
Kami berdua saling beradu dengan pedang, walaupun punyaku adalah sebatas kayu. Sedangkan milik Reya adalah pedang asli. Ia melancarkan serangan ganda dengan cepat. Tebasan kiri dan kanan yang di sertai beberapa tendangan kaki kanan yang lincah.
Aku pun menghindari semua serangan dengan mengelak, berada di belakangnya lalu menyentak betis kaki kirinya yang terbuka lebar.
"Ingat, setelah melakukan serangan perhatikan bagian tubuhmu yang lainnya. Jangan sampai lengah," ucapku menceramahi.
"Bukankah Instruktur Kuro tidak akan menyerangku?" tanyanya panik.
"Hmm ... tapi kau sendiri kan yang bilang 'mari kita mulai pertarungan sesungguhnya ini', kau seorang lelaki jadi jangan pernah menarik kata-katamu"
"Hehehe ... maafkan aku, Instruktur Kuro. Kalau begitu aku datang ... haaaaa!!"
Setelah itu Reya menghuyungkan pedangnya seperti kapak, dalam penggambaranku itu adalah sebuah teknik pada keterampilan seni berpedang. Pasti Van telah melatihnya dengan baik sebelum aku mengajar di sini.
Serangan itu adalah pukulan kuat yang dapat membuat musuhnya terhuyung pusing dan akhirnya tumbang dalam satu serangan. Aku berusaha menahannya tetapi aku sadar bahwa batas pedang kayuku ini sudah pada waktunya sama seperti batas pada tubuhku.
Suara retakan terdengar dari arah pedang yang kugenggam, alhasil pedang ini pun hampir hancur. Reya tersenyum akan kemenangan kali ini. Ia berpikir bahwa akhirnya ia dapat mengalahkan instrukturnya.
Namun semua itu belumlah berakhir selama pedangku masih berfungsi, semua kemungkinan dapat terjadi tanpa kita duga. Dan pertarungan ini masih berlanjut hingga aku bisa menyentuh pundaknya atau ialah yang berhasil memojokkan diriku.
Kami berdua saling berlari menuju samping lapangan, setelah itu melompat secara bersamaan di barengi dengan sebuah serangan. Kami berdua sama-sama melesatkan tendangan menyamping yang kuat.
Saling bertubrukan dan kami pun terhempas cukup jauh. Rasanya cukup menyakitkan, aku tidak tahu apakah ia juga merasakan hal yang sama sepertiku?
Walaupun nanti terpincang-pincang tetapi aku dapat menahannya dengan kekuatan otot kaki. Aku menerjang Reya dengan sebuah pukulan tangan kiri menyamping, seperti sebuah pukulan Hook. Reya menahannya dengan kedua tangan yang di bentuk seperti perisai.
Reya melancarkan sikut tangan kirinya ke arah wajahnya, aku berhasilmenahannya dengan kepalan tangan kananku. Lalu tanpa menunggu lagi di susul oleh sebuah pukulan lurus menusuk ke arah perutku yang terbuka lebar.
Semua yang menonton bersorak, ia berhasil memberikan luka kepadaku, gurunya sendiri. Namun senyumnya pudar karena mengetahui yang ia pukul bukanlah perutku melainkan tulang keringku.
"Instruktur Kuro, Anda penuh kejutan ...," celetuk Reya.
Aku hanya tersenyum kecil kemudian membalasnya dengan mencengkeram leher baju miliknya.
Sepertinya aku bisa melihat Fear yang sedang duduk di atas bangku penonton mulai menghitung detik-detik batas kekuatanku.
Setelah berhasil kucengkeram, dengan cepat ia berusaha memberontak.
Sial waktuku tidak akan lama lagi.
Dengan sekuat tenaga kutarik leher baju miliknya, ia tersungkur kemudian kuangkat tubuhnya dengan kekuatan yang masih tersisa di dalam tubuhku. Setelahberhasil mengangkatnya, tanpa ragi lagi aku hantamkan dengan tekanan yang sangat keras, ia tersentak cukup kesakitan, dan akhirnya pasrah.
Lalu sebagai serangan terakhirku, aku pun melancarkan pukulan ke sisi kepalanya. Sama seperti saat itu, sebuah lubang yang cukup besar tercipta. Membekas dengan nyata di lapangan itu dan itu lah tanda sebagai akhir dari pertarungan ini dan tanda bahwa akulah sang pemenang.
