
Sebelum kecerita utama kita intro dulu~
Hai semua! Nama gue ReIN dan terima kasih karena telah memberikan gue kesempatan untuk menemani malam jomblo loe! Jika kalian menyukai cerita ini maka berikan jempol ke atas dan jika tidak cukup vote lalu sebarkan cerita ini. Jangan lupa berikan komentar dan tips agar sang Author tetap semangat update ceritanya!
.
.
.
Angin pagi yang mulai menjadi dingin berhembus dengan tenang di Kerajaan Astarte. Astarte Festa sebentar lagi akan segera di mulai dan orang-orang dari dalam kerajaan maupun luar sangat menantikan acara ini.
Sementara aku dan Hilda sedang berada di toko pakaian. Penjaga toko yang sedang melayani kami sangat agresif karena melihat kami berdua. Masalahnya sederhana, ia mengira bahwa kami adalah sepasang kekasih.
Aku sudah memberinya penjelasan tentang hubunganku dengan Hilda, tetapi ia selalu menyanggahnya dan terkadang membuatku kewalahan, jadi aku hanya memintanya untuk memilihkan pakaian untuk Hilda. Untung saja ini bukan toko yang merangkap dengan pakaian dalam.
Bisa-bisa aku di kira penjahat kelamin, bisa gawat kan kalau sampai dikira seperti itu. Aku hanya dapat mendengar ocehan dari penjaga toko yang kebetulan seorang wanita, kini ia sedang bersama Hilda di balik tirai ruang ganti baju.
Aku hanya cengingiran sendiri ketika mendengar keluh kesah Hilda yang tampaknya keberatan dengan pelayanan sang penjaga toko. Hingga sebuah kalimat yang keluar dari mulutnya bisa membuatku bulu kudukku merinding.
“Lebih baik Kuro saja yang menggantikan baju untukku."
Dan saat itulah ketika aku berbalik untuk melarikan diri, sebuah tangan yang kuat menahan kerah kemeja hitamku. Aku dapat merasakan hembusan napas akan hawa nafsu yang keluar dengan tidak stabil.
Tidak hanya itu saja, bahkan sosoknya kini mendekatiku, "Tuan, sepertinya saya telah salah paham tentang Anda. Ia bukanlah pasangan Anda, tetapi sepertinya istri, ya?" bisiknya lembut namun dengan nada maniak.
"Hiii.... "
Ketika aku berusaha untuk melepaskan cengkramannya, kini kehadirannya tepat berada di belakangku beberapa inci. Tubuhnya merapat, "Kalau begitu, bagaimana jika Anda saja yang menggantikan baju untuknya," ucapnya pelan dengan nada sedingin ratu es.
Tubuhku menggigil dan entah mengapa kakiku bergerak sendiri tanpa perintah yang jelas dari otakku. Aku berusaha mencoba untuk melawan tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa. Untuk beberapa alasan aku pun menoleh ke arah penjaga toko itu dan... bhuakk.
Ia tersenyum bahagia dengan sangat lebar, tangannya melambai dan wajahnya memerah. Ia seakan-akan memberiku sebuah pesan tak kasat mata yang berindikasikan 'Semoga berhasil, tuan' dan ia pun mengeluarkan sebuah tisu dari saku kanan bajunya, lalu menyusut kedua matanya walaupun tidak ada air mata sedikit pun.
Semoga berhasil JIDATMU!!!
Tetapi karena aku tidak bisa berhenti, sepertinya penjaga itu menggunakan sihir kepadaku agar aku tidak bisa kabur dengan mudah. Saat ini aku berharap tidak terjadi sesuatu yang aneh.
Begitu aku membuka tirai itu, apa yang kulihat untunglah tidak dalam keadaan gawat tingkat lima atau dunia dalam keadaan siaga untuk menghadapi sebuah asteroid. Untungnya Hilda baru melepas sebagian pakaiannya saja, ia masih menggunakan kemeja merah dan dasi hitamnya juga.
