Suamiku Posesif

Suamiku Posesif
Pulang Ke Rumah Mama


__ADS_3

Pulang ke rumah orang tua selalu menjadi moment berharga dan menyenangkan bagiku, bagi Ren juga begitu.


Baik ke rumah ibu atau ke  rumah


mama.Tidak ada yang berbeda.  Sekarang


mereka tak lagi ibu kandung atau mertua. Tapi semua adalah bagian dari hidupku. Semua orangtuaku. Karena menikah bukan tentang dua hati yang terpaut, namun dua keluarga yang menyatu.


Sampai hari ini aku pun selalu mendapat laporan dari ibu ataupun mama kalau mereka


habis bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Bercerita versi mereka. Tapi anehnya yang mereka tuturkan juga kompak. Ah, soulmate sejati. Dua teman yang ditemukan dengan cara yang luar biasa oleh Tuhan. Rumah tanggaku adalah bagian takdir mereka yang tidak pernah mereka sangka atau bicarakan sebelumnya. Jodoh memang misteri ilahi.


Takdir Tuhan yang mengikat hati dan cinta. Para jomblo jangan pernah lelah berdoa ya. Berdoalah dengan tekun dan penuh keyakinan.


Kembali ke pertemuan rutin ibu dan mama. Metime Bahasa kerennya, kalau kata ibu, biar waras emak-emak juga perlu piknik. Aku tertawa dengan istilah yang ibu pakai. Tapi memang benar si, sesekali keluar dari rutinitas harian dan melakukan hal menyenangkan untuk  diri sendiri itu perlu dilakukan. Apa pun itu. Karena yang paling tahu apa yang membuatmu bahagia, ya dirimu sendiri. Metime tidak harus keluar rumah. Metime tak harus mengeluarkan biaya. Bahagia itu terkadang berasal dari banyak hal sederhana.


Aku senang kalau mereka akur, aku jadi iri. Seandainya aku nanti punya


anak yang berjodoh dengan anak teman kuliahku pasti seseru ibu dan mama. Hehe.


“ Kenapa senyum-senyum?” Ren melirik sambil tetap fokus mengemudi.


“ Sayang," aku mau menularkan khayalanku padanya. " Aku membayangkan kalau nanti kita punya anak dan ternyata anak


kita berjodoh dengan salah satu teman kita pasti lucu ya. Kayak ibu sama mama.” Aku meneruskan ceritaku tentang teman kuliah. Menyebutkan nama-nama mereka. " Ada yang sudah punya anak, ada yang belum, bahkan ada yang baru menikah juga." Takdir hidup kami yang beraneka warna. Manis dan asamnya perjalanan hidup. Ren ikut menimpali celotehanku. Membayangkan saja sudah bersemangat begini, apalagi ibu dan mama yang menjalaninya. Aku benar-benar iri.


Sampailah mobil di depan gerbang. Satpam rumah mendorong pintu dan menyapa sopan. " Semuanya sudah berkumpul Mas." Eh, siapa yang berkumpul.  Aku tak sempat  bicara, Ren sudah melajukan mobil.


Aku melihat mobil terparkir rapi saat memasuki area parkir rumah mama.


Kuhitung jumlahnya. Aku hafal mobil milik kakak Ren. Ada apa ini. Kenapa semua orang berkumpul begini. Ren


menepikan mobil.


“ Kenapa?” Memperhatikanku yang mengambil hp. Aku tidak menjawab, sedang melihat notes ulang tahun


anggota keluarga. Kalau-kalau ada salah satu kakak Ren atau kakak ipar  yang ulang tahun. Gak ada


kok. Coba lihat daftar keponakan, keponakan juga gak ada. Ultah mama dan papa aku hafal di luar kepala.


“ Ren kenapa semua pada ngumpul. Aku gak melewatkan apa pun kan?” Jangan


sampai aku lupa membawa hadiah atau apalah untuk hari ini. Uaaa,aku bisa malu.

__ADS_1


Ulang tahun pernikahan kami saja mereka ingat semua. Aku mendapat banyak hadiah dari mereka.


“ Gak ada apa-apa. Pas aja semuanya ada di rumah.” Dia turun duluan. Aku


memicingkan mata curiga. Sepertinya dia sengaja tidak memberitahuku. Ren membuka


pintu belakang dan mengambil makanan yang kami beli tadi. “ Ayo masuk.” Aku


baru saja menurunkan kaki kiriku. Keponakan Ren menyambut kami dengan teriakan semangat mereka. Suara mereka bahkan terdengar sampai gerbang depan pastinya.


“ Tante Aya  sama Om Renan datang!”  berteriak sambil


membalikan kepala.Tangannya masih mengelayut di pintu. Memanggil kawannya. Dan seperti yang aku duga,


setelahnya muncul kepala-kepala lainnya.Loncat-loncat dan berlarian ke arahku dan Ren. Sudah agak lama tidak melihat tingkah polah mereka. Salah satu yaang aku rindukan saat berkumpul di rumah mama adalah anak-anak ini.


