
Masih di restoran, bersama Renan dan Mas Gilang.
Hari ini, hari yang tidak akan pernah dilupakan Renan sepanjang
hidupnya. Karena hari inilah selalu ada jarak kecanggungan yang
tercipta saat ia bertemu Mas Gilang. Tapi dia selalu menghormati Mas Gilang, karena laki-laki itu sangat pantas untuk di hormati.
Dengan wajah serius Mas Gilang melanjutkan kata-katanya.
“ Ayana adalah putri yang berharga bagi kedua orangtua kami. Dia adalah
adik yang berharga untukku." Melihat Renan dengan tatapan tajam. " Dan Ayana adalah kakak yang berharga untuk Haikal
dan juga Kirana. Dia adalah seseorang yang berharga untuk kami semua.” Sebuah
kalimat panjang yang membuat siapa pun yang mendengar akan bergetar hatinya.
Renan meremas jemarinya di bawah meja. Dia bahkan sudah tidak
berani memakai senyuman dan sifat jenakanya untuk menaklukan Mas Gilang. Laki-laki di
hadapannya ini harus di yakinkan dengan kesungguhan hatinya. Keseriusan laki-laki yang walaupun terpaut usia yang cukup lebar dengan Ayana.
“ Dan aku berharap siapa pun laki-laki yang akan hidup bersamanya,
setelah dia meninggalkan rumah kami, adalah laki-laki baik yang akan
memperlakukannya sama seperti kami menyayanginya. Suami yang menganggap dia berharga.”
Dari kata-kata Mas Gilang saja sudah membuat Renan semakin jatuh hati
pada calon istrinya. Dia wanita baik, bukan hanya sebatas yang ia lihat
di foto-foto social medianya. Bukan hanya sekedar yang ia lihat
secara-sembunyi-sembunyi. Bukan hanya
sekedar kebaikan yang ia dengar dari lingkungan pergaulannya. Tapi cinta dan
rasa sayang Mas Gilang pada gadis itu sudah menunjukan betapa baiknya dia untuk
orang-orang terdekatnya.
“ Kakak sangat mempesona, dan aku jatuh cinta padanya.” Mencoba
menemukan kepercayaan diri. Karena memang alasan itulah yang ada. Dia jatuh
cinta dengan semua hal yang dimiliki Ayana. Terlepas adanya perbedaan usia di
antara keduanya. Renan bertekat akan memperjuangkan Ayana untuk menjadi istrinya.
Senyum tipis muncul di bibir Mas Gilang, sekali lagi membuat berdegup
cemas.
Dia berfikir apa coba, sampai tersenyum seperti itu.
“ Aku tahu kau tidak sepolos itu Renan.” Seketika benar-benar merubah
air muka Renan. “ Ya walaupun dengan wajahmu kau memang bisa melakukan itu.”
Itu pujian kan? Walaupun nyali semakin menciut.
“ Saya benar-benar mencintai Ayana.” Berubah menjadi serius. Dia duduk
dengan tegak sekarang. Meletakkan kedua tangan di atas meja. Renan menatap dengan penuh kesungguhan. Tidak ada senyum
__ADS_1
sedikit pun di wajahnya. ” Bukan hanya karena mama yang mengatur perjodohan ini. Tapi karena saya memang
sungguh-sungguh mencintai Ayana dan mau menghabiskan hidup saya bersamanya.”
Mas Gilang masih terdiam dan tidak berkata apa pun. Dia membiarkan Renan
meneruskan kalimatnya.
“ Mungkin Mas Gilang tidak percaya, tapi saya jatuh cinta pada Ayana saat
pertama kali melihatnya.” Menjeda bicara, meraba apa yang dipikirkan Mas
Gilang. Dia masih diam dan mendengarkan. “ Dan sikap saya pada Ayana sama
sekali bukan kepura-puraan”
Walaupun awalnya aku mengira dia suka tipe yang polos dan lucu, jadi aku menjadi seperti yang dia sukai. Tapi perasaanku padanya benar-benar tulus.
“Ya, aku percaya." Mas Gilang datang tidak dengan tangan kosong ke tempat pertemuan ini. " Aku sudah mencari tahu tentangmu.”
Apa! Apa dia mengirim seseorang untuk memata-mataiku juga. Apa dia
segila aku. Seperti menemukan benang merah yang bisa mengikat hati
keduanya.
