Suamiku Posesif

Suamiku Posesif
Surat Andrian


__ADS_3

Kenapa hari seninku di sekolah harus dimulai dengan menghadapi anak ini


si. Berguguran begitu saja semangat pagiku. Aku seperti merasakan, apa yang dirasa Ren saat keluaar dari kamar pagi tadi.


Andrian masih berdiri di depanku. Wajah kecewa dan sedihnya sudah


menghilang. Lenyap begitu saja. Sekarang, mata itu menatapku dengan pandangan seperti biasa yang ia tunjukan. Surat


itu masih dia gengam di dekat kakinya. Tertutup oleh tangannya. Menempel di celana seragam yang ia pakai. Siapa pun yang


melihat kami sekarang, hanya terlihat guru  dan murid sedang berbincang.  Siapa pun tahu, kalau aku adalah wali kelas si anak popular ini. Bahkan


beberapa anak menyapaku seperti biasa, sambal berbisik dan senyum-senyum melirik


Andrian. Mungkin mereka salah satu anggota fansclub.


Kembali ke muridku ini, kenapa konsentrasiku pecah melihat anak-anak


yang tertawa malu-malu sambal melirik Andrian. Soalnya mereka terlihat lucu si. Protes diriku sendiri di jawab juga olehku sendiri. Hah! Aku masih punya masalaah di depanku.


“ Baiklah, surat apa itu? Apa itu surat instropeksi diri dan permohonan


maaf.”Aku harus melunakan suaraku. Karena aku tahu seperti apa dia. Semakin aku


menekannya dia akan semakin melakukan apa yang tidak aku suka. Dia kan pandai


sekali memancing suasana hatiku.


“ Saya tidak melakukan pelanggaraan sekolah, kenapa saya harus membuat


surat instropeksi diri.” Suaranya terdengar biasa.  Haha, benar juga ya.  Jawabanmu pintar sekali, aku yang bodoh,


kenapa menebak itu surat instropeksi diri. Lalu surat apa itu.


Aku masih ikut terdiam. Mencoba menerka melalui sorot matanya. Aaaa,


tidak tahulah. Aku kabur saja dari situasi ini.


“ Sepertinya sudah mau bell, Ibu ke kantor dulu ya. Ibu mau…..”


“ Ibu bisa pergi setelah menerima ini.” Kembali tangannya terulur


padaku. Memang tidak bisa membodohinya.


“Ibu harus tahu itu surat apa, baru Ibu mau terima.”


Dia tidak sedang mempermainkanku kan, aku rasa dia tidak seiseng Hanan.


Tapi itu surat apa! Semakin aku menebak semakin tidak ada yang bisa aku


pikirkan. Kenapa sampai muridku memberiku surat. Biasanya aku hanya menerima


surat instropeksi diri dan permintaan maaf, kalau ada muridku yang melakukan


pelanggaran peraturan sekolah. Tapi tadi jelas-jelas di awal dia bilang kalau


dia tidak melakukan pelanggaran apa pun.


Hei,  tidak mungkin kan. Aku

__ADS_1


mengusir pikiranku yang tiba-tiba muncul. Tidak mungkin. Ayana, walaupun kau


sering nonton drama, tapi tidak mungkin pikiranmu seliar itu kan. Bagaimana bisa


kau berfikir kalau  muridmu memberi surat


cinta padamu.


Aku malu sendiri dengan pikiranku.


“ Anggap saja ini curahaan hati dan perasaan saya ke Ibu.”


“ Apa!”


Bagaimana ini saking kagetnya  aku menjerit keras sekali. Ada yang bahkan


berhenti dan menoleh pada kami. Adrian sudah menurunkan tangannya. Pintar sekali dia,


aku yang terlihat aneh di sini.


Wajahku pasti mulai merah karena malu. Aku tertawa mengatakan kalau tidak


ada apa-apa.


“ Andrian Ibu akan menganggap ini tidak pernah terjadi,” Nafasku pasti


terdengaar berat. “Simpan suratmu dan pergilah ke kelas. Sekarang.” Dia sudah


gila ya, bagaimana bisa dia memberikan surat isi perasaannya dengan sikap


setenang itu.Terlebih aku itu guru yang sudah menikah. Dan dia tahu pasti itu.


saya.” Masih bicara dengan gaya cool. Waahhh, aku mau memberinya piala


penghargaan. Dia benar-benar tipe tokoh pemeran utama yang ada di drama. Sok


tapi tetap keren.


