
Kejadian tadi seperti drama tv atau reality show. Masih ingat dengan acara tembak-tembakan pacar ala stasiun tv. Nah, sama persih. Yang beda, mereka masih pakai seragam sekolah. Itu yang membuat Ayana rasanya ingin menjerit. Supaya langit juga mendengar isi hatinya.
Kenapa? Kenapa aku yang jomblo malah harus melihat beginian. Murid-muridku sendiri lagi.
Gemas sekaligus, ntahlah perasaan apa yang mewakilinya.
Semua berlangsung sangat cepat, saat Ayana dan rombongan kecil murid-muridnya sedang berjalan menuju wahana. Hilir mudik pengunjung wisata. Anak-anak yang berlarian, ibu mereka yang berteriak untuk hati-hati. Sekaligus pekikan keras orang-orang yang menaiki wahana ekstrim. Bercampur menjadi satu. Jangan lupakan para pedagang makanan yang juga berkeliaraan di lokasi. Menjajakan usaha mereka. Pemandangan khas jika mengunjungi taman wisata.
“ Bu Aya kita nanti naik itu ya.” Tunjuk murid-muridnya pada permainan
menguji adrenalin.
“ Siapa takut, setiap kali ke sini. Ibu pasti naik itu kok.” Memalingkan
wajah.
Walaupun pertama kali aku menangis saat turun, tapi setelahnya setiap kemari aku selalu naik
itu. Ah, jadi kangen Mas Gilang.
“ Eh ada keramaian apa itu?” Murid-murid di samping Ayana gerak cepat
berlari, meninggalkan guru mereka. Sementara Ayana ikut menyusul. Untuk sesaat dia hanya bisa membisu.
“ Cium, cium, cium!” Seperti para cheerleaders yang menyoraki para pemain
basket bertanding di tengah lapangan.
Sialnya setelah kecupan pertama mereka kepergok guru mereka. Lebih apes
lagi ini adalah kegiatan sekolah, dan mereka sedang memakai seragam. Sedang beruntungnya guru yang memergoki mereka
adalah Bu Aya, wali kelas mereka sendiri. Tapi bagi Bu Aya ini seperti bumerang yang melilitnya.
Seperti itulah kira-kira kalau reka ulang adegan.
***
Ayana menarik tangan kedua muridnya meninggalkan TKP, mencari tempat
yang jauh lebih sepi. Walaupun tidak mungkin menemukannya di tempat wisata ini. Anak-anak yang masih mengikuti mereka tertawa, lalu berbalik arah
saat guru kelas mereka mendelik dan mengusir dengan tangan yang dikibaskan.
“ Dramanya sudah selesai, kalian jalan-jalan sendiri sana.
Bersenang-senanglah.” Walaupun tampak
manyun pasukan penggembira membubarkan diri. Suara berisik mereka masih terdengar.
“ Huh! Akhirnya tinggal kita bertiga. Haha.” Ayana ingin tertawa, tidak tahu apa yang ia tertawakan. Menoleh bergantian ke kanan
__ADS_1
dan ke kiri, yang ditoleh langsung memalingkan wajah bersemu merah. Malu. “ Kita
duduk di dekat air mancur saja yuk, di sana sepi sepertinya. Ibu cuma mau ngobrol
sama kalian kok, tidak minta per-tang-gung-ja-wa-ban kalian kok.” Tapi Bu Aya mengeja kata pertanggungjawaban dengan nada penuh dakwaan.
Kedua tersangka terlihat mulai saling lirik panik, berusaha menyamakan alasan lewat telepati sorotan mata.
" Ibu tahu apa yang kalian pikirkan." Mengagetkan kedua muridnya.
Kami bahkan tidak tahu apa yang kami pikirkan, baagaimana ibu bisa tahu! Keduanya seperti sedang menjerit dalam hati.
“ Hemm, Bu Aya," terbata bicara. " Kita gak melanggar peraturan sekolah kan?” Bertanya dengan ragu. Terlihat keduanya meremas jemari masing-masing.