Dengan rok lengkap beserta stocking hitam yang cukup transparan, "Hilda... seharusnya kau tidak berkata seperti itu tadi," ucapku datar.
Hilda hanya menunduk dengan malu tanpa memandang ke arahku. Wajahnya kini seperti kepiting rebus yang siap saji, bahkan aku dapat melihat uap mengepul di atas wajahnya.
"Kalau begitu berbaliklah, lepas kemejamu. Aku akan menghadap ke arah sebaliknya juga jadi kita saling membelakangi," saranku pelan.
Ia dengan gugupnya memutar tubuh, setelah itu mulai melepas kemeja merahnya di mana dasinya terlepas lebih dahulu. Aku dapat mendengar ia menghembuskan napas dengan cukup tegang.
"Lalu mana pakaian yang penjaga toko itu sarankan untukmu," tanyaku.
Aku pun melihat-lihat sekitar namun tidak berbalik ke belakang, ada sebuah sweter berwarna merah padam dengan
garis-garis putih di bagian lengannya yang panjang. Dengan sebuah rok hitam yang sepertinya tidak terlalu pendek.
Aku perkirakan bahwa inilah pakaian yang tadi pelayan toko itu sarankan untuknya. Kemudian kuangkat sweter itu, aku tidak menyangka bahwa masih ada satu pakaian lagi yaitu tanktop putih yang sedikit tipis berwarna putih.
Ahh... demi roti gandum, mati aku. Sesaat aku melihat itu, sebuah pikiran sesat mampir ke otakku untuk beberapa saat. Kuenyahkan hal itu dengan segera dengan menggeleng-gelengkan kepalaku.
"Hilda, apakah kau sudah melepaskan bajumu?" tanyaku pelan.
Sebuah tarikan pelan terasa di bagian belakang jubahku. Aku segera menyerahkan sweter, tanktop dan rok itu kepadanya. Tanganku bergetar cukup hebat dan tangan Hilda yang menerimanya pun sama sepertiku, bergetar.
Aku pun menunggunya beberapa saat dan setelah itu berbalik untuk memastikannya. Tapi, tampaknya apa yang aku lakukan salah. Karena saat ini ia sedang kesulitan menggunakan sweter itu, alhasil aku bisa melihat dadanya yang menonjol bahkanpakaian dalamnya... hitam.
Gulp ...
Untungnya ia berhasil menggunakan roknya dengan baik, kalau tidak? Aku bisapingsan karena kehabisan stok darah hidungku.
Baiklah lakukan atau tidak, aku pun langsung membantu Hilda menggunakan sweter itu dengan benar. Tidak lama kemudian aku bisa melihat wajahnya yang berseri. Tatapan mata merahnya seakan-akan dapat melihat diriku dengan baik.
Tenang dan tentram. Bibirnya yang manis seperti buah stroberi di pagi hari, merah, segar, dan sedikit asam namun membuat ketagihan. Ia masih terpaku melihat wajahku yang sangat dekat sekali dengannya.
__ADS_1
Tubuhnya merapat sekali di dekat dadaku. Entah mengapa aku seakan-akan terhipnotis akan kecantikannya yang luar biasa. Dan aku masih penasaran mengapa ia belum mempunyai seorang pendamping.
Kulihat baik-baik tubuhnya dengan seksama. Dengan sweter yang berlubang dari kedua bagian bahu hingga leher menujukan kulitnya yang putih dan bersih. Tali tanktop terlihat keluar merangkul bahu kiri dan kanannya.
Karena sweternya yang tidak terlalu besar membuat tubuhnya terlihat sangat indah. Rok hitam hingga bagian
lutut atas dan dua buah stocking hitam yang menutupi kedua kakinya begitu menggugah selera.
"Hmm... sepertinya masih ada yang kurang," gumamku pelan.
"Huh?"
