
Dalam suasana seperti itu aku seperti di dalam sebuah kandang dengan sekumpulan serigala yang kelaparan. Aku bisa merasakan betapa seriusnya mereka, walaupun sebenarnya ini hanya sekedar latih tanding.
Rena mendekatiku sambil membawa sebuah papan kayu yang tipis, ia pun lalu menyerahkannya kepadaku.
"Instruktur Kuro, ini data-data para Kesatria Legion. Nona Aresya yang menyuruhku untuk memberikan ini kepadamu," tuturnya dengan wajah penuh teka-teki.
Aku tidak tahu apa yang ia pikirkan tentangku. Toh lagi pula aku tidak terlalu memedulikannya lagi, sesudah ini berlalu aku akan meninggalkan akademi dan kerajaan ini.
"Hmm ... coba kita lihat ... ohh. Velia Priscelya, menyandang gelar sebagai Leader of Knight." Ia berada di dekat Reya dan juga Hiro.
"Lalu di sebelahnya adalah Hiro Einher, ia menyandang gelar sebagai Knight of Magia. Hmm ... pantas saja," ucapku, "setelah itu adalah Grey Reshiel sebagai Knight of Assassin. Sepertinya ia handal dalam serangan tanpa suara."
Lelaki berambut keabuan dengan dua buah mata biru yang berkilau. Berkulit krim peach yang standar. Aku tidak tahu ia menggunakan senjata apa karena saat ini ia sama sekali tidak membawa senjataapapun.
"Ok, selanjutnya adalah Mea Froster menyandang gelar sebagai Knight of Wind."
Seorang perempuan berambut ungu , Ia membawa sebuah busur yang cukup lebar juga di tangan kirinya. Terdapat sekumpulan anak panah di belakang punggungnya, tersimpan di dalam sekantung tempat kulit berbentuk persegi panjang.
"Baiklah dengan tadi sudah lima, sekarang adalah Lilyana Evyhart menyandang gelar Knight of spirit. Nama yang cukup unik rupanya"
Hmmm ... sepertinya ia mirip seperti Oz.
Perempuan berambut cokelat panjang, menggunakan ikat kepala berwarna merah.Ia juga membawa sebuah pedang, di mana pedang itu mengeluarkan dua buah roh—merah dan biru.
"Kemudian di sebelahnya adalah Shiren Floira, menyandang gelar Knight of Priest."
Perempuan cantik yang satu ini begitu sangat tenang sekali seperti bunga teratai di atas kolam. Putih dan juga sedikit merona, matanya hitam indah. Berambut hitam panjang dan menggunakan sepasang sarung tangan putih walaupun ia menggunakan baju olahraga.
"Di sebelahnya adalah Sightmund Erlesta, menyandang gelar Knigt of Defender."
Ia berambut kuning pendek, wajahnya cukup tampan dengan mata yang tajam. Sebilah pedang tergantung di pinggulnya dan seekor elang di atas bahunya mulai terbangsambil mengepakkan sayapnya.
Walaupun di beri julukan sebagai kesatria pertahanan, tapi ia sama sekali tidak membawa perisai ... mungkin tipe
penyerang balik, huh?
"Yang terakhir adalah Reya Leshar, menyandang gelar sebagai Knight of Templar," gumamku. "Baiklah, terima kasih Rena," lanjutku
"Kalau begitu saya kembali ke tempat Nona Aresya, tolong jangan sampai melukai mereka. Instruktur Kuro," ucapnya dengan wajah khawatir.
"Ohh ... tentu saja tidak akan, bisa-bisa gajiku akan dipotong jika melukai mereka mungkin di hujat ... hehehe"
"Hahaha ... sepertinya saya salah mengira tentang anda, Instruktur Kuro"
"Maksdumu?"
"Karena gelarmu yang buruk itu, orang-orang memperlakukanmu seperti orang rendah. Tampaknya aku salah, setelah berbicara langsung denganmu, aku sekarang tahu jika rumor seperti itu salah," jelasnya dengan raut wajah
yang tenang.
