Suamiku Posesif

Suamiku Posesif
Sore Di Depan Kompleks


__ADS_3

Sampai di depan gerbang rumahku.


Agak terlambat pulang aku hari ini, karena ada rapat guru. Pulang bersama Bu Ari.


“ Bu Ari makasih ya, mampir dulu yuk.” Aku menawarkan, sambil mengeser pintu gerbang.


“ Makasih bu, sudah sore, nanti kapan-kapan aja.”


Aku menunggu bu Ari sampai menghilang dari pandangan. Lalu masuk ke dalam rumah. Kuletakan tas sembarangan, lalu ambruk diatas sofa di ruang tv. Tidak perduli dunia, aku tertidur belum


menganti pakaian.


***


Setelah selesai mandi rasanya jauh lebih segar. Sudah jam lima, sepertinya aku tidur lebih dari setengah jam.  Mau keluar dulu ah, santai gak perlu masakan.


Ibu-ibu di luar komplek sudah pada ngumpul. Dengan anak-anak yang berlarian


di taman bermain. Ada yang lagi menyuapi anak-anak mereka. Safina juga sedang


makan, duduk di atas sepedah roda tiganya.


“ Mbak aya sudah pulang ya, kirain


belum, sepi soalnya rumahnya.” Mereka menyapaku saat aku mendekat.


“ Hehe, ia mbak aku ketiduran tadi pulang kerja.”


Jongkok di dekat sepedah Safina,


sambil menoel pipinya berulang.


“ Hehe, enak ya mbak Aya pulang


kerja bisa tidur. Saya yang gak kerja di rumah aja gak bisa tidur siang.”


Eh, aku harus membalas bicara apa ini.


“ Sudah di syukuri aja, jadi ibu


rumah tangga itukan menyenangkan atau tidak kita yang menjalani. Kalau kitanya


bahagia jadi ibu rumah tangga kan dapat pahala.” Wah ini jawaban sangat


berkelas. Aku menunduk hormat.


“ Ia mbak, ibu saya juga ibu rumah


tangga. Beliau bahagia dengan pilihan hidupnya. Semua orang punya tanggung jawab


masing-masing. Mumpung saya belum dikasih momongan jugakan.” Aku jawab begitu


saja.


“ Hehe, mbak aya ayo donk, berusaha


lebih keras.” Bicaranya itu lho, dengan seringai, ditambah gelak tawa yang


lain.


“ Haha.”


Tertawa saja aku menjawab. Kurang apalagi ya aku berusaha.


Pembicaraan dengan ibu-ibu itu bisa


panjang dan kemana-mana. Di sela-sela obrolan kami datang tukang roti keliling


yang tau aja jadwal kumpul sore-sore orang komplek. Anak-anak mulai berkerumun.


“ Ayo baris-baris tante Aya traktir


yuk.” Aku menyuruh anak-anak antri. Ibu-ibu sudah ribut, bilang gak usah. Tapi


tetep ya gak di dengar sama anak-anak. Mereka tetep antri. Ntah kenapa aku


merasa senang. Lucu melihat mereka kegirangan begitu.


“ Gak papa mbak, sekali-kali. Aya


baru gajian. Hehe.” Aku menenangkan ibu-ibu yang lain.


“ Antri ya, maju satu-satu dan sebutkan mau rasa apa.”


Mereka benar-benar baris dengan tertib. Setelah sampai giliran, mereka meneriakan rasa roti yang dimau. Aku yang sibuk pilih-pilih di etalase. Setelah menemukan rasa yang di cari, udah kayak


menang lotre gitukan. Senang rasanya. Wajahku pasti  cerah sekarang. Tertawa


kesana kemari.


Ibu-ibu senang, anak-anak riang,


penjual roti bersyukur. Akupun merasa happy. Kami masih bicara dan tertawa


membicarakan roti isi. Aku juga membeli dua bungkus, siapa tau Ren mau.


Kami tersentak saat ada bunyi


klakson mobil. Aku yang paling terperanjak, seperti ketahuan selingkuh oleh


Ren. Ahh, sejak kapan dia disana. Aku bukan kuatir karena dia melihatku


mentraktir anak-anak. Tapi aku tadikan kayaknya ketawa ketiwi dan ada penjual


roti, laki-laki disini.


“ Sayang.” Aku melambaikan tangan


padanya. Kupikir dia akan melajukan mobil setelah aku melambaikan tangan. Tapi


tidak. Mobil itu tidak bergerak. Aku mulai curiga setelah beberapa saat mobil


Ren benar-benar tidak jalan. “ Saya pulang dulu ya mbak.” Aku yang merasa tidak


enak sendiri.


