
Di sebuah hutan yang penuh dengan tanaman menjalar, seorang laki-laki berambut hitam pekat dengan pedangnya yang putih menari-menari dengan indah. Meliukkan setiap sisi pedangnya dengan elegan dan beribu-ribu monster tumbang dengan seketika dalam genggamannya.
Matanya hitam pekat dengan kulit putih kecokelatan. Ia menggunakan jubah hitam dan juga sebuah pakaian putih yang terdapat sebuah sabuk yang lengkap dengan berbagai ramuan penyembuh.
"Hoii ... kita sudah membereskan yang di sini, jadi bagaimana di sana? Kuro."
Lelaki yang terpanggil itu pun berbalik lalu menyunggingkan senyuman kecil.
"Tentu saja aku juga telah selesai di sini," ucapku dengan santai.
"Lalu setelah ini akan kita kirim ke mana pasokan Kristal Zenith
ini?"
"Tentu saja menuju Kerajaan Astarte, tenang kita akan menggunakan Kristal Athea," sahutnya dengan enteng.
"Hmmm ... kristal teleportasi kah? Lumayan juga. Kalau begitu cepat, aku ingin minum cokelat hangat buatan Bibi Hana lagi," ucapku dengan wajah berbunga-bunga.
"Dasar kau seperti anak kecil saja, Kuro," tuturnya denganmenggeleng-gelengkan kepala.
Seingatku sudah satu tahun sejak peristiwa dan entah karena keajaiban apa aku masih bisa berdiri di sini... terus hidup dan memandangi langit dengan lega.
***
Setahun yang lalu....
Aku tidak bisa merasakan apapun, melihat sesuatu pun tampaknya mustahil. Apa aku sudah mati?
Namun aku tahu jika tubuh ini seperti menyelam lebih dalam menuju ke dalam kegelapan. Lebih dalam, lebih hitam, dan tanpa ujung yang pasti. Hingga kepalaku mulai merasa hangat.
Aku mulai bisa melihat setitik cahaya kecil—kecil sekali bahkan seakan-akan dalam waktu dekat ini akan padam. Redup. Mungkin aku memang tidak akan bisa melihat cahaya lagi dan berharap suatu keajaiban yang bisa menarikku dari sini.
Penyesalan? Mungkin...
... Anak muda bukankah kau seharusnya masih hidup? ...
... Ahhh ... lelaki yang menyelamatkan kami ...
... Whooo ... benar-benar, kau, mengapa ada di sini? ...
... Kami akan membantumu keluar dari sini, kawan ...
... Kakak jangan bersedih ...
... Seharusnya kan Anda masih hidup? ...
Tenang saja, kami akan memandumu menuju suatu tempat ...
Namun entah karena kegilaan apa, hanya dalam waktu yang singkat itu aku bisamendengar sebuah suara. Suara? Bukankah aku sudah mati? Lalu mengapa? Bagaimana aku bisa mendengar... lagi.
Tanpa berpikir apa-apa lagi, semua sensasi yang sebelumnya mati perlahan mulai kembali padaku. Tangan yang dingin menjadi hangat, jantung yang mati kembali berdegup, suara hening yang menghilang perlahan memenuhi telinga, dan sensasi hangat ini... hanya berada di dekat seseorang yang pentinglah aku bisa merasa senyaman ini.
Perlahan namun pasti kelopak mataku terbuka. Dari dalamnya kegelapan absolut ini, mereka tersenyum ke arahku. Tanpa jasad, hanya sebatas kesadaran liar yang membentuk roh.
... Terima kasih untuk saat itu ...
Hohohoh ... anak muda terima kasih untuk waktu itu ...
... Kami hanya bisa membantu sampai sini ...
... Kakak, lain kali kita akan bertemu lagi ...
... Wahai pemuda suatu saat kami akan mampir kembali ...
... Jagalah tubuhmu itu dengan baik ...
Seorang roh anak kecil menarik lenganku. Bersamaan dengan kegelapan yang perlahan pecah, ia membawaku melayang menuju sebuah tempat?... entahlah, tapisaat ini aku yakin ia membawaku ke tempat yang ingin ia tunjukkan.
Tidak lama setelah itu aku bisa melihat sebuah taman. Taman itu dipenuhi oleh hawa misterius dan kabut tipis. Roh anak kecil yang membawaku ke tempat ini langsung menurunkan di atas rumput lembut dengan hati-hati.
Setelah itu ia menghilang sambil melambaikan tangannya. Aku hanya bisa tersenyum tipis dengan pikiran ‘apakah aku benar-benar sudah mati, huh?’
