
Ren memang tipe yang mudah terbakar api cemburu, tapi biasanya dengan aku mengalah dan memeluknya percikan panas itu padam. Tapi, pagi ini sepertinya semua akan berlangsung lama. Kulirik jam di dinding. Masih menyisa temaran subuh di balik jendela. Aku sudah bisa mendengar suara manusia memulai aktivitas pagi. Dan laki-laki yang bersimpuh di karpet masih menunjukan aura yang sama. Padahal kami harus memulai aktivitas pagi ini.
Kalau suasananya seperti ini berlanjut, aku yakin Ren akan menangis pada akhirnya. Aku yang akan berada di pihak yang merasa bersalah. Walaupun kali ini, aku akui, aku memang yang salah.
Tapi, aku benar-benar tidak berani bangun dari duduk. Meraihnya dalam
pelukanku. Ancamannya masih berlaku kan.
Dia mendongak dengan wajah lelah.
“ Apa dia lebih mengemaskan daripada aku?” ujarnya pelan. “ Apa! Kenapa
tersenyum?” menaikan suara.
Aku langsung menutup mulutku. Aku masih berusaha menahan senyumku,
bahkan sampai menggigit bibir. Jangan
memancingnya, Ayana, kamu tahu kan kalau dia terprovokasi harga dirinya sebagai
suami, selanjutnya keputusan yang dia ambil mutlak harus kamu patuhi. Tapi
bagaimana bisa itu yang dia pikirkan coba. Apa dia lebih mengemaskan dari aku.
Memang ada manusia yang lebih mengemaskan daripada kamu.
Dan kamu kan suamiku, sudah punya kamu, kenapa aku harus berpikir laki-laki
lain. Terlebih Andrian adalah muridku. Aku menahan diri dari menjawabnya. Dia
belum mau mendengar pembelaanku. Pikirannya sedang berperang dengan hatinya
sendiri. Membiarkannya bicara sampai dia merasa lega.
“ Ini pasti karena kakak bersikap terlalu baik padanya kan?” Tangannya
meremas surat, kertas tipis itu mengkerut kecil dalam genggamannya. Pandangannya
beralih padaku setelah sesaat melihat kertas lecek itu. “ Sepertinya aku sudah
terlalu memberi kakak kebebasan ya.”
“ Ren.” Panik dengan kalimat terakhirnya.
“Duduk! Sudah kubilang kakak hanya boleh duduk dan bernafas, jangan mendekat!
Sebelum aku bisa mengendalikan pikiran dan hatiku.”
Aku kembali tidak bergerak. Menarik selimut semakin rapat.
Bagaimana aku sampai lupa catatan kecil yang ditulis Andrian itu si,
bagi Ren tentu tulisan itu akan sangat ia maknai sebagai sikap terlarang. Aku
istrinya, mendapat surat cinta dari laki-laki lain. Kalau bukan aku yang
menabur api, berarti muridku yang kurang ajar.
“ Ren, percayalah padaku.” Suaraku terdengar serius namun tetap terucap
dengan lembut. “ Aku memperlakukan semua muridku sama, baik laki-laki atau pun
__ADS_1
perempuan.” Ahh, kau semakin tidak suka mendengar jawabanku ya. Tapi aku benar-benar memberi batas profesionalitasku sebagai guru.
Tidak, aku menjaga jarak dengan laki-laki. Karena aku tahu kamu tidak menyukainya. Aku menjaga kehormatanku sebagai istri yang mendapat cinta berlimpah darimu.
Kau bergumam sesuatu yang tidak tertangkap pendengaranku.
“ Aku percaya pada kakak,” ujarnya sambil menatapku kemudian. “Tapi aku tidak
percaya pada semua laki-laki di sekitar kakak.” Dia mengucapkannya dengan
depresi lagi. Kesal sekaligus merasa
tidak berdaya. Hampir seperempat siswa di sekolahku laki-laki. Dia sedang mencoba menghitung jumlah laki-laki di sekitarku. Di kelasku
sendiri memang lebih banyak perempuan. Tapi faktanya si pengirim surat ada di kelasku.
