Suamiku Posesif

Suamiku Posesif
Side Story (Panggilan untuk Renan)


__ADS_3

Sore menjemput senja.


Setelah menemui kemacatan jalanan karena waktu pulang kerja kantor yang


berbarengan. Ditemani debu, suara klakson bahkan terkadang makian ketidaksabaran para


pengguna jalan. Mobil pribadi,  motor, ojek


online memburu waktu masing-masing.  Sampailah Mita di rumah. Mengucap salam yang terjawab oleh mama di


dapur.  Gadis itu langsung berjalan ke


dapur, mencium tangan mamanya yang sedang memotong-motong buah.


“ Andrian sudah pulang Ma?” Mata berkeliling. Sebenarnya dia sudah menduga


di mana keberadaan anak itu.


“ Belum, tadi dia kirim pesan, katanya pulang terlambat.  Mau mama buatin es buah?” Mengangkat mangkuk


di depannya. Sudah mau meracikan es buah.


“ Mita mandi dulu sebentar deh ma. Panas. Nanti Mita buat sendiri gak


papa.”


“ Ya udah sana. Mama taruh kulkas  ya, mama mau nganterin ke tempal Sisil, dia kan suka es buah.” Bocah


usia 9 tahun tetangga rumah.


Mita cuma mengangguk lalu menyeret langkah kakinya ke kamar. Desahan


beberapa kali setelah melihat pintu kamar Andrian . Semalam dia sudah bicara


panjang lebar dengan Andrian. Berharap pembicarannya semalam bisa menjadi


bekalnya bertemu senior Renan.


Pembicaraan semalam.


“ Jangan memancingnya, kau cukup mendengar apa yang dikatakan senior


Renan dan minta maaf padanya.” Begitulah wejangan bijak Mita membuka obrolan.


Dia menyodorkan sebungkus keripik pisang. Makan camilan biar syaraf tidak


tegang.


“ Gak mau.” Andrian meletakan hpnya. Setelah menunjukan pesan singkat


yang dikirimkan Renan padanya. Ikut makan camilan. Kriuk, kriuk. Kenapa dia harus minta maaf, begitu yang muncul dalam pikirannya.


Kepala Mita berdenyut lagi. Memang siapa yang memancing suasana seperti


ini. Hubungannya dengan seniornya di kantor juga akan menjadi canggung.


Beberapa kali dia di pelototi sebelum pulang tadi setelah pengakuannya tentang


siapa laki-laki yang mengirimi istrinya surat.


Dan sekarang, bocah ini malah mau berulah.


“ Aku kan tidak bersalah padanya, kenapa aku minta maaf padanya.” Mita


sedang berfikir. Kata-kata Andrian yang mengedepankan poin tidak bersalah. Walaupun senior hanya mengatakan ingin mengajaak adiknya makan somay. Tapi pasti tidak begitu kenyataanya.

__ADS_1


“ Ya ampun nak, beli akhlak dulu sana. Banyak yang menabur akhlak juga di sosial media .


Pungutin sana satu-satu.” Geram akhirnya terucap juga. “ Padahal kau sudah tahu Kak Aya sudah


menikah kan” Urat sarafnyaa meninggi.  “


Masih bisa bilang tidak bersalaah.”


“ Aku kan hanya suka.” Gumam-gumam sambil memalingkan wajah. " Perasaan seperti itu cuma diketahui orang tertentu." Mita meninggi, pasti menjurus status jomblo berkepanjangannya.


“ Anak ini benar-benar ya. Kalau kamu nembak teman sekelasmu. Itu baru


bukan masalah. Lagian aku dengar dari Kak Aya kamu punya fansclub di sekolah


ya. Hebat sekali kamu. Ah, boleh gak aku bergabung. ” Tertawa senang. " Aku bisa menjual foto setengah telanjangmu nanti. Haha."


Wajah Andrian langsung merah. Malu. Rahasia itu ingin dia bawa sampai


mati. Kenapa sampai Kak Mita tahu yang begituan coba.


“ Fotomu saat tidur juga boleh.” Tertawa puas.


Andrian mengeram kesal. Melirik pintu.Dia bersumpah, mulai malam ini akan mengunci pintu kamarnya.


“ Tembak salah satu fans kamu sana.”


“ Aku sukanya Bu Aya.”


“  Mau mati ya!” Merebut keripik


pisang yang masih tersisa dimeja belajar Andrian. Kriuk, kriuk hanya fokus mengunyah. Sambil menatap adik sepupunya serius.


Kalau Kak Aya tidak mirip bibi apa bocah ini akan suka sampai sebegitunya ya?


“ Senior Renan?” ujarnya sambil meraih bantal dan tiduran.


“Ia.” Andrian sedang memilih panggilan apa yang menurutnya paling tepat dia berikan untuk suaminya Bu Aya.


