
Kenapa hari seninku di sekolah harus dimulai dengan menghadapi anak ini
si. Berguguran begitu saja semangat pagiku. Aku seperti merasakan, apa yang dirasa Ren saat keluaar dari kamar pagi tadi.
Andrian masih berdiri di depanku. Wajah kecewa dan sedihnya sudah
menghilang. Lenyap begitu saja. Sekarang, mata itu menatapku dengan pandangan seperti biasa yang ia tunjukan. Surat
itu masih dia gengam di dekat kakinya. Tertutup oleh tangannya. Menempel di celana seragam yang ia pakai. Siapa pun yang
melihat kami sekarang, hanya terlihat guru dan murid sedang berbincang. Siapa pun tahu, kalau aku adalah wali kelas si anak popular ini. Bahkan
beberapa anak menyapaku seperti biasa, sambal berbisik dan senyum-senyum melirik
Andrian. Mungkin mereka salah satu anggota fansclub.
Kembali ke muridku ini, kenapa konsentrasiku pecah melihat anak-anak
yang tertawa malu-malu sambal melirik Andrian. Soalnya mereka terlihat lucu si. Protes diriku sendiri di jawab juga olehku sendiri. Hah! Aku masih punya masalaah di depanku.
“ Baiklah, surat apa itu? Apa itu surat instropeksi diri dan permohonan
maaf.”Aku harus melunakan suaraku. Karena aku tahu seperti apa dia. Semakin aku
menekannya dia akan semakin melakukan apa yang tidak aku suka. Dia kan pandai
sekali memancing suasana hatiku.
“ Saya tidak melakukan pelanggaraan sekolah, kenapa saya harus membuat
surat instropeksi diri.” Suaranya terdengar biasa. Haha, benar juga ya. Jawabanmu pintar sekali, aku yang bodoh,
kenapa menebak itu surat instropeksi diri. Lalu surat apa itu.
Aku masih ikut terdiam. Mencoba menerka melalui sorot matanya. Aaaa,
tidak tahulah. Aku kabur saja dari situasi ini.
“ Sepertinya sudah mau bell, Ibu ke kantor dulu ya. Ibu mau…..”
“ Ibu bisa pergi setelah menerima ini.” Kembali tangannya terulur
padaku. Memang tidak bisa membodohinya.
“Ibu harus tahu itu surat apa, baru Ibu mau terima.”
Dia tidak sedang mempermainkanku kan, aku rasa dia tidak seiseng Hanan.
Tapi itu surat apa! Semakin aku menebak semakin tidak ada yang bisa aku
pikirkan. Kenapa sampai muridku memberiku surat. Biasanya aku hanya menerima
surat instropeksi diri dan permintaan maaf, kalau ada muridku yang melakukan
pelanggaran peraturan sekolah. Tapi tadi jelas-jelas di awal dia bilang kalau
dia tidak melakukan pelanggaran apa pun.
Hei, tidak mungkin kan. Aku
__ADS_1
mengusir pikiranku yang tiba-tiba muncul. Tidak mungkin. Ayana, walaupun kau
sering nonton drama, tapi tidak mungkin pikiranmu seliar itu kan. Bagaimana bisa
kau berfikir kalau muridmu memberi surat
cinta padamu.
Aku malu sendiri dengan pikiranku.
“ Anggap saja ini curahaan hati dan perasaan saya ke Ibu.”
“ Apa!”
Bagaimana ini saking kagetnya aku menjerit keras sekali. Ada yang bahkan
berhenti dan menoleh pada kami. Adrian sudah menurunkan tangannya. Pintar sekali dia,
aku yang terlihat aneh di sini.
Wajahku pasti mulai merah karena malu. Aku tertawa mengatakan kalau tidak
ada apa-apa.
“ Andrian Ibu akan menganggap ini tidak pernah terjadi,” Nafasku pasti
terdengaar berat. “Simpan suratmu dan pergilah ke kelas. Sekarang.” Dia sudah
gila ya, bagaimana bisa dia memberikan surat isi perasaannya dengan sikap
setenang itu.Terlebih aku itu guru yang sudah menikah. Dan dia tahu pasti itu.
saya.” Masih bicara dengan gaya cool. Waahhh, aku mau memberinya piala
penghargaan. Dia benar-benar tipe tokoh pemeran utama yang ada di drama. Sok
tapi tetap keren.
