Suamiku Posesif

Suamiku Posesif
Cerita 2 tahun lalu (Part 1)


__ADS_3

Udara sore hari ini cukup sejuk. Aku


membisu di meja kerjaku. Setumpuk lembaran ujian anak- anak sudah kuperiksa.


Kulihat jam di hp. Sudah waktunya ya. Ragu, apa aku harus datang.


"Jangan terlambat, lepas


bekerja langsung pergi. Dandan yang cantik, mandi dulu juga." Pesan ibu


terngiang di kepalaku. Gila apa, memang aku suruh mandi dimana. Di sekolah gak


mungkin jugakan. Terserahlah, aku hanya merapikan rambut dan riasan wajahku


seadanya saja. Toh ini bukan kencan, ini cuma kenalan.


" Dia ini anaknya temen ibu dulu waktu di kampus." Ibu membuka obrolan malam denganku, tapi dia sudah


sangat antusias. Kata-katanya sudah seperti, ayo nak menikah saja dengannya.


Bukan lagi sekedar Aya, ada pria yang mau ibu jodohkan padamu, menurutmu


bagaimana? Biasanyakan ibu bertanya dulu, tapi kali ini sepertinya dia sudah


seyakin itu.


"Apaan bu, jodohin anak kok


maksa, kalo mau nostalgia masa kuliah ya sana reunian aja. Gak usah bawa anak-anak  juga." Aku bukannya menolak ya.


"Anaknya itu cakep lho. Baik,


imut juga. Anak terakhir, kakak perempuannya sudah pada nikah." Lha, kok


imut.


"Ibu....” Aku merengek karena kali ini sepertinya ibu sangat antusias dan serius.


" Sudah ketemu dulu, siapa tahu


jodoh.” Begitu ibu bicara, dan akupun patuh dan memang harus patuhkan.


Setidaknya aku harus bertemu dulu dengan orangnya. Ibu memberiku selembar foto,


hanya itu. Dia tidak memberiku info apa-apa lagi. “ Nanti kamu kenalan sendiri aja ya.”


Dan disinilah aku, terdampar dalam


keterasingan. Kenapa juga aku datang duluan. Seharusnya aku jalan-jalan kemana


dulu tadi. Tapi dasar, apa aku ini bodoh. Aku sudah sampai disini, bukan karena


antusias atau apa. Tapi kakiku tanpa kusadari sudah membawaku ke restoran


tempat kami janjian.


Segelas jus jambu datang, ku ucapkan


terimakasih pada pelayan yang membawanya. Dia menganguk dan berlalu, membuatku


kembali tengelam dalam penyesalan. Apa keputusanku benar untuk datang sesuai


permintaan ibu.


Kakak perempuannya 3 sudah menikah.


Mamanya itu baik sekali, dulu pas zaman ibu kuliah, kita itu soulmate forever.


Ibu akan senang sekali kalo kamu bisa jadi menantunya. Idih,mengigau apa ibu


ini. Ketemu saja belum sudah bilang menantu. Tuh kan ibu sudah seperti


mengharuskanku berkata ia.


Saat aku sedang menikmati segelas


jus jambu sambil bermain sosial media. Ketawa sendiri melihat vidio lucu. Tanpa


kusadari kapan dia datang, sesosok tubuh sudah berdiri di dekat mejaku. Aku


mendongak. Gila! dia Renan. Aku menelan ludah tidak percaya. Ibu pasti


bercandakan. Ibu pasti sedang mempermainkankukan.


"Maaf kakak aku terlambat." Dia langsung duduk.


Tunggu, dia memanggilku apa kakak.


Jadi dia tahu aku lebih tua darinya. Dilihat dari kepala sampai kaki juga bakal


ketahuan dia ini masih muda. Ya walaupun aku memang tidak kelihatan setua

__ADS_1


umurku, tapi jelas-jelas ibu sedang mempermainkanku. Laki-laki di depanku ini


bukannya masih bocah.


