Sword Anthem

Sword Anthem
Chapter 40 - Hari Terakhir


__ADS_3

Sebelum kecerita utama kita intro dulu~


Hai semua! Nama gue ReIN dan terima kasih karena telah memberikan gue kesempatan untuk menemani malam jomblo loe! Jika kalian menyukai cerita ini maka berikan jempol ke atas dan jika tidak cukup vote lalu sebarkan cerita ini. Jangan lupa berikan komentar dan tips agar sang Author tetap semangat update ceritanya!


 


.


.


.


 


“Apakah ini akan baik-baik saja, Kuro?”


Hilda yang saat itu sedang berdiri melihat pemandangan di sekitar kota kini merapikan rambutnya, setelah itu menoleh ke arah Kuro.


“Ini belum saatnya aku kembali,” sahutku sambil memejamkan mata.


“Maksudku adalah... dirimu”


“Umm. Tidak masalah, lagi pula mereka bukan lagi anak-anak yang selalu harus aku awasi, bukan?” tanyaku meyakinkan. “Aku ingin melihat perkembangan mereka selama satu tahun ini”


“Baiklah jika itu keinginanmu. Tapi, aku harus ingatkan... “


“Huh?”


“Sampai kapan kau akan memakan kentang goreng itu?”


Aku hanya bisa menatapnya datar. Mungkin sebenarnya dari balik rasa kekhawatiran itu, ia menginginkan kentang goreng terbatas ini.


“Apa kau mau?” tanyaku sambil menyodorkan sebungkus kentang goreng.


“Kuroooo!... “


“Baiklah, baiklah. Ini piring terakhir, ok. Aku tidak ada niatan untuk membelinya lagi”


“Huhh. Dasar. Ini sudah keempat kalinya kau membeli kentang goreng, ‘kan?”


Saat itu aku hanya dapat tertawa kecil karena melihat reaksi Hilda yang tampaknya mengkhawatirkanku. Ini tidak seperti aku ketagihan akan rasanya, melainkan dan mungkin ini adalah kentang goreng terakhir yang bisa aku makan saat ini.


Setelah semua kegembiraan dan juga pesta penuh penyambutan ini berakhir, aku tidak tahu apakah semuanya akan tetap sama atau tidak. Karena itulah aku menikmatinya hingga titik di mana aku akan bosan membelinya.


“Lalu kenapa kau tidak membeli makanan untuk dirimu sendiri, Hilda?”


“Segelas Jus Lemon dan Roti Bakar dengan isian krim beri biru sudah lebih dari cukup bagiku”


“Itu alasan atau memang karena kau tidak memiliki uang?”


“Kuro!”


“Hahahahaha”


“Ternyata sifat tuan mudaku bisa seperti ini juga, huhh,” keluhnya sambil membuang napas. “Setelah ini kita akan ke mana?”


“Jangan terburu-buru. Sebentar lagi pertunjukan utamanya akan segera dimulai,” sahutku dengan senyum tipis.


Saat ini posisi kami berdua tepat berada di alun-alun kota. Tempat di mana orang-orang dapat bersantai dan bermain tanpa memikirkan beban apapun.


Belum lama saat aku mengatakannya, beberapa orang muncul dengan kostum yang unik. Mereka berjalan ke tengah-tengah lapangan dan mulai membungkuk. Setelah itu bunyi trompet mulai terdengar bersamaan gendaman suara tabuh bas.


Anak-anak mulai memanggil mereka dengan nada yang ceria dan orang-orang dewasa hanya melihat mereka dengan tatapan menarik serta penuh keunikan. Semua itu berpadu menjadi tawa riang yang menggema di seluruh alun-alun.


Wajah yang terkesima, bendera yang berkibar, baner-baner berdiri memperlihatkan gambaran unik nan elegan... penuh misteri namun menggugah rasa penasaran.


Setelah itu di mulailah sebuah atraksi penghibur yang menggugah mata. Bahkan aku sendiri terpukau dengan penampilan mereka yang beraga. Ya, meskipun itu semua adalah trik sihir, dan penggunaan rapalan cepat penuh pengalih perhatian. Tetap saja itu lebih baik dari pada pertunjukan biasa.


“Wah menarik sekali. Meskipun tidak sama seperti pertunjukan kastil langit, tapi ini juga bagus,” celetuk Hilda sambil menempelkan kedua telapak tangannya.


