Sword Anthem

Sword Anthem
Chapter 26 - Kehidupan Kita


__ADS_3

Setelah kami berhasil keluar dari hutan kabut kematian. Tepat di ujung perbatasan antara hutan dan sebuah sungai. Sebuah batu yang menyerupai pedang tertancap tepat di tengah-tengah sungai itu.


Air yang jernih, biru kemilau samar yang memantulkan cahaya temaram dari matahari senja. Langit mulai bergerak lamban dan matahari pun ikut bergeser seiring waktu berjalan.


"Fear, apakah kau mempunyai sihir teleportasi?" tanyaku yang masih kelelahan.


"Hmmm ... apa?"


"Apakah kau bisa melakukan sihir teleportasi?"


"Sedari tadi aku pun mencobanya, tapi kabut ini menghalangi jalur Manaku. Jika aku menggunakan sihir berlebihan atau sihir skala besar, maka Manaku akan tersedot dengan cepat bahkan tak tersisa."


Sepertinya kabut yang berada di hutan ini memang bukan kabut biasa. Apakah kejanggalan ini ada sangkut pautnya dengan pedang batu yang tertancap di depan sana?


"Mungkin dengan mencabutnya akan menghilangkan kabut ini"


"Sepertinya akan berhasil, kalau begitu ayo."


Kami pun pergi ke sana, dengan langkah kakiku yang masih tertatih, Fear membantuku untuk berjalan. Ini semua berkat luka pada perutku yang belum pulih sepenuhnya, sehingga kondisi tubuhku masih lemah.


Aliran air yang tidak terlalu deras, hanya sampai ketinggian alas sepatuku. Lalu bersama-sama kami berdua pun mencabutnya. Pada awalnya cukup sulit tetapi dengan kepercayaan kami berdua, akhirnya pedang batu itu berhasil kami cabut.


Seluruh kabut yang melayang-layang di sekitar atas hutan pun lenyap dalam sekejap. Suasana dan juga kondisi hutan kembali normal. Hutan kembali sedia kala dengan suara-suara burung bernyanyi dan beberapa suara hembusan angin yang menyelinap melewati sela-sela dedaunan maupun semak-semak.


Bergemerisik dengan pelan, tapi dengan pemandangan yang lebih jelas tidak seperti tadi. Pepohonan yang menjulang ke atas langsung mengeluarkan buah-buah yang segar lengkap bersama bunga yang bermekaran di sekitarnya.


Rerumputan hijau yang tumbuh di tanah menurunkan embun-embun yang jernih. Nyaman, tenteram, dan juga sejuk. Meski cuaca kini mulai gelap tetapi kondisi hutan itu seperti pagi hari, apakah sekarang kami berdua berada di simpangan dimensi?


"Kalau begitu sekarang bagaimana? Setidaknya kita harus menemukan tempat untuk beristirahat," ucapku pelan.


"Apapun demi suamiku akan kulakukan. Kalau begitu sebentar," sahutnya sambil tersenyum manis.


[Biru yang membias di langit, tunjukkan jalan kepada kami]


[Cahaya penghujung fajar yang hangat, berikan kami kekuatan]


[Dalam ikatan yang menghubungkan kami berdua]


[Di dalam jalinan ingatan yang luas]


Aku, Fear Relestya]


[Membuka gerbang menuju hari esok]


Sebuah lingkaran cahaya muncul di atas serta di bawah kami. Berwarna biru langit transparan yang bersinar terang. Kepalaku pun menunduk karena refleks dan tidak sengaja melihat kaki Fear yang telanjang.


Dasar tidak bisa di harapkan.


Bibirku menyungging dan mengeluarkan senyuman kecil


"Seharusnya kau memberitahuku dari tadi," tuturku lembut.


" Hmmm?" gumamnya pelan, "apa yang kau maksud, suamiku?" tanyanya heran.


"Sudahlah, berpegangan yang erat ya," sahutku sambil mengambil napas, lalu menggendong Fear.


Walaupun kondisi tubuhku belum sepenuhnya pulih, tapi aku tidak bisa membiarkannya berjalan tanpa menggunakan alas. Yahh... setidaknya aku bisa melihat kembali wajahnya yang merona.


