Suamiku Posesif

Suamiku Posesif
Energi ekstra


__ADS_3

Selamat hari senin semua, pagi kembali menyapa. Atmosfer di udara masih


tercium aroma weekend. Bisa menjadi spirit semangat atau sebaliknya, jerat


yang mengikat kaki kita, untuk merasa enggan menghadapi realita kehidupan. Pekerjaan demi pekerjaan yang sudah menumpuk di meja kerja akan segera menyambut.


Sedangkan aku, setelah menikmati libur akhir pekan yang menyenangkan,


aku merasa bersemangat menyambut hari. Apalagi setelah semua pekerjaan pagi


selesai dengan cepat.  Memasak untuk sarapan


sudah selesai. Kotak bekal makan siang sudah beres. Dapur sudah bersih. Aku mulai


bisa merasai aroma matahari di luar sana. Yang panasnya mulai menemani para


pejuang keluarga memulai hari.


Di mana Ren? Aku mendengar suara angin bertanya tentangnya. Dia masih di


kamar, bersiap bekerja dan mengumpulkan tenaga ekstra, karena dia akan lembur


hari ini. Tenggat laporan kerja bulanan sudah ada di depan mata. Membuat semua staff yang ada di divisinya untuk lembur hari ini.


Selesai! Kuah sup sayuran untuk  sarapan. Kepulan asap menyeruak dan berlomba meninggalkan mangkuk. Meliuk-liuk


cantik lalu menghilang tanpa jejak.


“ Kakak!” Suara muncul dari belakangku. Eh dia sudah keluar. Grep. Baru


saja mau berbalik setelah mematikan kompor dia sudah menangkap pinggangku dari


belakang. Mengaitkan kedua tangannya di depan tubuhku. Membuatku tidak bisa bergerak. Aku tertangkap.


“ Kenapa?” Padahal tinggal memindahkan mangkuk sup untuk sarapan,dan semuanya beres. Dia tidak


menjawab pertanyaanku dengan kata-kata. Tindakannya selanjutnya yang menjawab pertanyaanku. Ren menyibak rambut, menariknya ke samping kanan, sampai


bagian kiri leherku terlihat. Sekarang sudah menjatuhkan dagunya di bahu.


Mencium leherku. “ Hei kenapa?” Masih tidak menjawab dengan kata-kata. “


Lepaskan dulu sayang.” Menggoyangkan bahu. Sia-sia, dia terlalu kuat. Aku mendesah mengalah akhirnya, ketika dia tidak mau berhenti.


Aku memilih membiarkannya. Belum puas kalau belum  ada tanda merah di sana.


Dia berhenti sendiri, tapi tetap melingkarkan tangan memelukku dari


belakang.


“ Semalam aku bermimpi,” ujarnya masih di posisi yang sama.


“ Mimpi apa?” Sampai membuatmu bertingkah begini. Walaupun tingkah ini

__ADS_1


sudah tidak asing bagimu sebenarnya. Ren menarik rambutku lagi. Menyelipkan di belakang telinga. Pindah ke bahu yang


lainnya.


“ Mimpi saat aku pertama kali jatuh cinta pada Kakak.” Hei, lagi, lagi!


Dia melakukan apa yang dia lakukan tadi di leherku bagian kiri. “ Aku masih


berdebar-debar saat pertama kali merasakan jatuh cinta pada kakak. Bahkan pagi ini cintaku bertambah dua kali  lipat.”


Mulai lagi deh, jujur, aku belum percaya seratus persen dengan


kata-katanya yang satu ini.  Walaupun Ren


tidak pernah berbohong padaku dalam hal apa pun. Tapi, tapi,  masak aku harus percaya dia jatuh cinta


padaku, saat kami bertemu pertama kali saat perjodohan.


Tampang lusuhku sehabis bekerja, sama sekali tidak ada cantik-cantiknya.


Dan dari sudut mana dia terpesona. Aku masih ingat kata-kata aneh dia si, Aku


suka kok. Haha, aku jadi merinding aneh kalau mengingat saat itu.


“ Ren, memang saat perjodohan aku kelihatan cantik gitu sampai membuatmu


jatuh hati pada pandangan pertama.” Aku menoleh, dan dia tidak melewatkan


Anak ini ya, benar-benar deh.


“ Memang siapa bilang kalau itu pertama kalinya aku melihat kakak.” Eh,


dia bilang apa? Aku mencoba membuka lembaran ingatan di kepalaku. Tidak menemukan apa pun. Benar kok, perjodohan itu adalah kali pertama.


“ Memang kapan kita pertama kali bertemu?” Ketika tidak berhasil menerka.


“ Waktu perjodohan.” Jawabanmu membuatku geram. Benarkan, itu pertama kalinya. “ Tapi, itu kan bukan


pertama kalinya aku melihat kakak.” Menjawab tanpa kuminta, tau ya aku mulai


kesal.


