Sword Anthem

Sword Anthem
Chapter 18 - Taman Mistik Entia


__ADS_3

Rerumputan, cahaya pantulan matahari dan berbagai keindahan di dalam menara itu menyambutku dengan hangat. Ada sebuah tangga spiral di tengah-tengahnya dengan sebuah sangkar metalik putih yang menjulang hingga ke atas.


Di dalam sangkar itu ada sebuah meja, kursi dan perlengkapan teh. Dengan desain interior yang sangat indah, aku sampai tidak tahu harus berkata apa. Burung-burung kecil beterbangan melintasi kami.


Aku pun melangkahkan kakiku dengan perasaan yang sangat tenteram.


"Mari kita masuk, Kuro," sambut Hilda ramah.


Sepertinya ia tidak gelagapan lagi. Cepat sekali....


Memasuki Menara Entia, tapi seperti memasuki sebuah taman mistik yang berbeda. Dengan kucuran air pancur di setiap sisinya. Pada bagian bawahnya terdapat pot paralel yang memanjang dengan bunga warna-warni yang bermekaran.


Selaput mataku tidak letih ketika melihatnya, bahkan mataku seperti di ganjal oleh sesuatu agar terus melihat pemandangan ini. Hilda pun memasuki sangkar itu dan aku mengikutinya dari belakang.


Setelah berada di dalamnya kami berdua duduk dengan saling berhadapan. Hilda menuangkan ter ke dalam sebuah cangkir oval unik yang mana di pinggirnya terdapat manik-manik hijau kebiruan.


Lalu kepalaku memutar melihat sekeliling menara ini. Dengan tangga spiral yang menjulang ke atas berwarna perak, pastinya ada lantai dua, tiga atau lebih. Ternyata dugaanku salah.


Setiap persimpangan tangga spiral itu terdapat sebuah jembatan yang tipis. Jembatan itu penghubung untuk beberapa koridor seperti dalam fasilitas perpustakaan. Dengan berbagai rak buku yang besar dan arsip-arsip yang digantung seperti sebuah mainan bayi.


Kini aku melihat bagian pinggir bawah. Terdapat berbagai jenis tanaman dengan buah-buahan yang siap untuk di petik lalu disantap.


"Hilda, apakah kau tinggal di sini semenjak runtuhnya kerajaan?" Aku pun mengambil cangkir teh yang berada di atas meja lalu perlahan meminumnya selagi menunggu jawabannya.


"Seperti yang tadi Kuro ucapkan, saya memang tinggal di sini semenjak kerajaan runtuh. Lalu bagaimana dengan Anda sendiri?" Hilda pun bangkit lalu mengambil toples kue kering yang berada di atas bunga raksasa.


"Hmm ... di sebuah rumah sederhana dekat dengan danau dan jauh dari Kerajaan Astarte maupun Ronove. Ngomong-ngomong teh ini enak," ucapku riang. "Apakah kau sedang menjaga sesuatu di sini?."


"Ah... terima kasih atas pujiannya, Kuro," sahutnya. "Begitulah, saya di sini memang menjaga sesuatu. Itu adalah tugas terakhir saya dari mendiang Ayah Anda."


Ia pun berbalik sambil menaruh setoples kue kering di atas meja, lalu kembali duduk sambil bersimpuh.


"Hmm ... Ayah ya, lalu apakah itu sebuah buku?"


"Iya, buku. Buku ini adalah harta kedua dari kerajaan selain Pedang Suci Regalia," ucapnya. " Buku Takdir Entia"


"Sepertinya itu benda yang sangat penting sekali, aku mendapatkan surat dari mendiang Ayahku dan kebetulan isinya adalah untuk mengambil buku itu."


Aku pun membuka toples kue kering itu, lalu mengambil sebuah kue kering berwanra cokelat dengan taburan keju.


"Apakah Anda yakin ingin mengambilnya?"