Aku banjir ciuman dan pelukan dari mereka satu-satu.


“ Kebiasaan minggir sana, cowok udah gede gak boleh cium-cium Tante


Aya.” Ren merentangkan tangan yang penuh dengan tas belanjaan. Di depan keponakanya


yang paling besar. Anak kakak pertamanya. Dia serius lho. Tapi keponakannya


" Om Renan aja masih peluk-peluk mama. Week. Manja." Menyulut bara.


" Hei itu beda ceritanya. Udah minggir sana." Tetep kukuh melarang.


“ Aku kan masih SD Om.” Tidak mengubris ketika tangan Ren masih berusaha mencegah, dia memelukku. Aku tidak tahu


bagaimana ekspresi wajahnya di belakang punggungku. Wajah yang menghadap Ren. Yang aku dengar Ren mengeram kesal di belakangku.


“ Nih ambil, makan sama yang lain. Minggir, minggir, hus,hus.” Memberi satu tas berisi camilan yang


aku beli tadi. Dia menggelengkan kepala.


“ Memang aku bocah suruh main sama bayi-bayi itu.” Nahlo. Tadi ngomongnya masih bocah SD.


Aku tertawa saat Ren mulai tersulut dan menggendong keponakannya.


“ Dasar bocah, keturunan mamamu ni begini.” Aku meraih cake di tangan


Ren takut hancur. Dia mengendong keponakakannya yang terpingkal karena geli ia gelitiki. Mereka memang lucu sekali.

__ADS_1


Seperti mama mereka yang sangat menyayangi adik lelaki satu-satunya, anak-anak mereka pun mengidolakan Ren. Jadinya aku pun mendapat cinta dan kasih sayang dari anak-anak luar biasa ini. Mereka berebut membantuku membawa tas belanja.


“ Aya sudah datang ya.” Semua keluar menyambut kami karena suara anak-anak.


“ Kak aku di sini.” Ren merajuk.


“ Haha, adiku tersayang sini kakak peluk.  Kamu tidak merepotkan istrimu kan?”  Ren mengerutu sambil memberontak, tidak mau di


peluk kakak pertama lama-lama, yang memperlakukannya seperti bocah.


Aku cium tangan semua anggota keluarga.


" Sudah salamnya ikut kami." Kakak kedua menarik tanganku yang baru mau menyentuh sofa. " Mama, ayo ikut juga." Aku tidak tahu apa-apa, menuruti langkah mereka. Menaiki tangga.


" Hei, kalian mau bawa ke mana istriku." Renan yang baru menurunkan keponakannya sudah menyusul ke tangga.


“ Ini urusan cewek, kamu ngobrol sama bapak-bapak sana!” Ren langsung bertampang sedih. " Hei jangan aneh-aneh ya." Sepertinya Kakak kedua melihat Ren mau pura-pura menangis. " Aya."  Meletakan kedua tangannya di pipiku. Menggoyangkannya. Kenapa ini, Kakak kedua melihatku dengan pandangan gemas.


“ Kak Lati jadi tambah cantik setelah memakai jilbab." Yang lain sudah masuk ke kamar mama.


Tiga kakak Ren mendapat hadiah luar biasa dari Allah beberapa hari lalu. Mereka kompak sekali, walaupun dengan gaya hijab yang berbeda. Aku teringat ucapan Ren saat menyentuh rambutku. Apa dia terprovokasi ya dengan penampilan baru ketiga kakaknya.


" Hehe,  aku punya yang lucu-lucu buat kamu coba." Mendorong tubuhku masuk ke kamar mama.


Aku yakin maksudnya apa aku tahu.


Benarkan, benarkan, semuanya sedang membongkar belanjaan.


" Brand Morela baru aja mengeluarkan baju-baju lucu buat jilbaber, sekali lihat cocok banget buat Aya. Jadi tanpa sadar kami membelinya." Semua orang tertawa senang. Aku yang ngeri. Aku tidak perlu mencoba itu semua kan?


" Coba lihat ini, ukurannya pas banget buat Aya. Huaaaaa, kalau saja aku semungil Aya."


" Pas lihat jilbab ini, aku yakin ini di buat khusus buat Aya." jreng...jreng... merentangkan jilbab warna ungu muda yang cukup cerah.


" Mama juga buat bros jilbab lucu-lucu buat Aya." Mama juga!


Jadi mereka itu selalu bilang, kalau bentuk tubuhku itu sempurna. Mungil-mungil cantik. Haha, maaf aku mendeskripsikan diriku dengan berlebihan. Jadi setiap kali mereka belanja melihat baju yang tidak sesuai dengan size tubuh mereka tapi kok lucu. Akhirnya ya begini.


" Aya cobain semua ya. Nanti Renan pasti kaget lihat Aya pakai hijab." Eh.....


Selamat datang di dunia kakak iparku.


Bersambung

__ADS_1


Metime kalian biasanya ngapain? Nonton drama sambil makan mi instan rebus yang kuahnya dicampur cabe yang banyak ^_^


__ADS_2