"Kau seharusnya bilang dari tadi jika kau tidak menggunakan alas kaki, dasar. Kini kau itu istriku, ingat itu. Setidaknya sayangi bagian tubuhmu sendiri, aku tidak ingin kau melukai kakimu sendiri," ucapku lembut.


Ia hanya terdiam dalam senyumnya yang manis. Wajahnya mulai terangkat dan ia pun mengecup pipi kananku dengan lembut, "Aku mencintaimu, Reiss," bisiknya pelan.


Lalu dengan sekejap penglihatanku menjadi putih....


Setelah beberapa saat, aku bisa merasakan sebuah kelembutan yang samar-samar, hingga akhirnya sebuah suara memanggilku dengan nada yang hangat, "Reiss, buka matamu ... kita sudah sampai."


Lalu pelan-pelan aku pun membuka kedua mataku. Tubuhku kini tepat berada di depan sebuah pintu kayu setinggi tubuhku. Tepat di bagian tengah-tengahnya terdapat sebuah ukiran rumah kecil.


Dengan refleks aku pun berbalik dan mendapati pemandangan baru yang jauh lebih sejuk untuk dipandang.


Jalan bebatuan, di bagian pinggirnya terdapat sebuah lentera yang  menggantung pada tiang kayu—berbaris sejajar dengan rapi.


Rumah-rumah yang cukup sederhana berjejer melengkung di sisi jalan. Tembok berwarna putih dengan jendela yang terang akan cahaya kuning samar dari dalamnya. Beberapa cerobong asap mengeluarkan asap-asap abu yang ramah.


Cahaya malam menghias di langit atas, dengan bulan sabit yang menjadi sorotan utama. Langit begitu indah dengan jembatan bintang kelap-kelip yang membentang sepanjang mata memandang. Cahaya bulan yang indah menyoroti tempat kami berdua.


Beberapa tembok raksasa mengitari tempat kami berada, dan aku dapat melihat beberapa bayangan yang bergerak di atas tembok itu. Agar kami berdua terhindar dari kecurigaan, aku pun langsung membuka pintu di depan kami.


Bel kecil berbunyi di atas pintu kanan. Lalu seorang perempuan yang cukup berumur keluar dari balik pintu dan menghampiri kami berdua. Di barengi dengan seorang anak kecil perempuan yang cukup menggemaskan.


"Selamat datang di Penginapan Kama, ada yang saya bisa bantu?"


Perempuan di hadapan kami  ini bisa di bilang sangat ramah. Wajahnya oval, dengan dua buah mata hangat berwarna cokelat gelap. Beberapa rambut hitamnya sudah berubah menjadi putih, model pakaiannya tampak seperti sudah tua. Bawahan yang seperti balkon, bundar dan mengembang.


Sebuah bando merah dengan rajutan yang indah terpasang di atas kepalanya. Untuk bagian lengan bajunya, pendek sekitar 10 sentimeter panjangnya. Sedangkan anak kecil yang sedari tadi bersembunyi di bawahnya hanya menatap kami penuh dengan teka-teki.


Wajahnya putih kecokelatan dengan dua buah mata bundar yang besar. Hidung kecil seperti ceri, merah dan juga sedikit cokelat. Rambutnya di biarkan terurai berwarna cokelat krim muda.

__ADS_1


Pakaiannya gaun sederhana berwarna cokelat temaram. Lengannya yang kecil tidak henti-hentinya meremas bawahan baju milik perempuan yang aku kira adalah Ibunya ini.


"Maaf, kami berdua ingin menginap setidaknya untuk dua atau tiga hari," ucapku ramah.


"Untuk satu atau dua orang? Kami menyediakan satu kamar dengan dua ranjang ataupun satu ranjang. Anda ingin memilih yang mana tuan?"


"Saya akan memesan yang satu ranjang saja, karena ini adalah hari pernikahan kami berdua." Fear hanya tersenyum di gendonganku.


Sedangkan perempuan yang aku sebut sebagai tuan rumah di sini terdiam, tapi tidak lama kemudian sebuah senyuman lebar dan hangat menyambut kami.


