
Renan sepertinya puas setelah laki-laki di depannya menghabiskan somay
yang dia pesan. Walaupun dia terlihat sudah enggan disuapan terakhir. Sudah
terlihat dia memaksakan diri untuk menikmati. Tapi akhirnya tak bersisa juga.
Hanya ada guratan-guratan bumbu kacang yang berserak.
“ Menyia-nyiakan makanan itu perbuatan tercela, itu prilaku yang paling
di benci istriku Ayana.” Berdehem. Setingkat lagi levelnya naik. Dia sendiri
sudah menghabiskan separuh gelas minumannya. Piring somaynya sudah tak bersisa.
“ Tentu saja suaminya Bu Aya." Tekanan suara rendah. " Terimakasih makanan luar biasanya hari ini. Sepertinya karena suaminya Bu Aya, beberapa waktu ke depan, saya tidak akan makan somay lagi. ” Glek, akhirnya
habis juga sedotan terakhir. Mendorong somay terakhirnya masuk ke perut. Renan tersenyum menahan gelak tawa..
Dia benar-benar lucu.
Andrian masih berperang dengan dirinya sendiri untuk tidak menyukai laki-laki di hadapannya ini. Tapi sepertinya susah sekali. Suaminya Bu Aya punya caranya sendiri membuat orang akan langsung menyukainya.
Begitulah penggalan-penggalan cerita Ren.
Udah gitu aja, tidak ada adegan adu mulut atau tatap-tatapan tajam
seperti yang aku khawatirkan sepanjang hari ini. Ntah kenapa aku merasa sedikit
kecewa. Haha. Apa aku tanya lagi ya. Karena aku merasa dia hanya menceritakan
bagian yang dia terlihat keren saja.
“ Sepertinya muridmu memang orang
yang seenaknya.” Bisa kubayangkan bagaimana wajah Andrian kala itu. “ Tapi
karena aku kasian padanya, aku akan memaafkan dia.” Menutup dengan hamdallah
cerita tentang Andrian.
__ADS_1
Udah gitu aja.
“ Wahh, seperti yang sudah aku bayangkan. Sayang, kamu memang luar biasa
ya.” Pujianku menunjukan tingkat kepercayaanku. Kau membusungkan dada dan
menepuknya.
“ Memang kau pikir aku apa, aku ini suami yang penuh wibawa tahu. Tidak
mungkin aku berkelahi dengannya.” Ia,ia aku tahu. “ Untung saja dia cukup tahu
diri dan tidak memancing suasana.” Nah, sekarang jadi jawabannya yang
berwibawa dan bisa mengendalikan diri itu
siapa.
“ Dia menunjukan foto ibunya padaku.” Ren menyentuh ujung rambutku dan
memainkannya. Oh, ceritanya masih berlanjut. Poin yang aku tunggu. Aku pun mendapat informasi ini dari Mita. Apa Ren terkejut saat melihat foto ibu Andrian.
“ Kakak lebih cantik di lihat dari sudut mana pun. Bocah itu hanya
mencari alasan.” Merangkulku dalam dekapannya. Bibirnya sudah menyentuh bahuku.
“ Bagaimanapun ini bukan salahmu kalau dia menganggapmu mirip dengan ibunya.”
Ruang toleransi selalu hadir untuk hal seperti ini. Ya, Andrian masih sangat
muda. Tapi kedepannya aku yakin cara melihatku akan berbeda sejalan dengan usia kedewasaannya. Ketika dia sudah mengenal dunia yang lebih luas dan bertemu banyak orang.
Takdir yang dijanjikan Tuhan juga sudah menunggunya.
Ren menjatuhkan tubuh di atas bantal, lalu menarik tanganku. Menepuk dadanya supaya aku bersandar di sana.
“ Kakak.”
Kenapa aku merasa ini belum selesai ya. Dia belum memberi kalimat final penutupnya. Walaupun perihal surat Andrian sudah aku anggap selesai. Pertemuannya dengan Andrian yang berjalan lancar juga hal yang luar biasa.
