Suamiku Posesif

Suamiku Posesif
Side Story


__ADS_3

Mamanya Safina


Cerita ini terjadi ketika Renan memasak makan siang, saat


Ayana dan Safina tertidur di karpet di ruang tv.


Memasak itu sekedar hobi bagi Renan, ia memang tidak perlu


melakukannya ketika masih tinggal di rumah orang tuanya. Sudah ada bibi yang


khusus memasak di dapur. Tetapi, memang ia suka memasak saja, pengaruh dari


kakak keduanya juga, yang hobi makan sekaligus masak. Alhasil virus memasak


menular padanya.


Renan memandang puas hasil masakannya. sudah sering dia memasak diakhir pekan. Sajian pelengkap


untuk ayam panggangnya sudah beres. Sudah tertata cantik di meja makan.


Sebentar lagi ayam juga tinggal panggang. Bumbu sudah hampir meresap. Sambil


menunggu, ia membereskan peralatan masak yang sudah tidak ia pakai lagi.


Dia melirik ruang tv, sepertinya tidak ada suara terdengar,


begitu dia bergumam. “ Kakak!” panggilnya dengan suara agak keras. “ Kakak!”


karena tidak mendapat jawaban, Renan meninggalkan dapur, sebelumnya dia sudah


mematikan kompor.


“ Tidur. Haha, manisnya.” Renan sudah berjongkok di samping


istrinya, memainkan semua bagian wajah istrinya dengan jari-jari. Dia


tusuk-tusuk pipi Ayana seperti anak kecil mencolek kue. Ayana mengeliat. Ren


tergelak, gemas. Ia mencium kening istrinya sebelum beranjak ke dapur.


- - -


Diluar pada waktu bersamaan, seseorang membuka pintu gerbang


perlahan. Seorang ibu paruh baya, masuk sambil mengucapkan salam. Dia merapikan penampilannya sebentar.


“ Mbak Aya, Assalamualaikum.”


Karena melihat pintu samping terbuka, dia masuk saja seperti


biasanya. Karena biasanya begitu, masuk dulu baru ucap salam. Hehe, padahal gak


gitu ya, dimana-mana permisi dulu, kalau sudah dipersilahkan masuk, baru boleh


masuk.


“ Waalaikumsalam.” Suara laki-laki yang menjawab.


Lho suaminya mbak Aya di rumah ya.


Ibu muda itu tidak melihat pemilik suara, saat ia masuk ke


dalam rumah, aroma ayam panggang menyeruak. Mengelitik perut yang lapar. Dia


sudah masak sebenarnya di rumah, tapi belum sempat makan, harus mengambil


anaknya dulu begitu pikirnya tadi. Sepertinya dia menelan liur tergoda harumnya


masakan.


Renan muncul dari dapur, dia memegang lap sambil membersihkan


sisa air di tangannya.


“ Mas Renan ada di rumah ya?”


Celemek, apa dia sedang memasak. Ibu muda itu berfikir.


“ Ia mamanya Safina.” Renan sudah mendekat.


Ayu Lestari mas. Nama saya Ayu. Cuma beda satu huruf vokal


sama nama istrimu, gitu aja kok nggak ingat-ingat. Manggilnya selalu mamanya


Safina. Aku jugakan punya nama. Ibu-ibu muda agak sensitif, mungkin lagi PMS.


“ Bantuin masak mbak Aya ya?”


“ Nggak”


Maksudnya apa? Jadi dia masak sendirian gitu, terus mbak Aya


dimana donk. Gak percaya kalau mas Renan bisa masak.


“ Mau jemput Safina ya?” Renan bertanya sambil berjalan ke


dapur. Membalik ayam panggangnya. Potongan terakhir sudah selesai dipanggang.


Tanpa sadar Ayu mengikuti Renan ke dapur. Matanya berkeliling.


“ Mbak Aya mana mas?”


“ Tidur.”


Apa! Tidur. Jadi benar yang masak ini mas Renan.


Ayu melihat meja makan, sudah ada hidangan pelengkap dan


tumpukan ayam panggang. Dia menelan ludah.


“ Mas Renan yang masak semua ini?”


Aku nggak pernah seiri ini hiks. Aku belum pernah dimasakin


suamiku.


“ Ia, Safina juga lagi tidur.” Renan memberi informasi penting yang dibutuhkan.


“ Ah ia.” Ayu sampai lupa tujuan utamanya datang ke rumah


ini. Ia melirik meja makan lagi, dia benar-benar terlihat iri. Bukan hanya pada


masakannya yang terlihat mengiurkan, tapi lebih pada siapa yang sudah memasak


makanan itu.


Aku ingin dimasakin suamiku. Hiks, hiks.


“ Oh ya mas Safina ada dimana ya?”