Jadi bagaimana caranya aku bisa membalikan keadaan sekarang. Apa dengan
aku mengatakan kalau Andrian hanya anak di bawah umur yang tidak pernah kulihat
sebagai laki-laki. Aku hanya melihat murud-muridku seperti bocah-bocah yang
mulai tumbuh dewasa. Ya, anak-anak yang butuh perhatian. Walaupun aku memang
tidak bisa menganggap mereka bocah, karena usian mereka sudahlah cukup untuk
tahu mana yang benar dan salah. Seperti halnya Kirana adikku.
Bermain api dengan muridku sendiri, mimpiku menjadi guru, jauh lebih berharga daripada itu semua.
“ Aku akan menyelesaikan semuanya.” Sampai tuntas, aku berfikir untuk
mengirim surat pemanggilan wali Andrian. Dengan melihat latar belakang
“ Apa yang mau kau lakukan.” Suara bergetar, sekarang kertas di tangannya
semakin menciut. “ Bicara padanya secara pribadi. “ Aku semakin menabur bensin
di hatinya yang terluka.” Kakak mau melakukan apa?” Dia mulai menjejakan kaki. “
Mau bertanya kenapa dia mengirim surat.” Melemparkan kertas lecek itu sembarangan. “Memang siapa yg
akan mengizinkanya, siapa yang mengizinkan kakak bicara padanya.”
Harga dirinya terluka.
" Apa kau penasaran?" ucapnya sekarang penuh kemarahan. " Apa kau mau membalas suratnya."Hei, pikiran dari mana itu. Memang akal sehatku sudah kugadaikan, sampai aku mau membalas surat Andrian. Aku geleng kepala. Ya, dia memang Ren. Aku tahu dia bisa berfikir sampai di titik itu. " Berapa murid di sekolahmu?"
Pertanyaan apa itu. Mana aku tahu. Tunggu, sepertinya total jumlah siswa di sekolah tertulis di papan besar di ruang guru. Coba ingat-ingat Ayana. "Aku tidak tahu." akhirnya menjawab pasrah.
" Berapa murid laki-laki di kelas kakak?"
Apalagi ini.
" 14 orang," jawabku tanpa perlu menghitung. Memang kau mau apa. Menemui mereka satu-satu.
" Selain bocah ini, siapa lagi yang mendekati kakak." Aku tidak bisa melawannya dengan bantahan kata-kata. Wajahnya yang terlihat lelah karena kurang tidur semakin memunculkan rasa bersalahku.
" Ren."
" Apa ada lagi yang kau sembunyikan? Apa ada surat yang lain?" Ya Tuhan, memang kau pikir istrimu secantik apa si sampai mendapat surat dari banyak orang.
__ADS_1
" Ren, cuma itu. Sumpah." Aku menjatuhkan diri lagi ke sofa saat sorot matanyanya menyuruhku duduk. " Kita tidak pernah menyembunyikan apa-apa kan satu sama lain." Bagaimana ini, aku ingin memeluknya. Mencium matanya yang lelah. " Ren."
" Diam!" Dia menekuk lutut, menjadikannya tempat membenturkan kepala. Dua kali. Aku merasa sakit melihatnya. " Kenapa kakak melakukan ini padaku." Aku langsung bangun. Suara Ren sudah bergetar. Membiarkan selimut terjatuh. Kurengkuh bahunya. Dia menolakku. " Kembali ke tempat dudukmu!" suaranya meninggi dengan tegas. Aku tidak perduli. Tetap kupeluk tubuhnya.
Kalau kau berbuat salah dan dia marah serta mengusirmu, percayalah jangan pergi karena ego di dadamu. Tapi peluk erat dia sampai semua amarahnya menguap.
