Suamiku Posesif

Suamiku Posesif
Cerita 2 Tahun lalu (Part 3)


__ADS_3

Menikah adalah upaya seseorang


untuk mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia ini. Usiaku sudah terbilang cukup


untuk masuk kategori siap menikah. Teman-teman kuliahku bahkan ada yang sudah


memiliki anak, mereka ada yang masih bekerja, tapi ada juga yang sudah full


menjadi ibu rumah tangga. Apakah benar Tuhan mengirimkan jodohku dengan cara


seperti ini. Aku bergumam sendiri pada hatiku.


Menikah itu perkara langit,


urusanmu dengan Tuhanmu. Perkara jodoh telah diberikan Allah ketika Dia meniupkan


ruh. Aku menatap langit-langit kamar. Menyentuh sebuah keyakinan.


Istikharah cinta bukanlah hanya


tentang kau bertemu dengan wajah jodohmu. Tapi bagaimana proses yang kamu


jalani menuju ke pernikahan itu dimudahkan oleh Allah. Pertemuanku dengan Ren,


diawali pertemuan ibu dengan teman kuliahnya dulu. Apakah ini cara Tuhan


mengikat benang takdir kami. Bismillah, Ya Allah berikan jawaban apakah ini


memang jalan terbaik yang Engkau berikan padaku. Jika Ren memang jodohku maka


mudahkanlah urusan kami, berikan aku keyakinan dan kemantapan hati. Jangan buat


aku bimbang, dan takut membuat keputusan.


Semua cara demi menguatkan hati


kutempuh, sholat istikharah meyakinkan hati. Konsultasi dengan teman-teman guru


yang sudah menikah. Menghubungi lagi teman-teman kuliah juga yang sudah


menikah. Dan tentu saja curhat dengan mas Gilang. Mas Gilang memberiku gambaran


bagaimana dia dulu memutuskan menikah dengan istrinya. Cinta pertama dan


terakhirnya. Hehe, terdengar sangat manis ya.


Baiklah, hari ini aku akan


memutuskan kemantapan hatiku. Aku ingin sekali lagi bertemu dengan Ren dan


bicara dengan serius dengannya.


Janji bertemu lagi. Ditempat makan


yang sama saat kami bertemu pertama kali. Kali ini dia yang duluan datang,


masih memakai pakaian kerja, aku juga begitu. Aku sengaja melarangnya


menjemputku, aku ingin menata hati dan mempersiapkan diri untuk pertemuan hari


ini dalam perjalanan menuju kemari.


“ Kamu datang duluan?” aku duduk di kursi di depannya.


“ Hehe, aku sudah gak sabar mau ketemu kakak, sudah setengah jam aku disini.” Ren menjawab.

__ADS_1


Gak usah diomongin juga kali, mau


membuatku merasa bersalah ya membuatmu menunggu. Tapi maaf, inikan salahmu


sendiri. Aku duduk di depannya. Pelayan datang mencatat menu yang kami pesan,


setelahnya meninggalkan kami berdua.


“ Ren sekarang kita bicara serius ya.” Aku menatapnya.


“ Aku selalu serius kok. Hehe.”


Jangan tertawa, jangan tersenyum,


keimutanmu menghancurkan kedewasaanku berfikir tahu. Aku jadi berfikir apa aku


bisa menghadapimu kalau kita benar-benar menikah nanti.


“ Aku ingin tahu perasaanmu yang sebenarnya padaku?”


Pelayan wanita datang memberi jeda


iklan, aku tersenyum dan mengucapkan terimakasih padanya. Hari ini yang kami


pesan hanya makanan ringan. Aku mengambil gelas minumanku, meminumnya sedikit


lalu meletakannya kembali.


“ Jawablah.”


“ Ayana.” Eh, dia memanggil namaku. “ Apa itu terdengar keren saat aku memanggil namamu ?” Aku ingin menjitaknya sekarang. Apalagi yang mau kamu lakukan Ren. “Apa kakak percaya kalau aku jatuh


cinta pada kakak bahkan sebelum hari perjodohan kita?”