"Aku menyerah," teriak Reya dengan lantang.
Dan itulah akhir dari sesi latihan terakhirku dengan para Kesatria Legiun.
Hanya tersisa empat detik lagi, empat detik untuk mengeluarkan sisa kekuatan yang aku miliki dalam tubuh ini. Suara yang tidak aku sangka-sangka membuatku tersenyum begitu lebar dan rasa haru terlihat sangat jelas di wajahku yang kelelahan ini.
"WHUOOOOOO ... INSTURKTUR KURO, MENANGGGGG!!!"
Mereka adalah murid-murid didikku. Mereka berlari ke arahku dengan sangat antusias dan juga semangat. Loki berlari sangat cepat ke arahku, disusul oleh Mai dan juga Shiena. Sementara yang lainnya tertinggal di belakang.
Setelah melihat ketiga di antara mereka berlari menuju diriku, akhirnyamereka pun ikut berlari menghampiriku. Orang pertama yang menghajarku dengan sundulannya adalah Mai, lalu Shiena , setelah itu Loki dan terakhir adalah yanglainnya.
Aku langsung terjatuh seketika menerima tiga buah serangan yang tidak bisa kuhindari itu. Mai dan Shiena memelukku dengan erat sambil memanggil namaku berulang kali. Mata mereka berlinang air mata sedangkan Loki tak henti-hentinya meneriaki dengan sebutan' INSTRUKTUR KURO SANG PAHLAWAN KELAS KITA'.
Loki kau begitu semangat sekali walaupun aku yang menang, tetapi tak apalah lagi pula setelah ini aku akan meninggalkan kerajaan ini. Membuat sebuah kenangan tidak seburuk apa yang kukira.
Anehnya Mai dan juga Shiena tak mau lepas dari tubuhku, bahkan murid yang lain sudah melepaskanku. Ahkkk ... aku kehabisan udara dalam paru-paruku, sesak. Empat buah benda elastis terus menekan tubuhku tanpa ampun.
Walaupun empuk dan nyaman serta menyenangkan untuk dirasakan, namun empat buah benda itu memiliki efek samping yang sangat berbahaya. Jika kau terjepit di antara tengah-tengahnya kau akan pingsan dalam kurun waktu tujuh detik.
Itulah yang pernah aku rasakan dulu. Tapi bagaimana aku bisa melepaskan mereka jika mereka masih menangis bahagia?
"Shiena ... Mai, bisakah kalian melepaskanku?" mohonku dengan
sangat teramat.
Mereka tidak merespons sama sekali, mereka terus mendorong benda di dadamereka untuk membunuhku tanpa henti. Secara pelan dan juga halus.
"Ahkkkk .. lepaskan aku, cepat atau aku akan pingsan"
Dengan cara paksa aku enyahkan mereka dengan mencengkeram erat kepala mereka, kemudian meremasnya dengan cukup kuat." Hentikan itu segera, atau kalian ingin instruktur kalian ini mati tidak bisa bernapas?" tanyaku
dengan wajah pucat.
Mendengar hal itu mereka pun melepaskan pelukan mereka. untung benda itu berukuran D-cup, untung bukan F atau G kalau sebesar itu aku sekarang sudah berada di ruang perawatan.
Setelah itu Loki membantuku untuk berdiri, sementara yang lainnya berdiri di belakang kami. Shiena dan Mai akhirnya tidak menangis lagi. Kini mereka berdiri di samping kananku. Sedangkan yang lainnya mengibar-ngibarkan bendera yang dibawa oleh Loki saat pertandingan baru saja dimulai.
Reya pun bangkit, dan Kesatria yang lainnya ikut menghampiri diriku. Setelah staminaku cukup untuk membuat diriku berdiri, aku meminta Loki untuk tidak merangkul pundakku lagi.
"Kalau begitu inilah hasilnya, apa kalian puas?"
Mereka terdiam tetapi tidak untuk Hiro dan Reya.
"Whuooo ... Instriktur Kuro, Anda hebat sekali. Trik macam apa hingga Anda bisa tiba-tiba bergerak secepat itu? Apakah sihir tingkat baru atau evolusi sihir?" tanya Hiro kegirangan.
"Itu hanya kekuatan fisik, jika kau melatihnya aku yakin kau juga bisa melakukannya," sahutku dengan senyum tipis.
