Suamiku Posesif

Suamiku Posesif
Side Story (Di Kantor)


__ADS_3

Kantor Renan.


Ruang kerja divisi di penuhi dengan kesibukan. Semenjak pagi semua orang


berkutat dengan draf menumpuk di meja kerja. Layar komputer menyala sepanjang


waktu. Beberapa orang terdengar berteriak memberi instruksi. Mita juga


terlihat sibuk hari ini, setelah membereskan berkas fotocopy di ruang arsip dan


membagikan ke setiap meja staff dia ke dapur membuat kopi untuk semua orang.


Anak magang jadi pahlawan saat tenggat laporan bulanan di depan mata. Dia bisa disuruh melakukan apa saja.


“ Senior, semangkuk es cream untuk Senior.” Menunduk sambil menyenggol


siku Renan. Dia terkejut. “ Eh, Senior masih bersemangat sekali.” Kecewa. Padahal dia berharap


wajah tampan seniornya akan selayu bunga yang tidak di siram. Karena seniornya yang satu ini tadi pagi yang paling kesal saat diingatkan jadwal lembur.  Beberapa meja


yang sudah di datanginya sudah memasang wajah keruh. Saat Mita datang membawa


segelas kopi panas mereka bahkan berfikir yang datang adalah malaikat. Berulang kali mengucapkan terimakasih pada Mita.


Kalo ini bayangan Mita sendiri, gak ada yang berfikir dia malaikat. Anak


magang itu sedang berhayal, karena segelas kopi yang ia bawa menyegarkan semangat mereka kembali. Jadi dia menyimpulkan dia adalah dewi penolong.


“  Tentu saja aku bersemangat,


kakak sudah memberiku tenaga ekstra.” Jarinya masih bergerak di keyboard sementara matanya


melihat Mita.


“ Apa?” Bingung, isi kepala Mita sedang loading. “ Maksud senior apa?


Bagaimana caranya istri senior memberi tenaga ekstra.” Dengan polosnya


bertanya. Renan melihat foto di atas mejanya, mengambilnya lalu mendekatkaan ke


samping kepalanya. Dan menciumnya kemudian. Kyaaaaa, Mita langsung merinding. “ Jadi


begitu caranya istri senior memberi tenaga ekstra.” Sepolos status jomblonya, dia


bicara. Eh, diakan pura-pura punya pacar kalau di kantor.


“ Sudah sana, anak kecil jangan berfikir macam-macam.”


“ Apaan si.” Tambah bingung, kalau cuma cium  foto, anak Tk juga boleh liat kali, gerutunya.


“ Terserah senior deh, es creamnya di makan dulu ya.” Menunjuk semangkok es


cream aneka rasa dengan toping buah stroberi.


“ Heem, nanti makan siang bareng ya.”


“ Kenapa? Senior mau traktir?” Sudah mau memilih menu apa kira-kira yang


mau dia pesan.


“ Gak, mau pamer bekal makan siang yang di masak kakak.” Mita langsung


melengos pergi, tanpa meninggalkan sepatah kata pun, sementara Renan tertawa

__ADS_1


sambil memanggil namanya. Mita tidak sudi untuk menoleh.


Huaaaaa, jiwa jombloku bergelora! Udah cium-cium foto istri, pamer bekal


makan siang lagi.


Mita bertekad untuk jujur dan mengatakan pada semua orang, kalau dia


adalah jomblo. Dia akan menolak terang-terangan, kalau playboy kantor masih mengejarnya. Dia masuk ke dapur meletakan nampan dan kembali kemejanya. Serius menulis


di kertas.


Jomblo mau jujur mengakui kejombloaannya,  tahap-tahapan yang harus di lalui. Dia serius sekali, nyaris seperti


semua staff yang sedang sibuk menyelesaikan laporan bulanan mereka.


Aku harus apa ya?


***


Renan menghentikan pekerjaannya, dia meraih mangkuk kecil yang di bawa


Mita tadi. Manisnya es cream lumer di mulutnya. Mensuplai kembali energi.  Sesuap demi sesuap masuk ke mulut. Sambil melihat foto Ayana dan dirinya berdua.


Ah dia memang lucu sekali. Apalagi tadi pagi, saat aku memanggil


namanya.


“Ayana”


Dia menyentuh foto dengan jemarinya. Tersenyum lagi. Aku jadi merindukanmu kan,gumamnya pelan. Seirama dengan suapan es cream ke mulutnya.


Saat Renan meraih hp karena ingin mengirim pesan pada Ayana, hp itu berdering lebih dulu. Bu Tiwi memanggil. Ren hanya melihat layar hpnya. Membiarkan sampai panggilan berhenti. Tapi ketika dering kembali terdengar, akhirnya dia angkat juga. Wajahnya terlihat enggan.


" Bagaimana pekerjaannya?"


"Sudah separuh jalan Bu."


" Hemm, baguslah. Siang nanti Renan mau makan siang apa? Biar saya pesankan."


Renan mendesah sambil melihat layar hpnya. Dia tahu kok, cuma pura-pura tidak tahu. Kalau sikap bu Tiwi padanya berbeda dengan wanita itu bersikap dengan staff lainnya.


" Saya bawa bekal makan siang masakan kakak." Dia ucapkan dengan nada sesenang mungkin.


