Suamiku Posesif

Suamiku Posesif
Andrian (Part 1)


__ADS_3

Malam yang dingin telah berganti


pagi yang hangat


“ Hemmm.” Aku bergumam saat sesuatu


menusuk-nusuk pipiku. Kecupan lembut di kening mendarat. Aku membuka mata.


Melihat seseorang yang aku sayangi sudah secerah matahari pagi. Tersenyum


dengan senangnya. Suasana hatinya pasti sedang sangat baik. Setelah melewati


malam panjang semalam.


“ Lihat kakak bahkan belum bangun


sampai aku pulang dari masjid.” Muah, muah, sekarang ciumannya sudah


kemana-mana.


Aaaa, bagaimana bisa dia tidak


kesiangan, setelah apa yang dia lakukan semalaman. Aku memaki diriku sendiri


yang begitu lemah ini.


“ Bangun” dia kembali mencolek-colek wajahku.


“ Ia, hemmm. “ Menguap dulu mengumpulkan energi. “Sayang, hari ini gak bawa bekal ya.” Ntah kenapa jadi


terdengar seperti rengekan istri yang lagi malas melakukan apapun. Aku bahkan


malas untuk turun dari tempat tidurku.


Ren mencium keningku lagi.


“ Ia, kelelahan ya. Haha.” Dasar!


Malah tertawa tanpa dosa begitu. “ Mandi dan sholat subuh dulu sana, aku yang


masak sarapan.”


Aku mengambil handuk dan masuk


ke kamar  mandi sementara Ren memasak di


dapur. Aku mendengarnya bersenandung. Benar-benar bahagia dia. Setelah sholat


aku membereskan kamar. Karena Ren yang masak aku langsung ganti baju kerja aja.


Memilih baju yang akan kupakai. Pintu terbuka, saat aku belum selesai memakai


baju. Ren tergelak di dekat pintu karena melihatku yang terkejut langsung


menutupi tubuhku.


“ Kakak mau menyembunyikan apa dariku.”


Ren  sudah memeluku dari belakang,


menciumi leher dan pipiku. “ Aku jadi ingin tidur lagi.” Katanya sambil


tertawa.


Kusikut pinggangnya “ Hei, cepat


ganti baju sana.” Sembarangan saja, aku bahkan punya kelas pagi hari ini.


Beberapa saat dia masih memeluku bibirnya belum berhenti beraktivitas. “ Sudah


sana.”


“ Gak mau.”


Tolong ya Tuhan, jangan membuatku


frustasi pagi-pagi begini dengan tingkahnya. Katanya tidak mau merepotkan


lagikan. Katanya imut dan mengemaskankan, sial kalau tingkahnya begini Ren memang


mengemaskan.


“ Sayangku Ren ganti baju ya, nanti


kita terlambat.” Pagi-pagi rayuan level memelas sudah keluar.


“ Sedikit lagi, rayuan kakak belum


terdengar tulus.” Menyeringai, masih memelukku.


Apa! Aku geram sendirikan jadinya.


“ Sayang, i love you.” Muah, muah,


aku mendongakan kepalaku tepat menghadap wajahnya yang tertunduk bersandar


di bahuku. “ Ganti baju ya sayang, lepaskan pelukanmu dulu tapi.”


“Baiklah, karena kakak sangat manis aku jadi tidak bisa menolaknya”


Aku sampai ingin bersujud saking kesal dan gemas mendengar perkataan Ren.


“ Aku tunggu di luar ya.” Ren sudah mengambil kemeja untuk ke kantor.


“ Gak mau.”


“ Apa lagi?” aku mendelik padanya, dia malah tertawa tahu aku sudah kesal.


“ Tunggu sampai aku selesai.”


Gerrrrr, kalau ada efek dramatis


mungkin sekarang api sedang berkobar-kobar di sekelilingku. Tapi walaupun begitu


aku tetap menunggunya. Membantunya mengancingkan kemeja warna biru yang


dipakainya.


***


Kecupan di keningku tiga kali oleh


Ren dan mencium tangan Ren sudah kulakukan, aku tersenyum cerah sebelum aku


keluar dari mobil.


“ Chat aku kalau kakak mau dibelikan sesuatu.” Aku mendekat ke pintu mobil. Mengangguk.


“ Baiklah, dada, hati-hati ya.”


Lambaian tanganku berulang. Ren masih membisu, dia sudah seperti emak-emak yang


mengantar anaknya sekolah di TK. Tidak rela untuk pergi, sementara anaknya


sudah dada melambaikan tangan.


“ I love you.” Aku gak mau  pergi begitu yang kubaca di matanya.


“ I love you juga sayang.” Sudah


sana, banyak sekali dramanya. Setelah aku melambai ketiga kalinya mobilnya baru


bergerak jalan.

__ADS_1


Drama perpisahan baru saja selesai.


Setelah mobil Ren melaju, aku


meninggalkan gerbang, menuju ruang guru. Bertemu beberapa anak yang menyapaku


sebelum sampai dikantor.


“ Bu Aya pagi” Hanan dan Jaya


berdiri di teras kantor, apa mereka menungguku.


