Sword Anthem

Sword Anthem
Chapter 29 - Seorang Rival


__ADS_3

Sebelum kecerita utama kita intro dulu~


Hai semua! Nama gue ReIN dan terima kasih karena telah memberikan gue kesempatan untuk menemani malam jomblo loe! Jika kalian menyukai cerita ini maka berikan jempol ke atas dan jika tidak cukup vote lalu sebarkan cerita ini. Jangan lupa berikan komentar dan tips agar sang Author tetap semangat update ceritanya!


 


.


.


.


 


Kebencian adalah suatu masalah sekaligus kutukan yang bersarang di hati setiap manusia. Tidak mengenal waktu ataupun tempat, laun lambat ia akan merayap lalu mengendalikan emosi sepuas hatinya.


"Whoaaaa ... huhhahhuhhah—“


Oz pun tersadar, rambut putihnya yang acak-acakan kini terurai sepenuhnya. Wajahnya penuh dengan keringat dan sekujur tubuhnya menggigil.


"Di mana i-ini?"


Wajah tampannya itu kini mulai melembut dan pandangannya juga mulai tenang. Dua buah matanya lalu mengeksplor tempat asing yang ia tidak ketahui berada di mana


"M-mengapa aku telanjang?!" celetuknya kaget.


Namun suara pintu berdecit terdengar dan tepat setelah itu pintu itu pun terbuka menampakkan seorang wanita tua yang sedang memegang sebuah mangkuk kayu dengan sendok di tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya memegang segelas air putih.


"S-siapa kau? A-apa yang kau inginkan dariku?!—“


"Stttt ... tenang lah, sekarang kau sedang di rawat."


Suara yang sangat bersahabat namun sedikit serak karena telah berumur. Wajahnya berkeriput dengan dua buah bola mata berwarna hitam yang sayu. Bibirnya pucat pasi. Setiap kali ia berkata pasti jajaran gigi zebranya terekspos.


"Sekarang kau berada di rumahku anak muda," jawabnya ramah.


Ia pun langsung menghampiri Oz yang sedang berada di atas ranjang itu dengan langkah tak pasti. Lutut yang terkadang bergetar hanya karena melangkah. Namun ia selalu tersenyum di setiap saat.


"Rumahmu?! Apa kau tidak tahu si—“


"Diamlah, makan ini selagi hangat," potong wanita tua itu sambil memasukkan sesendok sup hangat ke dalam mulut lelaki itu dengan cepat.


"Bhakss ... e-enak."


Tanpa sadar mulutnya bergumam sendiri dan wanita tua yang kini berada di hadapannya juga ikut tersenyum


"Tentu saja aku tahu siapa kau anak muda, Oz si Pembantai Penyihir," ucapnya ringan lalu mengambil bangku kayu bundar dan pun duduk di atasnya.


Ruangan yang kini mereka berada adalah kamar yang tidak terlalu besar dengan sebuah ranjang putih. Jendela yang terbuka dengan bebas. Lemari kecil dan meja lengkap dengan kursi kecilnya.


"Lalu mengapa kau menolongku?" tanya Oz, tapi ia juga mengambil semangkuk sup itu lalu memakannya dengan cepat.


"Hahahaha."


Tawa wanita itu seperti terpotong-potong oleh sesuatu yang lucu.


"Kau itu sebenarnya seorang lelaki yang baik, aku dapat melihat itu jelas di kedua matamu," tuturnya pelan.


Oz menghentikan makannya lalu menengok ke arah wajah wanita tua itu dengan tatapan sinis.


"Aku? Baik?" tanyanya sendiri.


"Ya, kau seorang lelaki yang baik," tuturnya sekali lagi dengan menunjukkan senyuman seorang perempuan muda yang terlihat seperti seorang ibu.


"Baik katamu?!" Ia pun menyimpan semangkuk sup itu dengan gegabah dan alhasil isinya keluar dari dalam. " Kau tidak tahu apa-apa tentangku, apa kau tahu bagaimana rasanya menyimpan dendam yang begitu menyakitkan, HUH!!!" rutuk Oz dengan mengencangkan kata terakhir.


Namun wanita tua itu hanya terdiam dengan senyum tulus.


