
Kini aku telah tiba di daratan hijau yang luas, setelah melakukan perjalanan kurang lebih sekitar dua jam dengan berjalan santai. Akhirnya aku sampai di tempat mangsaku berada.
Daratan Alv, di mana tempat ini adalah padang rumput yang luas. Dengan hembusan angin yang stagnan dan menyejukan. Biasanya ini adalah tempat para Cocktrice beradanamun sepertinya mereka sedang bepergian mencari sarang bagi anak mereka yang akan tumbuh.
Dan seperti informasi yang di beritahukan Frei kepadaku, Troll itu selalu datang ke padang rumput ini setiap pukul dua siang. Ia mengumpulkan bekas-bekas telur dari para Cocktrice untuk di jadikan bahan baju tempurnya.
Lebih tepat bahan untuk memperkuat bagian lapisan terluar. Aku bersembunyi di balik semak untuk mengamati. Ku lihat letak matahari sudah condong 45ᵒ kesebelah barat dari biasanya. Berarti bentar lagi adalah waktunya ia keluar dari persembunyiannya.
Suara gemerisik rerumputan terdengar dengan jelas di sebelah kanan sana. Sesosok makhluk berwarna hijau besar berjalan menuju tengah padang rumput. Ia menggunakan helm tengkorak, di pinggannya terdapat sabuk kulit ular. Ia
menggenggam sebuah kampak yang besar.
Bawahnya telanjang kaki.Hingga ke atas tertutupi oleh celana berbahan dasar kulit pohon dan juga tali belukar. Kulitnya berwarna hijau pucat. Matanya merah menyala, giginya terlihat runcing keluar dari bagian bawah mulut hingga atas. Ia menggunakan sebuah kalung tengkorak di bagian lehernya.
Ia berjalan untuk memunguti sisa bekas telur Cocktrice. Setelah ia mendapati cukup banyak kulit untuk ia sendiri, kemudian aku keluar dari persembunyianku. Berjalan perlahan agar lebih dekat dengan Troll itu.
Ia merasa waspada, lalu ia berbalik ke belakang. Ia mendapati diriku sedang berjalan menuju ke arahnya. Dengan matanya yang merah menyala ia berteriak, meneriakan sesuatu yang tidak jelas dan tidak dapat kupahami.
Mulutnya berdecak bergumam. Kemudian ia berlari ke arahku sambil mengayunkan kampak besar yang ia pegang.
Kampaknya melayang di udara secara vertikal dan diagonal, menyamping dan lurus. Namun semua itu kuhindari dengan cepat. Menunduk, mengelak lalu melompat ke belakang dengan mulus.
Kini aku berada di belakangnya. Sosoknya yang besar membuatku sedikit waspada. Aku berlari
dengan cepat lalu menyentak punggungnya yang terbuka dengan sarung pedang beberapa kali.
Serangan itu hanya meninggalkan sedikit luka memar yang jelas. Troll itu kesakitan ia menyeru, ia menyeru untuk membangkitkan semangat tarungnya.
Kini Troll itu melakukanserangan putaran yang cepat. Kapaknya berputar-putar, sedangkan Troll itu terus mendekat ke arahku. Keseimbangannya tidak goyah. Sesaat ia tepat berada di depanku, serangannya berhenti dan ia menghuyungkan kampaknya dengan keras.
Tanah tempatnya mendarathancur, menyisakan tanda goresan yang lebar. Aku melompat ke belakang untuk menghindarinya. Namun dengan serakan tanah yang tadi menyebar berhasil mengenai pelipis kaki kiriku.
Sehingga aku merasakan sedikit sakit yang menyengat.
"Hemmmm ... sepertinya aku tidak usah bermain-main lagi, lawanku kali ini adalah seorang jendral Troll."
Aku berlari dengan cepat untuk kedua kalinya. Melakukan sebuah tendangan menyamping yang cepat ke arah tulang rusuknya.
