Suamiku Posesif

Suamiku Posesif
Side Story


__ADS_3

Uang Jajan Haikal


Sambil menunggu makan malam.


Ibu dan Ayana sibuk di dapur. Kirana berdiam diri di kamarnya, menjalankan tugas dan


perannya sebagai fans. Ayah juga terlihat sedang menyibukan diri di ruang


kerjanya.


Sementara itu dua pria muda yang


ada di rumah ini sedang berkumpul, mari kita dengarkan apa yang dibicarakaan


mereka.


Renan mendekat ke karpet di ruang


tv, sementara Haikal  sudah ada disitu


sedari tadi, sedang asik bermain game dengan hpnya, tiduran dengan bersandar


di bantal besar di karpet. Kaki kirinya dia tekuk, santai seperti tidak punya


tugas kuliah saja dia.


“ Main apa?” Renan ikut tiduran


di samping Haikal, memakai satu bantal yang sama untuk menyandarkan kepala. Dia


juga mengeluarkan hpnya.


“ Bang suka main game  gak?” Tanya Haikal, dia masih belum mengalihkan


mata dari layar hp. Perang semakin sengit begitu terlihat dia memicingkan mata,


geregetan.


“ Gak” cepat sekali menjawab,


Haikal yang sudah mau pamer pencapaian permainannya jadi tersenyum kecut.


“ Kalau habis kerja terus pulang


ke rumah Bang Renan ngapain? gak pernah main game?” Terus bertanya lagi tapi dia


masih asik menghabisi lawan-lawannya di game.


“ Main sama Kak Aya, lebih seru.”


Apa! Dasar bucin gila. Menjawabnya


yakin sekali. Gak perpikir apa yang diajak ngobrol pemuda polos begini.


Renan sudah bangun dan duduk, meletakan


hp yang sebentar saja dia pegang tadi, dia mengeluarkan dompetnya, menumpuk dua


tumpukan uang, terlihat sekali nominalnya berbeda.


“ Taro hpmu, mau uang jajan gak?”


begitu katanya.


Mendengar instruksi barusan, Haikal


melemparkan langsung hpnya ke kakinya. Tidak melirik sama sekali.  Dia sudah duduk bersila di hadapan Renan yang juga duduk bersila. Uang ada di dekat kakinya.


“ Mau donk bang.” Nyegir bahagia.


Dia memperhatikan uang berjajar di


karpet. Hemm, mau apa lagi ni kakak ipar, begitu dia curiga. Meyakini, setelah


memperhatikan dengan seksama sepertinya jumlah keduanya sangat berbeda.


“ Mau yang mana?” Renan menjentikan


tangannya di atas tumpukan uang secara bergantiaan. Mengoda iman yang lemah terhadap


rupiah. (Haha @LaSheira)


“ Yang lebih banyak bang.” To the


poin, tanpa malu-malu sedikitpun.


“ Ceritakan kelemahan Mas Gilang?”


Pertanyaan pertama Renan sudah membuat Haikal mengeryit.


Mas Gilang, kenapa dengan mas Gilang, kupikir dia mau melaraangku memeluk


kak Aya atau menempel pada kak Aya atau semacamnya yang ada hubungannya dengan

__ADS_1


istrinya.


“ Kenapa? Gak mau cerita.” Renan


sudah berwajah masam.


“ Bukanya gak mau cerita bang, mas


Gilang memang gak punya kelemahan apa-apa.” Haikal mencari aman menjawab.


Renan sudah meletakan tangannya


di tumpukan uang yang terlihat sedikit, Haikal yang panik.


“ Tapi...” jawaban Haikal menggantung.


“ Tapi apa?”


Masih bisa terselamatkan nasibku


begitu kira-kira pikir Haikal.


“ Mas Gilang memang gak punya


kelemahan apa-apa bang. Dia orang baik, gak pernah pacaran juga sebelum


menikah. Jadi kak Desta itu cinta pertama sekaligus menjadi jodoh sehidup


sematinya.”


“ Memmm.” Giliran Renan yang


berdecak kagum, ternyata saingannya lumayan juga batinnya.


“ Tapi abang tetap lebih menang


dari mas Gilang kok.” Mendengar ini wajah Renan sudah terlihat berubah,


terlihat senang sekali.


