
Ini adalah kenyataan yang harus aku
hadapi. Ibu menjodohkanku dengan anak teman kuliahnya. Sebagai buah dari nostalgia
masa lalu. Akan menjadi perkara yang mudah seandainya dia, ya dia, laki-laki
yang mau ibu jodohkan padaku usianya minimal sama denganku.
Aku memang bukan orang yang tidak menyukai
laki-laki yang lebih muda dariku, tapi jarak lima tahun menurutku sudah pada titik
yang tidak wajar. Karena menikah itu memang pada dasarnya menyatukan perbedaan, tapi kalau perbedaan yang harus disatukan sejauh ini. Apakah cinta dan perasaan kami satu sama lain nanti bisa menjadi tali kuat yang mengikat pernikahan.
Sampai di rumah aku langsung
berteriak memanggil ibu. Dimana ibu, yang aku cari sedang keluar begitu ayah
bilang. Kutarik tangan ayah duduk. Aku bercerita sambil ngomel-ngomel tentang
perjodohan yang ibu atur dengan anak teman kuliahnya. Ayah malah senyum-senyum
coba. Aku sudah kebingungan dan kesal tapi ayah masih sempatnya tersenyum
begitu.
“ Kata ibu anaknya baik.” Ayah menepuk kepalaku lembut.
“ Ibu kata siapa?”
“ Ibukan sudah sering ketemu sama anaknya.”
“ Siapa?” jadi ibu benar-benar
sudah mencurangi aku, memberiku hanya selembar foto tapi dia bahkan sudah
sering bertemu Ren.
“ Ya yang dijodohkan sama kamu, Renan.”
“ Apa!”
Aku ambruk di tempat tidur,
mengulang kejadian tadi. Ya umur memang bukan masalah. Ya masalah juga kali,
soalnya perbedaan kami itu lima tahun. Gak masalah dari mana. Dia anaknya imut
si, ya iyalah imut. Umurnya masih segitu. Aduh, pikiranku tumpang tindih.
Antara ingin ikuti maunya ibu dan juga kesadaranku.
***
Aku kembali ke sekolahan paginya
dengan pikiran yang kacau. Semalaman ibu meyakinkanku untuk melanjutkan
perjodohan tidak masuk akal itu.
“ Ibu tolong beri aku satu alasan
masuk akal agar aku yakin buat melanjutkan perjodohan ini.”
“ Gimana kalau ibu juga bilang
begitu.” Katanya dengan suara lembut namun terdengar yakin sekali.
“ Umur, umur kami beda 5 tahun.”
“ Memang kenapa? Ibu gak masalah kok.”
Aku yang masalah bu. Tenangkan
dirimu Aya, jernihkan pikiranmu sebelum membantah ibu lebih lanjut. Atau kau
akan menyesal nanti. Akhirnya karena otak sadarku masih bekerja aku menyudahi
perdebatan dengan ibu dan pergi tidur.
Dan aku harus mengajar, aku punya
dua kelas berurutan hari ini. Dengan konsentrasi pecah sepanjang pelajaran,
memikirkan semua perkataan ibu. Akhirnya selesai juga sekolah, aku ambruk
di meja guru. Menelungkupkan kepalaku. Kenapa hari ini terasa melelahkan begini si.
Ibu bukan orang yang gampangan
__ADS_1
biasanya ya. Aku empat kali pacaran dan semuanya masuk kategori serius. Karena
aku pacaran bukan jaman SMU ya. Dari keempat laki-laki yang pernah dekat
denganku hanya satu yang terbilang sangat serius. Pembicaraan tentang
pernikahan sudah menjadi topik obrolan. Tapi saat itu ibu juga masih angkat
bahu dan belum memberi restu seratus persen. Masih mengatakan coba jalani dulu.
Dan akhirnya hubungan kami kandas secara baik-baik. Belum jodoh, begitu kami
menyebutnya. Aku dan dia tidak berhubungan lagi, walaupun kami tidak bermusuhan.
Semua mengalir begitu saja, kembali pada situasi normal sebelum pacaran.
“ Bu Aya permisi, ada yang nunggu
di depan.” Penjaga sekolah datang membuyarkan lamunanku tentang mantan.
“ Siapa pak?”
“ Bilangnya namanya Renan.” Sambil
mengingat tidak yakin.
“ Apa!”
Aku terkejut setengah mati,
langsung bangun dari duduk dan bergegas ke halaman depan sekolah. Dia benar ada
di sana. Berdiri bersandar di samping mobil, sambil bermain hp. Saat dia
melihatku berlari mendekat, dia melambaikan tangan dengan senang.
“ Kakak!”