“Bagus, bukan? Karena itulah jangan terlalu terburu-buru. Nikmati selagi masih ada”


“Apakah karena ini juga kau menghabiskan uangmu hanya demi kentang goreng?”


“Ya... bisa iya, bisa juga tidak. Intinya jangan terlalu dipikirkan,


hehehe.”


Aku bisa merasakan tatapannya sedikit menggelitik tengkuk leherku. Apakah


aku terlalu berlebihan, ya?


“Lalu tentang kejadian di aula itu?”


“Orang itu kembali. Mungkin sebentar lagi aku bisa menemuinya secara kebetulan,” ucapku lirih.


Di saat aku memandangi orang-orang di depan sana. Entah mengapa aku kembali mengingat kenangan-kenangan lamaku bersama keluarga. Baik itu Kak Ray, Ibu, ataupun Ayah bahkan para pembantu serta menteri-menteri di sana.


Benar-benar nostalgik, tapi aku tidak ingin terlalu terikat oleh kenangan lama itu. Karena sebab mengapa aku bisa berada di sini adalah berkat orang itu... sahabat lamaku, tidak, mungkin lebih tepatnya musuhku.


Meist....


“Apa yang kau pikirkan, Kuro?”


Begitu kesadaranku kembali setelah mengenang kejadian pahit itu, aku bisa melihat ekspresi Hilda yang penasaran, tetapi dari balik matanya itu aku bisa melihat kegelisahan akan sesuatu.


“Tidak. Hanya kenangan lama”

__ADS_1


“Begitu kah?”


“Apa kau penasaran?”


Untuk waktu yang lama, Hilda memandangiku hingga ia mengalihkan perhatiannya dengan cepat. Aku bisa melihat kedua pipinya merona entah karena alasan apa. Aneh.


Pertunjukan itu berlangsung cukup lama dan langit pun mulai berubah. Warnanya menjadi sedikit kelam dan beberapa bayang-bayang kabur bulan terlihat di atas sana.


Setelah selesai kami pun segera meninggalkan tempat itu dan berjalan pulang menuju rumah. Letak rumahku mungkin cukup jauh karena berada di luar kerajaan.


Sebenarnya aku ingin menikmati pertunjukan lainnya. Tetapi, mengingat akan sangat buruk jika aku ketagihan akan makanan malamnya, maka aku putuskan untuk mengakhirinya begitu hari telah malam.


Astarte Festa ini akan berlangsung selama tiga hari. Di hari pertama hanyalah pengenalan dan itulah hari ini, sedangkan di hari ke dua merupakan hari pertunjukan dan hiburan. Yang terakhir adalah hari ketiga di mana


pertunjukan utama akan berlangsung sekaligus penutup.


Semua informasi itu aku dapatkan dari perbincangan orang-orang.


Setidaknya ia harus mengerti mengapa aku memutuskan untuk mengakhirnya. Mengingat bertapa menawan dan cantiknya Hilda, mungkin akan banyak sekali laki-laki yang menginginkannya.


“Apa kau masih kuat berjalan?” tanyaku tiba-tiba.


“Hmm? Tentu saja, mengapa tidak?”


“Ini akan memakan waktu yang banyak. Aku ingin segera pulan dan merebahkan tubuh ini di atas sofa, kalau begitu pertama-tama maafkan aku”


“Apa maksudmu—whoaa!”


Dengan cepat aku pun langsung menggendong Hilda dengan gaya seorang putri. Setelah itu melapisi kakiku dengan sihir angin.


Bergerak cepat dengan lembut. Malam hari tampak terlihat lebih indah daripada biasanya, mungkin karena saat ini aku sedang menggendong seorang perempuan pemalu yang sebelumnya menolak kugendong, tapi akhirnya pasrah, dan menyerahkan sisanya padaku.


Ya, hal ini pernah terjadi satu tahun yang lalu ketika aku pertama kali bertemu dengan Adik angkatku—Velia. Mereka memiliki kemiripan yang sama dan pada bagian yang sama pula. Bahkan reaksinya pun seragam.


Di sisi yang lain aku lihat Hilda terdiam tanpa berkata apapun. Setelah itu ia mulai membereskan beberapa barang dan untungnya masih menggunakan pakaian pemberianku. Itu membuatku sedikit tenang, karena melihatnya dengan pakaian pembantu terasa sedikit aneh.


