
Selang beberapa hari setelah Andrian menyerahkan surat cintanya, berujung pemanggilan walinya ke sekolah. Dia tidak mau memberikan surat itu pada paman dan bibinya. Alhasil satu-satunya yang bisa dia tumbalkan, eh bukan, maksudnya dimintai (dipaksa) memenuhi undangan wali kelasnya adalah kakak sepupunya. Yang walaupun agak judes, tapi baik hatinya.
Ya benar, Mita kakak sepupu Andrian adalah si jomblo kesayangan semua orang. Alias karyawan magang yang bisa di suruh-suruh di kantor. Sungguh kebetulan yang luar biasa.
Pagi ini Mita memulai jadwal di luar kebiasaanya. Padahal lelah jelas terlihat di matanya. Mita
menutup pintu kamar dengan keras. Lalu berlari menuruni tangga rumah. Bocah itu
sudah memasukan kotak bekalnya di dalam tas gumamnya dengan nada sedikit kesal.
Dia harus berangkat sepagi ini sudah membuat moodnya berantakan. Ditambah lagi
alasan kenapa dia sampai melakukan ini.
Curhat malam adik sepupu, tentang perasaannya yang ditolak. Awalnya Mita menaruh iba, menepuk bahu Andrian lembut. Tapi ketika cerita semakin berlanjut, plak! Dia tidak bisa menahan diri lagi.
Bocah ini, di mana, laki-laki sempurna yang kadang aku puja-puja dalam hati itu. Merasa kesal sendiri.
“ Kak Mita
saja yang datang ke sekolah.” Andrian menyerahkan surat pemanggilan wali yang
diberikan wali kelasnya.
“ Kenapa? Kau
malu kalau sampai mama tahu.” Dasar bocah, tangaan Mita terkepal lagi, ingin
menjitak kepala adik sepupunya ini.
Andrian
malah menjawab dengan membuang muka.
“ Wahhh,
kau ini benar-benar ya.”
Kepala
Andrian bergeser melihat Mita lagi. Disusul senyuman. “ Senyumanmu tidak mempan
sekarang.” Mita mengibaskan tangan ketus.
“ Kak
Mita kan yang mendukungku untuk mengirim surat pada seseorang yang aku suka.
Sekarang kenapa marah-marah begini si.” Andrian bangun dari duduk. Menjauh dari kakak sepupunya yang terlihat berkobar karena menahan kesal. " Hari itu aku memberanikan diri karena mendapat semangaat dari Kak Mita."
Akukan
tidak tahu kalau itu gurumu! Bocah kurang ajar, berani-beraninya mengirim surat
cinta pada gurunya sendiri. Yang sudah menikah lagi!
Semalam
kepala Mita langsung berdenyut, dia menyeret kakinya dengan berat ke kamarnya
sendiri. Sambil memegang lehernya yang kaku.
Pagi yang teramat berat untuk memulai hari.
“ lho
Tumben berangkat pagi.” Mama sudah selesai beberes, tinggal menunggu papa turun
untuk sarapan. Menarik kursi. “ Sarapan dulu.”
“ Hari ini
ada janji Ma, aku sarapan dikantor aja nanti.”
__ADS_1
Janji dengan wali kelas Andrian! Gara-gara surat cinta membawa petaka.
“ Mama
buatin bekal ya. Masih pagi ini. Tunggu sebentar.” Mama sudah bangun.
Hemm.hemm.
Bocah yang sudah memakai sepatu itu berdehem. Mengangkat tangan dan menunjuk jam di pergelangan tangannya. Terlambat! Bahasa bibirnya membuat Mita mendengus.
“ Sudah
terlambat Ma, aku pergi bareng Andrian ya Ma.” Mita mencium tangan
mamanya. Mencucapkan salam, lalu mereka keluar rumah bersamaan. Mama di balik punggung mereka tersenyum senang.
" Mereka rukunnya, manis sekali." Kemudian berlari menaiki tangga, suaminya belum keluar dari kamar.
***
Berdiri tepat di tepi jalan. Ramai, lalu lalang kendaraan. Siswa berseragaam yang dibonceng untuk diantar kesekolah. Semuanya terlihat bersemangat. Karena impian harus selalu dibarengi dengan kerja keras.
“ Kenapa pagi begini si
berangkatnya.” Angin pagi menerpa wajah mereka.
“ Sekolah
itu masuk jam 7 Kak. Sudah lama gak sekolah ya. Eh iya, sudah lama ya jomblonya.” Masih sempat-sempatnya meledek.
“ Aku kasih surat panggilannyaa ke mama ya.”
" Kak Mita jangan!" memeluk. " Maaf, maaf."