"Tentu saja, lagi pula itu adalah buku yang mungkin memberitahukan perkataan 'mereka' mengenai 'tugasku'... "


"Saya tidak bisa menyerahkannya begitu saja, walaupun Anda pangerankedua. Buku ini akan sangat berbahaya jika di gunakan secara sembarang." Ucapnya sambil mengeluarkan aura yang tak bersahabat.


"Tenang dulu ... jangan langsung menuju hal yang tidak berguna. Apakah ada cara lain agar aku bisa mengambilnya tanpa harus melakukan hal yang sia-sia?"


Dengan santainya setelah selesai memakan kue kering, aku pun langsung mengangkat cangkir teh lalu kembali meminumnya dengan santai.


"Tentu saja ada. Tetapi Anda harus bisa menjawabnya satu pertanyaanku dengan benar," ucap Hilda tegas. "Anda siap?" tanyanya sambil menatapku dengan tatapan penguji.


"Apa yang tidak aku bisa lakukan adalah hal memalukan bagi diriku sendiri, tentu saja aku akan menjawabnya," balasku dengan tatapan serius.


"Baiklah, ini dia pertanyaannya," tutur Hilda lalu menjulurkan tangannya ke arahku. "Setelah mengetahui isi dari buku itu, apa yang akan Anda lakukan, Yang Mulia Pangeran Reiss?”


Y-Yang Mulia Pangeran katamu? Hahh... sudahlah, aku sudah tidak peduli lagi mau apa ia memanggilku.


Aku hanya tersenyum kecil lalu bernapas lega, "Tentu saja ini  jawabannya," ucapku sambil menempelkan telapak tangan pada dada.


Namun sepertinya Hilda kebingungan dengan jawaban yang baru saja aku berikan.


"Bukan, tetapi benda yang berada di dalamnya. Benda yang membantu kita untuk dapat hidup, yaitu hati," jawabku. "Tanpa adanya ini kita tidak bisa menangkap rasa emosional yang akan tersalurkan menuju otak kita. Aku akan melakukan apa yang kuanggap benar dan menghancurkan apa yang kuanggap salah meskipun keberadaankulah yang menjadi taruhannya."


Hilda tidak bereaksi, tetapi tidak lama berselang dari itu ia tersenyum. Wajahnya memerah dan ia pun mengucurkan setetes air mata, "Jawaban Anda benar, Yang Mulia Pangeran Reiss. Terimalah buku ini, aku harap Anda dapat memegang perkataan itu dengan jujur."


Kemudian kepalan tangan Hilda terbuka, semburan air yang sangat luar biasa keluar dari tangannya bersamaan sebuah buku. Lalu air-air itu menghilang menjadi embun seketika dan akhirnya menguap tak tersisa.


"Tentu saja," ucapku sambil mengusap bawah hidungku.


"Hahaha ... pangeran kecil yang saya kenal dulu telah berubah menjadi seorang pria yang sangat luar biasa"


"Kalau begitu saya ambil bukunya, terima kasih telah menemaniku walaupun sebentar."


Setelah aku mendapatkannya, aku pun segera membacanya dan seketika saat itu juga keningku terangkat.


Sekumpulan Rune keluar dari dalam buku itu dengan warna yang berbeda-beda. Setiap Rune yang melayang kemudian berputar-putar di atasku dengan sangat cepat. Aku tidak terlalu paham dengan Rune-rune ini.


Tetapi sepertinya ini adalah Original Rune, tidak ada perubahan kata sama sekali. Bahkan menurutku semua Rune ini telah ada beratus-ratus ribu lamanya. Aku belum lah lahir pada masa itu, jika kau hidup di masa itu maka –


"Mungkin saja, akulah yang membuat semua Rune ini," gumamku.


"Apakah ada masalah, Kuro?"


"Tidak, tidak ada masalah sama sekali."


Aku pun memberikan senyuman tipis ke arahnya. Di sisi yang lain Hilda membalasku dengan senyum manisnya kemudian mengangguk, lalu terdiam kembali.

__ADS_1


Aku berasumsi orang yang bisa membuat Rune asli seperti ini hanya aku sendiri. Karena akulah yang menciptakan I-Rune, sihir yang mengandalkan imajinasi yang aktif untuk mengaktifkannya.