Hiro menggelengkan kepalanya namun matanya sangat menunjukkan api semangat.
"Instruktur Kuro, aku kalah untuk kedua kalinya."
Wajah para Kesatria Legiun membeku, tetapi tidak untuk Velia. Ia hanya tertawa kecil.
"Heh ... apakah aku belum pernah menceritakannya kepada kalian?"
"TIDAKKK, SAMA SEKALI TIDAKKK PERNAHHH REYAA," ucap mereka serentak seperti serdadu.
"Hehhh ... jadi belum yah, kalau belum akan ku ceritakan secara singkat, padat dan sangat jelas dengan lima kata. Aku-Kalah-Dari-Instruktur-Lagi... gimana jelaskan?" jelas Reya puas.
Mereka hanya dapat terdiam dan beberapa lama kemudian Fear, Rena dan juga Aresya serta instruktur lainnya menghampiriku.
"Penampilan yang bagus sekali, Kuro~" ucap Aresya ringan.
Sepertinya aku melihat ekspresi yang sama dari mereka semua.
"Behentilah memanggilku dengan nada itu, Aresya," sahutku.
"Ara ... tapi itu nada yang bagus, bukan?"
"Bagus darimana? ... lupakan itu," ucapku, aku pun terjatuh karena kelelahan dan akhirnya duduk agar mereka tidak terlalu mengkhawatirkan diriku lagi. "Sekarang adalah waktunya mengajar ... terutama kalian—ya, yang aku
__ADS_1
maksud adalah kalian wahai Kesatria Legiun... "
"Pertama kalian terlalu banyak titik lemah, kedua kalian terlalu membanggakan kekuatan kalian. Terutama Sightmund dan Mea, jika kalian sebegitu tertekan karena serangan hebat kalian di hentikan, bagaimana jika itu dalam pertempuran asli dan bukan pelatihan sudah pasti kalian akan mati" jelasku tegas.
"Ke tiga, usahakan gunakan stamina kalian dengan bijak. Serangan yang kalian keluarkan terlalu banyak kesalahan terutama kau Hiro!"
"Aku?"
"Iya, jika kau telah berhasil mengeluarkan sebuah sihir pastikan bagian belakangmu aman. Tidak seperti tadi, jika kau tidak mengubah gaya bertarungmu cepat atau lambat kau akan kalah"
"Ughhh ... baiklah, Instruktur Kuro"
"Kau bisa meminta Instruktur Fay mengenai hal itu, itu adalah caraalternatif yang paling cepat," lanjutku santai. "Instruktur Fay, mohon bantuannya.”
Ia hanya tersenyum kemudian mengangguk, sepertinya aku mendapatkan iya secara tidak langsung.
"Dan yang terakhir adalah biasakanlah dalam penggabungan serangan, tadi kalian sangat tidak terkoordinir sekali bahkan terkesan berantakan ... cukup sampai di sini," jelasku lalu bernapas lega.
"Instruktur Kuro, Anda kadang-kadang bisa seram juga ya?" ucap Reya.
"Hmm? Menurutku biasa-biasa saja," sahutku.
Setelah itu aku hanya bisa membayangkan ke depannya seperti apa dan langkah apa yang bisa kuambil untuk meningkatkan kemampuan mereka.
"Kalau begitu kalian bisa kembali ke kelas kalian, instruktur kalian ini akan ke sana sebentar lagi," ucapku kepada semua murid kelasku.
Mereka pun mengangguk, mengerti kondisiku sedang kelelahan dan mereka pun segera berjalan menuju dalam gedung. Sementara para Kesatria Legiun masih merenungi apa yang aku katakan, Aresya dan Rena mendekatiku.
"Instruktur Kuro, pertarungan yang tadi hebat sekali," ucap Rena sambil tersenyum kecil.
"Huh? Ah, oh ... terima kasih, Rena."
"Kalau begitu sebagai pemenang dari pelatihan ini maka saya secara langsung yang akan memberikan hadiahnya."
Aresya mendekati wajahku, Velia yang melihat itu segera menghentikannya namun mereka berdua kalah cepat dengan seorang gadis kecil berkelas, memiliki rambut merah marun yang cantik. Berkulit putih dan memiliki warna mata yang sama seperti rambutnya.
Sebuah kecupan mendarat di pipi kananku dan itu membuatku kaget, orang yang memberikannya bukan lain adalah Fear sendiri.