"Tidak apa, sepertinya aku yang kecepetan. Mau minum apa?"


"Samaan sama punya kakak." Hei hentikan memanggilku kakak. Kamu tahukan kita kesini untuk perjodohan


nostalgia orangtua kita. Bagaimana kamu bisa seenaknya memanggilku kakak.


Pelayan datang dan mencatat pesanan kami.


"Bisa lihat ktpmu ?" aku langsung bicara saat dia sudah istirahat sejenak dan mengatur nafas.


"Kenapa?" Dia terlihat bingung.


"Kamu tahukan kenapa kita bertemu hari ini, sepertinya orang tua kita sedang bercanda." Kataku lagi


berterus terang.


"Kenapa?" Kenapa saat


mengatakan kenapa dia terlihat imut. Sial. Aku benar-benar memaki diriku sendiri. Sadarlah Aya.


"Kamu tahukan aku lebih tua darimu?" Pasti kamu tahukan, karena jelas-jelas memanggilku kakak. Ibu


pasti sudah cerita tentang aku. Tapi ini curang namanya, kenapa ibu hanya


memberiku selembar foto tanpa mengungkap identitas apapun si pemilik foto itu. kalau tahu yang datang mahluk imut begini aku sudah pasti akan menolak dan tidak datang. Walaupun penasaran aku cukup tahu diri juga kali.


"Tahu." Jawabmu tidak kalah imutnya. Haduh, sial, kenapa orang tampan selalu terlihat imut saat melakukan apapun.


"Tunjukan ktpmu aku ingin tahu berapa umurmu. Sepertinya kamu terlihat lebih muda dari foto yang aku


lihat."


"Kakak juga lebih cantik dari foto yang kulihat."


"Berhenti memanggilku kakak!" Aku setengah berteriak. Sial lagi-lagi wajah kagetmu terlihat


mengemaskan. Aku menelan ludah, senewen sendiri. "Maaf." Kataku pelan


"Kakakan lebih tua dariku, jadi aku harus panggil apa donk." Ya Tuhan, kenapa kau kirimkan makhluk tampan


dan mengemaskan ini di hadapanku. Aku ingin kesal dan marah, tapi kok tidak bisa.


"Panggil saja namaku, Ayana. Aku juga akan panggil kamu nama, Ren."


hanya sekedar senyuman. Bagaimana kau bisa tersenyum seperti itu sedangkan tahu


aku sudah geram.


"Apa!" Aku kehabisan


kata-kata. Dan hanya menghela nafas. Aku mengatur nafas. Tenangkan diri, baiklah


terserah mau panggil apa. Terserah kamu. Begitu akhirnya aku bisa menenangkan


pikiranku.


"Berikan ktpmu." Aku masih


belum menyerah memintanya, agak manyun dia mengambil dompet di saku celananya.


Mengeluarkan selembar ktp. Dia belum menyerahkan ktp itu,


masih dia tutup dengn tangannya di atas meja.


"Ahhh aku memang terlihat lebih muda dari usiaku sebenarnya." Katanya lagi, dengan cara bicara yang sama.


"Berikan ktpmu." Aku mulai


gusar karena digerogoti penasaran. Sebenarnya berapa umurnya. Pelan dia


mengeser tangannya, sekarang ktp itu sudah ada di depanku.


"Lepaskan" Aku menarik


ktpnya, dia juga tidak melepaskan dan masih menarik ujung satunya. Tarik


menarik ktp terjadi.  "Lepaskan Ren." kataku dengan intonasi rendah. menunjukan kalau aku sudah menahan rasa kesal.


"Baiklah." Sudah berpindah tangan benda kecil itu ke tanganku.