Tetapi jika ada satu orang yang bisa melakukannya pasti dia adalah orang yang hebat. Setelah itu aku berusaha membaca Rune yang melayang itu dengan susah payah. Namun aku hanya dapat membaca beberapa di antara sekumpulan Rune itu.


Jika benar maka Rune yang melayang itu hampir sepenuhnya memenuhi menara ini. Mari ku lihat lagi—


 


100000 jiwa akan melayang pada malam bintang kembar. Kehadiran mereka membuat Omega turun kembali ke dalam hamparan malam yang sunyi. Di dalam keadaan itu hanya pedang Regalia lah yang dapat merobek jantung sang Omega.


Malam itu akan berubah menjadi malam yang penuh dengan teriakan dan juga hujan darah. Omega sang penghancur dan pencipta. Ia bukanlah dewa ataupun sang pengatur, dia adalah sebuah kehadiran yang selalu di cari oleh manusia sejak berabad-abad lamanya.


Sebelum para dewa dan malaikat ikut campur ke dalam permasalahan hidup manusia. Dia adalah sosok yang sangat di nanti-nantikan tetapi juga sangat di takuti. Malam bintang kembar adalah tempat yang sempurna untuk membangkitkan Omega.


Wujud asli pedang Regalia harus segera terbentuk sebelum munculnya Omega. Jika telat maka sang pedang lagu harus mengorbankan nyawanya untuk menghancurkan mega.


Omega akan masuk ke dalam tubuh sang pedang lagu. hanya orang tersayangnya lah yang dapat merobek jantung sang Omega. Jika telat Omega telah masuk ke dalam tubuh sang pedang lagu.


Dia ... dia adalah sang pengemban harapan. satu-satunya makhluk yang tidak bisa di samakan dengan manusia maupun malaikat. Karena sosoknya di antara kehidupan ini hanyalah sebagai pemutus tali kehancuran.


Sang pedang lagu sekaligus sang pengemban harapan. di hari penghakiman itu manusia mulai berubah menjadi sosok aslinya. hewan-hewan saling membunuh satu sama lain. keindahan alam akan layu seketika.


Udara akan berubah menjadi racun yang tak terlihat. Jika omega benar-benar telah bangkit dan masuk ke dalam tubuh sang pedang lagu, maka bunga kehancuran akan tumbuh di angkasa.


Bunga itu akan tumbuh semakin besar seiring dengan waktu berjalan. Jiwa-jiwa yang tersesat akan terhisap ke dalamnya, jiwa itu bagai sebuah nutrisi baginya.


Jika benar itu akan terjadi, maka sang pedang lagu sendirilah yang harus menghancurkan jantungnya sendiri dengan pedang takdir, yaitu pedang tanpa batas Regalia.


Saat Omega telah di kalahkan maka tugas sang pengemban harapan telahmberakhir. Jiwanya akan bebas dan raganya akan menghilang dari dunia ini, tetapi dia akan di kirim ke dunia lain.


Di mana dunia itu telah terjadi pertikaian yang sangat hebat. Bahkan sesama saudara akan saling membunuh demi mendapatkan kekuatan yang besar. Di sana lah sang pengemban harapan akan di hidupkan kembali.


Benar-benar luar biasa. Rune ini sepertinya menceritakan kisah sang pengemban harapan yang membebaskan dunia yang gelap itu dari Omega. Tetapi jika ingatanku benar tentang Omega ini, sebelumnya aku pernah menemukan buku yang sama persis dengan isi Rune ini.


Ya, tempat itu berada di dalam ruangan itu, ruangan yang dengan secara paksa membuka ingatan lamaku. Dan pada ingatanku itu semua orang menggantungkan harapan mereka kepada seorang lelaki berambut cokelat tua.


Dan jika dugaanku benar, lelaki berambut coklat tua itu adalah aku. Apakah takdirku selama ini untuk menghancurkan Omega ini? Hahaha ... sungguh lucu sekali takdirku ini. Tali takdir yang telah terikat dengan diriku ini sepertinya benar-benar membuatku harus melakukan hal yang merepotkan.