"Kalau begitu, silakan langsung saja ke lantai dua. Untuk pembayarannya Anda ingin sekarang atau nanti? Biaya yang di perlukan adalah sekitar 570 Mir," ucapnya ramah. " Termasuk dengan sarapan pagi dan makan malam


serta fasilitas seperti kamar mandi dan juga tempat memanah"


“Baiklah—“


"Apakah ini cukup," potong Fear dengan melepaskan rangkulan tangan kanannya. Kemudian ia mengodok saku pada bawahan gaun putihnya. Satu koin emas yang mengilat pun kini di pegang olehnya, lalu ia menyerahkannya.


"Setidaknya jika kurang saya akan memberikan satu lagi," lanjutnya.


Aku hanya dapat membisu. Dari mana ia mendapatkannya?


Sama halnya dengan perempuan di hadapan kami berdua. Ia hanya mematung seperti membeku karena kedinginan. Matanya tiba-tiba menjadi kaku dan wajahnya sesekali mengedut-ngedut seperti uratnya tertarik.


Jajaran gigi putih yang mulai mencokelatnya itu sesekali terlihat beberapa kali. Sedangkan anak kecil di belakangnya hanya bengong dan memasukkan jari telunjuknya untuk mengupil kemudian mengeluarkannya lagi.


Setelah itu mengelapkannya pada bawahan baju perempuan di depannya. Kakinya mulai menjinjit dan sesekali meloncat-loncat untuk mengambil koin emas yang di pegang oleh Fear. Pada akhirnya ia mendapatkannya namun terjatuh dengan bagian pantat yang terlebih dahulu mendarat di lantai.


Ekspresi wajahnya aneh, bukannya sakit tapi ia seakan sangat tertarik sekali dengan koin emas itu. Bukannya sakit malah senang." T-tentu saja, itu sudah cukup bagi saya. Mary ... berikan koin itu kepada nenek," ucapnya


lalu merebut koin itu dari tangan kecil cucuknya.


Jadi dia bukan anaknya melainkan cucuknya, aku kira anaknya. Tapi dari mana Fear mendapatkan koin emas itu?


"Nama saya adalah Emma dan ini cucuk saya Mary, jika ada yang dapatsaya bantu tinggal panggil saja di bawah," ucapnya ringan kemudian menunduk lalu pergi ke belakang meja yang seperti meja resepsionis.


"Kalau begitu kami berdua ke atas dahulu," ucapku dengan senyum tipis seraya memberi terima kasih, setelah itu kami pergi ke atas.


Rumah ini sangat bersih dan sepertinya terawat dengan baik. Setelah kami sampai di atas. Ada dua hingga empat buah pintu yang saling bertetangga. Lebih baik memilih yang paling pojok karena bisa melihat-lihat keluar.


Lalu aku pun berjalan hingga tepat berada di depan pintu itu. Lalu aku buka pelan-pelan. Satu buah ranjang putih, satu buah lemari baju, satu buah cermin dan sebuah meja kecil untuk menulis. Itu semua ada dalam ruangan yang kini akan aku tinggali.


Selepas itu aku menurunkan Fear secara perlahan di atas ranjang, karena beban pada pergelangan kaki serta luka pada perutku. Aku pun terjatuh di ranjang itu dan menimpanya tepat di atas dadanya.


Fear yang sedikit terkejut mengeluarkan teriakan kecil yang bisu. Tetapi setelah itu ia melihat wajahku, “Sayang, jika kau ingin—“


"Tidurlah, Reiss. Aku tahu perjalananmu berat...."


***


Dentaman bunyi lonceng yang cukup melengking memantul di koridor penginapan. Jendela kaca dekat tempat tidur sedikit bergetar. Cahaya matahari pagi mulai menyelinap melewati celah yang terkecil.


Membiaskan cahayanya yang kecil untuk menyengat kedua orang yang sedang tertidur nyenyak.


"Hoammmmm ... "


Mataku sedikit demi sedikit mulai terbuka. Secara refleks tangan kananku mengusap-ngusap wajah lelah ini yang akan menjadi segar.


Pada bagian lengan kiriku terasa berat. Ketika aku memalingkan wajah, Fear sedang tertidur menggunakan lengan kiriku sebagai bantalan. Kedua lengannya memeluk diriku dengan cukup erat.


"Wajahmu di pagi hari sungguh manis," gumamku sambil mengelus pipinya dengan tangan kanan.