Taksi
online yang di pesan Andrian menepi membuat pertengkaraan mereka terhenti. Mereka masuk lalu taksi melaju dengan
“ Kak Mita.”
“ Sudah
diam, aku sedang mau menenangkan batin.”menyandarkan kepala dan memegang
rambut. “ Tahu tidak, aku tidak bisa tidur malam tadi, memikirkan apa yang
akan terjadi nanti.” Mita sedang berusaha membayangkan seperti apa wajah guru wanita itu. Yang sampai membuat anak seperti Andrian sampai tidak tahu malu menyatakan perasaannya.
Kalau saja Andrian menyimpan rapat untuk dirinya sendiri, tentu itu tidak menjadi masalah. Karena perasaan suka, simpati atau pun cinta hak setiap orang. Yang menjadi masalah adalah keberanian adik sepupunya.
Cih, aku kan yang mendukungnya kemarin.
" Seperti apa gurumu itu?" Penasaran mengelitik.
“ Kenapa?
Kak Mita penasaran ya.” Tersenyum malu.
“ Ini bukan
sesuatu yang pantas kamu banggakaan!” melotot kesal.
Aku sampai
benar-benar kehabisan kata-kata.
“ Gurumu
mau bilang apa ya? Dia tidak akan membuatmu di keluarkan dari sekolah kan.” Mita sedang berspekulasi. Kalau sampai dia di keluarkan, habislah dia. Paman pasti akan langsung terbang dan menjemputnya ke luar negri. Tapi Mita sama sekali tidak melihat gurat khawatir di mata Andrian.
Andrian
mengeluarkan hp yang bergetar. Wajahnya terlihat malas, setelahnya memasukan kembali ke dalam tas. Kebiasaannya malas membaca pesan.
__ADS_1
“ Guruku
itu baik kak. Dia itu baik. Baik, pokoknyaa baik.”
“Tutup
mulutmu!” Mita memejamkan mata karena kepalanyaa berdenyut lagi. Mendengar Andrian memuji gurunya. Dia pasti baik hati dan juga cantik, gumam Mita.
Tiba-tiba
gadis itu membuka mata dan duduk dengan tegap. “ Sudah mau sampai ya.”
Menarik nafas dalam. Menyiapkan mental.
Pak sopir masih
mengemudi dengan sangat tenang. Tidak tertarik untuk ikut nimbrung dengan pembicaraan penumpangnya.
Mita menoleh pada Andrian. Laki-laki itu sampai memundurkan kepala dengan curiga. “ Kenapa
kau suka padanya?” Wajah Andrian terlihat terkejut. Tapi, dia tidak menjawab maalahmemainkaan jari di kaca mobil. “ Jangan
bilang karena alasan tidak masuk akal seperti karena dia mirip mamamu.” Tertawa.
“ Cih.”
Apa! Dia bilang
apa tadi cih. Jadi benar!
Plak, Mita
memukul bahu Andrian.
“ Seharusnyaa aku tahu. Kau kan selalu bilang wanita paling cantik di dunia ini
cuma mamamu.”
“ Memang
benar.”
“ Ya, ya. Anak laki-laki kalau ditanya siapa yang paling cantik di dunia pasti menjawab mama." Mita menyerah kalah mendebat. "Ya Tuhaan, aku benar-benar ingin meremas wajahmu sekarang.”
Meremas tangannya sendiri di depan wajah Andrian. “ Seharusnya aku bisa menduganya. Kau
bahkan bilang aku jelekkan, dan cuma rambutku saja yang cantik. Karena rambutmu
mirip mamamu.” Andrian tergelak dia memang pernah mengatakan itu.
“ Sudah
sampai mbak.” Pak sopir yang mengheningkan cipta selama perjalanan sudah
menghentikan mobil di depan sekolah. Mita menyerahkan ongkos sementara Andrian sudah keluar dari mobil.
Eh, sepertinya aku kenal mobil di depan itu.
Mita keluar dari mobil sambil berfikir keras. Mencoba mengingat-ingat. Mobil yang melaju di depan taxi onlinenya berhenti tadi.
Ah,iya, itu mobil senior! Aaaaaa, jangan-jangan istrinya mengajar di sini.
Mita menyusul langkah kaki Andrian.
Aku penasaran sekali, seperti apa wajah istri senior ya. Pokoknya aku harus cari tahu setelah urusan dengan wali kelas bocah ini selesai. Aku mau minta fotonya Kak Ayana. Hehe.
Keramaian sekolah menyambut langkah kaki Mita.
bersambung
Hallo para
pembaca Suamiku Posesif, aku LaSheira, terimakasih untuk semua pembaca yang membersamai perjalanan Kak Aya dan Ren sampai hari ini 😉😉
__ADS_1