“ Andrian” Aku sudah kehilangan akal sehat untuk membuat alasan. Aku


bahkan sudah tidak bisa menjawabnya.  Aku menatapnya cukup lama. “ Andrian, kamu tahukan Ibu sudah menikah.


Dan Ibu bahagia dengan pernikahan Ibu.” Akhirnya aku memilih kalimat tegas itu. Sama sekali tidak memberinya harapan apa pun. Aku sudah menikah, dan aku bahagia dengan pernikahanku. Tameng paling kuat yang kupakai untuk menangkis peryataannya.


“ Saya tidak meminta Ibu jadi pacar saya kok.”


Apa! Kenapa anak ini jadi pintar bicara begini si. Di mana sikap cool


yang aku puji-puji tadi, yang selalu membuat para fansnya histeris itu. Kenapa


juga aku kalah meladeninya.


Ya Tuhan apa dosaku sampai harus bertemu hari senin ini.


Karena tidak bisa menjawab, akhirnya aku kalah. Surat Andrian tergeletak


di meja kerjaku. Dia menggunakan amplop berwarna putih seperti halnya surat


instropeksi diri. Walaupun aku penasaran setengah mati dengan isinya, tapi aku

__ADS_1


tidak mungkin membukanya sekarang. Kumasukan surat ke dalam tas, beralih


menyiapkan bahan ajar. Hari seninku yang penuh semangat seketika buyar begitu


saja.


Bersambung


Side Story.


Kejadian semalam, sebelum moment penyerahan surat.


Malam semakin larut. Andrian meremas kertas di tangannya. Dia lemparkan


begitu saja di tempat pembuangan sampah. Tidak tahu sudah lembar keberapa itu. Tempat sampah sudah penuh. Kertas berserak di sekitarnya.


“Huh! Kalau aku tidak melakukannya sepertinya aku bisa gila.” Dia memutuskan untuk mengungkapkan apa yang ia rasakaan. Sebatas itu, tidak lebih. Tapi onggokan kertas di lantai sepertinya menjawab betapa susahnya menyampaikan apa yang ia rasakan selama ini. Apalagi ini sebatas surat isi hatinya, tanpa perlu ia mintai balasan.


“ Andian! ” Seorang wanita muncul tanpa mengetuk


pintu.


" Ketuk pintu!" Tidak menoleh dari meja belajarnya. Yang barusan masuk hanya tertawa tanpa minta maaf.


" Kamu belum tidur juga, sudah jam berapa ini. Besok kamu kan sekolah."


“ Kak Mita  juga belum


tidur?” Malah balik bertanya.


“ Hei, aku itu sudah dewasa, kamu itu anak di bawah umur. Tidur sana.


Apa-apaan ini.” Melihat kertas berserak. “ Kamu sedang apa?” Berjongkok dan


melihat kertas yang sudah lecek, yang tidak berhasil masuk ke dalam tempat sampah. “ Kamu sedang buat surat cinta?” Tertawa keras setelah membaca isi kertas lecek di tangannya. Dia tertawa.


puas menemukan kelemahan Andrian. Selama ini dia berfikir kalau sepupunya itu tidak punya kelemahan untuk dipakai sebagai bahan ejekan. “ Memang ini tahun  berapa, kamu masih nembak pakai surat cinta.”


“Cih, bukan urusan Kak Mita. Keluar sana, jomblo.” Kata jomblo dia ucapkan lebih keras dari kata yang lainnya. Percayalah, Andrian hanya menunjukan sikap seperti ini pada keluarga dekatnya.


“ Apa! Kamu bilang apa.” Meradang.


“ Jomblo, mau kuberi surat cinta juga?“


“ Cari mati ya anak ini.” Mendekat, mencekik leher Andrian dengan


lengannya membuat laki-laki itu berteriak. Sambil memukul-mukul tangan Mita. " Bilang jomblo sekali lagi!" Mengancam.


" Jomblo... jomblo..." Yang masih di cekik tak gentar sama sekali. Membuat Mita semakin tersulut. Maaf ya, jangan ditiru, adik sepupu itu memang suka begitu.


" Hei bocah penulis surat cinta." Dan suara keras kembali terdengar. Gaduh-gaduh adu mulut dari kamar Andrian.


“ Adrian, Mita, kalian pikir ini jam berapa!” Teriakan mama dari kamarnya langsung membungkam mulut kedua sepupu itu.


Suara mama bahkan lebih keras dari suara kami. Gerutu-gerutu keduanya bersamaan.


“ Tidur!”


“ Ia Ma!” Andrian dan Mita menyahut bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2