Hidupku yang sebelumnya belum mengenal apa itu pembantu, tiba-tiba saja datang seorang pembantu akan sangat aneh.


“Apakah aku boleh meletakan barang-barang pembelianku di sini?” tanyanya.


“Ya, tidak masalah,” sahutku sambil melambaikan tangan ke atas karena malas bangun.


Entah mengapa perasaanku tidak enak, begitu aku beranjak dari sofa, dan melihat apa yang sedang dilakukan oleh Hilda. Untuk beberapa alasan aku sedikit terenyak karena melihat barang-barang yang bahkan aku sendiri tidak tahu itu tiba-tiba muncul begitu saja.


Saat ini perempuan yang sebelumnya merupakan pembantu di kerajaan langit itu menumpahkan berbagai barang-barang dari bawah lingkaran sihir yang ia buat.


“B-bagaimana kau bisa melakukan itu?”


“Ini?” Hilda melirik barang-barang bawaannya setelah itu kembali menoleh ke arahku, “Cukup lakukan ini dan taraa!”


Aku tidak bisa berkata apa-apa karena sihir yang ia gunakan benar-benar praktis. Aku tidak tahu jenis sihir apa itu, tetapi itu sedikit membuatku iri.


“Hehehehe”


Ia membeli banyak sekali barang walaupun pada awalnya sangat canggung karena tidak tahu ingin membeli apa. Berkat sikapnya yang seperti itu, banyak sekali laki-laki yang menggodanya.


Ketika itu terjadi, hal pertama yang aku lakukan adalah memberi orang itu sebuah tatapan penindas. Alhasil kebanyakan dari mereka mundur secara suka rela.


"Ahhh. Apa yang akan sekarang kau buat, Hilda?" tanyaku.


“Tentang itu ada satu yang saya ingat”


"Hmm?"


"Makanan kesukaan Kuro sewaktu kecil," tuturnya sambil tersenyum.


"Bhuakss—huh? Kau masih mengingatnya?"


Demi kolosus berbadan buncit. Aku tidak menyangka perkataan itu muncul


darinya.


"Ya. Semangkuk sup ayam, Roti Krim Vanila, ikan bakar manis dan juga segelas Jus Perasan Buah Alm dengan tambahan Serbuk Malnut. Saya sudah membeli bahan-bahannya ketika di Astarte Festa. Siapa yang akan menyangkanya jika bahan-bahan ini bisa aku dapatkan di sana"


“Seperti yang diharapkan. Jika kau terus seperti ini, dirimu benar-benar cocok sebagai calon istri yang diidam-idamkan. Dua jempol untukmu," ucapku sambil mengeluarkan bahan-bahan makanan itu.


"U-um. Itu membuatku malu, Kuro. Tetapi terima kasih."


Setelah itu ia kembali dengan membawa bahan-bahan makanan itu ke dapur. Karena aku tidak ingin terlalu merepotkannya, aku juga ikut membantunya.


Selagi kami berdua saling membantu, kami juga berbicara seputar Astarte Festa yang telah berlangsung. Aku menanyakan beberapa pertanyaan kepada Hilda tentang berada di sana terutama kulinernya.


Ia menjawabnya dengan semangat dan juga antusias. Setiap kali aku bertanya pasti selalu di jawab dengan wajah yang berseri. Ia juga belum mengganti pakaiannya dan setidaknya ini membuat kami lebih terlihat seperti pasangan ketimbang pembantu dan tuannya.


Mungkin akan lebih baik jika ia segera menemukan seorang pendamping.


Kami menyajikan makanan dengan gaya kami masing-masing. Hilda dengan teknik memasak yang ringan, tidak terlalu terburu dan anggun. Sedangkan diriku yang terkesan penuh atraksi dengan tambahan beberapa sihir menjadikan makanan yang kubuat seperti berkilau.


Sihir yang aku maksud bukan sihir sesungguhnya, melainkan dengan menaburkan bumbu yang terlihat berkilauan di atas makanan itu sendiri. Jadi ketika di lihat akan seperti sihir.


Aku juga ingin meminta penilaian dari Hilda dengan masakan yang akan kubuat ini. Aku harap ia menyukainya.


Sekarang adalah gilirannya yang mulai bertanya kepadaku, awalnya ia bertanya kepadaku mengapa aku berada di bumi dan bukannya di Kastil Armhade. Mengetahui pertanyaan itu aku pun menjelaskannya secara detail.


