Sword Anthem

Sword Anthem
Chapter 7 - Pembunuh Dewa


__ADS_3

Aku tidak tahu apakah ini karma yang selalu menghantuiku? Atau sebuah ujian yang harus aku lewati?


Semua muridku telah berada dalam perlindungan Fear, kini yang harus aku lakukan adalah membasmi mereka semua yang membuat murid-muridku ketakutan. Aku berjalan dengan santai sambil memegang pedang putih di tangan kiriku.


Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, empat langkah dan akhirnya lima langkah. Jarak mereka masih terlalu jauh dari jarak serangku, namun karena segel pertama telah terlepas maka itu cerita lain.


Siulan angin malam yang cukup melengking, bulan purnama dengan cahaya birunya yang tampak sangat dekat. Pepohonan seakan-akan berbisik satu sama lain, bahkan bayang-bayang yang selalu mengikuti setiap gerakku.


Mereka memaksaku untuk mempertajam semua indera tubuhku. Tidak hanya penglihatan dan pendengaran namun hingga perasa, gerak serta penciuman. Baik sensasi kulit yang mulai kaku dan siluet yang aku lihat menjadi sangat


terfokus.


Kuda-kudaku mulai memanas, sebuah teriakan yang memulai awal dari pertempuran penghabisan dimulai –


"Haaaaaa ...!!!!"


Aku menghuyungkan pedang putih dalam sekali ayun. Sebuah gelombang sabit yang bukan main ukurannya keluar secara vertikal. Berwarna putih dengan listrik-listrik yang menjalar di setiap sisinya, seperti sebuah pelindung.


Gelombang itu menerjang pasukan iblis itu dengan sangat keras dan meledak di saat yang bersamaan meninggalkan listrik-listrik statis yang masih tersisa di sekitarnya.


"Over Jump ...!!"


Melompat tinggi ke udara, sinar rembulan di atas sana seperti pantulan cermin yang memperlihatkanku pada sebuah tragedi. Ketika mataku terasa membara penuh ambisi, tubuhku mulai melakukan manuver dengan cepat sambil mempersiapkan sebuah tebasan yang senyap.


Menekan daya terjunku hingga maksimal, setelah itu aku pun melempar pedang hingga menancap ke dalam tanah tanpa semua iblis itu sadari. Begitu aku mendarat dan menendang bagian tumpul bilahnya, berbagai semburat petir tiba-tiba saja muncul dan meledak hebat.


"Divine Lightning—"


Suara ledakan berirama saling berpadu, lantunannya yang terus-menerus terdengar bagai deburan ombak ganas yang menghantam setiap halangan yang dilaluinya.


Aku pun menendang pangkal bilahnya dengan tumitku dan pada saat itulah sebuah jaring petir biru merambat dan meluas layaknya segerombolan semut tak terlihat. Begitu transparan seperti sehelai kain tipis yang bening.


“—*Blast*!!!”


Jaring petir itu meledak dan mengoyak setiap iblis yang lengah. Menjadikan mereka sebagai abu yang lekat, tanpa menyisakan darah, atau tumpukan daging sekalipun. Setidaknya dengan serangan ini membuat jumlah mereka berkurang drastis.


Tanpa basa-basi lagi aku pun langsung mencabut pedang, setelah itu kembali melesat dengan cepat ke arah mereka. Mengibaskan pedang putihku dengan elegan dan tanpa gerakan yang sia-sia.


Beberapa di antara mereka ada yang menyerangku dari langit dengan beberapabola api. Namun aku dapat menghindarinya dengan sangat mudah, di setiap celah yang mereka ciptakan terkadang aku gunakan untuk menyerang mereka kembali.


Contohnya saja bola api, aku melengkungkan jalur tembaknya dengan bagian pipih pedang putihku dan alhasil bola-bola api itu kembali kepada mereka dan melenyapkan mereka menjadi arang.


Beberapa pasukan iblis yang memiliki ukuran tubuh yang besar selalu menghantamkan kedua kepalan tangannya ke arahku. Tetapi ada dari beberapa mereka yang melancarkan sebuah pukulan keras ke arahku.