Troll itu terhuyung ke samping. Kulanjut dengan menendang tempurung kepalanya yang tertutup oleh helm tengkorak. Tendangan salto yang mengejutkan dan juga cepat membuat helm Troll itu hancur.
Monster itu mengeluarkandarah dari mulutnya. Perlahan menetes ke bawah dengan pelan dan terlihat jelas ia mulai mengamuk. Wajahnya mulai menggeram dan luapan kemarahan terpancar dari otot-ototnya yang mulai bermunculuan.
Kali ini gerakannya sedikit lincah dibandingkan dengan sebelumnya. Serangannya ringan namun bertenaga dan juga kuat. Aku menghindari semua serangan itu dengan mengalami sedikit kesusahan.
Namun karena motoku adalah lakukanlah yang ingin kau lakukan, jika kau tidak ingin lakukanlah dengan cepat. Moto ku ini benar-benar melekat pada diriku sehingga aku tidak boleh melancarkan gerakan yang sia-sia.
Kibasan kampaknya menajam dengan kuat. Melayang di antara batas leher dan juga kepala ku.
Aku menunduk meluncur diantara kedua kakinya lalu ku tebas bagian punggungnya dengan cepat. Kilatan pedang yang keluar dari sabuk ku berwarna merah terang.
Punggungnya mengeluarkan darah. Lalu ia tertunduk lemas, karena titik vitalnya terkena oleh serangan pedangku.
Entah mengapa aku merasakan perasaan yang tidak enak. Apakah hanya imajinasiku saja atau memang luka pada punggung Troll itu kembali menutup dan lukanya menjadi tidak terlihat kembali.
"Huhhhh ... dasar licik, kukira ia tidak memiliki kemampuan seperti itu"
Troll itu menyembuhkan lukanya sendiri dengan cepat. Tingkat regenerasinya cukup tinggi menurutku hingga luka yang cukup dalam seperti itu dapat sembuh dengan cepat.
Ia kembali mengamuk. Kini ia berlari ke arahku secara frontal. Kakinya menghantam permukaan dengan keras dan meninggalkan jejak semi permanen yang cukup dalam. Kekuatan ototnya telah sampai pada tingkat maksimum.
Suara entakannya terdengar dengan jelas. Aku mengambil ancang-ancang, mempererat pegangan
pedang pada pinggang kiriku. Kugenggam pelana pedangku dengan terfokus pada satu titik, yaitu jantungnya yang sedang berlari ke arahku.
Kutebaskan pedangku secara silang menciptakan sebuah tanda yang membekas di udara. Kemudian udara itu melesat dengan cepat menyambarnya.
Setelah itu kuhentakan kakiku dengan menggunakan tekanan udara. Aku pun dengan cepat melesat bagai angin transparan, tak terlihat, namun dapat di rasakan. Hanya dalam beberapa detik itu, aku telah berada di depannya.
Kumasukan kembali pedangkedalam sabuknya. Setelah itu ia pun tumbang terbelah menjadi empat bagian. Ku ambil kalung tengkorak dari lehernya sebagai tanda bahwa misitelah berhasil.
Dan entah mengapa sebuah suara yang tidak asing dan meminta elusan tiba-tiba keluar.
"Kuro, kau hebat"
Dengan wajahnya yang polos tiba-tiba Fear berada di sampingku.
"Darimana saja kau?"
"Kuro, itu menyakitkan"
Kucubit kedua pipinya yang menggemaskan. Sepertinya Fear masuk ke dalam pedangku lagi. Ia tidak ingin terlibat dalam hal merepotkan seperti ini. Matanya yang berbinar ingin sebuah elusan.
"Tidak, tidak untuk kali ini Fear"
"Tapi—"
Ahhhhh ... jangan seperti ini lagi, batinku
Setelah aku enggan memberikan sebuah elusan pada kepalanya yang mungil. Matanya berkaca-kaca seperti ingin menangis.
"Baiklah, baiklah akan ku-elus. Enak bukan?"
"Kuro, kau handal."