Aku juga menceritakan diriku tentang kehidupanku saat bertemu dengan Reiss. Setelah itu aku menegaskan bahwa aku sesungguhnya bukanlah tuannya yang sesungguhnya. Lebih tepatnya aku adalah kepribadian baru dari Reiss itu sendiri.


Atau lebih tepatnya tubuh dengan identitas baru, tapi memiliki ingatannya yang dulu. Hingga saat ini Hilda masih mendengarkanku. Apakah seharusnya ia tidak melayaniku saja?

__ADS_1


Aku merasa sedikit bersalah kepadanya, "Apakah kau tidak keberatan melayani seorang laki-laki yang bahkan bukan keturunan bangsa langit lagi... Hilda?" tanyaku ragu.


Ia masih terdiam sambil memotong-motong beberapa daging ayam.


"Saya hanya melayani seorang lelaki luar biasa. Lelaki yang dituduh sebagai pengkhianat, hanya mau menyelamatkan orang tanpa balasan, dan mau memberi kebaikan karena itu adalah kebiasaannya. Terlebih lagi perhatian, baik dan juga tampan," tuturnya lembut, wajahnya sedikit merona dan bibirnya pun tersenyum tipis.


Benar-benar jawaban jujur yang sangat... luar biasa, aku hampir dibuat malu olehnya.


"Hmm? Tampan, aku? Hahahaha,” sahutku sembari memejamkan mata, “terima kasih.”


Hilda terdiam dalam senyum yang manis. Kami berdua masih melanjutkan masakan yang akan kami buat, karena makanan yang akan tersaji adalah semua yang aku sukai. Setelah beberapa saat akhirnya masakan kami telah selesai.


Hilda membawa setengah makanan itu dengan nampan, aku pun sama membawa setengahnya lagi dengan nampan. Kami meletakannya tepat di atas meja kayucokelat yang kokoh.


Kami mengambil kursi yang saling berhadapan. Tetapi, sebelum itu aku mengambil dua buah gelas air putih untuk kami berdua. Lalu akhirnya kami berdua menyantap makanan itu sambil bercerita lagi tentang masa lalu.


Mendengar awal cerita Hilda saat pertama kali bekerja sebagai pelayan di Kastil Armhade membuatku tertawa terpingkal-pingkal. Aku tidak percaya sebelum sifatnya seperti ini dia orangnya ceroboh dan juga pemalu sekali.


Lalu setelah kami menghabiskan makanan kami, seperti biasa aku yang mencuci piring. Sedangkan Hilda menyiapkan dua gelas jus alpukat yang manis. Setelah aku menyelesaikan piring-piring yang kotor itu, aku pun langsung beranjak menuju sofa.


Hilda telah menungguku di sana dengan segelas jus alpukat yang manis. Akhirnya aku pun duduk di sofa empuk itu tepat di samping kiri Hilda.


"Kuro?"


"Hmm?"


"Sebenarnya Pedang Regalia di tubuhmu—apakah sudah dalam bentuk yang sesungguhnya?" tanyanya sambil menyeruput segelas air.


"Bagaimana aku menjelaskannya ya? Ah... mungkin belum sepenuhnya," tuturku ringan.


"Lalu bagaimana kau tahu bahwa itu sudah dalam bentuk yang sebenarnya atau tidak?"


"Pedang itulah yang akan mengatakannya sendiri," jawabku.


"Huh?... "


"Kau tahu saat kita melawan pelahap pedang itu?" tanyaku balik.


"Tentu saja aku ingat. Lalu apa hubungannya dengan si pelahap pedang?"


Aku bisa melihat ekspresinya yang semakin bingung, entah mengapa aku suka sekali melihat rautnya yang kebingungan karena menurutku lucu.


"Saat itu ialah yang memberitahuku untuk mengeluarkannya—Pedang Lionheart," ucapku, setelah itu meneguk segelas Jus Alm di depanku.


"Lalu apakah kau tidak berbicara dengannya lagi, Kuro?"


"Hahahaha... menurutku itu tidak mungkin, Hilda," sahutku sambil tertawa kecil.


"Apakah karena sesuatu sehingga kau tidak bisa berbicara dengannya lagi?"


