Suamiku Posesif

Suamiku Posesif
Side Story (Restu Mas Gilang)


__ADS_3

Masih duduk berhadapan, sudah menghabiskannya hampir separuh minuman di gelasnya. Kakak kedua masih mengiyakan semua pendapat Mas Gilang. Sepertinya dia senang ada di sini dan sampai lupa tujuan utamanya. Renan bahkan cuma jadi penonton dengan harap-harap cemas.


Setelah mendengarkan pembicaraan kakak kedua, Mas Gilang mulai mengambil manuver dengan pertanyaan utama. Dia terlihat mulai serius. Atmosfir di sekitarnya berubah mode formal. Renan tahu, sekaranglah saatnya pertanyaan pamungkas. Penilaian akan dirinya dimulai. Mas Gilang ingin mengenal Renan melalui bagaimana keluarga memperlakukannya.


“ Renan bilang." Mendengar namanya disebut langsung membuat Renan duduk dengan sigap. Lagi-lagi meletakan tangan di atas meja. " Dia cukup bebas pacaran ya?” Sengaja tidak melanjutkan kalimat yang dia maksud sebenarnya apa.


Hei! Wajah Renan langsung tegang. Dia hanya menjawab riwayat pacaran tadi, itu pun dengan pilihan kata sangat hati-hati. Biar tidak jadi prasangka. Mencoba mendaur ulang ingatan, apa ada dari kata-katanya tadi yang bisa ditafsirkan berbeda.


Tidak, aku sudah sangat hati-hati tadi.


“ Mas, aku.”


" Sebenarnya, sebelumnya Ayana..."


Brak! Kakak kedua mengebrak meja. Mas Gilang tidak melanjutkan kata-katanya karena terkejut. Sepertinya hentakan tangan kakak kedua sangat keras.


Cukup menyulut pandangan meja lain ke arahnya, di mata mereka tertangkap penasaran. Beberapa lama masih terlihat ada yang memperhatikan, tapi berangsur kembali tidak antusias karena ternyata dari gebrakan meja tidak di susul kejadian menegangkan apa pun. Hebatnya, kakak kedua  tidak perduli. Rasa percaya dirinya memang luar biasa. Mas Gilang sampai memundurkan tubuhnya karena terkejut tadi. Apalagi saat melihat tindakan selanjutnya.


“ Renan.” Meraih baju adiknya. “ Apa yang Mas Gilang barusan bilang tadi, gaya pacaran bebas?” Tidak percaya dengan apa yang baru dia dengar. " Renan."


“Kak, aku ini yang adikmu.” Memukul tangan supaya melepaskan cengkraman. Tatapan polos Renan, mata jujur yang tidak menutupi apa pun. Apalagi terselip ketidakjujuran di sana. Di susul wajahnya mengkerut kesal. Membuat kakak kedua langsung tersenyum. " Kalian tahu kan aku bagaimana?"


" Maaf, maaf adikku." Menepuk kepala Renan lembut. Kembali menemukan kesadaran diri. Dia sudah terhipnotis wajah Mas Gilang sampai meragukan adiknya. " Maaf Mas sepertinya ada kesalahpahaman di sini." Menyentuh bahu Renan. " Dia memang diizinkan pacaran, tapi percayalah, dia masih polos urusan yang begituan."


" Benarkah?" Tersenyum sekenanya.


" Benar!" Sambil menepuk dadanya meyakinkan. " Renan ini anak yang baik, lucu, mengemaskan. Dia kesayangan di keluarga kami. Ya, walaupun dia memang sedikit manja." Setelah tersenyum pada adiknya dia menoleh pada Mas Gilang, tapi buru-buru mencari pandangan lain. " Dia dibesarkan dengan kasih sayang di keluarga kami."


" Baiklah." Mas Gilang juga memberi pandangan tulus pada calon adik iparnya.


" Saya belum selesai Mas." Memotong pembicaraan. Lalu berpaling lagi.

__ADS_1


Jangan melihatnya, atau kau bisa kehilangan fokus.


" Dia tidak pernah tinggal sholat lima waktu." Berapi-api bicara. Pokoknya hari ini dia mau mengatakaan semua kebaikan adiknya.


" Dia bisa jadi imam sholat mengantikan papa." Bangga.


" Dia pacaran lurus-lurus aja, waktu SMU dia bahkan pernah menangis karena dicium pacarnya."


" Kak Lati!" Renan.