Kenapa tidak ada takdir yang hanya bermalas-malasan saja? dengan segelas besar cokelat hangat dan roti gandum?


Setelah aku mengerti tentang isi buku ini, aku akan memberikannya kepada Tuan Hughes alias Lucifer. Lalu bagaimana dengan Hilda? Apakah setelah tugas terakhirnya selesai ia akan menghilang ataukah akan tetap diam berada di sini.


"Huuuhhhh ... isi dari buku ini cukup berat juga untuk di cerna," guyonku. "Hilda?"


"Ya, ada apa Kuro?"


"Aku telah mengambil tugas terakhirmu ini, lalu setelah ini apa yang akan kau lakukan?"


"Tidak, hanya saja aku penasaran dengan pelayan-pelayan lain yang mengabdi pada kerajaan ," tuturku. "Apakah mereka sama seperti dirimu, ataukah berbeda? Mungkin saja mereka di berikan tugas terakhir lain


dari mendiang Ayahku"


"Hahaha... tidak, mereka semua telah meninggalkan dunia ini bersamaan dengan runtuhnya Kerajaan Faustia," ucapnya sambil tertawa kecil. "Mereka adalah keluargaku sama halnya dengan dirimu. Anda telah saya anggap sebagai keluarga terakhir saya berhubung Anda menunjukkan diri Anda di depan saya. Mereka tidak di berikan tugas seperti ini, tugas terakhir ini hanya di berikan kepada saya. Kepala pelayan kerajaan seorang," ucapnya." Tugas terakhir yang di berikan kepada saya hanya sebatas menjaga buku ini hingga seorang lelaki yang berhak datang lalu mengambilnya"


"Hmmm ... jadi seperti itu," sahutku. "Lalu apakah kau akan benar-benar menghilang? Kau bisa saja mencari pekerjaan lain"


"Tidak, yang saya maksud adalah saya tidak akan di dunia ini lagi. Karena tali Mana saya telah terhapus dan batas waktu juga telah pada puncaknya," jelasnya sambil tersenyum kecil.


"Sayang sekali kalau begitu, padahal kenapa kau tidak melayaniku saja?" saranku. "Aku hanya akan memberikan dua perintah untukmu"


"Tapi Kuro, jika aku—“


"Aku tahu itu Hilda, kau membutuhkan tali mana bukan?" tanyaku. "Yangmana hubungan kita ini saling menguntungkan kau akan melayaniku seumur hidupmu dan kau akan mendapatkan Mana dari tubuhku."


Aku pun tersenyum hangat kemudian mengambil beberapa kue kering lagi untuk kumakan.


" ... "


"Ayolah," lanjutku lalu menyeruput secangkir teh dengan damai. "Tinggalkatakan saja iya atau tidak."


"B-baiklah." Wajahnya kini memerah, aku tidak tahu apakah ia sedang senang sekali atau ia begitu terharu mengenai penawaranku.


"Namaku adalah Kuro, dengan ini sebuah ikatan akan terbentuk antara tuan dan pelayan. Bagi siapapun yang


keberatan maka teriakanlah namaku jika tidak maka diamlah. Dengan ini kontrak akan terbentuk dan sebuah


hubungan baru tercipta antara, aku Kuro dan—“


"—saya Hilda," lanjutnya.


"Bintang malam akan menjadi saksi dan bulan akan menjadi penghubung kita. Walaupun masa depan belum di


ketahui, aku akan selalu mempercayainya sebagai keluagaraku," ucapku tenang.


Kami berdua saling membusungkan dada masing-masing, pada punggung tangan kanan Hilda muncul sebuah lambang berbentuk Pedang Regalia berwarna putih. Sedangkan di punggung tangan kiriku adalah Pedang Regalia berwarna hitam.


"Nah ... dengan begini akhirnya kontrak telah selesai, jadi sebagai tuanmu yang baru akan memberikan beberapa pertanyaan," tuturku dengan lembut.