Dan kuelus juga akhirnya. Wajahnya mulai merona, ia tersenyum ke enakan. Ingin sekali aku menjitak kepalanya, tetapi karena itu terlalu berlebihan sehingga kuurunkan niat itu.
"Baiklah, kalau begitu kita kembali ke kerajaan untuk menukarkan kalung tengkorak ini menjadi beberapa keping uang"
"Ooou ... "
Setelah itu aku dan Fearkembali ke kerajaan untuk menukarkan hasil rampasan kami. Membutuhkan waktu sekitar dua jam untuk sampai disana dengan berjalan.
Karena tidak mempunyai tumpangan terpaksa kami berdua kembali dengan berjalan.
***
"Hmm ... pertama-tama selamat kepada Velia karena telah terpilih menjadi pemimpin."
Sightmund pun mengangkat segelas jus melon tinggi-tinggi. Di ikuti oleh Hiro dan Mea. Mereka berempat merayakan atas terpilihnya Velia menjadi Pemimpin Kesatria Legiun.
"Sightmund bisa kah kau tidak melakukan ini? Aku sedikit malu"
"Veliaaa, jangan sepertiitu. Kau itu seorang ketua," ucap Mea dengan riang sambil mengangkat segelas jus apel lalu meminumnya dengan sekali tegup.
Mereka semua merayakannya di sebuah kedai sederhana dekat dengan toko roti. Semuanya hadir kecuali Reya, ia telah meminta izin kepada semuanya untuk tidak hadir beberapa saat lalu.
Ia ingin mempertajam senjatanya, sehingga ia pergi ke toko senjata dekat gerbang utama.
__ADS_1
Semua berpesta dengan senang, Grey yang awalnya memiliki sifat dingin dan dingin kini mulai membaur. Wajahnya memerah karena kebanyakan minum jus apel dan juga pie anggur.
Ia menggenggam segelas air putih dengan roti hangat yang terkapar di atas piring tepat di depannya. Tidak lama setelah itu Lily dan Velia mulai berbincang-bincang.
Dan senyum mengembang terukir di wajah Velia ketika berbagi cerita dengan Lily. Sigthmund dan juga Grey tiba-tiba saja bernyanyi dengan wajah saling menantang. Sebuah gentong di biar kan berdiri di tengah-tengah mereka.
Lalu keduanya saling menantang untuk adu panco. Siapa yang kalah maka akan mentraktir satu potong paha ayam.
Sementara Hiro hanya dapat memberikan semangat dengan mengangkat tangan kanannya. Ia seperti bernyanyi lagu asal tempatnya tinggal dahulu. Lagu itu membawa aura yang menyenangkan.
Dengan kehadiran tujuh orang Kesatria Legiun di kedai itu, membuat suasananya menjadi hidup.
Tempat itu sudah dipesanterlebih dahulu oleh Sightmund. Velia yang melihat itu semua hanya dapat tertawa kecil. Tingkah laku teman-teman barunya sungguh hangat.
Mea yang menemani Velia tampak sudah mengantuk. Cuaca telah berubah menjadi gelap, sinar rembulan menerangi kerajan Wynesteel ini dengan anggun.
Velia dengan perlahan iakeluar kedai tersebut dan untungnya teman-teman barunya tidak menyadariakan hal itu. Ia mulai penasaran dengan Reya yang pergi ke toko senjata untuk mempertajam senjatanya.
Lelaki yang mendapat gelar Kesatria Paladin itu sungguh rajin. Malam hari yang menemani Veliadi sepanjang jalan. Ia bentar lagi sampai di toko senjata yang Reya kunjungi hari ini. Entah mengapa saat ia telah sampai di sana, Reya sedang berbicara dengan seorang lelaki berambut coklat dengan jubah merah.
Ia penasaran dan dengan tanpa suara ia mulai mengikuti mereka berdua dari jauh.
***
"Ahhh ... akhirnya aku sampai juga di toko Frei."
Setelah itu aku membuka pintu dan seperti biasa lonceng kecil berdering dengan lantang menyambut kedatanganku yang tanpa pemberitahuan.