"Se-selama ini aku harus hidup dalam bayang-bayang darah dan kejaran dari para ksatria agar aku dapat bertahan hidup. Membunuh dan membantai, itulah jalan hidup yang kini aku pilih. Aku harus membunuh setiap penyihir agar aku mempunyai alasan untuk hidup," jelas Oz dengan menggenggam segelas air  kuat-kuat.


" Kenapa kau melakukan hal seperti itu?" tanya wanita tua itu sambil bangkit dari kursi kecil itu.


Wanita tua itu langsung menghampiri meja kecil yang berada di sudut kamar. Sepertinya ia sedang menyiapkan obat, "I-itu karena para penyihir itu telah menghancurkan desaku," jawab Oz lirih.


Wajahnya kini tertunduk dan pandangannya menjadi semu. Setitik air mata tumpah karena mengingat kenangan pahit itu. Keluarganya, sahabatnya, orang-orang desa mati tepat di depan matanya sendiri tetapi –


"Kau seharusnya tidak memiliki sifat seperti itu, kau adalah lelaki yang baik," sahutnya. "Tidak semua penduduk desa di tempatmu mati, Nak."

__ADS_1


Lalu wanita tua itu kembali menghampiri Oz.


"Apa maksudmu?!—“


"Karena salah satu keluargamu berhasil selamat." Wanita tua itu langsung memasukkan obat yang telah di buatnya secara paksa ke dalam mulut sang lelaki berambut putih, "Kau bisa melihatnya tepat di depan matamu


sendiri," lanjutnya kemudian tersenyum kecil.


Pada awalnya Oz membeku dan sedikit berkedut-kedut karena menahan rasa obat yang begitu pahit itu. Tetapi, perlahan wajahnya kaku, kedua matanya melebar begitu mendengar perkataan wanita tua yang kini berada di hadapannya.


Ia pun kembali melihat wanita tua yang kini berada di hadapannya secara seksama. Saat ia melihat wajahnya dengan teliti alis kanannya terangkat dan mulutnya menganga." Bibi ... Ann?," ucapnya tanpa sadar.


Wanita tua itu pun hanya tersenyum kemudian mengangguk pelan. Oz kembali dalam situasi yang mengejutkan dan kini di kedua buah bola matanya terpancar sinar kebahagiaan yang mendalam.


Kepalanya mulai menunduk dengan berlinang air mata. Wanita tua yang ia sebut sebagai Bibi Ann itu hanya mengelus kepalanya dengan pelan, "Sudahlah Oz, jangan menangis kau sudah besar," ucapnya lembut.


Namun bukan berhenti, tangisannya semakin menjadi-jadi seakan tidak percaya bahwa salah satu keluarga berhasil selamat dari tragedi mengerikan itu. Waktu pun berlalu dengan cepat, akhirnya lelaki berambut putih yang panik itu mulai tenang dan ia mulai bertanya kepada bibinya siapa orang yang membawa dirinya kesini.


"Ah ... tentang itu, sepasang suami dan istri lah yang membawamu kemari," jawabnya pelan. "Aku sempat kaget ketika melihat tubuhmu yang penuh dengan luka di bawa olehnya seminggu yang lalu."


Oz tercengang mendengar itu, orang yang menyelamatkannya adalah lelaki dan perempuan yang sebelumnya ingin ia habisi hingga titik darah penghabisan. Kemudian Oz menanyakan keberadaan mereka kepada bibi Ann.


"Jika tidak salah ... perempuan yang bersama dengannya berkata mereka akan pergi ke hutan kesunyian di sebelah selatan kota ini."


Oz bangkit dan langsung terburu-buru mengenakan pakaiannya. Ia juga menanyakan keberadaan pedangnya. Setelah semua lengkap ia segera pamit kepada Bibi Ann. Bibi Ann hanya tersenyum melihat tingkah lakunya.


***


Di luar Ibu Kota Ignia, seorang lelaki yang sedang tidur di atas pangkuan Fear terlihat begitu lelap. Kini mereka berdua sedang menaiki gerobak jerami yang mengantar mereka keluar kota.


Sebelumnya Fear meminta bantuan kepada dua orang yang telah lanjut usia untuk menumpang di atas gerobak mereka. Untungnya dengan senang hati mereka menyetujuinya.


Usapan tangan yang lembut mendarat di atas kening sang lelaki. Telapak tangan yang begitu apik, dengan luwesnya mengusap kening lelaki itu dengan anggun. Kedua matanya yang sedari tadi melihat lelaki itu tertidur pulas di atas pangkuannya sedang tersenyum.