“ Jangan bilang saat pertama kali kamu liat fotoku.” Gak masuk akal, kalau


kamu jatuh cinta hanya karena fotoku. " Ayo katakan."


“ Aku akan cerita, kalau setahun ini kakak bersikap manis dan patuh.”


Apa! Anak ini. Setahun, memang dia pikir setahun itu besok. Aku mulai


kesal.  Kugoyangkan tubuhku agar dia


melepaskan tangannya.

__ADS_1


“ Lepas Ren, aku mau memindahkan kuah sup.” Dia tidak mendengarkan, tangannya tetap melingkar


dipinggangku. Akhirnya aku tetap memindahkan mangkuk dengan tubuhnya yang masih menempel. Dia menyeret kakinya  mengikutiku. Anak ini benar-benar deh. “ Ayo sarapan sayang, katanya butuh tenaga ekstra.”


“ Tidak mau.”


Idih, lembur hari ini benar-benar membuat semangatnya menguap.


" Biarkan aku memeluk kakak sebentar lagi, aku butuh tenaga ekstra. Mita sudah berisik di grup tentang lembur nanti. Membuat kesal saja." Baiklah, aku menyerah menolaknya. Aku membalikan tubuh dan memeluknya juga.


" Nanti aku tunggu sampai Ren pulang." Menepuk bahunya lembut. Mensuplai semangat padanya. Menjatuhkan kepalaku ke dadanya.


" Kakak tidur duluan aja, aku pulang malam." Eh, kamu mau apa lagi. Menyentuh pinggangku dengan kedua tangaan. Mengangkatku. Tubuhku sudah terduduk di meja makan. Aaaa, aku mau menjerit rasanya saat wajahmu di depanku. Mensejajari tinggi badanku. Menyudutkanku dengan kejamnya. " Tapi sekarang, di sini, di sini." menunjuk semua bagian yang ingin diberi tenaga ekstra. "Beri aku tenaga ekstra."


Apa-apaan ini! Wajahmu yang mengemaskan ini, tepat hanya beberapa centi di depanku. Jantungku masih saja berdebar hebat begini. Aku ini benar-benar lemah ya. Senyum senang di wajahmu benar-benar membuatku ingin melakukan lagi. Eh, gila ya, jangan Ayana. Jangan! Kau gila kalau melakukannya lagi. Dan sepertinya aku benar-benar tergila-gila padanya. Aku benar-benar mencium Ren lagi untuk kali kedua tanpa  dia minta. Dia terlihat terkejut sesaat, tapi langsung tersenyum senang. Dan selanjutnya, ah, terserahlah. Detik jam dinding terdengar lambat di telinga kami.


Senyum masih tersisa di wajah Ren, yang masih menatapku.


" Sudah hentikan, jangan melihatku." Kututupi matanya. Dia malah tertawa, sambil merapikan rambutku. Kenapa dia terlihat semakin tampan kalau sedang senang si. Ini kan namanya curang, bagaimana aku bisa punya suami semanis kamu Ren.


" Ayana."


Memang apa yang sudah kulakukan di masa lalu ya " Eh, Ren panggil aku barusan apa?" Sepertinya aku mendengarnya memanggil namaku, untuk kali pertama.


" Kakak!" Tertawa, lalu memberi ciuman terakhir di leherku. Menurunkanku dari meja. Aaaaaa, kenapa dia mengemaskan begini si.


" Tidak bukan itu, aku dengar tadi lho."


"Apa!" tertawa lagi. Tunggu, senyum itu. " Terimakasih untuk ekstra tenaganya hari ini. Kakak." Terserahlah. Toh melihat Ren seperti itu membuatku juga bersemangat.


Hari Senin ayo bersemangat!


Semangat apanya. Setibanya di sekolah, ada yang terlihat sudah menungguku. Kenapa lagi dengannya si. Andrian berdiri tepat di hadapanku. Bell belum berbunyi. Para siswa masih terlihat santai memasuki gerbang sekolah. Dia mendekat, beberapa langkah.


" Kenapa? Sebentar lagi bell masuk. Pergilah ke kelas."


Dia belum menjawab, sekarang terlihat mengeluarkan sesuatu dari dalam tas. Tunggu, apa itu. Surat.


" Terimalah Bu."


" Tidak mau!"


Aku menjawab tanpa berfikir. Wajah Andrian terlihat berubah, aku menyesali jawaban spontankuku barusan.


" Maaf Andrian Ibu hanya kaget barusan. Itu surat apa?" Gurat sedih di matanya muncul.


Dia hanya diam dan menarik tangannya yang sudah terulur. Anak ini benar-benar pintar membuatku merasa bersalah.


Bersambung


 


 

__ADS_1


__ADS_2