
Ingin kabur, lari, menghilang di antara kerumunan siswa. Menarik Maya dan bersembunyi ntah di mana sampai kegiatan bebas selesai. Begitu sekelebat rencana terlintas di kepala Reyhan.
Mem-per-tang-gung-ja-wab-kan, ahhhhh, kenapa intonasi itu terdengar menakutkan.
Lenyap sudah keberaniannya. Mengingat ejaan kata itu.
“Duduklah!” Bu Aya menepuk kursi di sebelahnya. Reyhan masih terlihat ragu-ragu. Kami bahkan belum menyatukan visi dan misi, menatap Maya yang duduk di kejauhaan. Reyhan masih terpaku sampai Bu Aya memanggilnya untuk kedua kalinya.
“Bu Aya marah ya?” Akhirnya duduk. Pasrah.
“Ntahlah, Ibu juga bingung mau menjerat kalian dengan pasal apa.” Jawaban Ayana membuat Reyhan semakin menciut.
“ Bu Aya!” Reihan tampak mulai cemas. Mulai mereka-reka semua bunyi peraturan sekolah yang tertempel di dinding kelas. Beserta hukuman dan pengurangan poin.
“ Ini kan beda sama kalian ketahuan merokok di sekolah, berkelahi atau mencontek saat ujian. Hemm, kira-kira pakai pasal yang mana ya. Reyhan ada ide?”
“ Bu Aya.” Semakin gelisah, walaupun bu Aya mengucapkan dengan intonasi bercanda. Karena Reyhan tahu, sebenarnya Bu Aya sedang serius. Masalahnya ini sangat serius di mata Bu Aya. ” Saya salah Bu, seharusnya kami tidak melakukan itu di depan umum.” Bu Aya langsung memalingkan muka, menggigit bibirnya supaya tidak tertawa.
Dasar bocah ini.
“ Jadi kalau tidak di depan umum boleh ya.” Bu Aya berhasil memasang wajah polos, semakin membuat Reyhan salah tingkah.
“Bukan begitu Bu.” Panik setelah mencerna kalimatnya sendiri.
Ayana menatap Maya yang terlihat cemas. Dia terlihat duduk, bangun, lalu mondar mandir sebentar, dan duduk lagi. Menatap ke arahnya sesekali. Ayana sengaja melambaikan tangan sambil tersenyum, untuk mengusir kecemasan gadis itu.
“ Bu Aya sedikit iri lho," bicara lagi. " Sepertinya sebentar lagi bu Aya dapet undangan pernikahan ya. Huhu.” Bergaya terisak sambil berurai airmata dan menyekanya. “ Kamu duluan nikah daripada Bu Aya.”
Hah apa menikah! Wajah Reyhan langsung tegang. Memang siapa yang mau menikah! Ini bahkan hari pertamanya pacaran. Tidak, bahkan ini baru beberapa jam dia pacaran, kenapa sampai bawa-bawa nikah segala.
“ Siapa yang mau menikah bu. Kami kan cuma pacaran.” Ups langsung menutup mulut, tahu alasannya akan berbuntut panjang.
“ Lho, jadi belum mau menikah ya. Tapi kok.” Nah kan, Bu Aya menemukan celah telak untuk membabat habis apa pun alasan yang dibuat Reyhan.
Reyhan menghela nafas pasrah.
Bunuh saya saja bu.
“ Ia bu, saya salah. Seharusnya kami tidak melewati batas. Tapi sungguh, ini pertama kalinya. Kami hanya ingin buat kenang-kenangan, supaya momen ini kami ingat. Ini hari pertama kami jadian.”
__ADS_1
Kali ini terdengar Bu Aya yang menghela nafas dalam. Sebuah alasan sederhana yang mendasari semua tindakan mereka. Tidak ada yang salah ingin membuat moment kenangan.
Yang salah, kenapa kalian berciuman di depan umum.
“ Kalian masih muda Reyhan, dan dengan kita bicara sekarang, kamu sendiri tanpa ibu bilang sudah tahu bagaian mana dari prilaku kalian yang salahkan.” Berhenti sejenak mengambil jeda nafas. “ Ibu gak akan bilang ini salah atau itu salah, gak, karena kamu sendiri tahu kan.”
Menyerahkan hukuman kepada pelaku, terkadaang memberi efek jera.
“ Maaf Bu,” getir bicara.
“ Menjaga hati dan menjaga diri bukan cuma perempuan lho, laki-laki juga punya tugas yang sama. Bu Aya punya Mas Gilang yang keren. Yang Istrinya adalah cinta pertama, pacar pertama. Pokoknya semua hal romantis pertama kali dia lakukan dengan istrinya.” Walaupun Ayana sendiri tidak bisa mengikuti jejak itu. Karena dia sudah beberapa kali pacaran.
“ Sumpah bu, ini baru pertama kali.”
