
Kejadian ini berlangsung sebelum Renan mengetahui perihal ada seorang
laki-laki yang mengirimi istrinya surat cinta. Saat makan malam kantor karena
lembur kerja. Di restoran mewah yang dipilih oleh Mita.
Makan malam dengan atmosfer canggung, Bu Tiwi bicara sekenanya. Sampai rasanya semua orang yang ada di ruangan
menelan makanan mewah mereka setengah hati. Mita yang melirik sambil memberi
kode-kode garis keras bertanya, hanya disambut angkat bahu seniornya.
Kenapa jadi begini, apa aku salah memilih tempat. Mita
Ini kenapa lagi, tumben Bu Tiwi membisu di depan Renan. Kak Marwan.
Dih ini makanan harganya sudah
seperti emas, rasanya biasa saja. Enakan masakan istriku. Pak Restu fokus pada jumlah
tagihan dan harga makanan. Sok menghibur diri kalau makanan istrinya lebih enak. (Emang lebih enak makanan istriku #Marah)
Aku mau makan bersama kakak. Renan sambil mengunyah makanan dengan
cepat.
Renan! Bu Tiwi menyimpan sejuta kesal yang tidak bisa ia lampiaskan pada
siapa pun. Yang ingin dia lakukan sekarang hanya menghabiskan makanan. Dia melirik Renan. Apa dia memang sepolos itu sampai tidak tahu aku mengejarnya. Aku mau makan malam berdua denganmu, bukan dengan mereka semua. Teriakan hati Bu Tiwi yang panjang.
Bagi Bu Tiwi ini bukan soal tagihan, tapi kesempatan yang hilang. Padahal dia sudah mengatur tengat laporan yang dipercepat demi makan malam ini.
“ Bu Tiwi lagi ulang tahun ya, sampai mentraktir kita semua di tempat
sebagus ini.” Padahal Mita sendiri yang mencari tempat. Dia mau cuci tangan
karena merasa meraba situasi. Mencari obrolan.
“ Tidak.”
Hening lagi.
Renan tersenyum melihat wajah canggung Mita yang langsung kehilangan
cerianya.
Senior!
Semua jadi merasa bersyukur saat menikmati makanan kantor tapi dengan
hati yang nyaman, ketimbang makanan mewah tapi hati deg-degkan. Wajah semua
orang terlihat lega ketika Bu Tiwi selesai membayar tagihan. Kecuali Renan yang tidak perduli.
Mereka sudah keluar dari restoran berjalan menuju area parkir.
“ Terimakasih Bu makan malamnya. Kami kembali ke kantor.” Renan menunjuk
mobilnya.
“ Renan, temui saya di kantor nanti.”
“Baik bu.”
Semua mata tertuju pada Renan, tapi laki-laki itu hanya angkat bahu
sambil memiringkan bibir. Tidak tahu apa-apa. Pura-pura tidak tahu.
“ Ayo masuk, kerjaan masih banyak.”
“ Senior, Bu Tiwi marah ya.”
Lagi-lagi cuma menjawab dengan angkat bahu. Mita masih mengekor dan mencerca pertanyaan. Sementara Pak Restu dan Marwan lebih memilih mengirim pesan pada istri mereka. Sedang belajar jadi suami perhatian setelah tertusuk panah kata-kata Renan tentang menjadi suami perhatian tadi.
***
Selepas menyelesaikan semua laporan Renan masih sempat menghabiskan kopi
__ADS_1
yang dibuat Mita. Walaupun tidak terlalu suka, demi membuat fokus dan matanya
terbuka dia meminumnya juga.
“ Kak Marwan, aku sudah kirim filenya. Cek ya. Sekarang mau ke ruangan
Bu Tiwi sebentar.”
“ Hemm. Mita!”
“ Ia Kak.”
“ Buatin mi rebus donk.” Makan malam yang susah ditelan itu sudah habis
energinya. Mita mengiyakan dan pergi menuju dapur.
Sementara itu, Renan sudah berdiri di depan ruangan Bu Tiwi. Ia menghela nafas jengah. Ketukan pintu tiga kali. Renan membukanya tanpa mendengar suara Bu Tiwi
mempersilahkan masuk.
“ Duduklah!”
Renan memilih duduk di sofa, ketimbang di depan meja kerja bu Tiwi.
Membuat wanita itu beranjak dari kursinya.
“ Ini sudah larut malam Bu, apa yang mau dibicarakan. Kalau bisa besok
saja.”
“ Tunggu.” Bu Tiwi menyentuh tangan Renan yang ada di pinggir sofa,
membuat laki-laki itu terbelalak tidak suka, lalu menepis tangan atasannya. Terbilang
kasar caranya menepis.
“ Jangan melebihi batas Bu.” Renan mau bangun dari duduknya tapi Bu tiwi
menarik tangannya. Membuatnya mendesah kesal. “ Kalau Ibu melewati batas lagi,
saya tidak akan bersikap sopan. Walaupun Ibu atasan saya.”
tidak sepolos itu ya.” Bergumam ntah apa di bawah tangan yang menutupi bibir.
Dia masih bisa tersenyum. “Jadi kamu sudah tahu dan hanya pura-pura tidak
tahu.” Mengumpulkan kepercayaan diri yang sesaat menguap karena penolakan tegas
Renan. “ Padahal kau tahu, kalau aku hanya mau makan malam berdua denganmu.”
Renan tertawa tapi suaranya penuh jengah dan muak.
“ Aku dengar istrimu jauh lebih tua darimu.” Bu Tiwi mengibaskan rambut.