Sesaat aku masuk aku melihat seorang laki-laki berambut kuning sedang berbicara dengan Frei. Sepertinya mereka sedang asik sepertinya aku tidak usah mengganggu mereka. Tetapi dengan kondisi perut yang seperti ini aku tidak bisa menahannya lagi.
Dan sepertinya Frei jugasudah lapar, aku dapat merasakannya dengan jelas. Karena kehadirannya tepat berada di pusat jantungku. Sebagai roh yang memiliki kontrak denganku, ketika ia tidak ada berarti ia sedang berada di dalam tubuhku.
"Hmmm ... Frei, aku sudah membawakan barang pesananmu"
"Ahh ... Kuro, tepat sekali kau datang. Seperti yang sudah ku harapkan dari seorang The Failed Knight"
"Frei, bisakah kau tidak usah menyebut nama yang telah lama terkubur?"
"Baiklah, jadi pesananku?"
"Ini dia, sebuah kalung tengkorak yang kudapatkan langsung dari Troll Warlord"
"Hngggg ... terima kasih Kuro"
Frei yang telah mendapatkan barangnya itu kegirangan. Ia melompat-lompat seakan-akan telah mendapatkan sesuatu yang telah lama ia cari.
"Akhirnya ... aku dapat merubah senjata yang telah lama ku simpan di gudang penyimpanan"
"Ahhh ... aku hampir lupa ini dia hadiahmu, Kuro. 100gold 70silver dengan tambahan sebuah sabuk pinggang kulit berwarna hitam," lanjut Frei dengan senang setelah itu ia pergi ke gudang bawah untuk meneruskan pekerjaannya yang telah lama tertunda.
"Sama-sama, ku ambil hadiah ini. Kalau begitu aku akan pergi keluar mencari makanan dulu, hati-hati terhadap barang baru itu, ok"
Setelah itu tidak ada suara apa-apa lagi lebih tepatnya tidak ada respon dari Frei. Setelah itu aku segera pergi keluar hingga suara yang cukup jantan menghentikan langkahku.
"Apakah kau benar Sang Kesatria Gagal yang tidak lolos saat festival itu?"
Suaranya membuatku kesal, nama itu sudah tidak ada lagi. Nama itu sudah kukubur dalam-dalam dan nama itu sudah tidak ingin ku ingat namun masih saja ada yang mengingatnya.
"Sepertinya kau salah orang, kalau begitu aku pergi du
Dan perataruan itu sangatkental di kerajaan Wynesteel ini. Siapapun pemenangnya akan dapat satu permintaan yang harus di patuhi oleh yang kalah.
"Hmmm ... jadi kau menantangku?"
"Seperti yang kau lihat"
"Hoamm ... maaf sekali karena aku mengantuk, kalu begitu sampai berjuma kem –
Lelaki yang menghadangkuitu melancarkan sebuah serangan yang di layangkan oleh pedangnya. Namun aku dapat mengelaknya dengan menunduk, sayangnya ia lengah, sehingga dengan mudah langsung kutekan.
Dengan memanfaatkan titik butanya aku berubah menjadi bayangan yang lenyap di malam hari itu. ia kaget melihatnya, dengan sebuah tepakan pundak ia memalingkan wajahnya ke belakang.
"Sebaiknya jangan sekali-kali kau mengayunkan pedangmu disini. Atau gelar mu akan hilang dengan sekejap!"
"Kita lanjutkan saja di luar kastil." Lanjutku dengan santai
"Baiklah"
Setelah itu kami berdua pergi keluar kastil tanpa mengetahui bahwa kami berdua di ikuti oleh seorang perempuan berambut putih perak.
***
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk kami berdua sampai di luar kastil. Penjaga gerbang yang sudah mengenalku dengan baik menginzinkan kamu berdua untuk keluar kastil setelah mereka melihat lambaian tanganku.
"Bagaimana caranya kau dengan mudah untuk keluar kastil?"