Tidak hanya sebuah pukulan tetapi sesekali tendangan, sabitan dari tombak gelap yang di bawa mereka. Aku pentalkan setiap serangan itu dengan kibasan dari pedang putihku. Namun terkadang aku terpental cukup jauh.


Tidak ada kata kalah dalam kamus besarku, aku pun mengentak tanah. Dari entakkan itu membuat kecepatan akselerasiku menjadi semakin lebih cepat.


Liukkan demi liukkan dari pinggir pedang putih ini membuat tubuh mereka memuntahkan darah yang banyak. Medan pertempuran seperti ini seperti perang besar yang berkecamuk dengan hebat.


Satu melawan sebuah parade pasukan, berbanding terbalik dengan ekspektasi, aku memandang mereka dengan tatapan dingin. Julukanku sebagai pembunuh dewa hitam bukanlah hal yang patut kalian remehkan.


Gerakan mereka lambat ....


Hujan darah yang tidak bisa kuhindari merintih begitu memilukan di tubuhku. Warna merahnya menyatu dengan jubah merah dan mata merahku seakan-akan mengatakan bahwa itu adalah normal.


Mereka mulai mengamuk dan membabi buta, mereka menyerangku secara brutal namun –


"Limit Off ...."


Gerakanku membayangi bayangan mereka dan menjadikan diriku seperti angin yang tak terlihat, tetapi suara seruan petir terikat di belakangku.


Setiap kali aku mengayunkan pedang untuk membelah mereka menjadi dua, petir putih selalu menyambarnya dari langit dan menjadikan mereka abu dalam sekejap.


Tendangan vertikal aku lancarkan hingga membuat salah satu iblis raksasameluncur ke langit. Ia terbang bebas tanpa beban, tetapi ketika ia kembali terjatuh, dengan cepat aku meluncur dan memotongnya dalam sekali sayatan.


Darah keluar begitu deras di malam hari itu, di malam saat murid-muridku seharusnya telah pulang. Namun mereka tiba-tiba datang, dan mulai menyerangku. Aku bahkan tidak tahu siapa yang melesatkan sebuah petir kuning ke arahku.


Jika aku lihat dengan sekejap di antara mereka, aku hanya membayangkan iblis yang menyemburkan bola api saja. Namun jika itu petir apakah itu mungkin bagi iblis seperti mereka yang memiliki elemen petir maupun api dalam waktu yang sama.


Sekarang semua itu akan menjadi urusanku, tetapi untuk saat ini fokusku hanyalah untuk mengalahkan pasukan iblis ini dengan cepat dan tanpa luka.


Sekali lagi aku melesatkan beberapa tebasan yang lincah dan juga mematikan. Beberapa iblis tumbang dan bahkan berubah menjadi asap hitam, adapun yang mati seperti kami para manusia. Darah bergelimang di padang rumput ini, aku harap hujan dapat menghilangkannya dengan segera.


Waktu pun berlalu dengan cepat dan aku tidak menyadarinya sama sekali bahwa pasukan iblis ini hanya tinggal beberapa ratus lagi.


***

__ADS_1


"Cepat mereka kemungkinan tidak akan bertahan lama jika menghadapi pasukan iblis sebanyak itu." ucap Fay dengan khawatir.


Van dan Fay sedang berlari dengan cepat di antara hutan-hutan bersama Rena, Aresya dan juga para Kesatria Legion.


Semua bergegas dan yang paling khawatir adalah Velia yang mencemaskan Kuro, raut wajahnya tidak bisa di sembunyikan. Sedangkan Aresya tampak tenang, entah mengapa sang Guardian of Life sangat tenang dan wajahnya itu tidak tampak akan kekhawatiran sama sekali.


DHUARRRRR ....!


Namun mereka semua dikagetkan oleh sebuah petir putih raksasa yang tiba-tiba saja turun dari langit malam. Seketika raut wajah Aresya menjadi sangat lega, lalu ia pun langsung memimpin mereka menuju tempat petir itu berada.