Aku pun langsung menggunakan sihir penyegar, "Vecta.... "
Dari telapak tangan kananku muncul Rune kecil berwarna hijau dan dari dalamnya itu semilir angin lembut keluar, membelai wajah dan juga lehernya. Melepaskan ikatan belakang rambut putihnya yang rapi.
Dengan rambut yang sebelumnya terikat rapi kini menjadi terurai sempurna. Dengan poninya yang pas sekali untuk memperindah bagian depan wajahnya, "Akhirnya selesai juga... nah gini kan lebih cantik," ucapku lembut sambil tersenyum kecil.
Ketika aku masih menatap keindahan penuh berkah di depanku, ia tiba-tiba saja memendamkan wajahnya di dadaku.
"Eh... ?"
"I-ini sedikit memalukan, karena hanya saat inilah aku tidak menggunakan pakaian biasaku...," ucapnya pelan sambil menatapku layaknya binatang pengerah kecil dengan mata yang lebar dan pipi merona.
Pada awalnya aku terdiam dengan wajah datar, tapi jauh di dalam hatiku aku berteriak kencang karena tidak bisa menahan ekspresi manisnya itu.
Aku heran. Sebenarnya siapa yang malu di sini.
“Tenanglah. Lagi pula jarang sekali kita bisa mendapatkan hari seperti ini,” ucapku lalu mencubit hidung Hilda pelan.
“Ouchh! K-Kuro... “
“Percaya dirilah. Kau ini salah satu perempuan termanis yang pernah aku temui”
"A-apa maksudmu, K-Kuro-?" tanyanya gagap.
"Dengar... hari ini adalah hari yang spesial karena akan memasuki Astarte Festa. Sudah sewajarnya kau menanggalkan pakaian pelayanmu itu dan beralih ke pakaian seperti ini, aku juga ingin kau menikmatinya... paham."
Perlahan-lahan ia melepaskanku. Mungkin saat ini ia sedang mempersiapkan mentalnya, aku tidak tahu, tapi yang pasti itu adalah salah satu tanda yang baik.
"Merasa lebih baik?"
Hilda hanya mengangguk pelan sambil sesekali mencuri pandang ke arahku. Setelah itu kami keluar sambil membayar pakaian yang Hilda kenakan. Untungnya tidak terlalu mahal dan aku bersyukur karena itu.
Begitu kami keluar dari toko, semua orang yang aku lihat tengah menatap ke langit. Sontak aku pun ikut melihatnya dan ternyata itu adalah gambar visualisasi Irina yang mungkin akan mengatakan sesuatu.
Di kerajaan ini memiliki sistem yang unik. Layaknya memiliki dua gelar, saat ini Irina adalah sang ratu sekaligus kepala sekolah dari Akademi Swordia itu sendiri.
Aku bisa melihatnya berdiri di atas sebuah podium. Ketika tangan kanannya terangkat, aku bisa merasakan intensi antusias dari semua orang disekitarku.
[Dengan ini Rangkaian acara Astarte Festa dimulai....]
“Sepertinya aku ketinggalan sesuatu.. tapi, ya sudahlah. Festival ini juga sudah berlangsung....”
Lalu muncul beberapa bola api entah dari mana yang meluncur ke langit dan meledak secara bersamaan. Saat itulah suara-suara semangat dan antusias bersorak sangat keras.
Mungkin karena refleks atau apa, tapi saat ini aku sedang menggandeng tangan Hilda.
"Ada apa dengan wajah itu, Hilda?" tanyaku.
"E-e... tidak, hanya saja ... ini baru pertama kali saya di gandeng seorang lelaki," ucapnya dengan malu.
"Hmm ... jadi seperti itu," gumamku. "Lebih baik kau berjalan di sampingku jika tidak ingin digoda oleh om-om mabuk di bar itu," ucapku dengan tersenyum usil.
Hilda pun cukup kaget, karena penampilannya sekarang bukan lagi seperti pelayan melainkan seperti perempuan cantik penyendiri.