Cih, memang ada laki-laki seperti itu. Menatap tak percaya tanpa bersuara.
" Bener, Mas Gilang, kakak laki-laki Bu Aya."
" Sumpah Bu, saya gak mikir apa-apa."
Kenapa bu Aya tahu apa yang aku pikirkan!
" Ia Bu. Maaf sudah membuat Ibu khawatir."
Tidak bisa menyalahkan zaman, karena kehidupan memiliki roda yang berputar. Benteng awal hanyalah diri kita sendiri. Stop atau melangkah adalah sebuah pilihan. Dan Ayana selalu berharap semua murid-muridnya selalu bisa memberi batas yang jelas.
***
" Bu Aya, jangan panggil ibu saya ya." Maya sudah mengatupkan tangan di depan wajah. Dia tidak bisa membayangkan kalau sampai ibunya datang kesekolah karena anaknya kepergok Bu Aya berciuman dengan pacar barunya.
Bunuh saya saja bu, daripada ibu saya ke sekolah.
" Maya suka sama Reyhan?" Wajah malu Maya sudah menjawab semuanya. " Cieeee. Ditembak sama orang yang di sukai pasti menyenangkan ya. Hati dipenuhi bunga. Mata sama isi kepala, cuma wajah doi saja yang terbayang."
" Ibu kok tahu."Tambah malu." Pengalaman ya Bu?" Mulai berani menerka.
" Nggak, liat di drama."
" Bu Aya!" Maya sadar, dia tidak akaan menemukan pembelaan bagi tindakannya tadi. Walaupun Bu Aya tidak marah, tapi dia tahu.Wali kelasnya itu tidak akan membenarkan perbuatannya. " Maaf Bu, saya salah. Seharusnya saya bisa menjaga diri dan membatasi diri." Diam. Bu Aya menepuk punggung muridnya lembut. " Tapi sumpah Bu, ini pertama kalinya."
__ADS_1
" Ibu percaya, sama seperti yang ibu bilang ke Reyhan. Semua anak ibu, semua anak baik. Ibu percaya dengan yang Maya bilang"
Ayana tahu, masalah ini pasti masih akan berbuntut. Tidak mungkin guru-guru yang lain tidak tahu. Bunyi getar hp di tasnya dia yakin, adalah hujan pertanyaan dari guru yang lain.
" Maya suka baca komik gak?"
Eh kenapa ke komik? Apa aku ketahuan pernah bawa komik ke sekolah. Kepanikan selanjutnya muncul tanpa di duga.
" Bukannya keren kalau kita seperti tokoh dalam komik." Bu Aya menatap kejauhan, Reyhan yang duduk dengan tenang menunggu. " Tokoh utama komik selalu menghadiahkan ciuman pertama mereka pada orang tepat dan waktu yang pas kan. Seperti." Bu Aya berbisik di telinga Maya. Wajah Maya langsung merah padam.
" Maaf Bu." Maya merasa kalah dan gagal.
" Jaga diri dengan baik ya Nak. Bukan hanya untuk dirimu sendiri, tapi juga untuk orang-orang yang mencintaimu."
Bukan karena suci atau sok suci kita menjaga diri. Tapi karena kita mencintai diri kita, maka kita memproteksi diri. Karena menyesal akan selalu datang belakangan. Karena menyesal adalah hal yang menyesakan. Saat penyesalan itu datang, kau akan menyadari bahwa upayamu menjaga diri itu jauh lebih ringan, daripada usahamu menutupi semua penyesalan.
Saat Bu Aya masih bmembicarakan tentang kerennya Mas Gilang, tentang romantisme yang terjadi setelah pernikahan. Tentang jomblo tapi bahagia (Padahal dia sendiri kadang masih merasa ngenes kalau sedang nonton drama), di bagian lain, di belakang air mancur seseorang yang sedari tadi duduk dan menahan nafasnya. Hp di pangkuannya masih menyala. Tertulis jelas pesan terkirim di sana.
" Mama, aku jatuh cinta."
Bersambung
Epilog
" Ibu, sumpah Bu, aku gak ngelakuin apa-apa. Ini pertama kalinya dan terakhir kalinya Bu. Kita bicara di dalam saja Bu. Malu. "Maya panik sepulang dari acara wisata, mendapati ibunya berdiri di dekat gerbang rumah. Menunggu.
Cih, Bu Aya tetap mengadu rupanya.
" Kamu ini ngomong apa si, Ibu lagi nunggu abang kue putu, tadi dengar suara sirinenya."
" Apa!"
" Trus apa kamu tadi sumpah-sumpah, kamu ngilangin kotak bekal lagi ya!"
Maya langsung lari ke dalam rumah. Tidak perduli teriakan ibunya. Kesalahannya beberapa bulan lalu, omelannya masih bersambung sampai hari ini. Beruntung sirine abang kue putu semakin nyaring mendekat. membuat ibu tidak mengejarnya.
__ADS_1