"Ouuu ... Kuro, kau telah berjuang dengan keras. Ini adalah hadian dariku"
"He ... Hehhh!!"
Ini baru pertama kalinya Fear seperti ini, ada apa sebenarnya?
"Fear apakah kau sakit? Atau demam? Atau kelainan? Jarang sekali kau seperti ini"
"Tidak sopan ... walaupun loli aku ini tetap seorang perempuan," sahutnya sambil membusungkan dadanya yang rata seperti talenan.
Velia dan Aresya kaget, mereka saling bertukar pandang. Tidak lama kemudian mereka saling memandang dengan tatapan rival. Tetapi, bagi mereka yang bisa melihatnya tertawa kecil.
"Kuro adalah milikku titik tanpa koma," ucap Fear dengan bangga, suaranya yang kecil itu membuat Fay bergidik.
Ia seperti melihat seekor kucing yang sangat lucu sekali sehingga mata mereka berbina dan napas mereka mendengus. Entah mengapa aku melihat Van mulaisedikit menjauh.
Bhuakk ... ahkk
Tiba-tiba saja Fay langsung melompat ke arah Fear yang berada tepat di depanku. Fear dengan gesit langsung menghindar sementara itu Fay dengan telak menghantam wajahku dengan dua buah benda empuknya seperti tidak keberatan.
Lagi-lagi aku mengalami hari-hari kritis.
"Anhhh ... Instruktur Kuro, bisakah kau tidak bernapas atau berbicara itu membuat dadaku geli," sahut Fay dengan mendengus dan tanpamerasa ia telah bersalah kepadaku.
Tanpa bernapas sama dengan mati, tanpa berbicara sama dengan mati ... Fay kau ingin MEBUNUHKU ya!?
Aku kesulitan untuk bernapas, tetapi pada akhirnya aku berhasil menggapai sesuatu.
"Hmm ... lembut? ...."
Saat kubuka mataku yang kupegang adalah dada milik Velia yang berada di sebelah kanan Fay, Fear yang melihat itu langsung menimpa tubuh Fay dengan kesal.
"Dasar lemak tak berguna!" gerutunya kesal.
"Hyaaaa ... Instruktur Kuro, jangan di sini. Hyaaa ..."
Aku tidak tahu apa yang terjadi di sana tetapi aku hanya bisa mendengar Aresya, "Hmm ... kau hebat juga bisa menyentuh bagian tubuh Velia, apalagi bagian pentingnya. Kuro~ kau memang beruntung"
"Hahahaha ... semangat sekali kau, Instruktur Kuro. Posisi yang sangat erotis ... nice."
Apakah tadi itu suara Reya dan Grey?
Bukan seperti itu maksudku ... sial, aku akan mati aku akan mati aku akan mati ... ahhhhhh, seseorang tolong aku. Aku tidak ingin mati menggelikan setidaknya biarkan aku mempunyai seorang anak dulu....
Pada akhirnya aku melepaskan cengkeramanku itu, Aresya berusaha membantu Fay untuk berdiri. Sedangkan Fear tampaknya berusaha menyingkirkan Velia dariku dengan menarik tangannya tapi anehnya Fay juga lemas.
Aku tidak mengira hidupku begitu singkat, setelah aku yakin tidak ada yang menimpaku lagi. Aku berusaha untuk bangun tapi tidak untuk satu hal—
Fear melompat ke arahku lalu menghantam perutku dengan sangat keras, aku tersentak kesakitan dan mulai tak sadarkan diri. Tapi aku berhasil menahan rasa sakit itu agar tidak pingsan.
Wajahku mulai memucat, "Fear, menyingkirlah dari atas tubuhku," pintaku dengan nada sekarat.
Tapi ia menghiraukannya dan langsung menggenggam tangan kananku, lalu menariknya ke bagian dada kebanggaannya.
"Ouu ... Kuro, bagaimana rasanya? Apakah kau terangsang?" ucap Fear dengan polos dan tanpa penyesalan sekali.
Kini seperti sebuah ilusi, rohku keluar dari mulut dan wajahku kini seutuhnya pucat, tapi ku tarik lagi semua itu. Kesadaranku pulih lalu melepaskan genggaman tangan mungil Fear dari dada miliknya. Setelah itu menyentaknya sambil memberikan sebuah pukulan tepat di kepalanya.
