Suamiku Posesif

Suamiku Posesif
Harinya Ren


__ADS_3

Cemburu itu ramuan khusus. Yang rasanya akan berbeda untuk setiap orang.


Pacaaran cemburu, itu masuk kategori biasa. Tapi cemburu pasangan halal,


seharusnya ada manis-manisnya kan.


Tidurku nyenyak sekali semalam, aku bangun dengan perasaan nyaman.


Mode patuh pagi-pagi. Haha, biasanya aku juga patuh kok.sumpah, tapi kali ini kepatuhanku


benar-benar tanpa bantahan. Aku mengikuti semua yang ia inginkan. Berawal dari


mandi bersama, menu sarapan, bahkan sampai pakaian yang aku pakai hari ini


adalah hasil pilihannya. Mengikuti semua maunya. Seperti pundakku terasa


ringan karena terangkat beban.


Kami sepakat mengubur perihal surat Andrian sebagai bagian dari


perjalanan cinta yang bergelombang. Naik dan turun menjadikan rumah tangga kami


semakin hangat. Laut pun indah dengan sedikir riaknya. Aku berjanji pada Ren


untuk menjaga diriku. Menjaga kepercayaan yang dia berikan. Sebagai bagian


kehormatanku sebagai istrinya.


Percayalah, jangan menabur api. Walaupun pasanganmu tidak melarangmu


sekalipun. Karena umpan yang kau tebar bisa saja di tangkap oleh seseorang. Dan


seseorang itu menjadi jauh lebih indah dari pasangan halalmu.


Kami melewati pagi dengan penuh semangat dan bersyukur. Hadiah yang


Allah berikan pada kami, sebagai suami istri. Sikap saling mempercayai pasangan.


***


Kencan di akhir pekan.


Sekitar jam 11 siang, aku dan Ren keluar dari area parkir. Bergandengan tangan.


Aku tersenyum saat Ren mengangkat tanganku dan menciumnya. Menempelkan dekapan tangan yang terpaut di pipinya. Punggung tanganku menempel.


Aaaaaa,dia manis sekali si kalau melakukan itu.


“ Hari ini kakak cuma boleh menjawab ia, terserah aku mau melakukan


apa.” Berjalan menaiki lift. Melingkarkan tangan di bahu. Mencium kepalaku.


“ Ia, ia. Jawab begitu kan. Hehe.” Hadiah yang kuberikan untuk menebus kesalahanku. Seharian ini

__ADS_1


aku akan melakukan apa pun yang dia mau. Kencan hari ini dialah tuannya.


Biasanya aku masih sering mengelengkan kepala kalau dia sudah meminta hal yang


aneh-aneh. Walaupun itu juga jarang terjadi. Tapi hari ini apa pun yang kau mau akan kulakukan.


Gerai es cream, pelayan wanita dengan seragam cantiknya sedang menunggu kami memilih rasa.


" Kakak mau rasa apa?" Melihatku. Ada banyak pilihan rasanya.


" Greentea vanila sepertinya enak. Eh tapi mocca juga sepertinya menggoda. Coklat juga keliatan enak." Semua menggoda mataku, aku jadi binggung. Menunjuk-nunjuk semua rasa es cream. Pelayan wanita itu senyum-senyum penuh makna melihat kami.


" Tapi aku mau taro sama strobery." Ren menyebutkan pilihannya. Ya itukan rasa kesukaanya.


" Baiklah, kalo begitu itu aja."


" Kalo gitu pilih rasa greentea vanila, mocca sama coklat. Kasih stroberynya 4 ya."


Aku tertawa mendengar menu yang akhirnya dia pilih. ini anak maunya apa si, aku sampai ingin mengigitnya karena gemas. pelayan wanita di depanku saja sampai ikut tertawa.


Kami duduk sambil menikmati semangkuk es cream aneka rasa pilihanku. Suamiku ini benar-benar mengemaskan. Aku mengambil strobery mencoleknya dengan rasa coklat. Lalu memasukannya ke mulut Ren.


" Enak. Hehe."


" Ia, aku kan makan sama Kakak." Ia, ia, ku tepuk kepalanya lembut. Menyucap banyak syukur.


Ren meletakan sendoknya. Meraih rambutku, merapikan ujung rambut di


“ Kakak.”


“ Ia.” Minta aku suapi lagi ya. Kusuapi Ren dengan sendok yang sama yang aku


pakai. Dia melihat rambutku, seperti mau mengatakan sesuatu. Dimainkan rambut itu di telapak tangannya. "Apa boleh aku minta sesuatu tentang rambut kakak."


