Suamiku Posesif

Suamiku Posesif
Side Story ( Mas Gilang)


__ADS_3

Masih di restoran, bersama Renan dan Mas Gilang.


Hari ini, hari yang tidak akan pernah dilupakan Renan sepanjang


hidupnya. Karena hari inilah selalu ada jarak kecanggungan yang


tercipta saat ia bertemu Mas Gilang. Tapi dia selalu menghormati Mas Gilang, karena laki-laki itu sangat pantas untuk di hormati.


Dengan wajah serius Mas Gilang melanjutkan kata-katanya.


“ Ayana adalah putri yang berharga bagi kedua orangtua kami. Dia adalah


adik yang berharga untukku." Melihat Renan dengan tatapan tajam. " Dan Ayana adalah kakak yang berharga untuk Haikal


dan juga Kirana. Dia adalah seseorang yang berharga untuk kami semua.” Sebuah


kalimat panjang yang membuat siapa pun yang mendengar akan bergetar hatinya.


Renan meremas jemarinya di bawah meja. Dia bahkan sudah tidak


berani memakai senyuman dan sifat jenakanya untuk  menaklukan Mas Gilang. Laki-laki di


hadapannya ini harus di yakinkan dengan kesungguhan hatinya. Keseriusan laki-laki yang walaupun terpaut usia yang cukup lebar dengan Ayana.


“ Dan aku berharap siapa pun laki-laki yang akan hidup bersamanya,


setelah dia meninggalkan rumah kami, adalah laki-laki baik yang akan


memperlakukannya sama seperti kami menyayanginya. Suami yang menganggap dia berharga.”


Dari kata-kata Mas Gilang saja sudah membuat Renan semakin jatuh hati


pada calon istrinya. Dia wanita baik, bukan hanya sebatas yang ia lihat


di foto-foto social medianya. Bukan hanya sekedar yang ia lihat


secara-sembunyi-sembunyi.  Bukan hanya


sekedar kebaikan yang ia dengar dari lingkungan pergaulannya. Tapi cinta dan


rasa sayang Mas Gilang pada gadis itu sudah menunjukan betapa baiknya dia untuk


orang-orang terdekatnya.


“ Kakak sangat mempesona, dan aku jatuh cinta padanya.” Mencoba


menemukan kepercayaan diri. Karena memang alasan itulah yang ada. Dia jatuh


cinta dengan semua hal yang dimiliki Ayana. Terlepas adanya perbedaan usia di


antara keduanya. Renan bertekat akan memperjuangkan Ayana untuk menjadi istrinya.


Senyum tipis muncul di bibir Mas Gilang, sekali lagi membuat berdegup


cemas.


Dia berfikir apa coba, sampai tersenyum seperti itu.


“ Aku tahu kau tidak sepolos itu Renan.” Seketika benar-benar merubah


air muka Renan. “ Ya walaupun dengan wajahmu kau memang bisa melakukan itu.”


Itu pujian kan? Walaupun nyali semakin menciut.


“ Saya benar-benar mencintai Ayana.” Berubah menjadi serius. Dia duduk


dengan tegak sekarang. Meletakkan kedua tangan di atas meja. Renan menatap dengan penuh kesungguhan. Tidak ada senyum

__ADS_1


sedikit pun di wajahnya. ” Bukan hanya karena mama yang mengatur perjodohan ini. Tapi karena saya memang


sungguh-sungguh mencintai Ayana dan mau menghabiskan hidup saya bersamanya.”


Mas Gilang masih terdiam dan tidak berkata apa pun. Dia membiarkan Renan


meneruskan kalimatnya.


“ Mungkin Mas Gilang tidak percaya, tapi saya jatuh cinta pada Ayana saat


pertama kali melihatnya.” Menjeda bicara, meraba apa yang dipikirkan Mas


Gilang. Dia masih diam dan mendengarkan. “ Dan sikap saya pada Ayana sama


sekali bukan kepura-puraan”


Walaupun awalnya aku mengira dia suka tipe yang polos dan lucu, jadi aku menjadi seperti yang dia sukai. Tapi perasaanku padanya benar-benar tulus.


“Ya, aku percaya." Mas Gilang datang tidak dengan  tangan kosong ke tempat pertemuan ini. " Aku  sudah mencari tahu tentangmu.”


Apa! Apa dia mengirim seseorang untuk memata-mataiku juga. Apa dia


segila aku. Seperti menemukan benang merah yang bisa mengikat hati


keduanya.