__ADS_1
“ Hemm.”
“ Apa kau tahu kalau pintu ke syurga itu ada banyak.” Wahh, kenapa dia bawa-bawa syurga. Aku pasti kalah telak. Aku mendongak, melihatnya sudah tertawa. Benar kan? Pertanyaanmu mengandung sesuatu. " Apa, Jawab!" mengusap kepalaku dengan tangan berulang. Sudah jelas sekarang tujuannya menanyakan itu.
“ Tahu.” Itukan pelajaran anak
Sd sayang. “ Manusia akan dipanggil dari pintu amalam istimewanya di dunia.” Dia mau bertanya aku mau masuk pintu apa kan. Sepertinya begitu.
“ Kalau kakak mau dipanggil lewat pintu apa?” Nah benar.
“ Lewat pintu apa aja sayang yang penting masuk surgaNya Allah dan bersamamu lagi di sana.” Aku mengamini doaku dalam hati. Berulang-ulang. Ke syurga bersamanya dan orang-orang yang aku cintai. Ku cium pipi kirinya. Lalu kembali ke dekapan tangannya.
Aku ingin cinta kami terikat sampi syurgaNya.
“ Semoga kakak dipanggil lewat pintu ketaatan kepada suami.” Duarrrr. Doa lembut yang diucapkan Ren sambil mencium kepalaku. Mengguncang hatiku. Aku tahu nasehat tentang itu, jika seorang istri taat pada suami selama itu tidak mendurhakai Allah, maka dia dijanjikan bisa memasuki pintu SyurgaNya. " Kalau kakak tidak bertemu denganku di syurga nanti, tolong panggil aku." Ren melanjutkan kalimatnya. " Mungkin saja aku sedang mempertanggungjawabkan dosa-dosaku, salah satunya kelalaianku menjaga kakak. Ketidak becusanku menjadi imam yang baik untuk kakak."
Aaaaa,dadaku langsung sesak mendengarnya. Aku bangun dan mengusap sudut mataku. Tidak tahu kenapa, tiba-tiba pelupuk mataku menganak sungai. Aku menangis mendengarnya mengatakan itu.
“ Maaf ya sayang.” Memeluk Ren erat. Menepuk punggungnya. Aku sesenggukan menahan isak. Bagaimana dia yang sudah sebaik ini memperlakukanku masih bisa berfikir seperti itu. “Maaf, sudah membuatmu
sakit. Maaf, aku akan sangat berhati-hati ke depaannya.” Airmataku bercucuran begitu saja.
Aku melakukan hal yang tidak dia sukai. Aku yang salah tidak menyelami sikap Andrian yang berbeda dari kebanyakan murid yang lain.
" Kakak tahu kan kalau kakak salah?"
" Ia maaf."
" Aku menjaga batasanku di luar. Aku menunjukan betapa aku hanya mencintai istriku. Aku membuat garis yang sangat jelas agar mereka tidak melewati batas." menghapus airmata yang masih belum berhenti turun. " Kakak juga harus seperti itu."
" Ia."
" Kejahatan sering kali terjadi bukan karena niat, namun karena ada kesempatan." Aku melihatnya tersenyum. " Sudah lama tidak melihat kakak menangis." Tergelak lalu memelukku. Aku mengguncangkan tubuhku, dasar jahat, masih sempatnya menggoda. " Sini aku peluk, tidurlah." Menepuk punggungku lembut dengan berirama. Isak yang masih tersisa lama-lama menghilang saat pelupuk mataku berat. Setengah sadar aku merasa Ren mengendongku dalam pelukannya. Lalu kasur lembut mulai kurasai. Aku terlelap, tak merasakan apa yang dia lakukan selanjutnya.
Ketika ketaatan laki-laki akan sepanjang usia kepada ibu mereka, sedangkan
ketaatan wanita akan berpindah kepada suami setelah menikah. Seperti
itulah fitrahnya kehidupan yang aku yakini.
__ADS_1
Bersambung