"Hohoho ... nona kau begitu menyayangi lelaki itu, jika boleh tahu lelaki itu siapa?"


Suaranya cukup jelas, tapi ada dialog yang khas seperti ras tertentu. Dengan aksen seperti orang-orang tua yang sudah sangat sepuh. Itu adalah suara perempuan di depan gerobak.


"Dia adalah suami saya," balas Fear dengan lembut.


Kini ia sedang berada di samping lelaki yang sedang mengendarai gerobak jerami itu.


"Apakah Anda dan juga lelaki di samping Anda adalah sepasang suami-istri juga?" tanya Fear.


"Hohohoho ... nona, sepertinya Anda cepat mengerti juga." Dan kali ini adalah lelaki yang Fear duga sebagai seorang suami.


"Seperti yang Anda katakan tadi nona muda, dia adalah suami saya dan kami adalah pasangan suami istri juga," timpalnya. "Bicara tentang itu, kalian ingin pergi ke mana?"


"Saya akan membawa suami saya ke hutan kesunyian untuk pengobatan," jawab Fear tanpa ragu.


"Ara ... sepertinya keadaannya tidak baik rupanya."


Usai itu Fear hanya tersenyum hangat untuk membalas jasa mereka yang telah memberikan tumpangan gratis kepadanya dan juga Reiss. Sebelumnya ia juga meninggalkan pesan melalui surat untuk Bibi Emma tentang kepergian mereka.


Semua itu di lakukannya agar tidak menimbulkan kekhawatiran yang terlalu berlebihan dan dengan itu juga mereka bisa pergi dengan tenang meninggalkan Ibu Kota Ignia.


Angin berhembus membawa kabar angin yang menyejukkan dengan senandung yang kini Fear nyanyikan dengan merdu. Burung-burung terbang mengarungi mereka dengan gembira.


Daun-daun menari dengan di aluni senandung Fear. Cuaca yang cerah dengan matahari yang tidak terlalu terik karena terhalang oleh awan putih yang besar dan bergerak lambat.


Pasangan suami istri yang kini sedang mengendarai gerobak itu juga ikut tersenyum mendengar senandungnya. Setelah itu Fear mulai bernyanyi sambil mengelus kepala sang suami yang masih belum bangun.


Samar namun nyata bibir Reiss mulai tersenyum kecil mendengar nyanyian dari istri tercintanya. Suara yang begitu merdu walau tanpa sebuah instrumen sekalipun. Hanya mengandalkan seruan angin dan suara yang berasal dari dalam tenggorokan.


Namun hasil yang di timbulkan begitu indah seperti seorang Diva. Luka yang mereka dapat belum lah pulih total. Dengan sebuah sayatan pada tangan kiri Fear dan luka robek pada perut Reiss.


Pakaian mereka pun tidak seperti semula. Dengan gaun putih yang di kenakan oleh Fear hingga semata kaki, berlengan pendek dengan pita merah yang menghias pinggirnya.


Sedangkan Reiss hanya sebuah kemeja putih dan celana panjang hitam. Tetapi, di bagian lengan, perut dan juga lehernya di perban. Tidak lama setelah itu mereka pun sampai di hutan kesunyian.


Fear merangkul tubuh sang suami yang kini tidak sadarkan diri. Walaupun berat, karena ia menggunakan sihir angin untuk meringankan tubuhnya, sehingga beban yang ia bawa tidak terlalu berat.


Setelah itu Fear mengucapkan terima kasih kepada pasangan suami istri yang telah lama itu. Dan mereka pun berpisah di tengah perjalanan itu. Fear membawa Reiss hingga ke pedalaman hutan kesunyian sendiri.


Pohon-pohon menjulang tinggi ke atas, seperti ingin menggapai langit. Dengan dedaunan hijau yang hampir berubah coklat karena musim sepertinya akan berganti. Menguning kemudian gugur dan akhirnya jatuh ke tanah.


Berjalan di hamparan rerumputan minim yang hijau, semak-semak seakan menjadi pagar pembatas antara wilayah di hutan itu. Dan kini mereka sampai di sebuah air terjun yang cukup tenang alirannya.