Tunggu! Mana mungkin, itukan hari


selembar fotoku. Hei, mana mungkin. Memang foto yang ibu berikan padanya foto


yang sudah dimantrai, sampai membuat orang yang melihat langsung jatuh cinta. Haha,


aku gak secantik itu kali sampai bisa membuat orang jatuh cinta pada pandangan


pertama. Pada selembar foto lagi.


“ Jangan bercanda.”


Ren mengelengkan kepala beberapa kali.


“ Gak percaya ya, padahal aku jujur


lho. Kakak tahukan aku dekat dengan mama dan ketiga kakak perempuanku.”


“ Ya, aku bisa melihatnya.”


Kau pasti sangat dimanja oleh


mereka, sebagai anak laki-laki satu-satunya, dengan wajah dan pembawaanmu yang


mengemaskan begitu lagi.


“ Awalnya aku hanya penasaran


dengan apa yang mama tawarkan, mama biasanya tidak akan semudah itu mengizinkan


aku pacaran sekalipun. Tapi hari itu mama menyodorkan foto kakak dan mengatakan

__ADS_1


padaku. Renan apa kamu sudah mau menikah?”


Terus? Aku menunggu Ren meneruskan


ceritanya. Dia tergelak melihatku yang antusias.


“ Kakak manis sekali kalau penasaran begitu, boleh aku rekam gak?” Sudah meraih hp yang ada di atas meja.


“ Taruh hpmu! Dan teruskan ceritamu!”


“ Baiklah.” Ren cemberut dan meletakan hpnya lagi diatas meja.


Kurang kerjaan amat hal beginian mau direkam segala.


“ Mama bahkan sudah punya informasi


lengkap tentang kakak, dia bahkan sudah stalking sosial media kakak lho.”


Sepertinya ibu dan anak ini sama-sama menakutkan.


“ Jadi kamu jatuh cinta padaku karena mamamu sudah menyukaiku?”


Kenapa jadi terdengar aneh ya. Jadi yang sebenarnya suka aku itu dia atau mamanya. Iss, ini jadi seperti ibu yang sudah jatuh cinta pada Ren dan akhirnya membimbingku ke jalan yang benar untuk


juga menyukai Ren,


“ Tidak. Aku yang jatuh cinta pada kakak. Mama hanya mendukungku saja.”


“ Kenapa?” aku bertanya penasaran dan ingin melihat kejujuran di matanya.


“ Apanya?” malah balik bertanya lagi.


“ Kenapa kamu jatuh cinta padaku?”


“ Memang orang jatuh cinta harus butuh alasan? Aku jatuh cinta dengan kakak. Aku jatuh cinta dengan semua yang dimiliki oleh Ayana wijaya. Apa itu saja tidak cukup?”


“ Apa!”


Aku harus bereaksi bagaimana ini. Kenapa


alasannya tidak mamuaskan tapi sekaligus sudah tidak terbantahkan. Dia jatuh


cinta padaku, dengan semua yang aku miliki. Memang aku punya apa si, perasaan


aku gak punya apa-apa. Wajah, biasa aja. Karir, akukan juga cuma guru sekolah. Bagian


mana yang bisa membuatmu menyukaiku.


“ Semua yang Ayana punya aku menyukainya, jadi bukalah hatimu, dan masukan namaku di dalamnya.”


Ren meraih jemari tanganku yang


kutaruh di atas meja. Aku hanya melihat dan tidak berusaha melepaskannya.


“ Ayo kita sama-sama menjalani hidup ini bersama. Aku akan mencintai kakak dengan segenap hatiku.”


Aaaa, kenapa kata-kata dan wajahnya


membuat dadaku berdebar kuat begini. Aku bahkan tidak bisa mengatakan isi


hatiku. Aku hanya mendengarnya bicara banyak sekali. Semuanya tentangku,


tentang bagaimana dia berupaya meyakinkanku. Ibu, rasanya terlalu tidak tahu


diri kalau sampai sejauh ini aku masih bimbangkan.

__ADS_1


Bismillah....


BERSAMBUNG


__ADS_2