" Maaf. Maafkan aku." Dia masih menundukan kepala dan belum mau menatapku. Tapi aku bisa mendengar suara isaknya. Dia memakai senjata paling mematikan. Percayalah bukan perempuan saja yang bisa memakai airmatanya sebagai senjata. Dan makhluk Tuhan dalam pelukanku ini, sudah memakai senjata ini tiga kali dengan hari ini.
" Aku harus melakukan apa! Supaya Kakak hanya melihatku. Supaya kakak tidak melihat laki-laki lain."
" Tidak! Maafkan aku. Jangan teruskan Ren." Tidak tahu kata-kata apa yang akan dia ucapkan. Tapi aku tidak mau mendengarnya berkata lebih dari itu, Aku harus melakukan apa. Supaya aku hanya mencintainya, supaya aku hanya melihatnya. "Surat itu tidak berarti buatku, pengirimnya juga. Maaf, mungkin aku yang membuka celah."
Ya, tidak akan ada panen kalau tidak ada yang menabur. Mungkin sikapku telah disalah artikan Andrian. Sebagai orang yang lebih dewasa, akulah yang salah di sini.
Ren masih berkicau dengan intonasi naik turun. Masih tersisa isak di ujung tenggorokan. Aku mencium pipinya, matanya. Mengusap airmatanya. Memeluknya. Aku mendengarnya memaki. Anak ini, benar-benar deh.
Aku sudah bisa melepas pelukanku kan. Dia sudah sedikit tenang sepertinya.Tapi baru saja aku mengendurkan tanganku, sekarang tangan Ren yang berganti memeluk tubuhku. Aku terduduk di depannya. Dia mendekap tubuhku dari belakang.
" Tapi kau menyimpannya suratnya di bawah bantal." Bicara dengan nada benci di balik punggungku. bibirnya bisa kurasakan menempel di sana.
" Itukan karena aku ketiduran sayang." Aku kan sudah menjelaskannya tadi.
" Kenapa kau mengigau sambil tertawa hehe mengatakan tentang surat itu." Masih dengan nada yang sama.
" Mana kutahu, aku kan tidak sadar!"
" Masih berani berteriak, sudah melakukan dosa sebesar itu." Ia, iya, ampun ya Tuhan. Ampuni hamba yang penuh dosa ini ya Allah.
" Ah ia maaf." langsung melembut." Maaf Ren."
" Aku benci kalau kau bicara padanya." Pada pengirim surat, tapi dia kan muridku. Aku wali kelasnya. " Jawab"
" Ia sayang maaf."
" Aku masih ingin meledak dan marah," ujarnya " Amarahku belum padam,kakak tau?" Iya, iya aku tahu. Kau masih memeluku seerat ini. Tapi ini sudah jam berapa coba. Untung saja aku tidak ada kelas pagi. Kuraih tangannya, supaya aku bisa berbalik. Eh, apa. Kami terjatuh di karpet.
" Ren, ayo bangun. Nanti terlambat." Ku tepuk-tepuk tangannya.
" Tidak mau. Aku masih marah."
" Haha, ia maaf. Tapi nanti kamu terlambat lho."
" Biarin, aku masih marah." Tidak bergerak dari posisi yang masih mendekapku, menempellkan wajah di balik punggungku. Dia tidak akan melepaskanku.
" Ren, kamu gak lapar?"
" Gak, aku masih marah." Dih ini anak.
" Tapi aku lapar, aku buat sarapan sebentar ya."
"Aku masih marah!" semakin memeluk erat. Kalau sudah berubah marah yang mengemaskan begini takutku mulai lenyap. Dan aku mulai ingin mengodanya.
" Tapi..."
" Aku masih marah!" Padahal aku belum bilang apa-apa.
" Lepaskan dulu, aku mau."
" Aku masih marah!" Ya Tuhan anak ini.
" Aku mau lepas baju." Aku mendengarnya berdehem lalu tergelak. Ren mengendurkan pelukannya. Ya, ya, terserahlah. Untung saja aku tidak ada jam mengajar pagi hari ini.
__ADS_1
Bersambung