"Ahh ... tentang itu, semua penjaga gerbang telah mengenalku jadi mereka mengizinkanku dengan mudah"
Setelah itu kami berdua berjalan agak sedikit jauh ke arah barat. Terdapat sebuah padang rumput yang cocok untuk di jadikan sebagai tempat berduel. Rumputnya tidak terlalu lebat dan tidak terlalu tinggi.
Sebuah pijakan yang enak untuk saling melancarkan serangan yang lincah. Kali ini aku dan juga –
"Hmmm ... aku belum mengetahui namamu?"
"Reya, Reya Leshar. Salah satu seorang Kesatria Legiun"
"Ok, kalau begitu. Apa yang akan kau ajukan ketika kau menang?"
"Aku ingin kau menjadi pelayanku"
"Hmmm ... penawaran yang terlihat berat sebelah"
"Kau juga dapat mengajukan hal yang sama, motoku adalah berimbang. Aku tidak suka ketidak adilan"
"Baiklah kalau begitu, mari kita mulai"
Angin malam dengan semilirnya yang dingin memberikan sebuah aba-aba. Bulan menerangi pertarungan kami, rerumputan bergoyang seiring angin yang melewatinya.
Dan suara hening yang menjadi tanda dimulainya pertarungan ini sudah di mulai –
Reya yang mulai dengan cepat menyerangku duluan. Pergerakannya yang cepat membuat ku sedikit
kaget. Tebasan demi tebasan ia lancarakan dari pedang silvernya. Kutangkis dengan gerakan yang sama.
Aku melompat kebelakang untuk menghindari serangannya. Tetapi ia gigih dan juga percaya diri, disetiap serangannya ia kerahkan kemampuannya dengan sungguh-sungguh. Hingga pada suatu celah ia meletakan perisainya yang berbentuk segitiga siku-siku ke tanah.
Ia berteriak dengan keras. Entah mengapa aku serasa tersedot kedalam area serangnya, pandanganku tidak bisa beralih darinya. Dan ia kembali mengangkat perisainya, lalu menghempaskannya ke arahku.
__ADS_1
Aku mengerahkan semua kekuatan ku pada tangan kananku, kau angkat pedangku untuk menahan hempasan perisai miliknya.
Lumayan juga.
Kali ini giliran ku untuk menyerangnya.
Ku-ayunkan pedangku ke arahnya secara acak namun terkoordinasi dan juga cepat. Semua seranganku berhasil ia tahan dengan perisainya yang kokoh. Bunyi aduan pedang kali ini menggema di padang rumput malam yang luas ini.
Kami berdua saling melancarkan serangan dengan cepat, namun dengan baju zirah yang ia kenakan pegerakannya menjadi terbatas dan tidak dapat sebebas diriku. Langkah kakinya cepat namun pasti memiliki sebuah celah.
Kali ini dia menghampiriku dengan perisai yang melayang ke arah wajahku. Aku menunduk namun tidak dapat diduga sebuah hunusan pedang telah menanti diriku. Ku jatuhkan diriku, melewati serangan yang lihai itu.
Dan berhasil menghindarinya karena melewati pertengahan serangan tersebut. Nampaknya ia mulai kelelahan. Tapi jika kulihat dari tampang wajahnya sepertinya ia bersemangat sekali dan tidak nampak bekas-bekas kelelahan sama sekali.
Setelah melancarkan serangan mematikan itu. Reya kembali berlari tetapi ia melepaskan baju zirahnya dan meninggalkan sebuah kain polos hitam yang menutupi tubuhnya. Sedangkan bagian bawahnya dibiarkan seadanya saja.
Ia berlari zig-zag, setiap jeda beberapa detik ia mulai mendekati ku. Ia berputar sambil melayangkan perisanya dan pedangnya mengayun dari atas ke bawah. Terus-menrus dan setiap serangannya memiliki kombinasi yang berbeda.
Aku melompat, mengelak serta menunduk untuk menghindari setiap serangan itu. seseklai kulancarkan beberapa Thurst yang cepat seperti menggunakan sebuah tombak.