__ADS_1


Tepat di tengah-tengah wilayah itu terdapat danau yang sepertinya tidak terlalu dalam, bercabang menjadi aliran sungai kecil ke segala penjuru arah. Fear pun membaringkan tubuh Reiss di samping danau itu.


Kemudian ia segera mencari tanaman obat yang sangat berguna di hutan itu, meninggalkannya tanpa penjagaan yang ketat..


Tidak lama setelah itu sebuah suara tetesan air terdengar dari dalam danau itu. Sebuah bayangan yang awalnya kecil muncul dan akhirnya menampakkan diri di atas permukaan danau tersebut.


Seorang perempuan tanpa busana, kedua dadanya terlihat tanpa penjagaan. Dengan kulit putih yang mulus, wajah yang cantik dan dua buah telinga yang sedikit runcing. Matanya secerah Batu Sapphire biru. Dengan rambut kuning pirang yang panjang dan juga harum.


Jari-jarinya sungguh lentik dan proporsi tubuhnya benar-benar ideal. Pinggul yang pas dan tidak terlalu besar maupun kecil. Paha dan betis yang sempurna jika di pasangkan dengan tubuhnya yang begitu memukau.


Ia pun mengapung di atas permukaan danau itu, pergi menghampiri Reiss yang tidak sadarkan diri. Sesaat setelah itu saat ia sampai tepat di sampingnya, wajahnya memerah.


Dan dua buah matanya melebar mengeluarkan cahaya kemilau yang kelam. Entah mengapa tubuhnya seperti menggigil ketika melihat wajah sang lelaki berambut cokelat. Ia pun langsung duduk bersimpuh di sampingnya sambil menyilangkan kedua buah lengannya.


Perlahan ia pun mulai memegang kedua pipinya yang begitu lembut. Matanya seakan menemukan belahan hatinya yang tidak pernah datang menjemputnya. Namun siapa sangka, kini kedua mata lelaki itu mulai terbuka dan –


"Ah—“


Perempuan itu cukup kaget ketika lelaki yang dapat memikat hatinya itu berkata. Tapi, sepertinya ia hanya tersadar sesaat, "Fea-r?—“


Setelah itu ia pun kembali tak sadarkan kembali. Perempuan berambut kuning itu tak sanggup melihat penderitaan lelaki yang kini berada di hadapannya. Ia seperti bisa melihat penderitaan yang di alami oleh lelaki itu begitu dalam dan memilukan.


Pengkhianatan, kesedihan, penderitaan, kasih sayang, dan cinta semua itu hancur dalam satu hari. Itulah yang kini ia lihat dari wajah sang lelaki. Perempuan itu kemudian ikut berbaring di atas tubuh Reiss, ia merayap seperti


sesuatu yang begitu lengket.


Napasnya naik turun dengan wajah yang memerah dan mata yang mengeluarkan nafsu. Hembusan uapnya keluar seakan-akan musim dingin akan segera datang, demi melepas rasa penderitaan yang di alami lelaki itu.


Perempuan yang kini berada di atas tubuhnya itu membulatkan tekad untuk menyelamatkan kehidupannya. Ia tahu jika ia membuat sebuah ikatan berarti ia menyerahkan hidupnya demi lelaki itu.


Seluruh tubuhnya akan menjadi miliknya. Bahkan hati dan jiwanya akan menjadi miliknya juga. Tanpa memedulikan semua itu ia merangkul leher Reiss dengan kedua tangannya. Mengangkat kepalanya, lalu ia pun menciumnya dengan gairah.


Tubuh yang saling bersentuhan, kini tubuhnya memanas seakan di panggang hidup-hidup. Tidak lama kemudian sebuah kontrak tercipta dan janji terikat.


Tepat di jari manis tangan kiri miliknya sebuah cincin perak muncul dan mengikat. Sedangkan di jari manis kiri yang telah memiliki sebuah cincin perak kini bertambah satu lagi.


Setelah itu, perempuan itu mengangkat wajahnya. Mengelus pipi kanannya dan dengan seketika luka-luka di sekujur tubuh Reiss pulih. Tidak ada luka sayatan maupun luka hantaman.


Perban di sekujur tubuhnya pun terbuka dengan sendiri dan menampakkan kulit yang tidak memiliki bekas luka sedikit pun. Sekali lagi ia mengelus pipinya. Sebuah janji suci telah berlangsung dan ia tidak bisa membatalkannya sama sekali.