“ Ia mbak Aya samperin mas Renan


dulu sana.” Mbak ayu, mamanya Safina sudah seperti ingin mendorongku. Aku


melangkah cepat menuju mobil. Ku ketuk jendela kaca, agar ia menunkan kaca


jendela. “ Sayang.”


“ Masuk!” katanya dingin.

__ADS_1


Ahhhh, gawat sepertinya Ren sudah


lama disini. Apa mungkin dia melihat semuanya ya.


Aku patuh membuka pintu dan duduk.


Ah gawat dia diam saja, bahkan saat aku mencium pipi kirinya. Kami melewati


arena bermain dan tempat ibu-ibu berkumpul, penjual roti juga masih disana.


Memandang mobil kami yang lewat. Ren tidak membunyikan klakson. Aku tahu mereka


sedang melihat mobil kami bahkan sampai saat kami sudah ada di depan rumah.


“ Biar aku yang buka gerbang sayang.”


“ Duduk.”


Aku diam dan tidak bergerak. Ren


keluar dari mobil untuk membuka gerbang. Aku mengikuti setiap gerakannya.


Ahhhh, sial, dia benar-benar kesal. Aku melirik bungkusan di belakang mobil. Dia


sudah beli makanan yang aku pesan tadi. Aaahhh, kenapa aku sampai lupa kalau


dia akan pulang lebih awal tadi. Tau begini, aku tadi nonton drama aja di rumah.


Kalau Ren sudah menunjukan cemburunya


di depan orang lain, itu artinya aku sudah sangat berlebihan. Berlebihan


menurut standar Ren ya. Mungkin bagi orang lain yang aku lakukan itu biasa


banget, tapi tidak bagi suamiku.


Mobilnya yang diam tidak bergerak


setelah dia klakson tadi, bahkan saat aku sudah melambaikan tangan, dia tetap


tidak melajukan mobil. Dia menungguku masuk ke dalam mobil. Bahkan saat kami


melewati ibu-ibu kompleks dia tidak membunyikan klakson sebagai sapaan juga.


Fix, bendera cemburu sedang berkibar. Fix aku sudah bersikap kelewatan dengan


laki-laki lain, siapa itu, pedagang roti. Memang si pedagang rotinya masih


muda. Kami juga memanggilnya om. Tapi sumpah deh, aku bahkan gak hafal wajahnya


kalau kami bertemu di luar kompleks pada saat dia sedang tidak jualan.


Mobil sudah berhenti di halaman


yang kami pakai sebagai garasi. Ren keluar dulu, lalu membuka pintu belakang


mengambil bungkusan makanan. Masih diam.


“ Sayang.” Terserah, aku tak tau


malu memeluknya, walaupun tahu dia sedang marah. Pintu tertutup dan kami sudah


di dalam rumah. Aku masih menempel padanya saat dia meletakan bungkusan makanan


di atas sofa. “ Maaf, aku pasti sudah berlebihan ya.” Kugoyangkan kepalaku


“ Kakak mau aku bagaimana?” jawaban


datarnya membuatku takut.


Aaaaa, Ren benar-benar marah. Aku


berusaha mengingat sejauh apa tingkahku tadi waktu di dekat pedagang roti.


“ Jangan marah lagi, aku mengaku bersalah, maaf ya.”


Ren menelusuri wajahku dengan


jemarinya, menempelkan telunjuknya di bibirku, sekarang tangannya sudah


menyentuh leherku.


“ Sebaiknya aku mengikat kakak


pakai apa ya? Rantai, tali, atau dasi.”


Dia serius teman-teman,


sodara-sodara. Ren serius dengan kata-katanya. Dan aku tidak berani main-main


kalau dia sudah mengatakan ini. Kalau dia benar-benar mengikatku di dalam


rumah, bukan dalam artian sebenarnya ya. Cukup dia bilang “ Berhenti pergi


sekolah.” Itu sudah seperti mengikatku dengan rantai yang kuat.


“ Haha, gak mau.”


Kudorong tubuh Ren, sampai kami


terjerembah di atas tumbukan bantal di atas karpet di depan tv. Aku sudah


menindihnya.


“ Aku mau di ikat pakai cintanya Ren.”  Idih, amit-amit apa yang aku


lakukan. Muah, muah. Aku menciumi semua bagian wajahnya. “ Diikat pakai


sayangnya Ren juga.” Muah, muah, sekarang di bibirnya juga. Ayolah tertawa,


tertawa. Aku sudah hampir frustasi karena wajahnya belum berubah.


“ Wahhh, kakak pasti sudah melakukan kejahatan besar ini.”