Malam menengankan ini akan berakhir disini saja.
Reya mulai berlari menghampiri ku kembali dengan pola serangan yang berbeda. Perisanya menjadi sebuah tombak, ia tusuk-tusukkan sedangkan pedangnya menjadi sebuah pisau lipat yang longgar dan juga tajam.
Ie memutar-mutarkannya di antara tangan kanan serta jari-jemarinya. Berputar seperti baling-baling. Sungguh cepat sehingga membuatku cukup kewalahan. Jadi seperti ini salah satu Kesatria Legiun, kukira akan lebih kuat lagi.
Sementara Reya berfokus pada serangannya, kau menjaga jarak lalu memasukan pedangku kedalam sabuk. Dengan mengambil langkah mundur semua sensitifitas indera penglihatan dan juga sentuhan ku menjadi maksimum.
Aku melebur dan begerak dengan sangat cepat. Mata Reya tidak dapat melihat pergerakanku dengan pasti. Kedua matanya berputar mencari kehadiranku yang tiba-tiba menghilang. Dengan sebuah sentuhan yang mendarat pada leher belakangnya ia menjadi terdiam.
"Akan kuberikan kau sebuah pelajaran, pertama jangan terlalu fokus pada seranganmu tapi fokus lah pada pertahanmu juga"
Dengan cepat Reya menghempaskan perisainya ke arahku dan saat itu juga aku kembali melebur menjadi bayangan yang tidak terlihat. Aku memancingnya ke dalam permainan yang telah ku rencanakan sejak awal.
Aku melompat ke arah sana-sini-sana-sini seperti sebuah hantu yang menampakkan dirinya lalu menghilang setelah itu juga. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Sementara Reya masih mencari kehadiranku dengan kedua buah matanya, aku melakukan gerakan yang cukup rumit agar dapat memusingkannya.
Setelah cukup lama aku langsung menyerangnya dari belakang. Tetapi tanpa kuduga ia mengetahuinya lalu melancarkan kemampuannya yang tadi untuk kedua kalinya.
"Gravity Roar!! ..."
Aku yang sedikit lengah kembali tersedot akan skillnya Reya, setelah itu ia kembali mengangkat perisainya menjadi lebih tinggi dan ia mulai berteriak kembali dengan lantang.
"War Hammer!! ..."
Perisai itu terselebung oleh sebuah aura kuning keemasan. Lalu perisai itu dihantamkan tepat ke arahku, aku yang masih terkena efek skill sebelumnya hanya dapat pasrah tetapi –
"Ini adalah akhirnya, Kesatria Gagal terimalah takdirmu."
Dengan percaya diri Reyamenambahkan kekuatannya menjadi dua kali lipat dan aura yang dihasilkan menjadi lebih bersinar dan terang. Kemudian perisai itu menghantam ku dengan telak.
Bekas hantamannya membuat tanah sekitarnya pecah seperti kaca lalu meninggi menjadi beberapa lapisan. Kemudian hancur dengan dahsyat dan menyisakan serpihanbatu kerikil yang mengapung di udara.
"Sepertinya ini adalah akhir bagimu –
"Apa !? mengapa kau tersenyum"
Aku hanya tersenyum dari balik bayang-bayang angin. Kemudian sosok yang ia kira adalah aku menghilang menjadi ilusi.
"Tadi itu sungguh luar biasa sekali, Reya. Aku tidak menyangka bahwa kekuatanmu seperti itu, sungguh kuat"
Aku berjalan santai lalumenampakkan diriku dari balik bayang awan yang menutupi diriku. Kuberikan tepuk tangan karena usahanya yang luar biasa untuk menyudutkan ku. Tapi –
"Hahhhh ... sepertinya pelajaran kali ini kau masih kurang handal"
"Huh? Pelajaran."
Sebelum mengedipkan matanya, Reya mulai canggung karena tepat sebelum itu aku kembali menghilang. Dan tiba-tiba berada di sampingnya sambil memegang pundaknya yang kaku.