Wajahnya yang terkena pantulan samar sinar matahari sangat lah indah. Membuat hatiku merasa nyaman berada di sampingnya. Aku harap hari seperti ini terus berjalan tanpa ada gangguan sedikit pun.


Kini aku ingin selalu bersamanya. Kedua matanya yang cukup lebar perlahan terbuka. Dan pada akhirnya wajah kami berdua saling berhadapan.


"Selamat pagi, sayang," ucapnya lembut sambil mengecup pipiku.


"Pagi hari sudah dapat kecupan saja ... hmm, mungkin aku akan terbiasa dengan ini."


Namun jauh di dalam hatiku, aku dapat melihat diriku sendiri sedang membuat wajah bahagia.


"Apakah kau bisa bangun sebentar? Aku tidak bisa bangun," tuturku ringan.


"Untuk sementara waktu biarkan aku seperti ini terlebih dahulu. Aku masih ingin seperti ini," sahutnya.


Umm... baiklah. Tapi dari mana kau bisa mendapatkan koin itu? Dan lagi tempat ini...?"


Fear lebih merapatkan tubuhnya ke padaku. Kini wajahnya berada tepat di sisiku, tubuhnya yang hangat menjadi kenyamanan tersendiri untukku.


"Koin itu aku dapatkan saat aku berada di hutan kabut kematian. Sebelum kau di temukan dan sebelum kita kemari," jawabnya sambil mengeluskanwajahnya ke pipiku.


"Lalu... tempat ini?"


"Sihir teleportasi yang aku gunakan itu adalah mata langit, jadi aku bisa mengetahui kota terdekat ataupun tempat terdekat yang di huni oleh makhluk hidup," ucapnya dengan bangga.


“Hehhh... jadi seperti itu, sampai sekarang aku masih belum mengerti apa kau benar putri langit? Sepertinya kau mengenalku sejak lama ya?"

__ADS_1


"Tentu saja dulu kita kan pernah bermain bersama, dan kau pernah menolongku," tuturnya. " Kau bahkan membuat janji bersamaku waktu dulu—


"Tunggu sebentar," potongku cepat. "Seingatku aku tidak pernah membuat janji dengan seorang perempuan dan terlebih lagi perempuan yang waktu itu aku tolong tingginya seukuran ini, bermata cokelat cerah dan juga berambut—


"Hmmm ... lalu," potongnya sambil membelai dagu serta pipiku.


"I-itu tidak mungkinkan." Sesekali alisku berkedut karena tidak percaya, "Apakah ini yang dinamakan sebagai kebetulan yang luar biasa?"


"Tidak, sama sekali bukan kebetulan tetapi ini takdir," tuturnya sambil merayap ke atas dadaku." Inilah yang aku suka darimu, Reiss. Baik, perhatian tetapi juga plinplan dan sedikit pelupa," ucapnya dengan tawakecil, “gadis kecil yang kau tolong waktu itu sudah bertambah dewasa dan kau bisa melihatnya tepat di depan matamu. Tinggi, mempesona, cantik dan manis bukan? Terlebih lagi dia sekarang telah menjadi istrimu," lanjutnya sambil menggelitik dadaku dengan memutar-mutarkan jari telunjuk kanannya di atas dadaku.


Aku hanya bisa menelan ludah ketika mendengarnya, apakah ini yang mereka sebut dengan sebuah buah yang telah kau tuaikan?


"Sepertinya ini mimpi, sebaiknya aku tidur kembali agar aku terbangun , selamat tidur," celetukku lalu memejamkan mata dengan cepat.


"Dasar, kau ini masa tidak percaya sih, kalau begitu—“


Tiba-tiba saja ia pun langsung memegang kedua pipiku dan kami pun saling bertukar ciuman hangat.  Mataku langsung terbuka menyambut kecupan bibir merah muda miliknya tepat di bibir lembab milikku.


Tak lama kemudian ia melepaskan ciumannya, "Kalau kau masih tidakpercaya, aku bisa melakukannya berulang kali bahkan sepanjang hari jika kau menginginkannya," tuturnya sambil cemberut.


Ughkkk ... aku kalah.


"Baiklah, baiklah, aku kalah. Lalu sekarang kita berada di mana?"