Ya. Aku bisa merasakan tubuhku, meski kaku setidaknya aku yakin jika ini adalah tubuh asliku.
Satu hal yang menjadi tanda tanya besar bagiku adalah... sebenarnya tempat apa ini? di mana diriku saat ini? dan bagaimana aku yang seharusnya telah mati karena pengorbanan saat itu bisa kembali hidup?... tunggu sebentar, hidup?....
Namun aku menggeleng cepat dan mengenyahkan pemikiran itu untuk merasakan kembali sensasi ini. Walaupun terbilang kaku, tapi setidaknya aku masih bisa menggerakannya dengan baik.
Sayangnya tidak lama setelah itu aku terjatuh. Berbaring di atas rerumputan kecil yang diselimuti oleh kabut tipis.
Aku berusaha bangun, tetapi gagal. Lagi dan gagal, lagi dan gagal, lagi dan gagal, bahkan hingga usaha terakhirku pun tetap saja tidak bisa. Sepertinya aku tidak akan bisa meninggalkan tempat ini dengan mudah.
Pada detik-detik di saat aku menertawakan diriku sendiri, saat itulah tubuhku seperti di dorong oleh sesuatu dan akhirnya dapat bangkit. Kaki berpijak pada tanah, tatapan lurus tanpa ada yang mengganggu, dan yang pasti
tubuhku tidak lagi berbaring dengan lemah seperti sebelumnya.
Sejauh mata memandang, yang bisa aku lihat adalah semak-semak belukar, bunga berwarna-warni layaknya pelangi di siang hari, dan pepohonan ramping beranting penuh akan daun hijau segar.
Berkat cahaya yang menyinari mereka. Hawa kehidupan positif memancar dengan sangat baik dan penuh akan kehidupan.
Tidak jauh dari sana aku bisa melihat sebuah beranda beratap persegi dengan pilar-pilar putih sebagai penyangganya. Tepat di tengah-tengahnya terdapat sebuah meja kotak dan dua buah bangku kecil.
Seorang laki-laki tampaknya sedang duduk di bangku sebelah kanan. Aku tidak tahu apakah ia laki-laki atau perempuan, tapi aku bisa memastikannya sebagai seorang laki-laki dari rambutnya yang pendek, pakaiannya elegan, serta pedang tersabuk pada pinggang kirinya.
Ya, aku yakin jika ia adalah seorang laki-laki... 100%.
Aku pun berjalan mendekatinya, walaupun langkahku kikuk dan sesekali hampir terjatuh yang untungnya bisa kuseimbangkan lagi tepat waktu.
Jika lebih ditelaah, ia memiliki penampilan selayaknya seorang bangsawan. Di tangan kanannya terdapat sebuah cangkir putih, sedangkan tangan kirinya sedang memegangi sebuah piring kecil.
Dengan rambutnya cokelat cerah dan postur tubuh yang cukup tinggi, begitu ia menoleh menatap diriku, aku bisa melihat mata merah pekatnya dengan sangat baik.
Namun dari semua keanehan ini, yang paling membingungkanku adalah fakta jika aku bisa bernapas. Ya, bernapas. Tetapi tidak untuk sekarang, aku harus mengetahui siapa orang itu dan mengapa aku bisa berada di sini.
__ADS_1
Penglihatanku berkunang-kunang sebelum akhirnya aku berhasil sampai di beranda tempat lelaki itu berada, kakiku tiba-tiba saja berguncang hebat dan aku pun tersungkur. Tapi sebuah lengan menghentikannya.
"Untuk semua jawaban itu... mari kita membicarakannya sambil minum teh."
Suara itu tiba-tiba terdengar di telingaku dan tanpa kusadari, tubuhkuterangkat. Lelaki yang ada di beranda itulah yang menolongku. Ia membopongku dan menyandarkanku pada sebuah bangku.
"Opsss... sepertinya kau membutuhkan sesuatu."
Lelaki itu menjentikkan jarinya, beberapa kumpulan bola-bola cahaya turun dari atas punggungku. Lalu sebuah selimut putih muncul menutupi seluruh tubuhku secara merata. Kecuali bagian kepala dan juga kedua tanganku.
"Nah ... sekarang lebih baik, setidaknya kau menggunakan pakaian,” ucapnya dengan tawa kecil.
Suaranya dalam dan hangat, ekspresi wajahnya mengindikasikan ketulusan. Jika tidak salah, aku pernah melihatnya tapi di mana? Sial aku tidak bisa mengingatnya. Tapi, tunggu sebentar... telanjang?