"Hmm ... ya, semua orang memiliki persepsi yang berbeda tentang itu, jadiitu bukanlah salahmu. Kalau begitu aku pergi untuk mengajar dulu"
"Hahaha ... kalau begitu aku pamit juga."
Setelah itu aku berbalik ke belakang dan menghampiri para Kesatria Legion.
Setelah itu Rena kembali ke bangku pelatih, Aresya dan juga Fear tampak bersemangat menantikan hal seperti ini. Selagi gadis mungil itu masih mengunyah permen besarnya, sedangkan perempuan di sampingnya membuka sebuah buku kecil.
"Bagaimana, apakah kau sudah mengetahui apa maksudku?" tanya Aresya dengan merona.
"Seperti yang Nona Aresya katakan."
Aku pun mengangkat tangan kananku ke atas. Semua Kesatria Legion pun memandangiku dengan seksama.
"Hmm ... kalau begitu akan kumulai latih tanding ini. Tetapi, sesuai permintaan asisten kepala sekolah, aku tidak boleh berlebihan karena takut gaji serta asuransiku dipotong oleh kepala sekolah kalian."
Mereka semua tertawa kecil mendengar itu lalu Reya pun memberikan saran tentang sistem pertarungan ini.
"Instruktur Kuro, bagaimana jika Anda hanya bertahan saja sedangkankami menyerang Anda dengan kekuatan penuh kami"
"Hohoho ... ide yang bagus, Reya. Walaupun terkesan kejam, tetapi dapat aku terima. Kalau begitu aku akan menggunakan senjata ringan namun tidak berbahaya," tuturku, "Van apakah kau membawanya?"
"Seperti yang Anda minta kemarin, Kuro," sahutnya lalu melempar sebuah benda ke arahku.
"Wah ... terima kasih, kalau begitu aku terima ini," ucapku lalu menangkapnya dengan tangan kiri, "kalian tidak kecewakan dengan pedang ini? Meskipun kayu tapi daya tahannya sangat kuat."
Van hanya tersenyum kecil sambil menyilangkan tangannya, “Tidak masalah"
"Nah, kalau begitu aku akan mulai pelatihannya. Tentunya dengan peraturan," ucapku " pertama, kalian tidak boleh menggunakan sihir tingkat tiga. Kedua, jangan menggunakan serangan berskala besar, dan ketiga siapa pun yang bahunya tersentuh oleh tanganku akan langsung di anggap gugur. Kalian mengerti?"
Mereka semua mengangguk dengan mantap tanda akan menerimanya. "Jika kalian melanggar salah satunya, maka secara langsung kalian akan terdiskualifikasi"
"Kalian siap?"
Dengan cepat Grey menyerangku dan ia telah berada di belakangku. Melesatkan serangan dengan mata pedang anginnya yang tajam, tanpa suara sedikit pun. Sedangkan dari arah kanan adalah Lily yang menyilangkan mata pedangnya mulai melepaskan aura roh dari pedangnya.
"Huh?!—“
"Apa yang kalian lakukan? Bukankah kalian telah siap?"
Apa yang mereka serang hanyalah sekumpulan udara, karena saat ini aku berada di jauh di atas setelah melompat tinggi. Mengambang pelan sambil melakukan manuver dengan entakkan udara.
__ADS_1
Mungkin bagi mereka ini adalah pertarungan pertamanya, berbeda dengan Reya dan Velia yang telah mengetahui sejauh mana kekuatan asliku.
Di sisi yang lain aku melihat Mea telah melesatkan sebuah anak panah yang cepat. Sepertinya ia membidik paha kananku.
Aku memang tidak bisa menghindarinya, tapi ....
"Aku hanya perlu menggerakkan sedikit tubuhku."
Sayangnya anak panah itu meleset. Karena saat ini aku menjadikannya sebagai tumpuan setelah menempelkan telapak kakiku kemudian melompat lagi.
"Instruktur Kuro, tidak akan aku lepaskan ... *Fire Bird*!!!"
Hiro mulai beraksi dengan sihirnya yang terbilang masih tingkat satu. Serangannya berhasil mengenaiku, tapi mengelabuinya akan jauh lebih menyenangkan.
"Akhirnya aku berhasil mengalahkan Instruktur Kuro ... eh?"