Tidak lama kemudian Van melihat beberapa murid dari jarak pandangnya, akhirnya ia melompat-lompat di dahan kayu dengan sangat lincah. Ia pun yang pertama sampai di sana terlebih dahulu. Sisanya masih ada di belakang.


"Ada apa? Apa kalian baik-baik saja?" tanya Van khawatir.


Namun ia lega karena tidak ada yang terluka sedikit pun, tetapi betapa kagetnya ia ketika melihat wajah muridnya yang sangat tenang namun fokus pada satu titik. Mereka sama sekali tidak ketakutan dengan pasukan iblis itu


melainkan seperti sedang memerhatikan sesuatu.


Ketika Van mengikuti arah pandang salah satu murid itu, ia tidak bisa berkata apa-apa karena yang ia lihat bukanlah sebuah monster, iblis, malaikat, dewa ataupun seorang raja. Melainkan seorang lelaki berambut cokelat tua dengan mata merah gelapnya yang bersinar di penuhi oleh darah. Di sekitarnya beratus-ratus ... tidak, lebih tepatnya beribu-ribu mayat iblis berserakan.


Ia hanya dapat tertegun melihatnya. Kemudian setelah itu baik Fay, Aresya, dan semua Kesatria Legion merasakan hal yang sama seperti apa yang dirasakan oleh Van.


Ekspresi yang sangat kaget bahkan di antara mereka ada yang syok. Tetapi untuk Aresya itu adalah hal yang biasa, karena lelaki yang berada di sana adalah orang yang sangat ia kenal sekali sehingga hal seperti itu pasti sangat mudah. Ia pun menghampiri murid-murid yang berada di depannya.


"Kalian tampak tenang juga rupanya," ucap Aresya dengan santai.


"Hiii!! ... rupanya kepala sekolah," sahut Mai dengan kaget.


"Kami tenang karena wali kelas kamilah yang memberitahukannya, memberitahukan walau dalam keadaan genting sekalipun kita harus tetap tenang," timpal Loki dengan memasang wajah kagum.


"Bukan hanya itu saja, kami semua harus memperhatikannya. Karena ini masih jam pelajaran ekstra ... hahaha," celetuk Hiro sambil tertawa kecil.


"Seperti yang kau katakan, Hiro. Kita harus memperhatikan instruktur kita jika ia sedang mengajar atau dia akan menghukum kita ... hahaha. Tapi untuk hal seperti ini menurutku sangat gila, jika hanya satu orang saja yang dapat menghadapi ribuan pasukan iblis itu," lanjut Reya, "Tetapi inilah instruktur kita, benar ’kan?"


"K-K-K-Kurooooo?! Itu tidak mungkin!" sanggah Rena dengan kaget.


"Kau masih tidak percaya juga, Instruktur Rena? Bahwa lelaki yang berada di sana adalah wali kelas kami sendiri, Instruktur Kuro," ucap Shiena sambil menunjuk ke arah lelaki yang berada di tengah-tengah kumpulan


mayat Iblis.


"Hahahahaha ... seperti yang kuharapkan darinya, ia benar-benar seperti yang aku harapkan," ucap Aresya dengan terkekeh-kekeh.


Mereka heran mengapa ia bisa tertawa seperti itu di saat keadaan tegang seperti ini. Tetapi tidak untuk Velia, matanya membesar dan sangat lega mengetahui bahwa lelaki yang ia cintai itu selamat.


Sedangkan untuk Van dan Fay, mereka harus bisa memahami situasi yang ada. Jika mereka gagal mungkin akan ada bahaya yang lebih mematikan di dekat mereka sekarang berada.


UARGHHHHHH .... !!!!!


Tiba-tiba saja seekor iblis yang cukup besar muncul di hadapan Fear dengan tiba-tiba. Matanya mulai melebar tanda akan ketakutan tetapi –


"JANGAN PERNAH MENDEKATI GADIS KECILKU, PUKULAN ORANG MISKIN!!!"


