
Sore yang mulai merapat. Saat semua
penat dibawa kembali ke rumah selepas bekerja. Renan memasuki rumah. Dia
melemparkan kunci mobil di atas meja. Berpapasan dengan bibi pengurus rumah, yang menyambutnya dengan senyum.
"Bibi mama sudah pulang ya?" tanyanya mengedarkan pandangan, melihat
keberadaan mamanya. Dilihatnya tadi mobil mama di garasi. Menandakan kalau mamanya ada di rumah.
" Ia Den, lagi di ruang keluarga, tadi sedang asik menelfon sepertinya," ujar bibi sambil menunjuk ruang keluarga.
"Ya udah, makasih ya Bi."
Bibi tersenyum dan menganggukan kepala, lalu berjalan meneruskan langkahnya.
Sementara Ren berjalan ke ruang keluarga, mencari mamanya.
Sudah seperti kebiasaan turun temurun,
setiap pulang ke rumah yang dicari selalau mamanya. Walaupun selepasnya tidak
ada urusan apa apun. Kalau sudah melihat punggung mamanya rasanya dia puas.
Terkadang langsung menuju kamar untuk mandi.
"Mama sudah di rumah?" Kali ini sepertinya dia ingin bermanja. Dia
langsung menyerbu ke sofa, memeluk pinggang mamanya lalu meletakan kepala
di pangkuan. Wanita yang masih terlihat bugar daan cantik itu meletakan
hpnya. Lalu membelai kepala Renan lembut.
" Anak mama sudah pulang ya, sini," mengusap kepala Renan lagi.
Anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga, dia mendapatkan cinta berlimpah
dalam keluarga. Orangtua, serta semua kakak perempuannya. " Sayang, mau
mama kenalin sama anak temen kuliah mama gak," ujar mama tiba-tiba.
Ren langsung mendongak kaget. Tidak
biasanya, urusan jodoh menjodohkan.
"Idih, Mama mau maen jodoh-jodohan gitu. Aku itu populer Ma, kalau urusan
pacarmah banyak yg antri." Membei penolakan, karena sikap mama tidak seperti
biasanya.
"Bukan untuk jadi pacar sayang, tapi untuk menikah."
Wajah Renan berubah, lebih terkejut dari yang tadi. Kenapa ini, biasanya mama selektif, bahkan terlalu selektif
kalau membicarakan tentang hubungannya dengan perempuan. Apa dia salah makan tadi.
Pacaran pun beberapa kali harus
melalui uji seleksi. Sudah seperti intrograsi di meja kepolisian.
"Kayaknya calon yg Mama bawa luar biasa ya? Biasanya Mama kan gak
__ADS_1
begini." Renan bangun dan duduk bersandar. “Siapa memang? Artis?”
Ya gak mungkin, mama akan seantusias
itu.
"Bukanlah!” Langsung meninggi. “ Anak teman Mama waktu kuliah. Mau
lihat?" Penasaran kan, penasanan. Seperti itu sorot mata yang terpancar
sambil mengedipkan mata.
Idih mama, seperti sudah menemukan
berlian dengan desain kesukaannya, sorot mata senangnya itu. Diterjemahkan Ren bukan lagi tawaran menikah,tapi ibarat menariknya ke kantor catatan pernikahan.
"Siapa memang Ma?" agak penasaran Renan bertanya. Gadis seperti apa yang sudah mencuri hati mama.
"Ayana." Menyebut sebuah nama.
" Ayana siapa?" Memang aku tahu siapa Ayana, pikir Renan.
Renan melihat mama meraih hp di meja, dia
membiarkan saat mamanya masuk ke akun sosial medianya lalu menunjukan foto seorang wanita di sana. Mata
Renan tertuju pada deretan foto-foto berbagai aktivitas pemilik akun.
"Pinjam Ma." Langsung
tertarik. Renan meraih hp yg dipegang mamanya. Wanita itu tampak sumringah
melihat antusias yang terlihat dari sorot mata anaknya. Diikuti setiap gerakan
"Gimana? Gak hanya cantikkan? Dia keliatan keibuan sekali."
Pemilik akun ini cukup sering update foto, tapi jarang update foto dirinya
sendirian. Kalaupun ada fotonya, pasti ada foto orang lain di dalamnya.
