Suamiku Posesif

Suamiku Posesif
Cerita 2 Tahun lalu (Part 2)


__ADS_3

Ini adalah kenyataan yang harus aku


hadapi. Ibu menjodohkanku dengan anak teman kuliahnya. Sebagai buah dari nostalgia


masa lalu. Akan menjadi perkara yang mudah seandainya dia, ya dia, laki-laki


yang mau ibu jodohkan padaku usianya minimal sama denganku.


Aku memang bukan orang yang tidak menyukai


laki-laki yang lebih muda dariku, tapi jarak lima tahun menurutku sudah pada titik


yang tidak wajar. Karena menikah itu memang pada dasarnya menyatukan perbedaan, tapi kalau perbedaan yang harus disatukan sejauh ini. Apakah cinta dan perasaan kami satu sama lain nanti  bisa menjadi tali kuat yang mengikat pernikahan.


Sampai di rumah aku langsung


berteriak memanggil ibu. Dimana ibu, yang aku cari sedang keluar begitu ayah


bilang. Kutarik tangan ayah duduk. Aku bercerita sambil ngomel-ngomel tentang


perjodohan yang ibu atur dengan anak teman kuliahnya. Ayah malah senyum-senyum


coba. Aku sudah kebingungan dan kesal tapi ayah masih sempatnya tersenyum


begitu.


“ Kata ibu anaknya baik.” Ayah menepuk kepalaku lembut.


“ Ibu kata siapa?”


“ Ibukan sudah sering ketemu sama anaknya.”


“ Siapa?” jadi ibu benar-benar


sudah mencurangi aku, memberiku hanya selembar foto tapi dia bahkan sudah


sering bertemu Ren.


“ Ya yang dijodohkan sama kamu, Renan.”


“ Apa!”


Aku ambruk di tempat tidur,


mengulang kejadian tadi. Ya umur memang bukan masalah. Ya masalah juga kali,


soalnya perbedaan kami itu lima tahun. Gak masalah dari mana. Dia anaknya imut


si, ya iyalah imut. Umurnya masih segitu. Aduh, pikiranku tumpang tindih.


Antara ingin ikuti maunya ibu dan juga kesadaranku.


***


Aku kembali ke sekolahan paginya


dengan pikiran yang kacau. Semalaman ibu meyakinkanku untuk melanjutkan


perjodohan tidak masuk akal itu.


“ Ibu tolong beri aku satu alasan


masuk akal agar aku yakin buat melanjutkan perjodohan ini.”


“ Gimana kalau ibu juga bilang


begitu.” Katanya dengan suara lembut namun terdengar yakin sekali.


“ Umur, umur kami beda 5 tahun.”


“ Memang kenapa? Ibu gak masalah kok.”


Aku yang masalah bu. Tenangkan


dirimu Aya, jernihkan pikiranmu sebelum membantah ibu lebih lanjut. Atau kau


akan menyesal nanti. Akhirnya karena otak sadarku masih bekerja aku menyudahi


perdebatan dengan ibu dan pergi tidur.


Dan aku harus mengajar, aku punya


dua kelas berurutan hari ini. Dengan konsentrasi pecah sepanjang pelajaran,


memikirkan semua perkataan ibu. Akhirnya selesai juga sekolah, aku ambruk


di meja guru. Menelungkupkan kepalaku. Kenapa hari ini terasa melelahkan begini si.


Ibu bukan orang yang gampangan

__ADS_1


biasanya ya. Aku empat kali pacaran dan semuanya masuk kategori serius. Karena


aku pacaran bukan jaman SMU ya. Dari keempat laki-laki yang pernah dekat


denganku hanya satu yang terbilang sangat serius. Pembicaraan tentang


pernikahan sudah menjadi topik obrolan. Tapi saat itu ibu juga masih angkat


bahu dan belum memberi restu seratus persen. Masih mengatakan coba jalani dulu.


Dan akhirnya hubungan kami kandas secara baik-baik. Belum jodoh, begitu kami


menyebutnya. Aku dan dia tidak berhubungan lagi, walaupun kami tidak bermusuhan.


Semua mengalir begitu saja, kembali pada situasi normal sebelum pacaran.


“ Bu Aya permisi, ada yang nunggu


di depan.” Penjaga sekolah datang membuyarkan lamunanku tentang mantan.


“ Siapa pak?”


“ Bilangnya namanya Renan.” Sambil


mengingat tidak yakin.


“ Apa!”


Aku terkejut setengah mati,


langsung bangun dari duduk dan bergegas ke halaman depan sekolah. Dia benar ada


di sana. Berdiri bersandar di samping mobil, sambil bermain hp. Saat dia


melihatku berlari mendekat, dia melambaikan tangan dengan senang.