"Dasar bodoh, apa kau ingin aku mati menggelikan di sini, Fear?" bentakku dengan garang, ada aura penindasan dari kedua mataku.
Dalam hatiku yang paling dalam, aku ingin sekali mengutuk tingkah lakunya yang sialan ini.
"Hiii ... baiklah aku tidak akan mengulanginya lagi... "
"Akhirnya kau menyesal juga dan untuk kalian semua berhentilah menatapku dengan mata menjijikkan. Ini semua karena salahnya," ucapku datar lalu *** kepala kecil Fear setelah itu membalikkannya.
Mereka semua tertawa geli mendengarnya setelah itu aku pun bangkit dengan stamina yang masih tersisa, walaupun rasanya berat seperti di timpa sesuatu tetapi aku berusaha. Akhirnya aku berdiri walaupun kakiku gemetar.
"Ara ... Kuro~, kau tampak kelelahan sekali. Lebih baik segera ke ruang perawatan," saran Aresya.
"I-ide yang bagus, kali ini aku turuti kemauanmu, Aresya," sahutku lalu berjalan menuju ruang perawatan. Karena merasa bersalah, Fay membantuku untuk berjalan.
"Aku bisa berjalan sendiri kok, maaf merepotkan," lanjutku dengan wajah sedikit pucat.
"Hmm ... anu ... ini salahku hingga Instruktur Kuro jadi seperti ini. Jadi biarkan aku membantumu kali ini," sahutnya, suaranya lembut sekali dan hangat.
Bukan itu maksudnya! Yang ada aku akan pingsan sebelum aku sampai di ruangan perawatan.
__ADS_1
Fay merangkul pundak sambil membantuku untuk berjalan.
"Baiklah semuanya, karena Instruktur Kuro kelelahan. Sebaiknya kalian pergi ke kelas masing-masing, dan untuk para guru yang masih di sini segera menuju kelasnya masing-masing juga. Murid-murid kalian telah menunggu," ucap Aresya dengan riang.
Setelah itu semua Kesatria Legiun pergi meninggalkan lapangan bersama instruktur yang tersisa. Aresya dan Rena mengikuti di belakang mereka sedangkan Fear ia terus saja memegangi kepala mungilnya sambil mengemut permen.
Namun siapa sangka gerbang depan akademi hancur dalam sekali serang oleh sebuah makhluk raksasa. Ia memiliki sepasang sayap yang keras dan tanduk yang menjurus ke atas. Rahangnya sangat besar dan terlihat tajam.
Aresya dan Rena yang paling belakang tersentak kaget, ke lima guru lainnya besiap-siap dalam posisi bertempur. Sedangkan para Kesatria Legiun bertugas melindungi murid-murid lainnya atas perintah Aresya.
Aku yang masih sangat kelelahan bahkan dapat di bilang setengah sadar, hanya dapat terdiam. Walaupun staminaku sedikit pulih, tetapi jika aku ikut bertarung mungkin aku akan benar-benar tidak sadarkan diri.
Kasus yang paling mengerikan adalah mungkin saja aku akan koma dan terbaring dalam waktu yang lama. Fay yang membantuku untuk berdiri terus berjalan ke arah gedung akademi sambil melafalkan sebuah sihir pelindung tingkat tiga ke arah gedung akademi.
Tembok yang terbuat oleh cahaya transparan langsung membentang lebar. Menyelubungi gedung akademi dengan perlindungannya, tapi aku tahu sihir itu tidak akan bertahan lama.
Fear berjalan di belakangku untuk mengantisipasi serangan tiba-tiba dari monster itu. Murid-murid di dalam gedung akademi terlihat kocar-kacir mencari perlindungan. Mereka semua masuk ke dalam kelasnya masing-masing dengan panik.
Sebelumnya mereka di serang oleh seekor Orc raksasa, tapi untuk kali ini sepertinya berbeda. Karena monster yang baru saja menyerang memiliki tinggi setara dengan gedung akademi. Semua Kesatria Legiun telah berada pada posisinya.
Mereka bersiap dalam posisi bertahan, melindungi gedung akademi selama mungkin. Mereka belum tahu kemampuan monster itu, tapi jika melihat wajah mereka yang beku. Dapat di pastikan mereka saja tidak akan mampu mengalahkannya.
Aresya, Rena dan Van serta instruktur lainnya sudah dalam posisi bertempur. Van mengeluarkan pedang dari sabuk kirinya, mengeluarkan aura dingin berwarna biru.