“ Kenapa?” Aku bertanya akhirnya. Dia terlihat ragu. Kenapa sih, tidak


biasanya Ren menggantung kalimat. Jelas-jelas hari ini aku akan melakukan


apa pun yang dia mau. “ Mau apa? Mau aku mengikat rambutku?” Aku tertawa memancing kesalnya. Dia


tersenyum kecut sambil melilitkan rambut ke leherku. Sampai semua bagian leher depanku tidak terlihat. “ Haha, bercanda sayang.


Ayo cepat habiskan es creamnya. Kita jalan lagi.” Aku menyuapinya lagi. " Tadi mau minta apa tentang rambut."


" Gak jadi, biar kakak sadar sendiri." Eh, memang apa si, yang mau kamu minta.


Sekali lagi aku melihat sorot matanya ingin mengatakan sesuatu. Tapi


tidak ada sepatah kata pun yang keluar. Dih anak ini kenapa si.


“ Kakak kita nonton apa ya?”


" Gimana kalo nonton film aksi aja, film yang itu." Aku menunjuk banner promo sebuah film.

__ADS_1


" Gak mau, hari ini aku kan yang tentukan filmnya." Dih, terus kenapa tanya. " Film yang itu gimana, tayangnya bareng sama film yang tadi." Terserahlah, mau yang mana tidak masalah bagiku. "Tidak maulah nonton yang itu aja gimana?" Itukan memang poster yang aku tunjuk tadi!


Ya, ya, Ujungnya dia memilih yang aku mau. Ih manisnya manusia satu ini.


Dia mengantri tiket, berbalik melihatku dan melambaikan tangan. Aku membalas sambil tertawa.


Dia sudah membawa persiapan menonton lengkap. Kuambil minuman di tangannya. " Duduk di sana dulu yuk, masih 10 menit lagi pintu dibuka." Menunjuk deretan kursi yang hampir terisi  oleh pasangan seperti halnya kami. Yang jomblo pada kemana ya.  Eh.


“ Kakak, kita bulan madu yuk.” Aku mencubit pinggangnya, suaranya membuat orang di  samping kami menoleh. Memperhatikanku dengan penuh khidmat.


Apa. Dia suamiku kakak. Begitu aku ingin menjawab sorot mata itu.


“ Pelankan suaramu, kenapa tiba-tiba?”


“ Sebentar lagi kakak kan libur semester. Kita rencanakan sekarang.”


" Tapi kamu kan kerja." Fakta kalau sebenarnya cuma aku yang libur.


" Aku masih punya tabungan cuti tahunan."


“ Kamu mau kemana sayang?” Menuruti obrolannya.


“ Di kamar aja gak papa.” Tertawa.


“Itu bukan bulan madu namanya.” Plak, kutepis tangannya. Wanita yang melihatku tadi mendelik. Ah, apa aku bilang saja kalau kami suami istri. Dia terlihat tidak fokus pada pasangannya malah melihat kami." Bulan madu apa kalau cuma di kamar sayang." Aku jadi merasa iba dengan pikiranku sendiri yang sudah menjelajahi


nama-nama tempat popular di negara ini.


“ Bulan madu kan bukan masalah tempat, tapi bersama siapa itu yang penting.” Nyengir seperti biasa. Wanita di sampingku masih terbelalak tidak percaya.


Saat pintu terbuka Ren menarik tanganku. " Ah sayang sebentar." Aku membuka hp, mau meluruskan kesalahpahaman. " Maaf mbak permisi, kami ini suami istri." Wanita tadi semakin terbelalak. Ntah karena melihat kami tidak terlihat seperti sepasang suami istri. Atau kaget dengan foto buku nikah yang aku tunjukan.


" Ah ia." Dia terlihat malu.


Ren menarik tanganku untuk masuk. " Kenapa musti menjelaskan padanya si, diakan orang asing. Aku tidak perduli dengan yang dia pikirkan." Tidak suka dengan tindakanku barusan.


" Maaf, sudah melakukan hal yang tidak kamu suka hari ini."


" Kakak harus dapat hukuman nanti. Poin hari ini berkurang." Dih, memang aku anak TK yang lagi ngumpulin poin.


" Mereka terlihat seperti murid-muridku yang sangat muda." Menemukan kursi kami. " Aku tidak mau mereka berfikir apa yang kamu katakan tadi boleh dilakukan oleh pasangan yang belum menikah." Ntah kenapa aku jadi melihat pandangan bangga di matanya.


" Aaaa, kakak memang yang terbaik aku jadi semakin cinta sama kakak." Hei hentikan, aku kan tidak mau menjelaskan pada seisi bioskop kalau kita ini suami istri.


Bersambung


 


Note :


Sampai jumpa di beberapa episode menuju final episode pada update berikutnya ^_^


Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2