Kini mereka berdua terikat oleh hubungan sebagai sepasang suami istri. Dan saat itu pula suara gemerisik semak terdengar. Fear menampakkan diri dan tidak percaya dengan apa yang ia lihat pada saat itu juga.


Seorang perempuan tanpa busana yang sedang menindih tubuh Reiss. Fear pun segera berlari ke arah perempuan itu. Matanya kini penuh dengan kecemasan karena mungkin saja perempuan itu akan membunuh suaminya secara diam-diam.


Namun sepertinya itu di luar dugaannya. Perempuan itu pun segera bangkit dan menghampiri Fear yang berlari ke arahnya dan siapa sangka sebuah rasa menyengat harus bersarang di pipi kanan Fear.


Sebuah tamparan yang cukup cepat melayang ke arah pipi kanannya. Tanpa bisa menghindari tamparan itu Fear hanya bisa kebingungan dan menyimpan rasa cemburu. Sebenarnya apa yang ia lakukan hingga ia mendapatkan sebuah tamparan.


Seharusnya perempuan itulah yang harusnya mendapat tamparan darinya. Lalu betapa kagetnya ketika perempuan itu menyentak Fear dengan cepat.


"Apa yang kau lakukan, jika kau memang istrinya dan mencintainya. Kau seharusnya bisa mengerti penderitaannya, kau sama sekali tidak mengetahui apa-apa, ya? Meskipun aku tahu kau adalah seorang putri langit."


Suaranya halus bagai kelembutan salju musim dingin. Dengan intonasi yang pas sekali, membuat perkataannya yang seperti kemarahan terlihat seperti sebuah saran.


Fear hanya bisa terdiam mendengar perkataannya. Bagaimana ia tahu bahwa aku adalah istrinya? Bagaimana ia tahu bahwa aku adalah seorang putri langit? Itulah yang kini bersarang di kepala Fear dengan hebat.


Sementara Fear dalam kebingungan. Perempuan seperti menggunakan sihir untuk menutupi tubuhnya sendiri. Air danau mulai mengapung secara perlahan, membaluti setiap inci tubuh perempuan itu.


Dedaunan berubah menjadi serpihan kecil lalu menaburi tubuh perempuan itu. Akar tanaman mulai merambat ke kaki perempuan itu dan terakhir adalah sebuah jentikan yang terngiang di dalam keheningan itu.


Dalam sekejap tubuhnya kini telah tertutupi sepenuhnya oleh pakaian yang anggun. Bibir merah muda tipis serta mata biru indahnya kini lengkap dengan hiasan bunga biru dan kuning yang terpasang di telinga atas.


Pada bagian lehernya ditutupi oleh kain hitam dengan motif meliuk-liuk. Bajunya berubah menjadi sebuah pakaian yang mirip seperti seorang putri. Putih kemerahan dengan menyembulkan dada bagian atasnya yang terlihat jelas.


Sebuah sarung tangan hingga sesikut berwarna putih dan merah muda. Pada ujungnya terdapat rumbai-rumbai berwarna putih bersih. Sedangkan bagian bawahnya telah lengkap dengan rok putih pendek hingga sepaha atas.


Sebuah kain merah tua yang bercampur dengan ungu meliliti bagian pinggangnya. Bola biru seperti kristal menggantung di pinggul kirinya, lalu yang terakhir adalah kaus kaki putih yang panjang hingga menutupi tulang kering dan melebih batas lutut kakinya.


Dan sepasang sepatu putih seperti kaca yang cukup transparan berwarna putih kebiruan. Tak lupa dengan tongkat yang pada bagian atasnya terdapat bila kristal berwarna biru dan terhias oleh bunga melati putih besar pada bagian belakangnya.


Setelah selesai ia pun mengulurkan tangannya ke arah Fear.


"Aku adalah Selina Alsya, seorang putri bumi," ucapnya ringan dengan tatapan serius.


Kaget dan bingung, itulah yang kini di rasakan oleh Fear. Entah mengapa kini ia bisa melihat seorang putri bumi yang di ceritakan dalam legenda bangsa langit hanya akan muncul jika belahan jiwanya sudah dekat.


Apakah jangan-jangan ia telah membuat janji suci dengan Reiss?

__ADS_1


__ADS_2