"Sekarang kita berada di Ibu Kota Ignia, dua kilometer dari sebelah barat Hutan Kabut Kematian Nehtervile," ucapnya tanpa ragu.


"Kemampuanmu itu sungguh luar biasa, aku tidak menyangkanya bahkan kau juga mengetahui letak serta nama tempat ini," jelasku kagum.


"Hmm ... siapa dulu, Fear Relestya yang cantik dan juga manis. Dan jangan lupakan istri dari seorang lelaki luar biasa bernama Reiss, hehehe," sahutnya sambil tertawa kecil.


"Dasar kau ini, hahaha."


Lalu entah dari mana sebuah selebaran mendarat di atas wajahku. Selebaran itu menampilkan sebuah gambar berupa wajah seorang lelaki. Di lukis dengan sangat baik sehingga wajahnya terlihat jelas.


"Sayang, apa itu?" tanyanya khawatir.


"Entahlah coba aku baca sebentar."


Aku pun langsung membacanya dengan suara sedikit keras agar Fear juga dapat mendengarnya, "Dicari Sang Pembantai Penyihir, hidup atau mati. Jika berhasil menangkapnya segera serahkan ke pengadilan agar di tindak lanjuti atau serahkan kepada pemimpin setempat. Hadiah bagi orang yang berhasil melakukannya akan di beri 1000 koin emas, ciri-ciri dari lelaki tersebut adalah berambut putih di ikat dengan dua buah mata merah seperti darah. Berpakaian hitam dan membawa sebilah pedang perak dengan sarung pedang hitam."


Setelah itu aku pun melirik Fear.


"Sepertinya ini bukan berita yang bagus, iya kan?"


"Begitulah, sepertinya memang gawat. Seorang pembunuh apalagi dia adalah seorang pembantai kejam jika aku lihat dari bentuk matanya"


"Kau bisa membaca sifatnya?! Kekuatanmu benar-benar di luar dari dugaanku, Fear—eh, maaf... s-sayang," ucapku cepat.


"Ya, menjadi seorang putri langit berarti bisa membaca sifat serta kelakuan seseorang. Dan yang aku lihat dari dirimu adalah putih bersih, yang berarti kau sangat lah baik dan juga tulus," tuturnya sambil memelukku.


"Terima kasih. Kalau begitu bisakah kita segera turun dari ranjang? Perutku sudah mulai lapar," ucapku malu.


Ketika perutku tiba-tiba berbunyi, Fear pun turun dari atas tubuhku pelan-pelan. Setelah itu giliranku untuk turun, aku berbalik dan betapa kagetnya melihat diriku dengan tampang seperti ini. Sebuah kaca persegi panjang


yang menempel pada lemari baju baru saja memantulkan diriku yang kacau ini.


"Whoaaa—“


"Ada apa, sayang?" celetuk Fear khawatir.


"Rupanya walaupun kacau, aku tampan juga ... hahaha."


Fear pun sontak hanya tertawa cekikikan karena melihat tingkah lakuku. Setelah itu ia menggenggam lengan kananku dengan tangan kirinya. Kami berdua segera keluar untuk turun ke bawah.


Wanginya sudah begitu tercium dan membuatku tidak tahan.


"Seandainya saja jika kita mempunyai rumah, mungkin aku yang akan memasakan makanan setiap hari untukmu, sayang," ucapnya sambil mendekatkan jari telunjuk kanannya ke dekat bibir tipis merah muda miliknya.


"Tenang saja, segera setelah ini aku akan bekerja dan akan membeli rumah untuk kita berdua," sahutku lalu mengecup keningnya dengan lembut.


"Ummm ... "


Wajah berseri dengan senyuman indah yang bersemi, itulah yang selalu ingin kulindungi. Wajah perempuan yang paling aku cintai saat ini.


 


.


.


.


 


Hai semua! Nama gue ReIN dan terima kasih karena telah memberikan gue kesempatan untuk menemani malam jomblo loe! Jika kalian menyukai cerita ini maka berikan jempol ke atas dan jika tidak cukup vote lalu sebarkan cerita ini. Jangan lupa berikan komentar dan tips agar sang Author tetap semangat update ceritanya!


 

__ADS_1


 


__ADS_2