Kini Aresya juga ikut bertempur, Rena yang melihat sikap orang yang di hormatinya itu cukup kaget.
Sebelumnya ia tidak pernah memasang raut wajah seperti itu, tetapi kali ini ia seperti cukup ketakutan. Rena pun kini mengerti situasi yang mereka hadapi, bahkan sang Guardian of Life sendiri tidak percaya dengan sosok Monster itu.
"I-ini seharusnya tidak terjadi!"
Aresya tampak sedikit gusar, sikapnya itu membuat pertanyaan dari ke limaguru dan juga Rena sendiri.
"Makhluk mitologi, Skeletal Dragon!"
Dengan sigap ia pun melebarkan kedua kepalan tangannya, membukanya. Memperlihatkan punggung serta telapak tangannya yang putih, dari kedua belah sisi itu sebuah aliran listrik berwarna merah berkecamuk dahsyat.
"Datanglah kepada tuanmu ... Grimoire Book of Spell!"
Lalu sebuah distorsi kegelapan muncul di atas kepalanya, setelah itu hancurberkeping-keping berubah menjadi sebuah buku yang cukup tebal. Pada kover depannya terdapat lambang sayap hitam yang robek.
Pinggirnya di liliti oleh ranting yang kering dengan beberapa daun tumbuh di sisinya. Bibir Aresya bergerak cepat, ia melafalkan sebuah Rune yang cukup panjang. Dalam satu hitungan ini akan menentukan apakah ia bisa mengalahkan monster yang pernah memberikan kenangan kelam pada hidupnya itu.
Ataukah kenangan itu akan terulang kembali. Melihat keseriusannya itu semua instruktur dan Rena berjaga di belakangnya. Lalu Rune berwarna hijau pun keluar dari dalam buku yang di pegangnya.
Rune-rune itu mengambang dilangit-langit seperti di lukis oleh sebuah kuas yang di namakan Mana dan sebuah energi dahsyat muncul—bergemuruh.
"Execute ... Black Hole!!!"
Sebuah lubang kecil muncul di dekat Skeletal Dragon itu, listrik-listrik keluar dengan dahsyat. Menyedot semua benda bahkan makhluk yang berada di dalam jangkauannya. Skeletal Dragon itu mengaung dengan keras.
Ia berusaha lepas dari sihir terlarang itu, semakin ia memberontak semakin pula kuat daya hisapnya. Tetapi siapa sangka makhluk itu menghisap sihir milik Aresya dengan begitu mudahnya. Aresya membeku dengan ketakutan, mimik wajahnya berubah menjadi pucat.
Sihir yang pernah di ajarkan oleh gurunya itu, begitu mudah di hempaskan oleh makhluk raksasa yang kini masih berdiri tegap mengepakkan sayapnya tepat di hadapan Aresya. Aku pun langsung menengok apa yang terjadi dengan pertarungan mereka, tetapi aku lagi-lagi melihat ekspresi ketakutan Aresya.
Itu mengingatkannya dengan peristiwa 283 tahun yang lalu, ketika ia pernah kehilangan lengan kirinya ketika bertarung dengan makhluk yang hampir sama dengan yang kini berada di sana.
Aku berusaha lepas dari rangkulan Fay. Walaupun tenagaku belum sepenuhnya pulih aku dapat lepas dari mereka berdua. Setelah itu kurangkul lalu kupeluk.
"Tolong jaga akademi ini jika aku tidak ada," bisikku ke telinganya dengan halus.
Fay yang kala itu mendengarnya langsung tersentak dengan mata yang melebar.
Setelah itu aku melepasnya, "Hanya ada satu cara yang bisa mengalahkan makhluk itu, jadi diamlah di sini," ucapku lirih lalu tersenyum kecil.
"I-Instruktur Kuro, apa yang Anda kata—“
Whoargghhhhh!!!
Tiba-tiba saja Fay tidak bisa bergerak, seakan-akan kakinya terikat oleh sesuatu yang tak kasat mata.
Raungan ini ... salah satu kemampuan untuk membuat musuhnya tidak bisa bergerak. Karena raungan atau teriakan tadi telah di bumbui oleh sihir pengekang.
Fear masih bisa bergerak tapi wajahnya cukup pucat, ia ketakutan ketika memakan permennya itu. Aku pun menghampiri dirinya dengan lemah, tidak lama ketika aku berada di hadapannya, tanganku bergerak sendiri dan merangkulnya dengan lembut.