“ Aku punya teman yang bekerja di kantormu,” menjawab tanda tanya di


wajah Renan.


Ternyata dia tidak segila aku, orang jatuh cinta kan selalu dimaafkan. Hehe.


Minuman dan makanan yang mereka pesan datang, Renan bernafas lega.


Setidaknya menjadi jeda interograsi baginya. Mas Gilang memang memiliki pesonanya


menyelidiki dirinya dulu sebelum mereka bertemu. Sambil memainkan sendok di


gelasnya Renan sedang berfikir keras,  tentang apa yang bisa meyakinkan kakak laki-laki Ayana ini.


Senyuman tidak mempan.


Kepolosan lewat.


Ketampanan, hemm, gak ngaruh kali!


Kejujuran....


“ Kau pernah pacaran?”


Sendok di tangan Renan terjatuh, Mas Gilang menemukan celah, kelemahannya akan terkuak. Dia pernah


pacaran, tentu saja pernah.


Habislah aku.


“ Dengan wajahmu yang seperti itu."


Baiklah, aku akan menganggap itu pujian. Kalau aku itu tampan di matanya. Titik.


Seenaknya menjadikan wajah sebagai poin plus dan kelebihan di hadapan Mas Gilang. Supaya dia tetap bisa percaya diri.


" Jadi berapa kali kamu sudah pernah pacaran?"


Bagaimana ini, dilema sendiri muncul. Dia tidak mau berbohong, tapi apa dengan


berkata jujur juga bisa menyelamatkannya. Dia benar-benar ingin tampak sempura di hadapan Mas Gilang. Padahal di depan Ayana dia tidak sekeras ini untuk terlihat baik. Ia selalu menunjukan apa adanya dirinya di depan Ayana.

__ADS_1


“ Saya pernah pacaran Mas.” Kebohongan tidak akan menyelamatkannya. Renan


memilih jujur. “ Tapi sekarang saya sedang tidak berhubungan dengan siapa pun.


Saya sudah lama putus  dari pacar terakhir


saya.”


Bukankah kita tidak bisa memperbaiki masa lalu, yang bisa diperbaiki


adalah masa depan. Sebuah benang tipis yang ia pegang saat hampir terjatuh di


jurang. Bahwa kisah asmaranya di masa lalu hanya akan jadi kenangan yang tidak


akan dia toleh lagi.


“ Apa kau dekat dengan keluargamu?”


Aku selamat. Dia tidak bertanya lagi.


“ Kami dekat satu sama lain. Aku dekat dengan mama, papa dan ketiga


kakak perempuanku. Mereka semua sudah menikah, mungkin Mas Gilang sudah


mendengarnya.” Jawaban serius tanpa dibumbui senyuman.


“ Hemm, ibu sudah bicara tentang keluargamu. Aku hanya ingin mendengarnya


langsung darimu. Apa mereka berharga untukmu” Pertanyaan baru menyusul.


“ Tentu saja.” Renan menjawab cepat dengan penuh keyakinan.


“ Kau pasti tidak akan membiarkan mereka sedih atau terluka kan?”


Apa ini ujian?


“ Tentu saja.”


Aku akan membela ketiga kakakku kalau ada laki-laki yang mengganggu


mereka, walaupun aku hanya anak kecil yang mereka manjakan. Tapi aku akan


berdiri di depan mereka kalau ada yang berusaha menyakiti mereka. Karena aku


laki-laki.


Yahh, walaupun itu tidak pernah terjadi.


Ketiga kakak perempuan Renan tidak tahu kenapa ya, bahkan semuanya


terlihat tomboy. Mama pernah cerita kalau dia ingin anak laki-laki si pada


saat kehamilan. Alhasil ketika keluarga mereka mendapatkan anak laki-laki jadi


diperlakukan bak putri. Begitulah Renan tumbuh dengan kasih sayang yang berlimpah.


“ Jadi kamu pasti paham, bahwa aku hanya berharap yang terbaik untuk


Ayana."


Jadi ini inti pertanyaannya.


Mas Gilang sudah seperti membawa kertas berisi biodata Renan, dan dia siap mencoret satu persatu kalau jawaban Renan tidak memuaskannya.


" Bagaimana gaya pacaranmu di masa lalu? Kalian pernah berciuman?  atau....."


Mama, seharusnya aku pergi denganmu tadi!

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2