Berhentilah sampai di sini Bu Tiwi.


" Begitu ya,bagaimana kalau nanti malam. Kita kan akan lembur, bagaimana kalau makan malam yang istimewa biar semangat lemburnya?" Senyum licik muncul di bibir Renan. Dia punya rencana menyudahi upaya Bu Tiwi untuk mendekatinya.


" Boleh!" Bersemangat. " Saya yang pesan restorannya ya Bu, Restoran mewah boleh Bu." Disusul tawa jenaka yang biasanya hanya dia tunjukan pada Ayana.


" Boleh,  tentu saja boleh. Renan yang pilih tempatnya. Nanti kirim saja lokasinya. Kita berangkat pakai mobil sendiri-sendiri ya." Suara Bu Tiwi terdengar sangat senang. Lalu sambungan terputus.


Makan malam, tentu saja boleh.


Renan meraih hpnya, mengetikan pesan. Terkirim.


" Mita pesan tempat di restoran ya, Bu Tiwi mau traktir makan malam semua staff. Di tempat yang mahal." Emoji ketawa lebar 5 biji.


" Siap Senior." Balasan cepat Mita.


Renan mungkin tidak akan perduli, kalau dia bukan Bu Tiwi.Orang yang ia temui setiap hari. Kalau hanya sekedar orang meliriknya, berbisik-bisik di dekatnya, atau sekedar minta no telfonnya. Tapi karena setiap hari mereka bertemu, dia benar-benar merasa tidak nyaman.


Walaupun aku memang agak kekanak-kanakan, tapi aku tidak sepolos itu Bu Tiwi. Memandangi foto istrinya lagi. Aku hanya bersikap polos di hadapanmu Ayana. Menelusuri wajah Ayana dalam bingkai foto dengan jarinya. Ini semua gara-gara Mas Gilang yang kamu banggakan itu.

__ADS_1


Renan jadi teringat saat pertama kali bertemu mas Gilang. Mangkuknya sudah kosong. Ia mengeliat mengangkat tangannya ke udara. Meregangkan badan. Mas Gilang yang dia pikir polos dan mengemaskan, tapi ternyata, jauh sekali dengan apa yang dia pikirkan. Renan tertawa kalau mengingat itu lagi.


Cih,tetap saja Mas Gilang itu belum berhasil aku taklukan.


Setelah sejenak bernostalgia dengan ingatan masa lalu, Renan kembali menatap layar komputer, dan mulai bekerja. Kerja, kerja, biar cepat pulang nanti dan bertemu Ayana. Meraih foto berbingkai kaca itu lagi. Meletakan persis di hadapannya.


***


Pertemuan pertama Renan dengan Mas Gilang yang dibanggakan Ayana.


Batu sandungan itu teronggok di depan Renan. Dia yang tidak mudah


digoyahkan atau ditendang keluar dari jalan yang dia lalui. Mas Gilang, kakak


laki-laki Ayana yang masih memberi sinyal merah padanya.


Padahal ibu dan ayah Ayana sudah mengalungkan restu dan


menyambutnya penuh cinta. Tapi Mas Gilang, masih merasa curiga pada


ketulusannya. Dan yang membuatnya harus berjuang ekstra karena Mas Gilang


adalah anak tertua. Kata-katanya masih sangat didengarkan, apalagi bagi Ayana


sendiri. Renan belum pernah bertemu Mas Gilang. Hanya mendapat cerita penuh kebanggaan dari Ayana tentang kakak laki-lakinya.  Yang baik hati, lucu, mengemaskan dan selalu membuat seisi rumah tertawa dengan kehadirannya.


Itu benar dia kan? pakai kemeja biru, duduk di dekat jendela. Tapi kenapa dia jauh berbeda dengan yang aku bayangkan.


Renan terdiam di depan pintu kaca. Menatap lurus seseorang yang sedang


menunggunya di dalam sana. Nyalinya sedikit menciut. Laki-laki yang sedang diamati Renan tidak terlihat mengemaskan, tidak terlihat polos atau lucu. Tapi lebih terlihat seperti laki-laki dewasa dan berwibawa.


Kenapa dia berbeda sekali dengan yang digambarkan Ayana selama ini.


Cukup memakan waktu Renan larut dalam kegamangan.


Akhirnya setelah menarik nafas untuk terakhir kalinya, dia membuka pintu


kaca. Dan ntah kenapa laki-laki yang sudah menunggu di meja itu merasakan


kehadirannya dan menoleh. Bagaimana  dia


bisa merasakan keberadaaanku. Renan tidak habis pikir. Lalu sekejap saja sudah


tercipta senyum merekah.


“ Mas Gilang ya, maaf saya terlambat.” Masih dengan wajah ceria, menarik kursi dan


duduk.


" Ternyata nyalimu besar juga  ya. Kamu berani datang sendirian." Kalimat pertama yang diucapkan pada pertemuan pertama.


Ini apanya yang baik hati, lucu dan mengemaskan!


Bersambung


 


Terimakasih untuk semua yang sampai hari ini masih membersamai perjalanan Kak Aya dan Ren ^_^


note:


kata-kata jomblo yang muncul banyak kali di episode  ini terjadi tanpa unsur kesengajaan ya #Kabur ^_^

__ADS_1


__ADS_2