Kakak apanya dasar bocah. Darimana
dia tahu sekolah tempatku mengajar ini.
“ Apa yang kamu lakukan disini Ren?”
“ Menjemput kakak.”
“ Dari ibu.”
Apa! Ibu. Kenapa ibu begini si.
Akhirnya aku kembali ke kantor
mengabil tas, lalu masuk ke dalam mobil. Yang dikemudikan oleh Ren. anak ini
masih dengan wajah senangnya. Bercerita kemana-mana. Intinya dia senang bisa
menjemputku.
“ Kakak apa yang kakak lakukan
kalau hari libur?” Dia bertanya tanpa menoleh padaku.
“ Kenapa?”
“ Bolehkan kita melakukan sesuatu
diakhir pekan, supaya kita saling mengenal.” Ntah kenapa aku merasa suaranya memang ceria
dan enak didengar.
“ Untuk apa?” kujawab pendek-pendek
kata-katanya, bahkan dengan hanya kata tanya.
“ Untuk membuat kakak jatuh cinta padaku.”
Hahaha, apa seperti ini si
laki-laki zaman sekarang, pintar sekali ngegombal. Dapat ilmu dari mana dia
ini.
“ Ren, apa kamu serius dengan
perasaanmu yang sekarang. Di luar dari semua bentuk perjodohan yang orang tua
kita lakukan.”
Mobil menepi perlahan. Ren menatapku.
__ADS_1
“ Apa hanya karena usiaku kakak tidak menyukaiku?”
Aku diam tidak menjawab. Menatapnya,
terlepas dari usianya, memang dia ini sempurna. Dilihat dari segi fisik,
kemapanan dan keimutanya. Hiss, yang terakhir gak ya. Memang aku lagi nyari bintang
idola.
“ Apa tidak ada yang kakak suka
dari aku? Bagaimana kalau kita coba dulu.” Ucapan Ren mulai terdengan serius. Dia
meraih tanganku. Eh, sudah berani pegang-pegang ya kamu.
“ Apa?” aku berusaha melepaskan
tanganku, tapi tidak berhasil.
“ Berkencan denganku dulu. Sampai
aku membuat kakak jatuh cinta dan
menerima lamaranku.” Sorot matanya yang hangat membuatku tidak berdaya.
“ Hei.” Aku tersenyum sambil masih berusaha melepaskan tanganku.
“ Aku serius Ayana.”
Eh, sepertinya baru kali ini aku
mendengarnya menyebut namaku. Biasanya hanya kakak, kakak sajakan.
Dan keseriusannya itu tetap dia tunjukan dengan seenaknya,
sesuai dengan seleranya dan cara hidupnya.
Menjemputku sudah seperti jadi
rutinitas harian yang tidak pernah dia lewatkan. Terkadang dia membawakanku
makanan, dan anehnya selalu makanan kesukananku. Terkadang siang hari ada
kiriman makanan melalui ojek online, kiriman darinya. Jumlahnya diluar batas
kewajaran untuk bisa kumakan sendiri. Seisi kantor guru heboh, dan perihal
hubunganku dengan Ren sudah jadi topik hangat yang tidak ada habisnya mereka
bahas.
Sudah seminggu dia selalu datang.
Aku jadi mulai terbiasa dengannya. Ditambah ketika di rumah, keluargaku juga
hanya membahas tentangnya. Maka jadilah sudah. Isi kepalaku hanya Ren.
telingaku mendengar hanya tentang Ren.
Suatu malam ayah dan ibu
mendudukanku di ruang keluarga. Mereka terlihat sangat serius. Kedua adikku
sudah diminta masuk ke dalam kamar. Aku tahu pembicaraan ini tentang apa.
“ Aya bagaimana?” ibu membuka percakapan.
“ Ibu.” Aku hanya mengucapkan satu
kata, kebimbanganku sedang menjalari seluruh tubuhku. Baik hati dan pikiranku.
“ Ibu tidak akan memaksamu Aya,
sekarang semua keputusan ada di tanganmu. Ayah dan ibu akan mendukungnya.” Begitulah kata-kata mereka, namun sorot mata mereka berkata lain. Sudah seperti menarik tangan dan kakiku untuk mengiyakan.
“ Pikirkanlah dengan hati yang
jernih. Kesampingkan perbedaan usia kalian, dan lihat diri Renan sebagai Renan.
Istikharahlah, jawaban Allah bukanlah hanya tentang mimpi, namun bagaimana
Allah mempermudah pertemuan kalian itu adalah tanda bahwa kalian memang
berjodoh.”
Apakah aku bisa melakukannya.
BERSAMBUNG
__ADS_1