"K-kuro?"
"Fear, aku tidak tahu sampai kapan aku hidup lagi. Jika... jika aku menghilang tolong jaga semuanya," bisikku dengan lirih. Setelah itu aku memeluknya lebih erat.
Aku dapat merasakan tubuhnya bergetar hebat. Tidak lama setelah itu terdengar sebuah isakan kecil yang khas darinya, kedua matanya melebar, dan tangan mungilnya yang berusaha meraihku perlahan-lahan terjatuh.
Dengan permintaan terakhirku itu, aku pun segera beranjak membelakanginya. Berjalan perlahan dengan kaki yang lemah, setelah itu tersenyum layaknya orang bodoh yang berpikiran pasti semuanya akan baik-baik saja, “Tenanglah Fear, jika aku menghilang. Aku akan selalu berada di dalam hati kecilmu. Jadi berjanjilah ketika aku pergi kau jangan menangis lagi, karena aku tahu... kau adalah seorang gadis kecil yang kuat."
Setelah itu aku pun berlari cepat dan menyerahkan Fear kepada Fay. Sekarang aku tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa lagi dan terus bergerak sekuat mungkin.
"Baiklah, waktuku hanya tersisa empat detik untuk bertarung. Apakah aku akan mati atau hidup?"
Di saat penuh keputusasaan seperti ini kenangan yang dulu terkubur kembali merekah keluar. Membanjiri seisi kepalaku dengan kejadian itu—ya, kejadian yang membuatku menjadi kambing hitam dari percobaan takdir.
Kejadian yang bukan saja merenggut keluargaku, bahkan memisahkanku dengan mereka—sahabat, teman seperjuangan, kota, taman kesukaanku, tempat di mana aku bisa tidur siang, cinta, dan juga persahabatan.
Kulihat Aresya tidak bisa bergerak dan wajahnya sangat ketakutan, sedangkan Rena menunjukkan wajah yang tidak percaya sama sekali dengan apa yang ia lihat. Serangan Aresya, orang yang ia hormati itu tak bisa memberikan luka pada Skeletal Dragon itu.
Ketika aku mencoba untuk berlari, entah bagaimana tubuh Aresya terlempar ke arahku. untungnya aku berhasil menangkapnya, lalu melepaskannya kembali, dan berlari menerjang makhluk besar di depan sana.
"KUROOOOOO!!!"
Dasar bodoh! Mengapa ia harus berteriak segala memanggil namaku. Tapi tenanglah, mantan gurumu ini ada di sini. Setidaknya itu bisa membuatku lega karena peranku sebagai instruktur magang akan segera berakhir.
"Semua yang terlahir akan kembali menuju asalnya... melewati batas—pengorbanansang naga hitam, Dragon Eater!!”
Aku melompat ke arah Skeletal Dragon itu, tangan kananku hancur meninggalkan bercak-bercak darah yang membuncah. Dari dalam darah itu muncul dua buah kepala naga berwarna hitam pekat.
Kepala naga pertama muncul dari tanah dan yang kedua muncul dari langit, masing-masing kepala naga itu langsung menghantam Skeletal Dragon dengan dahsyat. Merobek-robek tulangnya, menghancurkan saluran Mananya, membakarnya dengan hebat dan meledakkannya menjadi tulang-belulang yang tak berarti sama
sekali.
Ia meraung dengan dahsyat, suaranya membuat kaca-kaca gedung akademi pecah berhamburan. Suara teriakan murid perempuan terdengar melengking di dalam gedung itu. Fear berusaha bangkit dan berlari ke arahku dengan sekuat tenaganya.
Namun itu sia-sia saat Skeletal Dragon itu benar-benar telah musnah, aku berdiri dengan tatapan orang mati. Darah yang kali ini membanjiri tubuhku bukandarah sang Skeletal Dragon tetapi darahku sendiri.
Pandanganku mulai kabur, jantungku perlahan mulai berhenti berdetak. Kupalingkan wajahku yang penuh dengan darah ke arah Fear. Aku tersenyum kecil lalu ambruk dengan tubuh yang hancur.
Mataku begitu terasa perih... tetapi setidaknya aku masih bisa melihat mereka berdua berdiri di sana, melihatku dengan mata histeris yang penuh kengerian.
“Fear... Velia....”
__ADS_1