Mungkin dia berfikir bilangan usianya ada di ujung rambutnya. Aku juga jauh
lebih tua darimu lho. Mungkin itu yang ingin ia katakan. “Aku juga dengar dia
guru SMU ya.” Berdehem pelan. “ Renan, aku bisa memberikan semua yang tidak
bisa.”
“ Hentikan! Jangan dilanjutkan lagi.” Renan muak bahkan mulai jijik dengan situasi yang ada.
“ Aku bisa memberi uang lebih banyak yang bisa di berikan istrimu.”
Suara tawa Renan memenuhi ruangan mendengar kalimat Bu Tiwi. Apa wanita
di hadapannya sebodoh itu. Seisi kantor tahu bagaimana dia menunjukan cintanya
pada istrinya. Para karyawan wanita yang mengejarnya sebelum menikah pun mundur
teratur tanpa diminta saat tahu bagaimana sikap Renan pada istrinya.
Dimana-mana, Renan selalu menunjukan cintanya pada Ayana.Membuat para wanita segan, walaupun hanya sekedar mengedipkan mata sambil menyapa.
Cih.
__ADS_1
Renan bangun dari duduk.
“ Seharusnya ibu mencari informasi dengan benar, jangan setengah-setengah
begini.”
Glek, wajah Bu Tiwi mulai pias. Apa semua rencana yang sudah dia buat
mendekati Renan akan gagal semudah ini. Dia tidak berharap Renan akan berpisah
dari istrinya. Dia hanya ingin hubungan suka sama suka dengan laki-laki muda
seperti Renan. Melepas penat kehidupan rumah tangganya yang membosankan. Dia
yang mengejar karir, suaminya yang gila kerja.
" Renan."
Renan tidak mau mendengar apa pun. Apalagi sekedar pembelaan kalau wanita di hadapannya ini kesepian. Bahkan dia tidak akan perduli sekalipun Bu Tiwi hanya ingin berbagi gelisah dan curhat mengenai beban hidupnya. Jangan memberi ruang untuk hubungan terlarang. Karena celah kecil itu akan keropos lama kelamaan. Berawal dari curhat sederhana, si dia bisa jadi lebih mempesona daripada kekasih halal yang sudah kau ikat janji suci di hadapan Tuhan.
Renan menunjukan kalau dia sama sekali tidak bersimpati.
“ Saya menikah bukan karena istri saya usianya lebih tua dari saya.”
Tertawa, berisi ejekan. Jadi walaaupun ada wanita yang lebih tua dari
Ayana menyatakan perasaannya itu tidak akan membuat Renan bergeming. Begitu arti
tertawanya. “ Tapi karena saya jatuh cinta Ayana, saya tidak perduli berapa pun
usianya.” Huh dia mau memaki rasanya! “ Kita sudahi saja ini, saya akan anggap kejadian hari ini tidak
pernah terjadi.”
Renan sudah menghela nafas mau menyudahi semuanya.
“ Tunggu!”
“ Selangkah saja ibu menerobos masuk dalam garis yang saya
buat, Saya tidak akan selunak ini bicara. Bagaimana kalau tersebar gossip di kantor yang aneh-aneh tentang Ibu.Ya,
saya si tidak perduli, karena semua orang tahu saya mencintai istri saya. Tapi
Ibu.”
Tubuh Bu Tiwi bergetar. Dia sudah
kehilangan harga dirinya. Dia kalah. Laki-laki muda di hadapannya ini sama sekali tidak tertarik melanggar batasan. Ia menciut mendengar kalimat terakhir Renan. Dia sudah kehilangan harga diri, dia tidak mau sampai kehilangan muka di depan karyawan lainnya.
“ Dan satu lagi.” Renan berbalik setelah mengambil beberapa langkah menuju pintu. “ Uang istri saya itu tepat uang
dia sendiri, istri saya bekerja karena dia menyukai pekerjaannya, bukan untuk menghidupi saya." Melihat wajah Bu Tiwi yang semakin malu. Wanita itu tertunduk dalam.
Baiklah, akhiri ini. Renan tidak sekejam itu untuk mencela. Ya, dia wanita paruh baya yang mungkin kesepian dengan rumah tangganya, hingga berusaha mencari pelarian. Tapi dia memilih orang yang salah.
" Ibu tahu kan tentang konsep uang suami milik istri kan, tetapi uang istri ya tetap
punya istri sebanyak apapun penghasilannya. Ah, kalau istri mau berbagi, itu dianggap sedekah bagi istri."
Bu Tiwi menunduk semakin dalam.
Cih, ntah kenapa Renan jadi tidak mau memprovokasi lagi.
Aku akan memberinya kalimat terakhir sebagai sisa belas kasihku.
" Kalau ibu kesepian, kembalilah pada suami ibu. Jangan datang ke pelukan laki-laki lain, karena kalau ibu ditinggalkan bukan hanya uang yang ibu berikan, tapi juga harga diri dan kehormatan Ibu dan suami ibu. Saat itu ibu akan kehilangan semuanya."
Sudah cukup gumam Renan, dia berbalik tidak menoleh sama sekali. Keluar dari ruangan.
Huh! Tiwi jatuh terduduk di sofa. Mendongak pelan menunjukan matanya yang berair. Kalimat terakhir Renan menyayatnya bagai sembilu tajam.
Bagaimana aku bisa berulang kali melakukan ini.
(Hah! jadi Ren bukan yang pertama #Authorkaget)
Bersambung
__ADS_1
" Yang halal yuk disayang-sayang ^_^)