Karena apa yang berhasil ia hanguskan hanyalah sebatas syal yang aku gunakan.
"Hiro, setelah melepaskan sebuah sihir maka perhatikanlah sekitarmu,"
ucapku dingin.
Setelah berhasil mengelabuinya dengan mudah aku pun langsung menerjangnya tanpa ia ketahui, lalu memegang pundaknya, "Ok, Hiro, kau gugur"
"Ehhhh ... tapi aku baru saja menggunakan satu sihir, Instruktur Kuro," rengeknya.
"Peraturan adalah peraturan, kawan kecil.”
Hiro yang murung pun langsung pergi menyisih menuju ke pinggir lapangan.
"Baik, siapa yang ingin merasakan sentuhan dingin di pundaknya?" ucapku sambil menatap mereka dengan dingin.
"Ha ... hahaha, Instruktur Kuro, Anda memang sangat kuat. Kalau begitu kali ini adalah giliranku," ucap Reya lalu berlari ke arahku dengan cepat.
"Aku akan ikut mendukungmu, Reya," timpal Velia.
"Hehhh ... kalau begitu kemari dan coba berikan luka pada instruktur kalian ini."
Reya menerjangku sambil mengeluarkan serangan yang tampaknya sangat kuat, sedangkan Velia melakukan serangan pengecoh lalu berputar ke belakangku.
Serangan pengecoh kah? Lumayan juga ... tetapi.
Dengan menggunakan teknik gerakan kaki, aku berhasil menghindari mereka. Setelah itu kutarik lengan mereka dengan kuat.
Aku cukup terhibur dengan raut wajah Reya yang panik, tapi aku merinding melihat raut wajah Velia yang tampaknya keenakan. Seketika saat itu juga aku mengingat perkataannya tadi pagi ...’Reiss, kau memang suka bermain kasar, ya?’ dengan pipi merona.
Menguatkan tenaga dan aku pun langsung melempar Reya sejauh mungkin, sedangkan Velia karena terlalu berbahaya, aku pun menyentuh pundaknya. Tetapi, setelah itu ia langsung memelukku beberapa saat sebelum membisikkan sesuatu ke telingaku.
Setidaknya aku telah mengamankannya, masa bodo dengan ajakannya itu, yang penting satu lagi telah keluar.
"Ehhh ... Velia, kau juga kalah oleh Instruktur Kuro?" celetuk Hiro dengan kaget.
"Seperti yang kau lihat sendiri, Hiro. Aku sudah kalah," Sahutnya.
"Whuoooaaa!! ... Instruktur Kuro memang hebat, tidak salah aku menghormatinya”
"Tentu saja Kuro-sensei kuat, dia kan suamiku," gumam Velia pelan.
"Ehh ... Velia, apa yang baru saja kau katakan?"
"Tidak, lupakan saja Hiro. Tadi aku hanya bergumam sendiri. Lebih baik kita lihat lagi Instruktur Kuro dan juga yang lainnya"
"Baik."
Aku telah menyisihkan dua orang sisanya adalah Reya, Lily, Mea, Shiren, Grey dan juga Sightmund ... ehh? Kemana Sightmund?
"Instruktur ... terima kasih atas pelatihannya, tetapi maaf aku akan mengakhirinya"
Suara itu berasal dari belakang, sejak kapan Sightmund berada di belakangku? Apakah ia memiliki kemampuan yang sama seperti Grey?
Ia menghempaskan permukaan tanah dengan pedangnya yang cukup tajam, tepat menuju betis kakiku berada.
"Kalau begitu ... huh!?"
"Upsss ... maafkan aku, Sightmund. Tampaknya latih tanding ini belum lah selesai."
Aku menghindari serangan itu dengan berkayang lalu memberikan tekanan pada tumpuan kakiku sehingga aku melayang beberapa senti meter di atas mata pedang miliknya.
"Aku tidak percayai ini," ucapnya pelan.