Ia pun langsung memegang tangan kananku dan mengapitnya di antara dadanya. Karena cukup takut... ia memang tidak takut dengan monster dan sebagainya. Tetapi jika berurusan dengan laki-laki yang ia belum kenal, ia seperti seorang anak yang ketakutan.
Namun pakaian pelayan miliknya pergi ke mana?
"Bicara tentang pakaian... " gumamku.
"Biar saya simpan di menggunakan sihir pengecil," ucapnya dan ia pun melafalkan Rune cepat.
Sebuah lingkaran sihir muncul dari atas dan bawah kantung karton itu dan membuatnya mengecil. Setelah itu ia mengambilnya lalu menyimpannya di saku roknya.
__ADS_1
Aku tidak menyangka bahwa ia akan lengket seperti ini kepadaku, walau aku hanya memerintahkannya untuk berjalan di sampingku. Tapi rupanya Hilda malah memegang tanganku seakan-akan aku adalah pasangannya.
Huh... tetapi jika dia senang, aku tidak mempermasalahkannya. Lagi pula ia telah terkurung di Menara Entia 300 tahun lamanya. Tetapi, tampaknya ada yang tidak beres dengan Astarte Festa ini.
Meskipun aku merasakan ada sesuatu yang janggal, tetapi setidaknya aku ingin menikmatinya bersama dengan orang yang kukenal.
***
Di bagian tengah kota beberapa orang dengan Handband biru perak berjalan-jalan. Mereka adalah pasukan pengaman Astarte Festa ini jika terjadi kekacauan. Reya, Hiro, Fiana dan juga Satella. Mereka tampak menikmati Astarte Festa ini walaupun sedang berpartroli.
"Hmm... Reya, apakah kau tidak lapar?" tanya Hiro tiba-tiba.
"Mungkin sedikit. Bagaimana denganmu?" tanya balik Reya.
Hiro pun langsung mengangguk, "Fiana, Satella?"
"Hmm ... aku sama dengan Reya, tetapi jika kau memang lapar, Hiro. Kita bisa mengambil istirahat dulu sebentar," sahut Satella.
"Aku setuju dengan Satella," timpal Fiana.
Lalu mereka pun sepakat untuk mengambil istirahat, kini mereka hendak pergi menuju kedai makanan di pojok jalan utama kerajaan Astarte. Di sana Hirolah yang paling semangat ketika mereka telah sampai.
Ia memesan banyak makanan walau tubuhnya terbilang kecil seperti anak berumur 7 tahun, sedangkan Reya hanya memesan satu gelas besar jus jeruk dengan satu buah pie anggur yang hangat.
Sedangkan Fiana memesan tiga buah roti lapis isi daging panggang, satu gelas susu hangat dan juga satu mangkuk kecil salad. Lalu yang terakhir adalah Fiana ia hanya memesan satu mangkuk bubur kacang manis dan satu gelas air putih yang besar.
Di sela mereka menikmati makanan yang mereka pesan, Reya tampak sedang khawatir, "Ada apa, Reya," tanya Hiro yang menyadari kekhawatirannya.
"Tidak- hanya saja aku penasaran mengapa sikap Fear dan Velia tiba-tiba saja berubah ketika mereka selesai berpatroli tadi pagi," tuturnya sambil memasukkan satu potong kue pie anggur ke dalam mulutnya.
"Aku juga ingin menanyakan hal yang sama tentang itu kepada kalian berdua," ucap Satella tiba-tiba.
Reya menengguk jus jeruknya dengan pelan, "Tentang itu mungkin ini hanya spekulasi tidak berdasar yang selalu aku pertanyakan sendiri."
Hiro, Satella dan Fiana mulai memasang wajah serius walau mereka sedang menyantap makanan mereka masing-masing, "Mungkin saja mereka berdua terkena sihir yang tidak ter-identifikasi atau mereka menemukan seseorang yang berbahaya dan mengancam mereka berdua untuk tutup mulut," tutur Reya.