"Dia anak teman baik mama waktu kuliah. Temen mama itu baik banget, pasti
dia membesarkan putrinya dengan baik juga."
"Idih Mama."
Tapi dia memang terlihat mempesona, gumam Renan sendiri.
" Mama akan rela melepas kamu kalo dengannya."
Sekali lagi Ren menatap foto-foto di layar hp. Ayana, begitu namanya. Cantik,ah
tidak gumam Renan. Dia tidak terlalu cantik, tapi ntah getaran apa yang
membuatnya tidak mau berpaling dan terus menatap foto itu.
“ Besok sekolahnya tempat mengajar akan mengadakan
acara wisata budaya ke museum dan jalan-jaalan ke taman wisata. Kalau kau mau
melihatnyaa pergilah ke sana.”
Ntah kenapa Renan merasa sangat
__ADS_1
tertarik.
" Renan!" Sebuah suara memecah keheningan saat ibu dan anak itu sedang stalking foto Ayana di sosial media.
" Apa si Kak, bikin kaget saja." Kakak ke dua Renan muncul, membawa wajah kemustahilan.
" Mama bilang kamu mau menikah!" Berteriak tidak percaya. Mama hanya geleng kepala melihat tingkah putri ke duanya itu.
Apa! Mama sudah sesumbar sampai mana ini. Renan melihat mamanya tajam. Bukankah baru foto yang dia tunjukan. Kenapa kakak seheboh ini.
" Siapa?" Kakak ke dua duduk.
" Siapa apanya?" Ren menjawab.
" Siapa gadis malang yang akan menikah dengan anak bau kencur sepertimu." Tertawa.
" Kakak!" refleks melemparkan bantal kursi. " Lihat Ma, Kakak bilang apa itu."
" Ia, ia bukan bau kencur, tapi anak bawang." Lagi-lagi meledek, membawa-bawa bumbu masakan.
" Kakak!"
" Lihat ini!" Mama menunjukan layar hpnya ke depan wajah putrinya. Setelah keduanya berhenti adu mulut. Gadis itu menatap lurus. " Waaahhhh."
" Kenapa? Bicara aneh-aneh lagi aku marah ni."Ancam Renan.
" Kejar dia, aku mendukungmu"
Sebenarnya apa si yang di lihat keluarga yang terindikasi suka melakukan dan menyimpulkan hal semaunya itu. Apa yang mereka lihat dari foto pemilik akun bernama Ayana.
" Kak, apa menurutmu Ayana akan suka padaku." Pembicaraan mereka berlanjut setelah makan malam.
" Tidak," menjawab lugas tanpa keraguan, membuat yang mendengar kesal.
" Kakak!" Memang aku kenapa? Aku kan mempesona, manis, baik hati dan mengemaskan. Kesal Ren dalam hati.
" Kalau aku juga pasti akan mikir dulu. Jarak usia, dengan wajah sepertimu lagi." Wajah imut dan mengemaskan yang tidak selevel dengan usiamu yang sebenarnya, gumam kakak ke dua. " Tapi, kejar dia, aku dan mama akan mendukungmu."
" Kenapa Kakak jadi ikutan kayak mama, padahal cuma lihat fotonya aja."
" Kau mau meragukan kekuatan naluri wanita!" Renan menyerah.
Padahal bohong, dua hari kemarin mama dan kakak kedua sudah mendapat informasi super lengkap seputar Ayana dari ibunya.
***
Akhirnya hari ini Renan sudah menyiapkan diri
untuk menemui calon istrinya. Inspeksi secara sepihak. Karena pihak wanita tidak
tau menahu. Ren sengaja mengambil cuti bekerja. Hari ini untuk pertama kalinya dia akan melihat Ayana secara langsung.
Bersambung
Catatan : Alhamdulillah ya Allah\, ternyata luar biasa sekali ya mau melanjutkan cerita suamiku posesif setelah beberapa kali purnama hiatus. Aku bahkan lupa fell menjadi kak Aya ^_^\, hingga harus membaca ulang semua cerita dari awal. Dan beberapa episode ini masih terasa kurang fell Suami Posesifnya\, kurang geregetnya. Sedih ^_^
Apa pun itu, Semoga menghibur ya, terimakasih untuk semua yang sudah membaca Suamiku Posesif.
__ADS_1