"Bukankah sudah kubilang, pertarungan ini belum lah selesai"
Aku pun melompat balik dengan kedua tanganku, lalu tanpa ia sadari aku telah menyentuh pundaknya, " Baiklah, Sightmund. Kau gugur"
"T-tapi bagaimana bisa? S-seharusnya aku berhasil melakukannya," sahutnya tidak percaya.
"Semua memang sudah matang, tetapi kau terlalu percaya diri itulah yangmembuatku dapat merasakan kehadiranmu walaupun sebenarnya kau sudah bagus melakukannya. Sekarang pergilah ke sisi lapangan, temani Hiro dan Velia"
"B-baiklah, instruktur."
Ia pun dengan berat hati langsung meninggalkan lapangan dan ia segera menemai Hiro dan Velia yang berada di sana. Mata Hiro kembali berbinar akankekaguman.
__ADS_1
"Tiga tumbang, lalu selanjutnya siapa?" gumamku lalu melangkah mendekat ke arah mereka, "Baiklah, kali ini giliranku yang menyerang ... hehehe"
"Instruktur bukankah Anda di larang menyerang dan hanya bertahan kan?" tanya Reya dengan cepat.
"Tenang saja, ini bukan sebuah serangan tapi sebuah sapaan, kok. Kalau begitu, kau lah yang pertama—“
Memanfaatkan rasa kaget mereka, aku pun bergerak dengan cepat. Setelah itu menepuk pundak Lily yang sedang lengah.
"Ehh?!! .... "
Lily pun kaget dan tidak percaya karena barus saja pundaknya disentuh olehku. Aku tahu dari raut wajahnya yang seperti melihat hantu ... hahaha.
"Apakah itu sihir?” tanyanya sambil memegang dagu.
"Tadi hanya kemampuan fisik saja, manis. Kalau begitu segera pergi ke sisi lapangan. Di sini akan sedikit berbahaya," jawabku.
"M-manis? Aku?" Tanya Lily gugup wajahnya memerah.
"Tentu saja, kalian perempuan. Jika kalian laki-laki apakah kalian ingin kusebut manis? Kalau sudah dengan pertanyaannya segera lah menyisih, ok."
Lily masih malu dan wajahnya sangat merah seperti buah plum di musim semi. Setelah itu ia pun pergi ke pinggir lapangan.
Sepertinya aku di awasi oleh dua buah mata yang mengintimidasi, apakah seharusnya aku jangan mengatakan itu? Saat aku menoleh, raut wajah Velia tampak menyeramkan.
Ia seperti berkata 'Hehehehe ... bersiaplah Reiss, kau tidak akan bisa beristirahat lagi'.
Seketika bulu kudukku merinding." Tersisa lima lagi sekarang, ada yang ingin maju?"
Tanpa ragu Shiren yang dari tadi tidak melakukan sebuah pergerakan langsung menerjangku bersama dengan Grey.
Dengan pedang airnya, Shiren melancarkan sekitar tujuh buah tebasan yang lembut namun memiliki dampak yang besar. Grey, ia melesatkan serangan backstab yang sangat cepat.
Pertama adalah Shiren, lesatan pedangnya yang bagai air mengalir itu datang dari arah depan. Aku pun menghantarkan semuanya dengan meliukkan setiap jarak serangannya dengan rapi menggunakan pinggiran pedang kayu ini.
Ia terdorong dan tidak bisa mengendalikan keseimbangannya, lalu kusentuh pundaknya, "Hai, Shiren kau gugur—“
Secara bersamaan serangan juga Grey mendarat di titik butaku, tetapi aku menunduk lalu melakukan tendangan berputar yang cukup kuat hingga mementalkan senjatanya dan secara cepat kusentuh juga pundak mereka.
“—Grey, kau juga gugur," lanjutku dengan senyum kecil.
"Instruktur terlalu kuat," celetuknya dengan nada riang.
"Jika saya bisa mengalahkan instruktur, tolong jadikan saya istri Anda, dan mulai saat itu juga tolong jaga saya untuk selamanya," Ucap Shiren dengan ringan, suaranya sangat lembut dan bersahabat. Ia membungkuk kemudian menyusul Grey yang terlebih dahulu meninggalkannya.
"Shiren ... itu terlalu berlebihan," gumamku gugup, "sekarang hanya kalian berdua Mea dan Reya, kalian siap?"