"Itulah hal yang terpikirkan olehku semenjak sifat mereka berdua berubah," lanjutnya kemudian ia mulai mengambil catatan kecil dari saku celana belakangnya yang cukup lebar.
"Menurutku hal seperti itu tidak mungkin," sanggah Fiana.
Hiro dan Reya saling memandang kemudian mereka memandang Fiana, "Kenapa?" tanya mereka berdua.
"Itu karena di sepanjang tembok luar kerajaan telah di pasang Rune penghalau, kalian pasti ingatkan tentang rapat di malam itu," jelas Fiana.
"Hmm... maaf, aku kelupaan," sahut Reya lalu ia pun menulis hal-hal penting di catatan kecil miliknya itu.
"Tetapi pasti ada batasnya kan? Batas Rune itu akan menghilang karena kehabisan waktunya," ucap Hiro dengan menelaah Rune yang terlihat di luar kerajaan ketika ia menengok dari dalam kaca kedai makanan itu.
"Itu tidak menjelaskannya, Hiro," sahut Satella. "Rune itu telah di perkuat oleh Kristal Enchant milik kepala sekolah, jadi jika itu kehabisan waktu maka akan tepat jika setelah Festa ini selesai, fungsi Rune itu pun akan menghilang," lanjutnya.
"Ahhh .. pantas saja—“
Namun mereka semua tiba-tiba terenyak oleh sebuah suara yang indah. Suara itu seperti bergema dan memantul-mantul di seluruh kerajaan itu sendiri. Bahkan Reya yang terkenal akan kerajinan jika menyangkut catatan, kini ia berhenti dan menikmati suara itu.
Entah dari mana? Siapa yang memainkannya? Jenis alat musik apa yang menimbulkan bunyi itu? tetapi satu hal yang mereka ketahui... suara ini begitu menenangkan.
Di lain tempat seorang lelaki berambut putih yang cukup tampan sedang menikmati permen kapas yang baru saja ia beli dari kedainya. Dengan wajah yang cukup berseri, tapi sorot matanya begitu penuh dengan aura kegelapan.
Murid-murid yang lain seperti Sightmund, Shiena, Loki, Mai, Lily, Shiren, Mea, Nheil, Satella, Grey, dan juga Wesley yang sedang sama-sama beristirahat langsung tenang ketika mendengar alunan suara yang tidak di ketahui ini.
Seperti sebuah siulan di padang rumput yang luas. Begitu halus dan membuat hati terenyuh kepada permainannya. Bunyi bervariasi dari pelan hingga stagnan dan terkadang cepat hingga beritme.
Para guru yang lainnya pun seperti terbawa oleh suara ini juga, mereka memasang wajah yang begitu damai dan tentram. Tidak terkecuali untuk Aresya, Irina, dan juga Regin mereka yang sedang mengerjakan beberapa naskah dokumen dan pemetaan lokasi ikut terdiam ketika mendengarkan suara ini.
Namun tidak untuk Fear dan Velia mereka masih memikirkan tentang waktu itu, waktu ketika lelaki itu berpapasan dengan mereka. Mereka sangat ingin sekali bertemu dengannya sekali ... terutama Fear yang sedari tadi menangis tanpa sebab dan selalu bergumam ... 'Mengapa kau meninggalkanku, Kuro'...
Berbeda dengan Oz yang Selina. Mereka berdua terdiam karena syok, tetapi di sisi yang lain tampak gembira. Hanya satu orang sajalah yang selalu memainkan siulan seperti itu.
Selina menitikan air mata, sedangkan Oz menenangkannya dengan mengelus punggungnya.
"Apa yang harus aku waspadai... Tuan Muda," gumamnya pelan.
Dibalik indahnya suara tersebut terdapat sebuah pesan rahasia yang sangat mendalam dan peringatan akan bahaya....
—Berhati-hatilah sesuatu yang buruk akan datang.
__ADS_1