"Sebenarnya bisa, tapi ada beberapa syarat yang harus terpenuhi. Aku baru mengetahui beberapa di antaranya ... pertama jika aku di ambang kematian, ke dua ketika persyaratan untuk memanggil pedang baru atau pendang kedua, dan ke tiga adalah di saat lawanku bukan hal yang mudah untuk kukalahkan," tuturku. “Jika aku berhasil memasuki salah satu diantara persyaratan itu, aku baru bisa berbicara dengannya lagi," lanjutku lalu menghabiskan Jus Alm yang tersisa dalam sekali teguk.


Hilda mengangguk pelan, kemudian ia membereskan dua gelas yang telah kosong lalu membawanya ke dapur.


Sementara itu Kristal Athea tiba-tiba saja menyala. Menampakkan gambaran visual dengan Irina yang sedang memberikan beberapa pidato dan juga penjelasan tentang hari kedua di Astarte Festa.


Ia memaparkan bahwa akan ada beberapa pertunjukan dari murid-murid Akademi Swordia yang akan berkolaborasi dengan murid-murid dari Akademi Magistra. Mereka akan menampilkan beberapa atraksi maupun beberapa akrobat gabungan.


Sepertinya menarik untuk di tonton. Setelah itu aku pun langsung beranjak menuju kamarku, Hilda pun rupanya telah mengantuk akhirnya kami memutuskan untuk langsung pergi tidur setelah visual gambar itu selesai.


Malam tenang yang dipenuhi oleh teka-teki di hari esok.


Pagi datang dengan sendirinya, menyalurkan angin-angin sejuk di pagi hari yang cerah. Akhirnya hari ke dua Astarte Festa di mulai. Mungkin karena terbiasa aku pun langsung terbangun dengan sendirinya dengan pakaian yang acak-acakan.


Sebelum aku tidur tadi malam, aku telah mengganti bajuku dengan kaos polos putih yang rapi. Tetapi, sekarang telah berubah menjadi acak-acakan dan juga kusut. Dengan menguap serta merentangkan kedua tanganku untuk pemanasan di pagi hari.


Aku pun langsung beranjak dari ranjang menuju kamar mandi. Hilda pun menyapaku di pagi hari. Ia sepertinya sedang menyiapkan sarapan pagi, aku bisa mencium baunya yang harum.


"Hilda... aku akan mandi dulu sebentar, jika kau tidak keberatan menungguku untuk sarapan pagi tolong buatkan aku segelas teh hangat. Jika kau keberatan kau bisa memulainya tanpaku," tuturku cukup keras.


Suara yang senada pun membalasku dengan cepat, "Aku akan menunggumu, Kuro," balasnya.


Setelah mendengar jawabannya aku langsung melepaskan pakaianku dengan cepat. Setelah itu membasuh tubuhku... beberapa saat telah berlalu dan kini aku telahselesai.


Ketika aku mandi ada beberapa pertanyaan dan juga hal-hal yang tidak ingin aku lihat ketika festival ini berlangsung. Contohnya adalah apa yang akan terjadi setelah ini? Bagaimana akhir dari festival ini? atau semoga tidak terjadi sesuatu yang aneh pada festival ini.


Dengan anggapan itu aku yakin semuanya pasti akan berjalan dengan lancar.


Namun, setelah mengetahui jika Meist juga berada di kerajaan ini. Hatiku tidak bisa tenang, aku juga tidak tahu apa yang akan dilakukannya pada festival ini.


"Ah... Hilda, tentang pertanyaanmu tadi siang. Mungkin akan pergi menemui mereka tidak lama lagi," tuturku sambil tertawa kecil.


"Kalau begitu sebaiknya kita sarapan dulu sebelum dingin, Kuro," sahutnya lalu segera mengambil kursi di meja makan.


"Baiklah ... "


Aku pun langsung menyusulnya, tetapi entah mengapa wajahnya memerah tak karuan.


"Hilda, mengapa wajahmu memerah? Apa kau demam?" tanyaku heran.


"E-eum ... Kuro. Jika kau ingin melakukannya, mungkin lebih baik tadi malam saja”


“Maksudmu?”


Ketika lirik matanya turun ke arah perutku, aku pun mengikuti arah pandangnya dan voila....


“A-aku belum siap jika harus menjadi seorang I-Ibu...,” ucapnya dengan wajah memerah dan malu-malu.

__ADS_1


Persetan! Ternyata aku lupa belum mengenakan pakaian. Dengan perasaan malu, aku pun langsung berlari ke kamar untuk segera memakai baju.


__ADS_2