
Ada suami yang sedang gelisah karena istrinya baru datang, langsung di
culik tiga kakak perempuan yang terkenal suka semaunya itu. Apalagi saat mama
ikutan nimbrung. Jadilah perkumpulan para wanita.
Mau diapakan Ayanaku!
Sudah berdiri di depan pintu. Menempelkan telinga, namun tidak terdengar apa pun. Renan dengan keras mengedor pintu
kamar mamanya sekarang. Penasaran. Tidak biasanya menarik istrinya sampai
selama ini. Sudah dia tidak boleh tahu lagi.
Apa si yang mereka lakukan, datang-datang langsung menyeret kakak.
Ketiga kakak perempuan Renan memutuskan untuk berhijab. Hari ini penampilan mereka berbeda dari terakhir kali pertemuan dengan Renan. Mama sendiri
memang sudah memakainya kalau keluar rumah.
Beberapa hari lalu ketiga kakak Renan pamer foto di grup wa. Pada pakai
jilbab semua. Dengan warna yang sama walaupun dengan gaya berhijab yang
berbeda.
“ Kalian mau kemana? Kondangan, kompak bener.” Renan menyahut yang
pertama.
“ Hei, puji kami kenapa.” Kakak kedua.
“ Alhamdulillah kakak semuanya cantik-cantik, kecup jauh dari Aya.”
Ayana.
“ Siapa bilang boleh kecup-kecup. Balikin kecupan dari Ayana.” Secepat kilat chat
Renan.
“ Week udah aku kantongin. Renan,
puji kakakmu dulu.” Masih mengharap pujian.
“ Ia, ia kalian cantik kalau Ayana gak ada.”Renan.
Anda di keluarkan dari grup chat Sayangi keluarga.
Mungkin Allah menyentuh hati hambanya dengan banyak cara. Renan merasa
tergelitik hatinya saat melihat ketiga kakak perempuannya berubah penampilan. Dan akhirnya ia ingin istrinya Ayana pun
mendapat hidayah itu. Tapi untuk hal ini dia ragu untuk ikut campur. Tidak
seperti saat ia menerapkan aturan melarang Ayana mengikat rambutnya di luar
rumah.
Aku ingin cuma aku yang bisa melihat rambut kakak. Membenturkan kepala di pintu.
“ Buka, kalian apakan Ayana!”
__ADS_1
suaranya bercampur kesal. Sudah hampir satu jam istrinya ditarik ketiga kakak
perempuan dan mamanya masuk ke kamar. Tapi belum ada tanda-tanda kalau dia akan
di lepaskan. “ Mama!” Mama yang selalu lemah pada permintaan anak lelaki satu-satunya.
Pintu berderik pelan.
Nah dibuka kan kalau aku panggilnya mama.
Ren tetap tidak bisa masuk atau melihat istrinya.
Mama menghalangi pandangan Renan sambil nyengir penuh makna. “ Mama apa-apan
si,ikutan kakak yang aneh-aneh. Mana Ayanaku!”
“ Huss, belum boleh masuk. Pergi dulu sana. Ngobrol sama papa. Cewek-cewek lagi ngobrol
sesama cewek.” Mama yang diberi tugas mengusir Renan.
“ Kalian ngapain? Kakak!”
“ Sayang aku gak papa.” Ayana menyahut dari dalam.
“ Hei sudah sana main sama anak-anak. Kami pinjam Aya sebentar.” Cuma
terdengar nyaring suara kakak kedua.
Cih, karena sudah mendengar Ayana menyahut, akhirnya dia mengalah.
“ Awas ya kalau kalian aneh-aneh.”
Dengan wajah merengut dia
Renan bergabung dengan para
lelaki pada akhirnya.
“ Mama ngapain si Pa, aneh-aneh ikutan kakak , aku aja gak boleh masuk
kamar.”
“ Biarin aja, urusan perempuan.” Papa malah asik main sama cucu-cunya.
Ikut membongkar robot-robotan, dan dibuat pusing karena harus menyatukannya
lagi.
“ Bukan begitu kek. Ini begini, begini.” Si cucu malah lebih pintar. Anak zaman sekarang pintarnya bukan main.