Saat itulah aku menjerit dari dalam hatiku sekuat mungkin, sekuat yang kubisa, dan sekuat suaraku yang bisa keluar.
"Tentu saja kau tidak bisa mengingatnya, karena itulah bayarannya," ucapnya dengan santai lalu kembali mengangkat gelas dan menyeruputnya. "Nah ... tuan pendatang, apa yang bisa saya lakukan untuk Anda?" tawarnya sambil menutup sebelah mata.
"D-d-d-di mana ini?"
"Ahhh ... tentu saja Anda pasti bingung, sekarang kita berada di Taman Harlequin. Taman pembatas antara kehidupan dan kematian," jelasnya dengan riang.
"L-lalu si-siapa kau?"
"Aku? Hahaha... siapa sangka aku bisa selucu itu. Seperti yang kau lihat, tentu saja aku adalah dirimu."
Aku belum terbiasa untuk berbicara, namun mendengar jawabannya meninggalkan tanda tanya besar di dalam benakku. Orang ini benar-benar aneh.
"Apakah kau berpikir jika aku ini aneh? Benar ’kan?" tuturnya lalu mendekati wajahku. " Hahaha pasti sekarang kau berpikir bahwa aku ini lebih aneh lagi bukan?" lanjutnya lalu menjauhi wajahku.
"M-maksudmu? Bagaimana kau bisa membaca pikiranku?"
"Itu adalah hal yang mudah, karena orang yang kau lihat saat ini adalah dirimu sendiri. Kita adalah satu dan kau pasti akan tahu tidak lama lagi," tuturnya dengan mengangkat tangan kanannya sambil memutar-mutar jari telunjuk
kanannya.
Jika kuperhatikan lagi ia benar-benar seperti seorang raja. Pakaian yang ia gunakan adalah sebuah jas formal berwarna cokelat tua dengan sebuah serbet merah di antara kerahnya. Sebuah tali emas memanjang dan menjadi jembatan kecil di antara kerahnya juga.
Pada pergelangan tangannya, sebuah lekukan berwarna cokelat cerah dengan garis melingkar berwarna merah. Ia juga menggunakan sepasang sarung tangan hitam. Lalu sebuah jubah merah dengan aksesori menyerupai bintang emas pada bahu kirinya.
Sebuah celana panjang rapi berwarna cokelat lengkap dengan sepasang sepatu hitam dengan jahitan yang rapi.
"Bagaimana kau masih tidak percaya?" tanyanya sambil menyeruput tehnya lagi.
Aku hanya mengangguk pelan dan sepertinya ia mengerti.
"Hmm... bagaimana aku menjelaskannya, ya? Ah... aku mendapatkan ide," ucapnya. "Sederhananya adalah orang yang kau lihat saat ini merupakan sebuah ‘masa lalu’"
"M-masa lalu?"
"Ya, aku adalah masa lalu. Kuharap kau bisa mengingatnya dengan cepat, walaupun pelan. Setidaknya itu bisa meringankan bebanmu," ucapnya. “Aku hanya akan mengajukan satu pertanyaan untukmu," lanjutnya, ia pun berdiri lalu menjentikkan kembali jarinya.
Meja cokelat dan bangku itu kemudian menghilang. Karena staminaku belum sepenuhnya pulih, aku pun tersungkur tapi lelaki yang menganggap dirinya sendiri sebagai diriku membantuku untuk berdiri.
"Inilah pertanyaannya... apakah kau ingin hidup?"
Aku pun hanya bisa mengangguk pelan dan berharap jika yang dikatakannya adalah sebuah keajaiban.
Lelaki itu kemudian tersenyum lebar dan raut wajahnya bersinar seperti matahari, "Bagus, aku suka jawabanmu itu. Kalau begitu ikutlah bersamaku sebentar," tuturnya kemudian ia membantuku berjalan ke suatu tempat.
Dengan pelan namun pasti kami berdua berjalan melintasi taman ini. Ada sebuah jembatan di depan sana, memisahkan dua buah tempat yang tidak aku ketahui. Tetapi, saat kami berdua berjalan di atas jembatan itu, sekumpulan binatang melintasi dan melewati kami berdua.
Lalu aku pun bertanya kepada lelaki yang mengaku kalau dia adalah diriku sendiri, " Mengapa ada binatang di sini?"