"Aku selalu siap, Instruktur Kuro," ucap Reya dengan semangat.
"Aku tak ingin kalah," timpal Mea, ia pun langsung melesatkan kurang lebih sekitar lima buah anak panah dalam satu tarikan.
Reya menyusulnya dengan meluncurkan pedangnya ke arahku, sepertinya ia terinspirasi gerakanku waktu di Padang Rumput Graughas.
Aku pun membelah semua anak panah itu dalam satu huyungan cepat yang hening. Serangan Reya juga dapat aku hindari. Tetapi, ia langsung berlari ke arahku.
Menguatkan kuda-kudanya, sebuah tendangan lurus ia arahan tepat menuju kepalaku. Berputar cepat, aku pun mengangkat kakinya itu dengan pedangku kemudian menjatuhkannya dalam sekali bantingan.
Aku mulai berlari menuju Mea dengan cepat selagi Reya masih dalam keadaan tidak berdaya. Mea menyadarinya lalu ia pun kembali melesatkan beberapa tembakan daribusur lebarnya, dengan formasi dua anak panah, yang di susul satu anak panah, dan akhirnya enam anak panah secara beruntun.
Banyak sekali anak panah dengan arah lesatan yang berbeda, yang paling pertama hanya mengarah tepat ke arahku. Sedangkan yang kedua menukik di udara dan mengarah tepat ke leherku.
Untuk sisanya kepala ular, melambung secara acak lalu menukik seperti elang. Mulutku tersenyum ketertarikan, aku pun mengepalkan tangan kemudian melemparkan pedang ini.
Waktu berjalan melambat seperti kutarik antar dimensi, untuk pertama adalahdua buah anak panah yang meluncur secara jantan ke arahku. Dalam satu hitungan aku menggenggam kedua anak panah itu.
Mea terkejut, ia melangkah mundur dengan keringat yang menetes. Kupatahkan anak panah yang kiri, kemudian menjentiknya ke langit-langit. Patahan anakpanah itu melindungiku dari serangan mematikan dari anak panah yang melesat ke arah belakang leherku.
Patahan anak panah itu hancur berkeping-keping bersamaan dengan anak panah menerjang bagian belakang leherku. Lalu tersisa satu anak panah lagi di genggaman tangan kananku.
Sia anak panah lainnya yang seperti elang, menukik begitu tajam seperti mata pisau yang telah terasah. Aku mengelak dari ke empat anak panah itu, ku lemparkan anak panah di genggaman tangan kananku.
Ia melesat begitu cepat hingga melubangi anak panah yang sedang menukik itu. Dan satu lagi sebuah kejutan dari seorang guru yang tidak terduga, Mea tertunduk lemas. Mengetahui serangannya yang begitu hebat dapat di kalahkan oleh tangan kosong.
Aku pun berjalan ke arah Mea, "Kalau begitu Mea, kau gugur," ucapku sambil menangkap pedang yang kulempar ke langit. Kemudian berjalan ke arahnya lalu memegang pundaknya.
"I-Instruktur ... apakah Anda benar-benar seorang guru?" tanyanya panik.
"Tentu saja, lebih tepatnya seorang guru sementara," jawabku sambil melayangkan senyum kecil.
Setelah itu Mea kembali bangkit dan tampaknya ia tidak Shock lagi karena hal yang baru saja terjadi.
"Baiklah berarti sekarang adalah giliranmu, Reya Leshar"
"Instruktur Kuro, ini mengingatkanku saat pertama kali aku menangtangmu," sahutnya lalu bangkit dan mengambil pedangnya yang terjatuh.
Sekarang adalah pertarungan terakhir antara guru dan murid. Reya Leshar dan juga diriku sendiri Kurokami Rei. Seorang Templar melawan seorang Black God Slayer.
Sial, tampaknya aku tidak akan bertahan lebih lama lagi ....
"Baiklah Reya, kita akan memulainya," ucapku dengan tersenyum
kecil.
__ADS_1
"Seperti yang Instruktur Kuro katakan, mari kita mulai pertarungan sesungguhnya ini."