“ Ditinggal tante Aya ya Om, kasihan.” Keponakan tertua lagi-lagi memancing suasana. " Main game sama aku aja yuk."
“ Gak mau, gak suka main game. Eh, kamu naik sana ke kamar nenek, ajak Tante Aya turun.”
“ Nanti aku gak dikasih uang jajan, katanya kalau ganggu Tante Aya
sama mama.”
Apalagi itu si kakak. Renan memilih duduk dengan ketiga kakak iparnya
yang sedang mengobrol.
__ADS_1
“ Oh ya Bang, aku mau nanya sesuatu yang serius.” Ketiga kakak iparnya menoleh penuh
spekulasi di kepala mereka. Apa yang mau di tanya adik ipar. Seserius apa pertanyaanya selain seputar ngebucin istri sendiri. Politik, ekonimi,budaya atau resep masakan.
“ Kenapa trio kakak pada pakai jilbab semua. Kalian yang suruh?”
“ Hemm. Kirain mau nanya apa.” Kakak ipar kedua yang merupakan kelemahan
terbesar Kak Lati melengos.
“ Aku serius Bang, kok tiba-tiba mereka kompakan pada pakai jilbab, kalian yang
suruh.” Duduk di lantai, mengambil sepotong cake. Lalu mencolek-coleknya dengan buah stroberi yang ranum-ranum nganggur tidak tersentuh di sebelahnya. " Cerita donk, katanya perempuan kalau pakai hijab ada perjalanan spiritualnya gitu. Trio kakak begitu juga gak?
Konon katanya ya, Renan juga cuma tau dari cerita. Dia kan gak mengalami.
" Tau-tau kakakmu minta izin buat pakai hijab, namanya melakukan hal baik aku sebagai suaminya mendukung dan bahagia donk." Kakak ipar pertama.
" Sama, kakakmu tau-tau minta izin. Aku senenglah, memang dari lama pengen dia pakai hijab." Kakak ipar ketiga. Kalem ngekor jawaban.
Renan masih menganggukan kepala paham. Kakak kedua tersentak mengejutkan semua.
" Kayaknya ada deh cerita seperti itu." Semua antusias menyimak. Papa menoleh sebentar tapi sibuk dengan cucunya lagi. Ada yang memilih menggelayut manja di pangkuan Renan sambil minta suapi, ponakan perempuan.
“ Itu aku pernah ngajakin kakakmu ikut kajian di masjid agung. Pas
banget bahas tentang jilbab dan aurat serta menjaga kehormatan wanita.” Suami Kak Lati
mulai ceritanya. “ Tau-tau pas pulang di mobil dia nangis. Kan aku kaget, dosa
apa aku sama dia sampai buat istriku nangis begitu.”
“ Kak Lati sampai nangis?” pertanyaan Renan mewakili keryit semua orang.
Orang paling santai sejagad raya dan cuek dengan omongan orang itu. Nangis cuma
kalau nonton drama aja biasanya dia.
“ Dia bilang gini, Kak, jilbab itu wajib lho. Huaaaaaa, kemana aja si
aku selama ini. Ternyata pakai jilbab gak harus baik dulu ya. Aku pikir mau
memperbaiki akhlak dulu biar cantik hatinya biar pas sudah pakai jilbab bisa
cantik lahir batin. Tapi, tapi…. Huuuuu.”
" Terus kak."
" Nangis terus sampai parkiran Grand Mall."
“ Haha. Pasti langsung diem pas Abang bawa ke lantai dua ya.”
Langsung buyar keharuan yang sejenak tercipta dengan pengalaman spiritual kak Lati. Hari itu suaminya memberinya hadiah. Bebas pilih jilbab semaunya.
Bersambung
Epilog
Ayana keluar setelah menjadi bahan uji coba kakak iparnya. Dia terlihat cantik dengan jilbab warna ungu dan pakaiaan yang senada warnanya. Renan menjatuhkan sendok saat melihat istrinya menuruni tangga.
"Cieee, gimana, gimana." Lati yang bangga dengan kerja kerasnya. Mendorong Ayana ke depan suaminya.
__ADS_1