“ Aku punya teman yang bekerja di kantormu,” menjawab tanda tanya di
wajah Renan.
Ternyata dia tidak segila aku, orang jatuh cinta kan selalu dimaafkan. Hehe.
Minuman dan makanan yang mereka pesan datang, Renan bernafas lega.
Setidaknya menjadi jeda interograsi baginya. Mas Gilang memang memiliki pesonanya
menyelidiki dirinya dulu sebelum mereka bertemu. Sambil memainkan sendok di
gelasnya Renan sedang berfikir keras, tentang apa yang bisa meyakinkan kakak laki-laki Ayana ini.
Senyuman tidak mempan.
Kepolosan lewat.
Ketampanan, hemm, gak ngaruh kali!
Kejujuran....
“ Kau pernah pacaran?”
Sendok di tangan Renan terjatuh, Mas Gilang menemukan celah, kelemahannya akan terkuak. Dia pernah
pacaran, tentu saja pernah.
Habislah aku.
“ Dengan wajahmu yang seperti itu."
Baiklah, aku akan menganggap itu pujian. Kalau aku itu tampan di matanya. Titik.
Seenaknya menjadikan wajah sebagai poin plus dan kelebihan di hadapan Mas Gilang. Supaya dia tetap bisa percaya diri.
" Jadi berapa kali kamu sudah pernah pacaran?"
Bagaimana ini, dilema sendiri muncul. Dia tidak mau berbohong, tapi apa dengan
berkata jujur juga bisa menyelamatkannya. Dia benar-benar ingin tampak sempura di hadapan Mas Gilang. Padahal di depan Ayana dia tidak sekeras ini untuk terlihat baik. Ia selalu menunjukan apa adanya dirinya di depan Ayana.
__ADS_1
“ Saya pernah pacaran Mas.” Kebohongan tidak akan menyelamatkannya. Renan
memilih jujur. “ Tapi sekarang saya sedang tidak berhubungan dengan siapa pun.
Saya sudah lama putus dari pacar terakhir
saya.”
Bukankah kita tidak bisa memperbaiki masa lalu, yang bisa diperbaiki
adalah masa depan. Sebuah benang tipis yang ia pegang saat hampir terjatuh di
jurang. Bahwa kisah asmaranya di masa lalu hanya akan jadi kenangan yang tidak
akan dia toleh lagi.
“ Apa kau dekat dengan keluargamu?”
Aku selamat. Dia tidak bertanya lagi.
“ Kami dekat satu sama lain. Aku dekat dengan mama, papa dan ketiga
kakak perempuanku. Mereka semua sudah menikah, mungkin Mas Gilang sudah
mendengarnya.” Jawaban serius tanpa dibumbui senyuman.
“ Hemm, ibu sudah bicara tentang keluargamu. Aku hanya ingin mendengarnya
langsung darimu. Apa mereka berharga untukmu” Pertanyaan baru menyusul.
“ Tentu saja.” Renan menjawab cepat dengan penuh keyakinan.
“ Kau pasti tidak akan membiarkan mereka sedih atau terluka kan?”
Apa ini ujian?
“ Tentu saja.”
Aku akan membela ketiga kakakku kalau ada laki-laki yang mengganggu
mereka, walaupun aku hanya anak kecil yang mereka manjakan. Tapi aku akan
berdiri di depan mereka kalau ada yang berusaha menyakiti mereka. Karena aku
laki-laki.
Yahh, walaupun itu tidak pernah terjadi.
Ketiga kakak perempuan Renan tidak tahu kenapa ya, bahkan semuanya
terlihat tomboy. Mama pernah cerita kalau dia ingin anak laki-laki si pada
saat kehamilan. Alhasil ketika keluarga mereka mendapatkan anak laki-laki jadi
diperlakukan bak putri. Begitulah Renan tumbuh dengan kasih sayang yang berlimpah.
“ Jadi kamu pasti paham, bahwa aku hanya berharap yang terbaik untuk
Ayana."
Jadi ini inti pertanyaannya.
Mas Gilang sudah seperti membawa kertas berisi biodata Renan, dan dia siap mencoret satu persatu kalau jawaban Renan tidak memuaskannya.
" Bagaimana gaya pacaranmu di masa lalu? Kalian pernah berciuman? atau....."
Mama, seharusnya aku pergi denganmu tadi!
__ADS_1
Bersambung