“ Di ruang tv.”


“ Kalau begitu saya bawa Safina ya?”


“ Jangan.”

__ADS_1


Lho kenapa? Diakan anakku, kenapa aku gak boleh bawa dia


pulang. Nada bicara Renan serius lagi.


“ Kan lagi tidur.”


“ Gak papa mas, biar Safina saya gendong, biasanya juga


begitu.”


“ Bukan itu, tapi kakak lagi tidur.”


Terus apa hubungannya, Ayu berfikir keras. Apa hubungannya


dengan mbak Ayana tidur dengan dia tidak boleh membawa anaknya pulang.


“ Kakakkan tidur di samping Safina, kalau dia bangun dan


Safina gak ada nanti dia panik.”


Haaa, alasan apa itu. Gila ya, masuk akal gak begitu jadi


alasan.


“ Gitu ya mas, jadi gimana?” sudah tidak tahu harus berfikir


apa lagi. Ayu sudah kehilangan akalnya untuk berfikir. jadi dia menyerahkan tanggungjawab keputusan kepada laki-laki di depannya ini. tindakan apa yang akan ia lakukan selanjutnya.


“ Mamanya Safina mau nunggu?”


Apa! Menunggu, maksudnya? Menunggu mbak Aya bangun. Memang


aku sudah gila duduk termenung disini. Mending juga tidur di rumahku sendiri,


mana aku lapar juga.


“ Silahkan duduk di sofa, saya tinggal dulu ke dapur.”


“ Tidak usah mas, saya gak mau nunggu. Nanti saya kesini


lagi kalau mbak Aya sudah bangun.”


“ Baiklah kalau begitu.”


“ Maaf ya mas sudah merepotkan. Saya gak tahu kalau mas


Renan di rumah tadi. Saya pikir mbak Aya sendirian di rumah jadi bawa Safina.”


“ Gak papa mamanya Safina.”


Ayu mas, panggil ayu aja biar gampang. Dia geram sendiri,


tapi terlalu malu untuk mengatakannya.


“ Asal kakak senang aku gak keberatan. Tadi main sampai


kecapaian kayaknya jadi ketiduran.”


“ Ah ia mas. Mbak Aya gak masak ya kalau akhir pekan, malah


mas Renan yang memasak.”


“ Tergantung.” Senyum di wajah Renan mengandung sejuta makna.


Hah! Lagi-lagi penasaran, tapi terlalu malu untuk


menanyakan.


“ Kalau begitu saya permisi ya mas, silahkan dilanjutkan


“ Ia.”


Ayu lestari keluar dari rumah tanpa diantar. Dia berdiri


sebentar berpegangan pada pagar. Mencerna kejadian yang baru saja dia alami.


“ Fix suami mbak Aya ini bucin level dewa.” Katanya sambil


berlalu dari pagar rumah.


- - -


Ayu Lestari berjalan lambat menuju rumahnya. Rasa laparnya


sudah hilang. Dia berhenti melangkah, membalikan badan dan memandang rumah yang


baru saja ia masuki, dimana anaknya sedang tertidur dan tidak boleh dibawa


pulang, dengan alasan seaneh itu.


Aku tidak pernah seiri ini dengan mbak aya. Kalau masalaah


gantengnya suami mbak Aya, papanya anak-anak juga gak kalah ganteng. Ya mungkin


cuma beda takaran manisnya aja. Haha, maaf ya pa, kalau itu kamu kalah jauh. Tapi


aku benar-benar iri saat melihat mas Renan masak. Hiks, hiks, seumur menikah


aku belum pernah dimasakin sekalipun.


Tunggu, papa itu bahkan gak penah masak apapun di rumah.


Benar, dia bahkan gak pernah ke dapur kecuali buat makan, minum atau ambil


sesuatu di kuklas.


Ayu terlihat sangat kesal, dia menghentikan pikirannya yang


kemana-mana dan kembali ke rumahnya. Masuk ke gerbang, dia mendapati kedua


anaknya sedang makan siang di teras rumah. Mencari udara segar sepertinya.


“ Dimana papa kak?” tanyanya pada anak pertamanya. Anaknya


menunjuk dalam rumah. Ayu bergegas masuk. Dia mendapati suaminya baru keluar


dari kamar mandi.


“ Sini pa.” Dia menarik tangan suaminya, yang ditarik cuma


bisa berwajah bingung tapi menurut juga pada istrinya. “ Papa bisa masak gak?”


“ Kenapa lho ma, kok tiba-tiba. Safina mana? Katanya mau


ambil Safina di rumah Renan.”


“ Masih tidur di rumah mbak Aya. Jawab dulu, papa bisa masak


gak?”


“ Nggak, papa gak bisa masak. Memang kenapa?”


