
Mita masih terlihat sangat senang saat dia naik di belakang driver ojek
online. Wajahnya masih berbinar. Dia mendapatkan foto Kak Aya. Sekaligus tips
memilih suami. Hehe. Bahkan mesin pencarian juga tidak akan bisa menjawab pertanyaan Mita. Dia seperti mendapat anugrah. Bagaimana menjadi Kak Aya.
Senyumnya memudar saat gedung kantornya ada di depan mata. Dia menatap nanar ojek onlinenya yang menjauh. kenapa cepat sekali aku sampai kantor. Gerutunya. Berdiri tegak menyiapkan mental lagi. Berharap tidak akan bertemu dengan seniornya.
Kak Aya kan cerita kalau senior marah sekali dengan surat itu.
Mita seperti kehilangan hampir sepuluh tahun umurnya ketika memasuki lift menuju lantai divisi tempatnya magang.
" Senior!"
" Kenapa kau berteriak begitu? Baru melakukan dosa apa kamu."
Mita tidak sengaja bertemu Renan yang baru keluar dari ruang arsip.
" Haha, senior hari ini terlihat sangat tampan." Mau pergi secepatnya, mentalnya sudah amblas ke dasar bumi. Padahal tadi dia berencana mengatakan siapa si pembuat surat.
" Aku sudah punya Ayana."
Cih, memang siapa yang mau menggoda suami bucin sepertimu. Aku yang cuma biji cabe ini tahu diri kok.
" Mau ke mana kamu?" Mencegah Mita " Foto copy ini dan bawa ke divisi humas."
" Ah ia." Meraih setumpuk berkas dari tangan Renan. Aku pikir aku sudah ketahuan tadi gumam Mita. Tadi sebelum berpisah dengan Kak Aya dia meminta untuk jangan memberi tahu seniornya, karena dia sendiri yang akan mengakui dan minta maaf. Tapi nyalinya menciut setelah seniornya ada di depan mata. " Aku pergi ya Senior."
" Hemm." Renan meninggalkan Mita menuju meja kerjanya.
***
Mita ambruk di meja kerjanya. Menyentuh lehernya. Uratnya masih tegang.
Kepalanya berdenyut setelah dia menyelesaikan tugas yang diberikan Renan. Cukup lama dia di divisi humas karena harus mencatat ini dan itu yang mereka butuhkan.
Senior Renan bagaimana aku mengatakannya padamu! Kalau bocah kurang ajar yang naksir istrimu itu adik sepupuku.
Mita meraih tas mengambil surat pemanggilan wali murid, Ayana Wijaya
tertulis dengan jelas di bawah. Di ujung kanan. Sebagai wali kelas. Pengirim surat yang kadang tidak pernah terbaca oleh penerima surat.
Kenapa aku tidak membaca isi surat sampai bawah si, aku cuma melihat
hari, tanggal dan jam saja. Kebiasaan.
Apa yang dipikirkan Mita tentang istri seniornya benar-benar seperti yang ada dalam
bayangannya. Dia cantik, baik, dan mempesona. Pantas saja seniornya
tergila-gila pada istrinya. Kemiripannya dengan bibi ada di angka 9 kalau dia kalulasi dengan angka.
Tapi kenapa harus Kak Aya yang disukai Andrian si, kenapa juga kak Aya
bisa mirip begitu dengan mamanya Andrian.
Awalnya Mita merasa gembira, karena adik sepupunya yang cuek dan selalu tampak sempurna itu menyukai seseorang. Namun, kalau dia tahu, siapa tambatan hatinya, dia tidak akan pernah mendukung sama sekali. Jangan menebar kesempatan dalam hubungan terlarang. Sedikit saja kau masuk, percayalah kau akan tergelincir masuk ke tempat yang kedalamannya tidak bisa kau raih ujungnya.
Siang itu, Mita memantapkan hatinya untuk mengatakan semuanya. Kalau dia
__ADS_1
sudah bertemu dengan Kak Aya. Kalau sipengirim surat itu adalah adik sepupunya. Mentalnya sudah kuat.
“ Kak Marwan kok sendirian, senior mana?” Mita berlari saat melihat Marwan sedang berdiri di dekat jendela.