“ Haha, nggak sayang sumpah.” Muah,


muah. Kembali aku mencium pipinya berulang-ulang. Api cemburu belum semuanya


menguap. Kujentikan jariku di wajahnya. “ Sudah gak marahkan.” Tuk, tuk tanganku


menyentuh bibirnya.


“ Masih. Bekerja lebih keraslah.”


Aaaaa, dia benar-benar memanfaatkan

__ADS_1


kesempatan. Setelah aku lelah mencium pipi dan bibirnya, dia sudah mulai tergelak.


Memutar tubuhnya. Sekarang dia sudah memelukku. Aku bisa mendengar helaan nafas


dan hembusan udara di leherku saat dia bernafas.


Hei taruh dimana tanganmu itu.


“ Kakak tau apa kesalahan kakak hari ini.”


Tangannya sudah tidak bisa dikondisikan,


“ Ia, tahu, sejak kapan kamu sampai


tadi di arena bermain kompleks.” Aku ingin mengkonfirmasi kecurigaanku.


“ Sejak kapan ya?” Mulai deh menjawab dengan kata tanya, bibirnya sudah menempel di leherku. Aaaaaa.          “ awww, sakit sayang.”


“ Lebih sakit hatiku melihat tawa


kakak di depan laki-laki lain tadi.” Kata-katanya menusukan panah tajam


ke dadaku.


“ Ia ampun baginda, ampuni aku, silahkan hukumlah hamba.”


“ Hari ini aku maafkan kakak, tapi


kalau sekali lagi aku melihat bibir ini tertawa seperti tadi di depan laki-laki


tidak ada ampun ya.” Tapi dia tetap menggigitku. Diampuni apanya ini.


“ Baik sayang. Tadi aku sebenarnya


gak ketawa sama pedagang roti, sumpah, aku ketawa sama anak-anak.”


“ Aku tahu.” Nah kamu tahukan, tapi


kenapa kok masih marah juga. “ Tapi tawa kakak itu tetap dilihat sama laki-laki


lain, itu yang aku gak suka.”


Haha, begitu ya.


Hei-hei, Ren, besok aku masih harus


sekolah lho. Kalau leherku penuh tanda kecupan malukan.


“ Aku gak mau makan roti yang kakak bawa tadi.” Protes lagi.


Ah ia, aku tadikan beli dua bungkus


untuk kubawa pulang.


“ Ia, ia, nanti aku yang makan.” Mengalah karena salah.


“ Aku juga gak mau kakak makan roti itu.” Protes lagi.


“ Ia, ia, besok kasih bude Lastri aja ya.”


“ Aku gak mau roti itu disimpan di rumah ini.”


Boleh gak aku mencubitmu sekarang. Jangan marah tapi ya.


“ Kalo gak nanti Ren bawa waktu


sholat magrib aja ya, kasih anak yang pertama Ren temui di masjid.” Akhirnya kutemukan


ide lain.


“ Aku gak mau megang roti itu.” Kata-katanya masih gusar.


Aaaaaaaaa, jadi gimana maumu.


“ Tapikan gak boleh buang makanan sayang, dosa.”


Kata-kataku sudah telak tidak bisa


dia bantah. Dia terdiam. Hayoo mau bilang apa kamu. Mau suruh aku buang roti


itukan.


“ Kalo gak aku kasih Safina aja


sekarang ya, mereka juga pasti belum bubar dari arena bermain.”


Hei, kenapa malah menindih kakiku. Akukan


mau bangun. Ren malah hanya bergumam “ Hemmm” mengeratkan pelukan, tidak mau


melepaskanku.


“ Ren mandi dulu ya, sebentar lagikan


sudah mau magrib.” Rayuan level memelas.


“ Gak mau.”


Sayang, ingin kujewer telingamu.


Tapi karena aku sedang melakukan gencatan senjata dengannya, kubiarkan saja


posisi ini sampai beberapa saat.


“ Sayang mandi dulu sana.”


Kugoyangkan kakinya, karena sepertinya sudah cukup dia memeluku. Aktivitas


bibir dan tangannya juga sudah mulai berhenti. “ Mandi dulu ya.” Lagi-lagi


kucium dia.


“ Baiklah, karena kakak sudah


sangat manis aku akan patuh.” Bangun setelah menyambar bibirku.


“ Aku keluar sebentar ya, mau kasih


roti ke safina.”


“ Jangan lama-lama.” Ren mendelik


padaku tajam. Jangan gitu donk sayang, aku gak akan lama. Memang mau cari


perkara lagi.

__ADS_1


“ Ia sayang.” kujawab dengan senyum. aku masih berdiri melihatnya sampai dia masuk ke kamar mandi. kuambil bungkusan roti yang tadi terjatuh di lantai.


BERSAMBUNG


__ADS_2