“ Pagi. Ada apa? Kalian menunggu


siapa?” aku bertanya.


“ Menunggu bu Aya.” Hanan menjawab


cepat sebelum Jaya membuka mulut.


“ Kenapa?”


“ Ini buat ibu.” Hanan menyodorkan


bungkusan plastik di depanku. Aku ragu menerima, namun Hanan mendorongnya


ke tanganku, membuatku mau tidak mau menerima.


“ Apa ini?” aku melihat isinya, roti, coklat dan jus buah. “ Buat apa?”


“ Ucapan terimakasih buat bu Aya?”


“ Hei, lagi ngerjain bu Aya ya?”


bawaannya curiga aja kalau berhubungan dengan Hanan, aku hanya waspada ya. Anak


itukan suka usil.


“ Nggak bu, sumpah. Ini ucapan


terimakasih saya, tulus bu.” Aku belum menjawab mereka sudah lari. “ Diterima


ya bu.” Hanan berteriak dari kejahuan. Bagaimana tidak aku terima kalau kalian


sudah lari begitu. Kubawa kantung makanan itu masuk ke dalam kantor. Karena


jumlahnya banyak aku bagikan kepada guru yang ada di ruangan. Tidak lupa kepada


pak Bahar juga, kusampaikan kalau ini dari Hanan sebagai ucapan terimakasih.


Dia menerima dengan senang. Aku membawa satu botol jus dan coklat ke mejaku


sendiri.


***


Aku mengumpulkan semangat dan


energi untuk memulai kelas pagi. Bell masuk terdengar dari seluruh penjuru


sekolah. Semuan murid sudah berjalan masuk kelas, walaupun terlihat ada yang


masih berlarian terlambat dari gerbang.


Aku dan dua orang guru berjalan


bersamaan menuju kelas kami masing-masing.


“ Bu aya toko es cream yang waktu


itu diposting suami bu Aya saya kesana juga lho, nyicip es creamnya. Enak-enak.”


“ Haha, ia bu, rasanya memang


apa, tapi ini karena faktor cemburu. Ternyata postingan itu benar-benar


berdampak positif pada penjualan toko. Tadinya aku sempat berfikir apa tidak


akan rugi dia memberi kami gratisan sebanyak itu.


“ Kapan-kapan kita makan


ramai-ramai kesana yuk.” Lucu juga ya sepertinya. Aku mengiyakan saja. Kami


berpisah menuju kelas masing-masing. Menjalankan tugas kami sebagai seorang


guru.  Pekerjaan ini adalah pekerjaan


yang kupilih. Aku mencintai profesiku. Jadi hari-hari di sekolah aku selalu


merasa bersyukur. Allah sudah memberiku kesempatan aku melakukan apa yang aku


impikan.


Hari ini semua berjalan dengan


tenang. Kelas pagi berjalan dengan baik, aku sudah berada di kantor guru lagi.


Pelajaranku yang kedua itu setelah makan siang. Aku punya banyak waktu untuk


memeriksa PR anak-anak, dan membuat laporan kelas bulanan. Oh ya, hari ini aku


berniat memanggil ketua kelas untuk menanyakan perihal Andrian. Hari kemarin


aku masih melihat banyangannya di depan lab kimia saat aku makan siang bersama


bu Ari dan Bu Maya. Jadi aku benar-benar ingin tahu, sebenarnya ada apa dengan


anak itu.


“ Masuklah, Bagas tidak ada yang


mau dikerjakankan.” Aku menarik kursi agar dia duduk.


“ Nggak bu, kenapa ya.” Bagas anak


yang supel dan cukup akrab dengan para guru, apalagi denganku yang


walikelasnya.


“ Ibu cuma mau tanya-tanya bagaimana kondisi kelas.”


Bagas terlihat berfikir sebentar tentang pertanyaanku.


“ Baik-baik saja bu, tidak ada yang aneh.” Jawaban paling aman yang ia temukan. Okey, masalah beres. Ya gak gitu, akukan mau mencari tahu tentang Andrian.


“ Apa semua anak berbaur satu sama lain.” Akhirnya pertanyaanku aku buat lebih fokus.


“ Ya mereka memang buat grup masing-masing bu” ya, itu memang biasa, anak-anak main dengan yang akrab. “ tapi semua tetep berbaur kok, gak ada yang dikucilkan gitu. Karena ibu tahu


sendiri Hanan, Jaya atau Andrian mereka itu sudah seperti jadi pemersatu


kelas.”


Untung kamu menyebut nama Andrian


nak, jadi kalau aku menanyakannya tidak akan terasa aneh.


“ Bagas akrab sama Andrian?” nada


suaraku terdengar ringan, tidak mengandung unsur penasaran.


“ Lumayan.” Bagas juga menjawab sekenanya saja.

__ADS_1


“ Apa kalian makan siang bareng.”


“ Makan siang ya, setahu saya


Andrian membawa bekal makan siang bu, jadi dia tidak pernah makan di kantin.


Kalau sayakan makan di kantin.”


“ Benarkah? Kalau begitu dia makan siang dimana?”