"Pelajaran kedua, kau terlebih dahulu harus menganalisa kekuatan musuhmu. Baru setelah itu kaulancarkan serangan yang menurutmu dapat memojokannya"
"Kau!"
Setelah melihat itu, Reya kembali melayangkan sebuah serangan kepadaku dengan cepat melalui sebilah pedang yang berada di tangan kanannya.
Tapi sayangnya itu tidak mengenaiku karena sebelum ia melepaskan serangan itu aku sudah menghilang kembali dalam kegelapan ini.
Aku mulai berjalan perlahan dalam kegelapan malam yang telah menyelimuti kehidupan ini. Dari dalam gelapnya itu sesosok lelaki muncul dengan matanya yang merah bagaikan sebuah pesan tanda kematian.
" ... Reya, aku akan memberikan pelajaran terakhir bagimu"
Reya kebingungan dengan kata-kata yang ku tuturkan. Ia berlari kembali dengan cepat kearahku dengan memasang posisi siaga. Perisainya di tempatkan di tengah-tengah menutupi tubuh tegap dan semampaynya.
Sedangkan pedangnya ia pegan di tangan kanannya.
"Huhh ... kau memang tidak dapat belajar dari pengalaman, kalau begitu –
Udara mengalir dengan aneh, atmosfer menjadi berat dan tekanan gravitasi menjadi ringan di sekitar area ku. Aku melakukan gerakan mengelak pada kedua kakiku dan tampaknya Reya terpengaruh dengan hal itu. keseimbangannya mulai goyah.
Dengan penglihatanku yang menajam drastis kau dapat melihat celah di antara kaki Reya. Aku langsung melakukan sebuah terjangan lurus ke arahnya, kupegang perisainya dengan telapak tangan kiriku.
Kuputar lalu kulayangkanke udara dengan cepat. Setelah itu mengayunkan pedangku untuk mementalkan pedang yang dipegang olehnya.
Pedang itu terpental kebelakang, setelah itu ku tendang putar kedua kakinya. Ia terjatuh ke bawah sebelum itu ia melayang di udara seperkian detik. Ku genggam kerah kain polosnya lalu kulempar sejauh mungkin dengan tangan kananku.
Ia melayang jauh dan akhirnya terbanting oleh sebuah hamparan tanah yang cukup keras. Sedikitdarah keluar dari mulutnya tidak usah membuang waktu lagi, aku langsungbersalto di udara. Kudaratkan sikut kaki kiriku di perutnya.
Ia mengerang kesakitan dengan serangan yang kulancarkan. Setelah itu kau hunuskan pedang ke
arah kepalanya. Matanya melebar ketika melihat itu –
"Inilah yang di sebut dengan kejutan."
Tapi ku alihkan seranganitu ke sebelah kanan kepalanya. Ia langsung mengangakat kedua tangannya dan pertarungan itu selesai. Dengan tanda akulah pemenangnya.
Seorang perempuan yang mengintip dari balik hutan kaget dan memasang wajah takjub karenanya. Matanya berbinar dengan terang dan ia tersenyum.
"Dan pelajaran ketiga untukmu, jangan memanggil aku dengan sebutan kau atau kamu karena aku lebih tua darimu maka panggil aku dengan instruktur, mengerti?"
"Heh..!?"
Reya yang mendengar itu kaget dengan penjelasan yang ku katakan.
"Kau tahu kenapa? Karena mulai saat ini kau akan menjadi muridku di Akademi Magistra"
"Huh? ... apa, jangan-jangan ... hehhhhh!? Kau adalah guruku?" Reya yang masih terbaring dengan lemas mengeluarkan reaksi yang dapat di kategorikan sebagai kaget tingkat dua.
"Jadi mulai saat ini jaga perilakumu, Reya Leshar ... dan satu lagi, namaku adalah Kurokami Rei bukan si Kesatria Gagal. Ingat itu baik-baik!" lanjutku sambil berdiri lalu berjalan menjauhi Reya yang terbaring.
__ADS_1