Uang jajanku masih bisa diselamatkan.


“ Kenapa?”


“ Karena Bang Renan mendapatkan


sesuatu yang paling disayang sama mas Gilang.”


“ Kak Aya.”


Jawaban itu sudah membuat Renan


membusungkan dada. Penuh kebanggaan.


“ Kamu tahukan kalau mas Gilang itu


gak terlalu suka sama aku pas aku mau menikah sama kak Aya.” Renan kembali


kemasa itu, saat ia belum menikah dengan Ayana. Saat ia sudah menaklukan hati


semua anggota keluarga Ayana, dan ada satu orang yang jadi batu sandungannya.


Kakak laki-laki Ayana.


“ Bukannya gak suka bang, mas


Gilang itu hanya masih belum rela aja kak Aya menikah. Kalau aku lihat, bukan


menikah dengan siapa, tapi pernikahan kak Aya sendiri yang sudah membuatnya


frustasi.”


“ Kenapa?” karena kalau dari segi


usia waktu ia menikahi Ayana, istrinya itu sudah lebih cukup dari segi usia


untuk menikah.


“ Ya mungkin dia belum percaya


kalau ada seseorang yang bisa sayang sama kak Aya, seperti dia dan keluarga


kami sayang sama kak Aya. Kak Aya itukan kesayangan di rumah ini bang. Kami semua


sangat sayang padanya.”


“ Meremehkanku sekali.” Renan


terdengar sangat kesal sekali.


Gawat, sepertinya uang jajan


lebihku akan benar-benar lenyap. Haikal melirik uang di karpet sambil berfikir

__ADS_1


keras.


“ Tapi sekarang Mas Gilang sudah


percaya sama abang kok.”


“ Benarkah?”


“ Hehe, berterimakasihlah pada ibu,


ibu itu sudah seperti manager abang aja. Ibu itu selalu cerita yang baik-baik


soal abang sama mas Gilang. Cerita tentang kebaikan abang.”


“ Kalau gitu uang ini buat ibu


aja.” Santai sekali kakak iparnya itu bicara.


“ Yaaaaaa.” Kecewa luar biasa.


“ Becanda, ni ambil.”


Haikal langsung menyambar uang jajannya,


tentu saja mengambil yang tumpukannya lebih banyak.


“ Dan buat kamu, jangan peluk-peluk


kak Aya sembarangan.”


“ Siap bang, siap.” Menangkupkan


kedua tangan di depan muka.


“ Peluk pacar kamu sendiri aja.”


“ Aku masih jomblo bang, jomblo. Eh


tapi kalau sama pacar belum boleh peluk-peluk kali.”


“ Ia juga ya. Nikah aja sana.”


“ Aku masih kuliah bang, kuliah,


mana bisa nikah, mau ngasih makan apa istriku nanti, kerja aja belum.”


“ Makanya kerja.” Gampang sekali


Renan menjawab.


“ Kan masih kuliah bang.” Jawab


Haikal pilu, meredam kesal.


“ Alasan, bilang aja gak punya pacar.”


“ Ya gitu juga bang alasan utamanya.”


“ Bang punya istri kayaknya enak ya.”


“  Lulus kuliah dulu aja sana, kerja dulu kumpulin uang, baru mikir nikah.”


Yaaaaa tadikan yang nyuruh nikah abang.


“ Bang punya temen yang bisa


dikenalin ke aku gak. Pengen punya pacar yang lebih tua juga kayak abang


kayaknya asik banget.”


“ Siapa bilang?”


“ Ya abang sama Kak Ayakan begitu.”


“ Hei bocah, aku itu beruntung


karena menikah dengan kak Aya, bukan karena menikah dengan perempuan yang lebih tua.


Jadi cari keberuntunganmu sendiri sana.”


“ Maksudnya?”


“ Yang asik itu kak Aya, bukan karena


perbedaan usia kami.”


Dasar bucin gila, tidak akan menang


aku bicara sama kamu bang. Apalagi kalau urusannya tentang Kak Aya.


BERSAMBUNG


Hallo...klik like dan favoritya.. terimakasih 😉😉

__ADS_1


__ADS_2