“ Mungkin sama fans-fans dia bu,


diakan populer banget.” Yakin begitukan Bagas menjawab.


“ Haha ia, ya.” Aku tergelak. Tapi


kamu salah nak, dia makan di pojokan di depan lab kimia sendirian. “ Begitu ya,


soalnya ibu pernah lihat dia makan sendirian.”


“ Saya malah gak tahu bu, soalnya


kalau istirahat siang biasanya banyak yang ngerumunin Andrian buat diajak makan


siang. Sekarangkan anak-anak perempuan banyak yang bawa bekal karena ingin makan


bareng Andrian.”


Haaa begitu ya. Tapi kenapa kok Andrian makan sendirian.


“ Ooo, begitu ya. Alhamdulillah kalau semua baik-baik saja. Terimakasih ya, terimakasih atas kerja kerasnya Bagas sebagai ketua kelas. Yang sudah menjaga keadaan kelas sehingga menjadi nyaman dan


baik-baik saja.”


“ Hehe, ia bu, saya gak melakukan apa-apa kok.” Tapi wajahnya memerah karena merasa senang dipuji.


“ Maaf ya sudah mengambil waktu istirahat kamu.”


“ Gak papa bu, saya yang senang .”


“ Eh..” senang, memang aku ngapain


kok kamu bisa sesenang itu. Sudahlah, mungkin itu cuma basa basi Bagas saja.


“ Nggak bu, nggak papa, kalau sudah selesai saya permisi ya bu.”


Aku yang masih mencerna


kata-katanya hanya mengangguk-anggukan kepala saat Bagas pamit keluar.


Bersamaan itu seorang guru masuk,


pak Ali, dia guru olahraga di kelasku juga. Mereka saling bersitatap, Bagas


menunduk sopan dan menyapa.


“ Kenapa bu? Ada masalah sama


anak-anak.” Pak Ali mendekat dan bertanya. Dia tentu tahu kalau Bagas itu ketua


kelas, jadi berfikir aku memanggilnya karena ada masalah.


“ Gak papa pak, cuma bertanya kondisi kelas saja.”


“ Oh ya bu Andrian itukan jago main


basketnya saya suruh masuk club basket dia menolak. Kenapa ya?”


Mana kutahu, kenapa tanya padaku.


“ Padahal dia berbakat lho bu, saya


sudah bujuk dua kali masih saja menolak. Kenapa ya bu?”


Mana kutahu pak, tanya saja sama anaknya.


“ Mungkin dia tidak terlalu tertarik di olahraga pak” aku menjawab dengan jawaban aman, kuharap dia akan


menyudahi kata-katanya.


“ Tapi kalau lagi praktek olahraga


dia semangat banget lho bu, apalagi kalau anak-anak perempuan itu lagi teriak


yel-yel. Saya yang jadi pelatih aja ikut bersemangat. Apalagi dia yang namanya


diteriakin.”


Selamat datang di duniaku, guru


olahraga ini namanya pak Ali. Dia sangat suka bicara, apalagi kalau sudah


berurusan dengan olahraga. Dia orang yang polos, masih single. Saking polosnya


kadang percaya aja sama yang diomongin murud-murid. Tau sendirikan anak zaman


sekarang pinter-pinter, ngeles. Haha, tapi kepolosan seperti pak Ali ini memang


dibutuhkan, agar dunia selalu ceria.


“ Bisa gak bu Aya bantu bujuk Andrian buat masuk club Basket.”


Kenapa harus aku, dengan bocah itu


lagi. Aku memang lagi memikirkannya si, karena dia makan siang sendirian, tapi


ikut campur soal pilihan clubnya rasanya akan semakin memusingkan saja.


“ Hemm, coba bapak ajak bicara dari hati kehati aja dulu.” Aku memberi jalan keluar.


“ Sayakan laki-laki bu.”


Lhah emang kenapa, akukan


menyuruhmu bicara dari hati-kehati. Bukan nyuruh kamu nembak dia.


“ Biasanya kalo bu Aya yang


bilangin selalu ampuh sama anak-anakan.” Gak juga kali. “ Tolong ya bu.” kata pak Ali penuh harap lagi.


“ Eh, tapi saya gak janji ya pak.”


Aku akan coba membantunya, tapi aku tidak bisa menjanjikan apa-apa.


“ Tolong ya bu, saya percaya sama ibu.”


Jangan terlalu percaya padaku pak.


Aaaaaa, tunggu, aku belum menolak secara tegas pak Ali sudah pergi melambaikan


tangan. Mengepalkannya ke udara dan mengatakan semangat dengan agak keras.


Semangat apanya, dasar!


BERSAMBUNG


 


Epilog :


"Hei kita sudah minta maaf sama bu Aya, berarti gak papakan vidionya kita upload. lagian cuma suaranya bu Aya juga, kalau tahu dia marah gak ya." Hanan menunjukan vidio hasil editannya. Judulnya :


" Prankkkk, gak ngerjain PR 3 kali biar dipanggil guru terimut di sekolah"

__ADS_1


__ADS_2