"Mereka adalah eksistensi yang mengharapkan dirimu untuk hidup kembali, mereka di namakan harapan. Mereka adalah penghuni taman sebelah sana sama seperti diriku namun kebanyakan dari mereka adalah penghuni hutan di depan sana"
"Hutan?"
"Ya, kita akan masuk ke dalam hutan itu."
Kami pun akhirnya sampai di penghujung jembatan dan dengan cepat jembatan itu menghilang menjadi butiran cahaya. Kembali melanjutkan perjalanan, ia pun memanduku dengan sangat sabar.
Semak belukar mencuat menunjukkan diri, kicauan burung yang indah terdengar riang, pepohonan tinggi dan hijau seperti jajaran pagar ramah lingkungan, rombongan hewan menjaga kami selayaknya seorang raja dan hembusan angin yang lembut membuatku rileks dan nyaman.
Setelah beberapa menit kami berjalan di hutan ini bersama rombongan hewan, akhirnya kami berdua sampai di sebuah danau yang indah. Berwarna biru dengan pantulan cahaya yang begitu menenangkan.
Air terjun mengalir dengan deras di ujungnya. Suara gemerisik membuatku terkagum-kagum, sebelumnya aku belum pernah datang ke tempat seperti ini.Tenang, aman, tenteram dan sama sekali tidak ada gangguan sedikit pun.
Lalu lelaki itu melepaskan rangkulannya, kemudian menghadapkan diriku ke arahnya.
"Aku akan mengabulkannya untukmu, untuk dirimu wahai pengemban harapan"
Kemudian ia merentangkan kedua tangannya. Sekumpulan bola-bola cahaya keluar dari tubuhnya berwarna kuning keemasan, mereka begitu banyak. Mereka mengambang dengan tenang.
Menerangi tempat ini, bahkan semua hewan-hewan yang berada tidak jauh dari tempatku mulai menutup mata. Mereka seperti sedang berdoa.
Bibir lelaki itu bergerak dengan lembut dan sangat tenang.
'Kami adalah sekumpulan harapan yang di titipkan dunia untuknya'
'Kami adalah sekumpulan cahaya yang di titipkan alam untuknya'
'Untuk membuatnya menjadi raja dunia'
' Raja yang dapat membuat senyuman bermekaran dimana-mana'
'Semua hanya untuk satu tujuan'
'Demi mereka yang membutuhkan dia'
'Dia adalah raja kami'
'Bangunlah wahai raja'
'Kau adalah ujung pedang yang tidak akan pernah berkarat'
__ADS_1
'Kau adalah ujung anak panah yang tidak akan pernah meleset'
'Kau adalah tameng kokoh yang tidak akan pernah hancur'
'Kau adalah tombak yang selalu dapat menembus apa saja'
'Kau adalah kampak yang dapat membelah apa saja'
'Kau adalah sabit yang dapat mencabut ke tidak adilan'
'Kau adalah aku, aku adalah kau'
'Kita sama dan tidak berbeda sama sekali'
'Ku hancurkan rantai masa lalu yang mengutukmu'
'Ku hancurkan keraguan di dalam hati terdalammu'
'Ku hancurkan kegelapan yang bersarang di dalam tubuhmu'
'Aku Reiss Veil Drag Reizhart'
'Dengan ini menyerahkan segalanya'
'Kau Kurokami Rei'
Bola-bola cahaya itu kemudian hancur meninggalkan butiran salju cahaya yang menyebar dengan indah. Kilauan cahayanya yang indah, menyelimuti seisi hutan. Hewan-hewan mulai menghampiriku.
Mereka kini berada di belakang lelaki itu... tidak, lebih tepatnya masa laluku—Reiss Veil Drag Reizhart, ia kini mulai menarik kembali kedua tangannya. Kemudian ia tersenyum kepadaku.
"Baiklah, Kuro... aku telah memberi kesempatan kedua padamu," tuturnya sambil menaruh lengan kanannya
tepat di dadaku.
"Kali ini berikan mereka pelajaran, ok," ucapnya dengan santai lalu mengepalkan tangannya seperti ingin memukul. “Hajar mereka kawan... lalu, bangunlah."
Setelah itu ia mendorongku hingga jatuh ke dalam danau. Awalnya aku tidak menduga hal itu, tetapi aku dapat melihat senyumannya yang begitu lebar. Secara perlahan ia pun menghilang menjadi butiran cahaya bersamaan dengan hewan-hewan itu.
***
Tidak lama kemudian kesadaran membawaku kembali pada kenyataan dan ketika mataku terbuka lebar, aku bisa melihat langit luas di atas sana dengan tubuh yang mengambang.