Wajah Ayu berubah masam. Dia melirik suaminya kesal, yang


dilirik tambah bingung aja.

__ADS_1


“ Kenapa lho ma, memang liat apa kamu di rumah Renan? kenapa


tiba-tiba nanya masak segala.”


“ Aku mau dimasakin papa.”


“ Apa! Kenapa tiba-tiba minta dimasakin?”


“ Pokoknya aku mau dimasakin papa, masak apa gitu, buat


istrinya.”


Ayu meninggalkan suaminya, yang lagi-lagi berfikir keras, ada


apa dengan istrinya siang ini. Barusan lihat apa si dia. Gumamnya, lalu menuju


belakang rumah. Dia mau melanjutkan membereskan tanaman di halaman depan.


- - -


Bocah ini gak lagi ngerjain orang tuakan. Kenapa resepnya


panjang begini. Udah gitu apa lagi ini nama bumbu-bumbunya, kenapa banyak


begini pula. Memang ayam gak bisa langsung dipanggang aja gitu, repot amat


musti dimasak dua kali.


Wahyu meletakan hpnya kesal. Dia baru mendapatkan resep ayam


panggang dari Renan, tapi baru melihat resepnya saja sepertinya sudah


membuatnya menyerah. Dia tidak kenal nama bumbu-bumbu dapur yang tertulis


berjajar. Tapi demi mendapati wajah istrinya yang begitu ingin makan masakannya


iapun merasa getir sendiri.


Tunggu, akukan gak perlu masak masakan yang di buat


Renankan, dia cuma ingin aku masak buat diakan, jadi masak apa juga harusnya


gak masalahkan.


Wahyu menemukan kembali kepercayaan dirinya.


“ Mi instan?” Ayu manyun saat melihat makanan yang terhidang


di meja makan.


Haha, hanya ini yang ada dipikiran Wahyu.


Ayu melihat masakan suaminya dengan sedih. Dia sudah


membayangkan masakan spesial apa yang dibuat suminya, karena dia tadi sempat


tahu kalau suaminya meminta resep pada Renan. Namun sepertinya harapannya


begitu tinggi. Yang tersaji di hadapannya sekarang adalah semangkok mi instan.


“ Mi instan spesial buat mama.”


Mana ada yang spesial masakan begini.


“ Dibuat dengan penuh cinta oleh suami tercinta mama.


Tanganku sampai luka-luka lho membuat ini.”


Gila ya, kenapa juga sampai luka-luka, kamu cuma buat mi


lho. Gak lihat resep instruksi memasak di bungkusnya apa? Jadi kamu memakai pisau


buat apa, buat ngiris tangan supaya kelihatan keren begitu.


“ Papakan buat minya mirip sama yang ada di bungkusnya ma.”


Eh ia, saking kecewanya aku tidak melihat detail isi


mangkok. Ada telur, ayam goreng, irisan cabe dan daun bawang.


Tiba-tiba ada yang masuk ke dalam dada Ayu, mengalirkan


kebahagiaan sendiri di hatinya. Ah, ternyata suaminya sudah bekerja sekeras ini.


Maafkan aku pa, yang menilai masakanmu berdasarkan standar orang lain, padahal


buat memasak ini kamu sudah bekerja sangat keras.


“ Makasih pa, mi instan buatan papa yang spesial. Aku makan


ya.”


Wahyu langsung menyerahkan sendok dan garbu yang sedari tadi


dipegangnya. Wajahnya sudah berubah bersemangat dan terlihat senang. Dia sudah


duduk di hadapan istrinya. Berharap mendapat sanjungan soal rasa masakannya. Ya


walaupun mi instan tetap enak mau diapain jugakan, gak perduli siapa yang


memasaknya.


“ Kok gak ada rasanya pa.”


“ Hah! iakah?”


Mata Wahyu berkeliling di sekitar dapur, ia menemukan


setumpuk benda di samping kompor. Bumbu mi instan.


“ Lupa masukin bumbunya ma.”


“ Udah pa, besok lagi biar aku yang masak. Papa gak usah


masuk dapur.”


“ Haha, mama jangan begitu donk, aku ambilin bumbunya ya,


dicampur sekarang masih enak kok.”


Mereka berdua akhirnya tertawa, menikmati semangkok mi


instan dengan bumbu susulan, dengan penampakan mirip dengan yang ada di


bungkus. Saling berbelukan hangat, dan berciuman satu sama lain. Sederhananya


hidup, semangkok mi instan telah membuat mereka jatuh cinta untuk kesekian


kalinya pada pasangan mereka masing-masing.


Bersambung..............


Rasanya sayang kalau kisah ini tidak diceritakan ^_^


Sampai jumpa hari senin di sekolah bersama bu Aya....

__ADS_1


__ADS_2