__ADS_1


"Apapun akan saya jawab"


"Apakah akhir-akhir ini ada sesuatu yang aneh sebelum aku tiba ke sini?"


"Tidak, hanya saja beberapa bulan kemarin saya sering melihat sekumpulan roh yang beterbangan secara bebas di langit-langit dekat Menara Entia ini"


"Selain itu?"


"Tidak ada yang aneh lagi selain itu, Kuro "


"Lalu apakah makhluk hitam yang menyerangku itu adalah makhluk yang kau panggil?"


"Ya, mereka adalah Terma. Mahluk yang aku ciptakan dengan Mana sementara, mereka akan muncul jika berada dekat dengan beberapa Kristal Ignium"


"Hmm... aku kira itu bukan ulahmu, sebelum aku mengetahui bahwa itu adalah perbuatanmu. Aku ingin membunuh Necromancer itu, atau jangan-jangan Hilda. Kau seorang Necromancer?"


"Kurang tepat, saya hanya dapat menggunakan kemampuannya saja. Karena sihir pemanggilan yang saya kuasai tidak mencapai sempurna seperti yang Anda lihat sendiri"


"Apakah kau mengetahui tentang pelahap pedang, Hilda?"


"Saya hanya mendengarnya sedikit dari Yang Mulia Pangeran Ray, ketika beliau masih hidup"


Rupanya mendiang Kakakku juga tahu tentang pelahap pedang ini.


"Mendiang Yang Mulia Pangeran Ray pernah menceritakannya ketika umurnya masih sekitar 70 tahu, Dan mungkin Kuro masih sekitar 25 tahunan. Saat itu Anda sangat muda dan sangat lucu"


"Hilda apa maksudmu 25 tahun, aku saja masih 20 tahun"


"Dalam Kerajaan Langit Faustia, umur dari setiap anggota keluarga kerajaan sangatlah panjang. Bisa di bilang Anda akan mengalami fase kanak-kanak di umur 1-50 tahun, sedangkan mendiang kakak Anda, yaitu Yang Mulia Pangeran Ray sudah remaja. Berkisar di antara 50-125, sedangkan untuk umur mendiang orang tua Anda adalah 800 tahun ke atas," jelasnya.


"Hehhh!?... ternyata umurku panjang sekali, kukira umur asliku adalah 20 tahun"


"Hahaha... jika itu di kaitkan maka sekarang umur Anda sudah sekitar 327 tahun dan jika di konversikan akan menjadi 20 tahunan dalam kalendar manusia"


"Hmm... jadi seperti itu rupanya," gumamku. "Lalu tentang pelahap pedang ini?"


"Ah... saya hampir lupa, kalau begitu saya akan menceritakannya," sahutnya.


"Pelahap pedang yang saya akan ceritakan adalah pelahap pedang yang dulu pernah mendiang Kakak Anda kalahkan. Makhluk ini adalah suatu ketidaksinambungan yang tercipta akibat pengumpulan masa energi hitam dengan bentuk yang menyerupai hampir mirip seperti seekor naga"


"Namun dalam beberapa kasus mereka juga bisa berubah menjadi 'Halfing' ataupun 'Manusia', mereka menggunakan elemen kegelapan untuk menghancurkan mental mangsa mereka. Biasanya mereka menggerogoti pedang-pedang para kesatria, tetapi yang di kalahkan mendiang kakak Anda adalah yang berjenis Hybrid"


"Mereka memangsa jantung makhluk hidup mau itu manusia ataupun hewan di saat yang sama mereka juga memakan pedang dan alat-alat tempur yang berbahan metal solid"


"Makhluk ini memiliki sekitar tiga nyawa alias tiga buah jantung di setiap anggota tubuh yang berbeda. Jantung utama berada tepat di pusat tubuhnya dekat dengan dada atas. Kedua berada di mata mereka sedangkan yang ketiga masih belum diketahui letaknya," jelasnya.


"Jika jantung ketiga belum diketahui lalu bagaimana mendiang Kakaku mengalahkannya?"