Aku mendelik, gila ya. Maaf bu aku


tidak memakimu. Tapi apa kalian waras saat mau menjodohkan kami. Ya walaupun


perbedaan usia bukan lagi hal yang perlu diperdebatkan, tapi bukannya ini sudah


kelewatan dan tidak masuk akal. "Kamu tau jarak usia kita?" akhirnya

__ADS_1


bertanya dengan suara agak kesal.


" Tahu." Apa tahu kenapa dia menjawab masih santai sekali. Memang dia tidak berfikir selisih umur kami


itu berapa.


"Tapi apa benar kamu sudah bekerja dua tahun." Aku menatapnya lekat. Sepertinya tidak mungkin dia


sudah bekerja selama itu.


"Hemm, Aku SMU percepatan dan kuliah 2,5 tahun"


Gila ya, bagaimana dia bisa punya tampang dan otak sekaligus. Bukankah ini termasuk keajaiban dunia.


"Hahaha." Aku cuma bisa tertawa. Tidak tahu harus bangga atau merasa diriku hina. Bagaimana dia bisa


tampan sekaligus berotak cemerlang.  "Lima tahun"


"Ia."


"Itu beda usia kita." Kujawab sambil mengetuk meja lima kali. Itu bukan perbedaan yang sedikitkan.


"Terus, memang kenapa?" Dia tersenyum, tapi itu bukan hanya senyuman, itu seringai licik namanya


Makanan pesanan kami datang,


menghentikan perdebatan. Sebenarnya akulah yang berdebat dengan diriku sendiri.


Dia sangat santai, bahkan setelah aku mengatakan jarak usia kami. Pandangannya


padaku tidak berubah, cara dia menatapku memang hangat dan bersahabat. Tapi


tetap inikan sudah berlebihan. Lima tahun lho.


"Karena makanan sudah datang sebaiknya kita makan dulu."


"Baiklah, aku juga lapar." Aku benar-benar tidak percaya dia bicara tanpa beban begitu.


"Apa kamu pulang kerja?" aku membuka pertanyaanku.


"Ia, kakak jugakan?" Jangan panggil aku kakak "Kakak tetap terlihat sangat cantik setelah seharian


bekerja." Apa dia sudah gila. Bagaimana bisa mengatakan dengan wajah


sepolos itu.


Apa? Kenapa melihatku. Apa ada nasi


menempel di pipiku. Tanpa sadar sudah kuraba bibirku. Tidak ada apa-apa. Aku


ingin memaki sekarang.


Baiklah, makanan sudah hampir selesai. Saatnya bicara.


"Baiklah Ren sore ini kita anggap menyenangkan, kita makan makanan enak. Ayo katakan pada orang tua kita


kalau kita berteman. Mereka pasti sedang bergurau tentang menjodohkan kita, mereka


hanya lagi main lucu-lucuanan karena bernostalgia masa kuliah."


“Kenapa?” Apa! Kenapa? Tentu saja


karena usia kita. Karena jarak usia membentang di antara kita. Ya aku tahu, dari


empat mantan pacarku usia  dua dari mereka memang lebih muda. Tapi itu cuma hitungan


bulan, bukan tahun seperti ini. "Karena aku lebih muda dari kakak?"


"Tentu saja." Memang apalagi alasanya. Kujawab cepat dan jelas agar dia paham maksudku.


"Tapi aku suka kok" Ren menjawab sambil menghabiskan minumannya.


"Apa!" Aku mendelik padanya.


"Aku suka kakak." Mengatakan dengan polosnya.


"Apa!" Apa dia sedang


menyatakan perasaankan padaku. Apa dia sudah gila, bagaimana dia bisa


menyatakan perasaannya pada pertemuan pertama kami ini.


"Kakak tolong jaga aku mulai


sekarang ya" Renan mengedipkan mata kirinya. Mengatakannya sambil tertawa,


tunggu anak di depanku ini normalkan. Apa artinya dia mau melanjutkan perjodohan


ini.


Ibu kumohon tolong aku.

__ADS_1


BERSAMBUNG..............


__ADS_2