siang, akhirnya
dia berlalu mengikuti murid yang mengajaknya. Dia terlihat akrab dan berbaur
tanpa canggung, walaupun ada jarak usia diantara mereka. Walaupun ada dinding
pemisah sebagai guru dan murid, tapi secara kasat mata tak ada jarak antara
mereka.
Sepertinya dia benar-benar gadis yang baik, guru yang dicintai
murid-muridnya sudah lebih dari cukup untuk membuktikan itu.
Ntah karena bibit suka sudah ditabur oleh mama, atau tersemai sendiri di hatinya. Renan merasakan getaran aneh di luar kendalinya. Hatinya yang tertarik, matanya yang tidak mau berpaling. Ah, benarkah untaian takdir yang dibuat Tuhan bisa dirasakan manusia begini.
Saat Renan sedang lengah karena mengirim pesan pada mamanya terdengar
sedikit keributan kecil. Saat matanya mencari sumber suara, ternyata wanita itu
ikut terlibat di sana.
Kenapa ini? Aku bahkan tadi masih bisa mendengar suara tawanya dengan
anak-anak. Kenapa sekarang sudah rebut begitu.
Dia yang ikut panik ikut mendekat.
“ Ada apa ya, kok ramai di sini?” tanyanya pada siswa-siswa yang bergerombol.
" Ada yang ketahuan sedang ciuman sama Bu Aya." Siswa yang ditanya menoleh, langsung tekejut. " Kakak siapa?" Menyentuh dadanya yang berdebar.
Haaa, kenapa ganteng banget.Dia bertanya padaku lagi. Hah, aku siapa?
" Ahhh, aku. Aku cuma orang lewat." Renan sambil lalu menjawab. " Jangan perdulikan aku, lihat ke depan lagi." Menunjuk keributan yang ada di depan mata.
" Tapi Kakak siapa? Eh, kemana dia?" Celingukan. Menyibat punggung anak yang lain. Tidak menangkap bayangan yang dicari.
Dia manusiakan tadi.
Sementara Renan mendekat, bersembunyi di balik pohon.
" Haha, maaf ya, ibu gak sengaja melihat. Bagaimana ini?" Tertawa disusuk sorakan siswa yang memang sudah ada di sana. " Apa mau diteruskan? Ibu akan pura-pura gak lihat. Ibu akan menghilang, tring!"
Hah! Reaksi apa itu.
Renan bahkan menjatuhkan hpnya karena terkejut dengan apa yang di ucapkan Ayana selaku guru mereka. Pasangan yang tertangkap basah berciuman di depan umum pada kegiatan sekolah itu membuang muka malu. Sementara teman-teman mereka masih tertawa dan memberi semangat.
" Bagaimana ini? Kalian masih di beri semangat lho. Mau diteruskan?"
" Tidak!" Pasangan itu berteriak bersamaan dengan suara kencang.
Mungkin sebenarnya ada beberapa yang melakukan, tapi apesnya kedua anak itu berpapasan dengan wali kelas mereka.
" Mama, dia lucu juga." bunyi pesan yang Renan kirimkan selanjutnya. Dia sangat penasaran, apa yang akan dilakukan Ayana selanjutnya. Memarahi murid-muridnya, atau apa.
Di tempat lain di mana guru-guru berkumpul, beberapa anak sudah datang untuk melaporkan update kejadian.
__ADS_1
Bersambung