"Hah ... hah-huh-hah"
Aku sadar jika ini bukanlah tempat yang sama, setelah mengamati tempat ini beberapa menit dari tengah-tengah danau, akhirnya aku pun berenang ke tepi.
Aku merasa semua kekuatanku telah kembali dan tidak ada yang kurang. Tampaknya ialah keajaiban yang selalu menungguku di akhir jalan.
Begitu aku berbalik dan memandangi pantulan wajahku pada permukaan air danau, mataku melebar.
"Bukankah ini penampilanku sebelumnya?"
Ya. Penampilanku mirip sekali dengan orang itu atau lebih tepatnya aku kembali mendapatkan penampilan fisikku yang dulu.
"Ughhh ... aku tidak memakai apa-apa sama sekali."
Lambat laun aku bisa mendengar sebuah jentikan air yang terus menetes. Betapa kagetnya diriku ketika mendapati sebuah pedang mengambang di atas danau itu, berwarna putih. Mirip sekali dengan pedang yang aku miliki dulu dan ini juga mengingatkanku pada Fear.
Pedang itu seakan-akan berbisik padaku untuk mendekatinya. Entah mengapa hatiku seperti berkata iya dan tanpa aku sadari kakiku berjalan perlahan—atau lebih tepatnya mengambang di atas permukaan air dengan begitu ringan.
Aku pun menyentuh pedang itu dengan jari telunjukku. Jantungku berdegup kencang dua kali dan semua pelindung yang menyegelnya hancur berkeping-keping.
Ini sungguh melegakan sekaligus membuatku malu, karena seorang laki-laki berjalan di atas danau dengan telanjang bulat sedang berusaha menyentuh pedang.
Pusaran angin tiba-tiba saja menyelimuti diriku. Sebuah rompi berwarna putih cerah dengan jahitan rapi pada tengahnya menyatu dengan tubuhku. Memiliki kerah yang tinggi hingga menutupi leher hingga pinggir dagu. Pada bagian pinggir kiri dan kananya terdapat sebuah tali abstrak berwarna hitam yang menggantung.
Lengannya berlubang dan meninggalkan kedua lenganku yang memiliki warna kulit putih peach. Lalu sebuah
pusaran air mengelilingi kedua lenganku dengan sangat cepat. Sepasang sarung tangan berwarna biru dengan kelima jarinya yang berlubang menyelimuti tanganku dengan nyaman.
Mengeluarkan kelima jariku dengan sepenuhnya. Pada bagian pangkal kiri lenganku terdapat sebuah lambang yang menempel berwarna biru. Lambang itu memiliki bentuk seperti kepala serigala legendaris—Fenrir.
Lalu sebuah gumpalan api menghantamku dari atas. Mengelilingi bagian pinggul hingga ke bawah, dengan cepat langsung melebur Dan meninggalkan sebuah jubah pendek dari pinggul hingga bagian mata kaki berwarna hitam.
Sebuah celana panjang yang rapi berwarna hitam kemerahan dan sepasang sepatu berwarna merah terang.
Tidak lama setelah itu pedang putih dalam genggamanku hancur dan kepingannya menyatu dengan tubuhku. Untuk memastikannya sekali lagi, aku pun menundukmenatapi tampilanku yang baru.
“Yah... setidaknya ini lebih baik dari telanjang bukan?”
Namun aku harus mencoba kekuatan ini, itulah yang aku pikirkan. Mungkin aku tersambar keberuntungan karena mendengar suara hewan buas di dekatku.
Saat itu aku mencoba beberapa trik berpedangku yang dulu dan siapa sangka kekuatanku berkembang dalam segala aspek. Baik itu kecepatan, kekuatan, kelincahan, kewaspadaan, dan lain-lain.
Tidak ada hadiah yang lebih indah dari pada mengetahui jika kemampuanku dapat berkembang sejauh ini. Langkah selanjutnya adalah mencari tempat untuk tinggal dan menetap untuk sementara waktu.
Author Note:
Oiii Gaesss... maaf nih jarang bales komentar kalian, itu emang kerjaannya author iseng ini. Soalnya jarang banget liat-liat komentar langsung gaskeun wae... hahaha. Gimana seru gak kisah si Kuro? kalau seru terus nantiin kisahnya hanya di Sword Anthem!
Jangan lupa beri dukungan kepada author ini berupa like atau tips :3
__ADS_1
Mau tambah? bisa langsung aja di beli versi cetaknya di; http://bit.ly/swordanthem