“ Masih di mushola kayaknya. Memang gak ketemu?” Mengelus layar hpnya lalu tersenyum malu.
“ Lho, kok gak ketemu ya. Padahal aku telat gak ikut sholat berjamaah
tadi.”
“ Dia lama tadi berzikir sama doanya habis sholat. Gak tahu kenapa tumben.””
Hah! Itu pasti karena hari ini Kak Aya bertemu dengan wali anak yang mengirimkan
surat padanya. Senior berdoa apa ya. Mita menduga-duga.
“ Ke Kantin duluan aja yuk.” Dia akan mengatakannya selepas makan siang saja
batinnya.
“ Duluan, aku mau menelfon istri.”
“Cieee, tumben.” Mita meledek.
“ Haha, malu sebenarnya aku mengakuinya. Tapi percaya gak percaya
setelah aku nyontek kelakuan Renan.” Sebenarnya Marwan masih tidak habis pikir
bagaimana semua ucapan Renan ketika dia praktekan pada istrinya kok seratus
persen benar.
“ Istriku jadi baik banget. Padahal aku cuma nelfon tanya dia sudah
makan belum, lagi apa sama anak-anak. Sama aku bawain makanan pulang kerja.”
Wajah Kak Marwan berbinar seperti orang yang sedang jatuh cinta. “ Dia jadi
tambah sayang sama aku Mit. Ah sumpah deh pokoknya aku mau berguru sama
Renan.”
Jiwa jomblo Mita sedang meraung-raung.
“ Memang sebelumnya gak kayak gitu.”
“ Ya,gimana ya.” Mita semakin antusias. “ Ya gitu deh.” Langsung kecewa. “
Pokoknya bedalah, padahal aku hanya menunjukan sedikit cinta, tapi istriku
membalas dua kali lipat, kan bikin aku seneng, aku semakin menunjukan cinta,
dan istriku membalas berkali lipat lagi.”
Sekarang sudah mulai mengaum jiwa jomblonya Mita.
“ Kamu nanti merasa deh kalo sudah menikah. Eh tapi kamu kan punya pacar
ya, kapan nikah? ayo nikah, supaya halal kalau mau sayang-sayangan.”
__ADS_1
“ Hahaha. Aku jadi ingin makan hati kak.”
“ Kayaknya di kantin gak ada deh jual hati ayam.”
Bodo amat.
Mita meninggalkan Marwan sendiri menelfon istrinya.
***
Selepas makan siang, akhirnya bertemu juga dengan senior.
Mita menunggu Renan selesai menelfon istrinya. Sambil ngemil keripik
kentang. Serasaa sedang menonton drama. Renan berbalik melihat Mita.
“ Mita. Kenapa Kakak tanya Mita.” Mita langsung duduk siap menepuk
dadanya yang tersendak. “ Dia gak bicara apa-apa. Eh tadi dia bilang mau bicara
sesuatu, memang kenapa, kok Kakak ngomongin Mita.”
Tunggu, apa Kak Aya sudah mengatakannya.
Renan berjalan mendekat dan duduk di depan Mita.
“ Kali ini kau mau mengaku dosa apalagi.”
“ Senior ampun.” Mita bangun, membungkukan badannya dua kali. “ Maaf,
adik sepupuku yang sudah mengirim surat sama Kak Aya. Tadi aku ke sekolah adikku dan
ketemu Kak Aya.”
Membara, tapi bukan api yang berkobar-kobar.
“ Jadi bocah kurang ajar itu adikmu.”
Renan menyodorkan hpnya.
“Apa, Senior mau apa?”
“ Berikan no hp adikmu.” Tertawa penuh ancaman.
Tolong hamba ya Allah. Eh bukan aku. Tolong Andrian.
Walaupun ragu dan engan, mau tidak mau Mita meraih hp seniornya. Menuliskan nomor adik sepupunya.
" Senior, tolong bersikap lembut pada adiku."
" Haha, memang aku mau melakukan apa." Berhenti tertawa. " Aku cuma mau mengajaknya makan somay kok."
Api di belakang punggung Renan belum padam.
Bersambung
Terimakasih yang masih menunggu update Suamiku Posesif, mohon maaf ya, slow update banget. Terimakasih yang sudah bersabar ^_^
__ADS_1