“ Ya panggil saja dia.” Mita berfikir. Sepertinya menemukan masalah


baru. “ benar juga ya, kamu panggil dia siapa ya.”


Dan akhirnya sampai Mita menyeret kakinya ke kamar belum diputuskan bagaimana Andrian akan memanggil Renan dengan sebutan apa.


Sekarang setelah mandi Mita duduk sambil harap-harap cemas di


rumahnya. Sambil menghabiskan semangkuk  es buah.


Apa mereka baik saja ya. Mereka tidak mungkin berkelahi kan.


Pusing-pusing. Membayangkan wajah kedua orang itu membuat Mita lelah.


***


Andrian menyadari bahwa apa yang dia lakukaan memang beresiko. Akan ada akibat luar biasa setelahnya. Selembar surat


yang hanya bertuliskan dua buah kalimat itu. Bagi dirinya, bagi hubungannya


dengan Bu Aya, bahkan lebih komleks dari itu reaksi suami Bu Aya. Andrian


tidak menutup mata dari kemungkinan ketiga. Dia tahu siapa suami Bu aya. Dia


sudah sedikit mencari tahu seperti apa suam ibu Aya,


Kegilaannya muncul juga karena dorongan dari kakak sepupunya. Ya,

__ADS_1


walaupun kalau dipikir-pikir Andrian memang tidak pernah menyebutkan pastinya


siapa wanita yang dia sukai.


Apa kalimat terakhirku itu berlebihan ya.


Sore itu, di sebuah kafe Andrian sedang duduk menunggu. Dia sudah


menghabiskan hampir separuh minuman yang dia pesan. sambil melihat hp. Sambil


memakan makanaan yang juga dia pesan. Dia memesan somay. Kak Mita bilang makanan ini yang mau dibelikan Renan. Daripada nanti dia tidak bisa menelannya. Lebih baik dia makan sekarang. Kunyah, kunyah dengan penuh perasaan. Menikmati setiap gigitan.


Saat suapan terakhir, melihat seseorang berjalan ke


arahnya dia langsung bangun dari duduk. Glek.


Dia sudah seperti mau membunuhku.


Bangun dari duduk.


Aku harus memanggilnya apa ni.


“ Kak Renan terlambat ya.” ujarnya  memutuskan memanggil


kakak. Sambil melihat jam di pergelangan tangan.


“ Aku bukan kakakmu.” Duarrr, dengan ketusnya Renan menjawab. Sambil menarik kursi duduk. Menarik nafas pelan menahan emosi. Mita sudah menunjukan foto anak laki-laki yang ada di hadapannya ini. Dengan hanya melihat fotonya saja sudah membuat kesal.


Aku ingin menghajarnya. Kalau tidak ingat janjiku pada Ayana.


Canggung. Hening menguasai waktu di antara mereka berdua.


Seorang pelayan datang dan mencatat pesanan Renan. Andrian menunjuk piring kosong di depannya. Tersisa bumbu kacang di sana. Menunjukan kalau dia sudah makan sepiring somay.


" Bawakan saja dua porsi." Tersenyum. " Aku kan sudah berjanji pada kakak sepupumu untuk mengajakmu makan somay. Jadi kau harus makan di depanku donk." Andrian merinding.


“ Maaf Pak.” Pak, gila apa, memang dia kelihatan dari mananya seperti


bapak-bapak. Andrian tergelak sendiri sambil menahan tawa dengan tangannya. Tubuhnya gemetar.


“ Sejak kapan aku jadi bapakmu.” Semakin ingin tertawa. Dia menarik nafas dalam.


“ Kalau begitu Om.” Andrian masih tidak bisa mengontrol senyum tipisnya.


“ Memang aku menikah dengan tantemu.”


Jadi aku harus memanggilmu apa! Ternyata dia lucu juga. Rasa takutku menghilang sedikit-sedikit.


Di mata Andrian Renan jadi terlihat lucu. Apalagi dengan gaya bicaranya.


“ Jadi Anda mau dipanggil apa?” Memilih memakai sapaan paling formal yang ada dalam tata bahasa.


Pesanan  datang. Renan menyodorkan sepiring somay ke depan Andrian, seringai muncul di bibirnya. “ Panggil aku


suaminya Bu Aya.”


Apa! Gila! Kenapa orang ini bisa lucu begini si. Jadi ini alasan kenapa Bu Aya mencintainya.


“ Baiklah, suaminya Bu Aya" Mencengkram tangan di bawah meja, karena panggilan itu masih mengelitik di terlinganya. Andrian masih ingin tersenyum. " Kenapa anda memanggil saya kemari. Suaminya Bu Aya.”


Renan berdehem bangga dengan panggilan itu.


Aku jadi ingin memanggilnya lagi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2