“ Ibu juga bingung, tidak ada peraturan khusus di larang berciuman.” Tersenyum, sambil memandang kedua muridnya bergantian.
Mereka cukup mengemaskan si, tapi kenapa harus berciuman sambil di
soraki anak lain, lebih-lebih di acara sekolah begini. Memang kalian lagi syuting drama tv apa.
Sambi berjalan beririgan. Bertiga sejenak tengelam dengan pikiran
masih-masing. Hanya sejenak saat bu Aya bicara. “ Ah,tadi ibu ikut
berdebar-debar kaget lho. Udah kayak nontn drama aja, apalagi temen-teman
kalian jadi grup penyemangat tadi. “ Tawa Bu Aya di akhir kalimat membuat kedua
“ Bu Aya bisa saja, saya kan jadi malu.”
“Ibu gak lagi muji lho.” Tertawa dengan reaksi muridnya.
Keduanya langsung tertunduk.
Mereka berdua tahu, reputasi wali kelas mereka. Bu Ayana adalah guru
yang baik dan menyenangkan, statusnya yang masih single masih bisa di ajak
bercanda tentang banyak hal. Tapi guru wanita itu cukup tegas jika menyangkut
hubungan laki-laki dan perempuan dalam konteks pacaran. Beliau sering kali mengatakan, tidak apa
pacaran, tapi menjaga diri juga harus di utamakan. Sebelum kalian melakukan
banyak hal dengan pacar kalian. Selalu ingat dan pikirkan keluarga yang
mencintai kalian di rumah. Gunakan senyum mereka sebagai benteng dan perisai
kalian untuk tidak mengambil langkah salah dalam hubungan asmara kalian.
Kedua murid itu mengingat jelas petuah itu. Karena Ayana kerap mengulanginya di kelas.
__ADS_1
Kenapa harus ketahuan bu Aya si, keduanya meremas tangan gemas dengan
diri mereka sendiri. Ini karena anak-anak tadi pada teriak-teriak juga si.
Lagi-lagi menemukan kambing hitam, bukan akar permasalahan.
Berhenti melangkah.
“ Ibu bicara secara terpisah ya dengan kalian, siapa yang mau
bicara duluan.” Bu Aya secara begantian melihat mereka. “ Reyhan atau Maya,
kalian yang putuskan.”
“ Saya Bu.” Lagi-lagi memakai jurus telepati sorotan mata untuk mengambil keputusan. Kalian ninja ya, main telepati terus. Di situasi berbahaya, bahkan kedipan mata bisa jadi simbol penyelamatan diri.
“Kalo gitu Maya tunggu sebentar di sini ya, jangan ke mana-mana.” Bu Aya menunjuk kursi di bawah pohon, jarak
yang cukup aman dari jangkauan pendengaran apa pun yang akan ia bicarakan dengan
Reyhan nanti. Mereka meninggalkan Maya yang menebak kira-kira apa yang terjadi
selanjutnya.
Bagaimana ini, jangan-jangan bu Aya menyuruh kami memanggil orangtua
kami. Maya larut dengan ketakutannya.
“ Kenapa Ibu di panggil ke sekolah? Memang kamu melakukan apa?”
“ Hemm, gak papa Bu.”
“ Kalau gak papa, kenapa sampai di panggil ke sekolah.”
“ Mungkin Bu Aya kangen sama Ibu.”
“ Haha, lucu sekali anak Ibu. Berhenti bercanda!”
“ Hemm," takut-takut menjawab. " Aku ketahuan ciuman sama pacarku Bu!”
“ Apa!” suara ibu menggelegar seantero komplek, jauh lebih menggelegar di
banding saat Maya menghilangkan kotak bekal merek itu, merek itu lho. Kalian
pasti tahukan merek apa?
Hanya membayangkan saja sudah membuat wajah Maya pias, semakin pias karena dia tidak bisa mendengar apa yang dibicarakan Bu
Aya dan Reyhan.
__ADS_1
Bersambung