“ Andrian” Aku sudah kehilangan akal sehat untuk membuat alasan. Aku
bahkan sudah tidak bisa menjawabnya. Aku menatapnya cukup lama. “ Andrian, kamu tahukan Ibu sudah menikah.
Dan Ibu bahagia dengan pernikahan Ibu.” Akhirnya aku memilih kalimat tegas itu. Sama sekali tidak memberinya harapan apa pun. Aku sudah menikah, dan aku bahagia dengan pernikahanku. Tameng paling kuat yang kupakai untuk menangkis peryataannya.
“ Saya tidak meminta Ibu jadi pacar saya kok.”
Apa! Kenapa anak ini jadi pintar bicara begini si. Di mana sikap cool
yang aku puji-puji tadi, yang selalu membuat para fansnya histeris itu. Kenapa
juga aku kalah meladeninya.
Ya Tuhan apa dosaku sampai harus bertemu hari senin ini.
Karena tidak bisa menjawab, akhirnya aku kalah. Surat Andrian tergeletak
di meja kerjaku. Dia menggunakan amplop berwarna putih seperti halnya surat
instropeksi diri. Walaupun aku penasaran setengah mati dengan isinya, tapi aku
__ADS_1
tidak mungkin membukanya sekarang. Kumasukan surat ke dalam tas, beralih
menyiapkan bahan ajar. Hari seninku yang penuh semangat seketika buyar begitu
saja.
Bersambung
Side Story.
Kejadian semalam, sebelum moment penyerahan surat.
Malam semakin larut. Andrian meremas kertas di tangannya. Dia lemparkan
begitu saja di tempat pembuangan sampah. Tidak tahu sudah lembar keberapa itu. Tempat sampah sudah penuh. Kertas berserak di sekitarnya.
“Huh! Kalau aku tidak melakukannya sepertinya aku bisa gila.” Dia memutuskan untuk mengungkapkan apa yang ia rasakaan. Sebatas itu, tidak lebih. Tapi onggokan kertas di lantai sepertinya menjawab betapa susahnya menyampaikan apa yang ia rasakan selama ini. Apalagi ini sebatas surat isi hatinya, tanpa perlu ia mintai balasan.
“ Andian! ” Seorang wanita muncul tanpa mengetuk
pintu.
" Ketuk pintu!" Tidak menoleh dari meja belajarnya. Yang barusan masuk hanya tertawa tanpa minta maaf.
" Kamu belum tidur juga, sudah jam berapa ini. Besok kamu kan sekolah."
“ Kak Mita juga belum
tidur?” Malah balik bertanya.
“ Hei, aku itu sudah dewasa, kamu itu anak di bawah umur. Tidur sana.
Apa-apaan ini.” Melihat kertas berserak. “ Kamu sedang apa?” Berjongkok dan
melihat kertas yang sudah lecek, yang tidak berhasil masuk ke dalam tempat sampah. “ Kamu sedang buat surat cinta?” Tertawa keras setelah membaca isi kertas lecek di tangannya. Dia tertawa.
puas menemukan kelemahan Andrian. Selama ini dia berfikir kalau sepupunya itu tidak punya kelemahan untuk dipakai sebagai bahan ejekan. “ Memang ini tahun berapa, kamu masih nembak pakai surat cinta.”
“Cih, bukan urusan Kak Mita. Keluar sana, jomblo.” Kata jomblo dia ucapkan lebih keras dari kata yang lainnya. Percayalah, Andrian hanya menunjukan sikap seperti ini pada keluarga dekatnya.
“ Apa! Kamu bilang apa.” Meradang.
“ Jomblo, mau kuberi surat cinta juga?“
“ Cari mati ya anak ini.” Mendekat, mencekik leher Andrian dengan
lengannya membuat laki-laki itu berteriak. Sambil memukul-mukul tangan Mita. " Bilang jomblo sekali lagi!" Mengancam.
" Jomblo... jomblo..." Yang masih di cekik tak gentar sama sekali. Membuat Mita semakin tersulut. Maaf ya, jangan ditiru, adik sepupu itu memang suka begitu.
" Hei bocah penulis surat cinta." Dan suara keras kembali terdengar. Gaduh-gaduh adu mulut dari kamar Andrian.
“ Adrian, Mita, kalian pikir ini jam berapa!” Teriakan mama dari kamarnya langsung membungkam mulut kedua sepupu itu.
Suara mama bahkan lebih keras dari suara kami. Gerutu-gerutu keduanya bersamaan.
“ Tidur!”
“ Ia Ma!” Andrian dan Mita menyahut bersamaan.
__ADS_1