"Mendiang kakak Anda menebas habis tubuhnya dengan Pedang Regalia dalam bentuk yang sesungguhnya”


"Sekarang masuk akal, mengapa Kakek beruban itu menempelkan misi investigasi ini di dalam serikat," gumamku. "Lalu apakah pelahap pedang ini ada kaitannya dengan kejadian aneh ataupun mitos, karena dulu aku pun  hampir mati karenanya. Untungnya karena bantuan dari dua orang rekanku aku dapat mengalahkannya."


"Jika saya lihat dari pertarungan Anda itu tidak masuk akal sekali, karena pelahap pedang ini sangat lah berbahaya. Mendiang Kakak Anda kehilangan pasukannya ketika melawan makhluk ini, jika saya dapat katakan pelahap pedang yang Anda lawan itu mungkin masih sangat muda"


"Karena mendiang kakak Anda mengerahkan hampir 500.000 prajurit untuk mengalahkannya.”


Banyak sekali!!


Sepertinya misteri dunia ini sangat lah rumit, ada beberapa yang belum aku ketahui sama sekali. Namun sekarang aku mendapatkan beberapa kepingan puzzle tentang ingatan lamaku kembali.


"Hmm... itu angka yang tidak sedikit, Hilda. Terima kasih atas penjelasannya aku sekarang akan segera menuju bumi kembali, kau akan ikutkan?"


"Tentu saja, Kuro. Sekarang saya pelayan pribadi Anda," sahutnya sambil tersenyum.


Kami berdua pun bangkit lalu segera berjalan menuju reruntuhan Kastel Armhade. Tidak lama kemudian kami telah berada di luar Menara Entia. Hilda berjalan di belakangku dengan sangat formal sekali.


Sebenarnya itu membuatku kurang nyaman, jadi aku memintanya agar ia berjalan di sampingku. Awalnya ia enggan dan malu, tetapi setelah aku membujuk dan meyakinkannya tidak akan terjadi apa-apa, akhirnya ia  pun berjalan di sampingku.


Kami berdua berbincang-bincang kecil selagi berjalan menuju reruntuhan Kastel Armhade. Di sela-sela itu Hilda menceritakan tingkah lakuku waktu masih kecil. Aku hanya dapat membuka mulut lebar-lebar mengenai itu.


Pasalnya karena tingkah laku itu masih aku lakukan hingga saat ini. Dan anehnya Hilda tertawa terbahak-bahak, aku hampir tak bisa bernapas ketika melihat wajahnya yang seperti itu.


Seperti terkena sebuah sengatan listrik yang tiba-tiba saja menyentak kepalaku dan akibatnya aku seperti mematung. Hal itu tidak lama ketika makhluk itu tiba-tiba saja mengeluarkan sebuah bola api hitam raksasa ke arah kami berdua.


Hilda tidak menyadarinya, jadi aku langsung menggendongnya dengan Bridal Style lalu melompat menghindari serangan itu. Wajahnya yang cukup kaget langsung memerah dan ia mendekapkan wajahnya di dadaku.


Setelah berhasil menghindari serangan itu, aku pun menurunkan Hilda lalu memberikan serangan kejut yang cukup kencang dengan menggunakan tendangan dari kaki kananku. Gelombang yang bukan main ukurannya melesat menerjang makhluk itu tetapi hanya dengan sebuah kibasan dari ekornya gelombang yang aku keluarkan lenyap tak tersisa.


"Tchh ... merepotkan saja"


"A-apakah aku membuat, K-Kuro tidak nyaman?" tanya Hilda kikuk dengan wajah yang sangat berkeringat.


"Tidak, maksudku makhluk itu," sahutku lalu menunjuknya dengan enteng.


Hilda mengambil napas dan ia pun lega bahwa bukan dirinyalah yang menjadi beban bagi diriku." Rupanya dia datang ke sini."


"Siapa?"

__ADS_1


"Pelahap pedang," balasnya singkat.


"Rupanya dia telah datang, sepertinya ini akan menjadi pertempuran yang sangat... panjang."


__ADS_2