" Ahh, itu bukan kelebihan ya. Maaf adiku sayang, kakakmu ini terlalu bersemangat." Benar-benar tidak merasa bersalah sama sekali. " Tapi yang pasti dia imut, lucu,mengemaskan, baik hati dan juga tampan." Adiku benar-benar sempurna untuk menjadi suami, begitu ujarnya.


" Sudah selesai?"


" Belum! Mas Gilang mau mendengar apa lagi tentang Renan?"


Mama sudah memberi semua informasi tentang Ayana, seperti apa gadis itu. Pada ketiga Kakak Renan sebelumnya. Tanpa sepengetahuan Renan, telah terjadi rapat tertutup di antara para wanita. Mereka semua sepakat mendukung perjodohan ini. Hingga akhirnya, apa pun yang terjadi, kakak kedua akan memuluskan perjalanaan Renan mengapai calon istrinya.


" Mas Gilang, Renan adalah anak yang baik. Percayalah, demi harga diriku dan kehormatan keluarga kami. Aku menjamin, Renan akan mencintai Ayana dengan sepenuh hatinya."


" Oh ya, dia sudah punya adik asuh yang dia biayai dari gajinya sendiri." Meraih bahu adiknya, memeluknya dari samping. " Anak orang saja dia sayang, apalagi istrinya nanti." Tepuk-tepuk kepala, bahkan sampai tingkat acak-acak rambut.


" Kak Lati hentikan, aku bukan anak kecil tahu." merapikan rambut dan duduk dengan berwibawa lagi.


" Ia, ia,kamu kan sudah mau menikah."


" Terimakasih karena sudah mau datang hari ini." Pandangan Mas Gilang beralih pada kakak kedua. Membuat wanita itu kembali berwajah serius.


Pantas saja Ayana keliatan ada manis-manis cantiknya, ternyata kakaknya begini. Masih berfikir yang tidak-tidak.


" Aku tidak berhak menguruimu tentang masa lalumu. Karena Ayana juga pasti punya masa lalu." Mas Gilang melanjutkan kalimatnya " Tapi, aku berharap kamu seperti yang aku dengar dari temanku dan kakakmu. Ntah kenapa, aku memang hanya mendengar yang baik-baik tentangmu."

__ADS_1


Walaupun sejujurnya di hati Mas Gilang tetap belum merelakan. Ah, mungkin sampai kapan juga seorang kakak tidak akan rela. Kalau ternyata adik kecil yang selalu mengikutinya telah tumbuh dewasa. Harus pergi menjalani kehidupannya sendiri, seperti halnya dirinya. Dia jadi ingin memeluk istrinya. Mungkin inilah perasaan yang dia lihat di bola mata penuh kaca mertua dan adik iparnya pada hari pernikahan.


Kedatangan kakak kedua Renan hari ini menjadi sangat berarti bagi penilaian Mas Gilang. Bahwa hubungan Renan dan keluarganya terjalin dengan baik. Mereka menyukai Ayana dan akan mendukung adiknya menjadi bagian keluarga. Karena pernikahan bukan hanya mengikat seorang wanita dengan suami belaka. Di belakang laki-laki yang dicintai, dia harus menghadapi ibu mertua, ayah mertua, kakak ipar atau pun adik ipar. Mas Gilang hanya ingin memastikan Ayana dicintai semua orang.


" Kedepannya mohon bantuannya, tolong jaga Ayana."


Renan menangkap kata-kata itu, langsung memeluk kakak kedua.


***


" Kau senang? senangkan? ah, adiku sudah besar rupanya."


" Terimakasih sudah datang Kak." Menutup pintu mobil.


" Apa si yang nggak buat Renan.  Oh iya, Apa adik laki-laki Ayana juga seperti Mas Gilang?"


Sumpah deh,ini kakak masih mikirin itu.


" Sudah sana pulang!"


" Kau ini!"


Masih menyimpan sejuta penasarannya. Tapi tetap pergi dan melajukan mobil.


Dan Renan kembali masuk ke restoran. Mas Gilang sudah selesai membayar tagihan.


Hari itu selama satu jam setelah kakak kedua pergi, Mas Gilang dan Renan menyusuri trotoar. Pembicaraan panjang mereka belum berakhir.


" Maaf ya, tapi aku akan terus mengawasimu. Tolong jaga Ayana dengan baik." Memang terlihat hanya tangan Mas Gilang yang mendarat di bahu Renan.  Tapi percayalah dia mencengkram dengan sepeuh hati.


" Ia Mas."

__ADS_1


bersambung


Rumahku adalah syurgaku dan keluarga akan selalu mendapat ruang besar dalam doa-doa kita. ^_^


__ADS_2