“ Kakak!”


Kakak apanya dasar bocah. Darimana


dia tahu sekolah tempatku mengajar ini.


“ Apa yang kamu lakukan disini Ren?”


“ Menjemput kakak.”


“ Dari ibu.”


Apa! Ibu. Kenapa ibu begini si.


Akhirnya aku kembali ke kantor


mengabil tas, lalu masuk ke dalam mobil. Yang dikemudikan oleh Ren. anak ini


masih dengan wajah senangnya. Bercerita kemana-mana. Intinya dia senang bisa


menjemputku.


“ Kakak apa yang kakak lakukan


kalau hari libur?” Dia bertanya tanpa menoleh padaku.


“ Kenapa?”


“ Bolehkan kita melakukan sesuatu


diakhir pekan, supaya kita saling mengenal.” Ntah kenapa aku merasa suaranya memang ceria


dan enak didengar.


“ Untuk apa?” kujawab pendek-pendek


kata-katanya, bahkan dengan hanya kata tanya.


“ Untuk membuat kakak jatuh cinta padaku.”


Hahaha, apa seperti ini si


laki-laki zaman sekarang, pintar sekali ngegombal. Dapat ilmu dari mana dia


ini.


“ Ren, apa kamu serius dengan


perasaanmu yang sekarang. Di luar dari semua bentuk perjodohan yang orang tua


kita lakukan.”


Mobil menepi perlahan. Ren menatapku.

__ADS_1


“ Apa hanya karena usiaku kakak tidak menyukaiku?”


Aku diam tidak menjawab. Menatapnya,


terlepas dari usianya, memang dia ini sempurna. Dilihat dari segi fisik,


kemapanan dan keimutanya. Hiss, yang terakhir gak ya. Memang aku lagi nyari bintang


idola.


“ Apa tidak ada yang kakak suka


dari aku? Bagaimana kalau kita coba dulu.” Ucapan Ren mulai terdengan serius. Dia


meraih tanganku. Eh, sudah berani pegang-pegang ya kamu.


“ Apa?” aku berusaha melepaskan


tanganku, tapi tidak berhasil.


“ Berkencan denganku dulu. Sampai


aku  membuat kakak jatuh cinta dan


menerima lamaranku.” Sorot matanya yang hangat membuatku tidak berdaya.


“ Hei.” Aku tersenyum sambil masih berusaha melepaskan tanganku.


“ Aku serius  Ayana.”


Eh, sepertinya baru kali ini aku


mendengarnya menyebut namaku. Biasanya hanya kakak, kakak sajakan.


Dan keseriusannya  itu tetap dia tunjukan dengan seenaknya,


sesuai dengan seleranya dan cara hidupnya.


Menjemputku sudah seperti jadi


rutinitas harian yang tidak pernah dia lewatkan. Terkadang dia membawakanku


makanan, dan anehnya selalu makanan kesukananku. Terkadang siang hari ada


kiriman makanan melalui ojek online, kiriman darinya. Jumlahnya diluar batas


kewajaran untuk bisa kumakan sendiri. Seisi kantor guru heboh, dan perihal


hubunganku dengan Ren sudah jadi topik hangat yang tidak ada habisnya mereka


bahas.


Sudah seminggu dia selalu datang.


Aku jadi mulai terbiasa dengannya. Ditambah ketika di rumah, keluargaku juga


hanya membahas tentangnya. Maka jadilah sudah. Isi kepalaku hanya Ren.


telingaku mendengar hanya tentang Ren.


Suatu malam ayah dan ibu


mendudukanku di ruang keluarga. Mereka terlihat sangat serius. Kedua adikku


sudah diminta masuk ke dalam kamar. Aku tahu pembicaraan ini tentang apa.


“ Aya bagaimana?” ibu membuka percakapan.


“ Ibu.” Aku hanya mengucapkan satu


kata, kebimbanganku sedang menjalari seluruh tubuhku. Baik hati dan pikiranku.


“ Ibu tidak akan memaksamu Aya,


sekarang semua keputusan ada di tanganmu. Ayah dan ibu akan mendukungnya.” Begitulah kata-kata mereka, namun sorot mata mereka berkata lain. Sudah seperti menarik tangan dan kakiku untuk mengiyakan.


“ Pikirkanlah dengan hati yang


jernih. Kesampingkan perbedaan usia kalian, dan lihat diri Renan sebagai Renan.


Istikharahlah, jawaban Allah bukanlah hanya tentang mimpi, namun bagaimana


Allah mempermudah pertemuan kalian itu adalah tanda bahwa kalian memang


berjodoh.”


Apakah aku bisa melakukannya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2