Sebuah pukulan yang sangat keras menghantam tubuh iblis itu tepat mengenai perutnya yang terbuka lebar. Iblis itu terpental sangat jauh.


"RASAKAN INI, SAMBARAN PETIR ORANG SENGSARA!!!"


Lalu sebuah kilatan petir putih menyambarnya dengan cepat. Melemparnya ke langit, kemudian meledak seperti kembang api dengan suara gema yang menyeru langit-langit. Lelaki itu pun berbalik ke arah Fear.


"Wuhhhh ... hampir saja," ucapku sambil mengelap wajah yang penuh dengan darah." Fear, jangan menangis atau kujitak kepalamu, nih permen untukmu. Walaupun kecil jangan menangis lagi, apalagi di depan murid-muridku.


Ok," lanjutku sambil menyerahkannya lalu melayangkan jempol ke arah murid-muridku.


"Sir yes sir," sahut Fear dengan sigap lalu mengambil permen itu seperti penyerahan benda keramat, lalu memberikan penghormatan seperti seorang prajurit kepada panglima perang.


"EHHHHHHHH ... CEPAT SEKALI!!! ... "


Semua muridku yang melihat itu hanya bisa terdiam lalu tertawa dengan wajah


lega.


"Hahahahaha ... instruktur, Anda masih bisa memberikan lelucon walaupun sudah mengalahkan pasukan iblis itu. Anda memang susah di tebak," ucapHiro sambil tertawa kemudian di susul oleh lainnya.


"Yahhh ... kalian tahukan, apa kata-kata instruktur kalian ini?"


"Tentu saja selalu tenang walaupun dalam keadaan genting," Jawab Loki dengan percaya diri.


" ... Dan salah satunya adalah memberikan lelucon yang dapat mencairkan suasana," timpalku sambil mengedipkan mata.

__ADS_1


Mereka semua tertawa terpingkal-pingkal dan aku sadar satu hal yaitu ada seseorang yang sama sekali tidak ingin aku temui.


"Huhhhh ...  nenek sialan mengapa kau ada di sini?"


‘... Kau memanggil seorang Guardian of Life dengan nenek sialan, Anda sungguh luar biasa Instruktur Kuro!! ...’ itulah apa yang aku tebak dari isi pikiran muridku ketika wajah mereka menjadi kaku.


"Jadi bukankah urusanmu hanya dengan berkas-berkas saja?" lanjutku sambil memasang wajah garang seperti macan yang kelaparan.


"Betul, betul kenapa nenek sialan ini ada di sini?" timpal Fear dengan wajah polos tapi gaya seperti seorang berandalan.


"Hueee ... bahkan Fearku juga menyebut nenek sialan, Kuro kau akan merasakan amarah dari nenek sialan ini. Gajihmu akan kupotong," ancam Aresya dengan memasang wajah seperti iblis.


"Ampuni hambamu ini ..." ucapku dengan sigap lalu meluncur ke arah Aresya sambil memasang gaya sesembahan.


"Ma ... ma, aku hanya berbohong kok. Hahahaha," ejeknya dengan mendapat tawa kemengan.


"Tchh, sial aku terjebak lagi ...," celetukku sambil meninju tanah dengan berlinang air mata.


Kedua instruktur itu masih ternganga melihat kelakuanku terhadap Aresya, sama halnya dengan murid-muridku dan juga para Kesatria Legion. Namun Velia tertawa sendiri seakan-akan sudah mengetahuinya.


"Ah ... aku lupa sesuatu," ucapku cepat lalu berlari ke depan murid-muridku. Fear pun dengan sigap langsung memanjat tubuhku dengan tubuh mungilnya lalu duduk di pundakku dengan melonggarkan kedua kaki kecilnya di


bahuku, "mohon perhatian, sekarang aku akan menjelaskan sesuatu," lanjutku sambil menguap.


Dengan adanya Fear kami berdua terlihat seperti ‘MegaZord’, dengan Fear sebagai kepalanya dan aku sebagai tubuhnya.


"Sekarang lihatlah ke sana," tuturku sambil menunjuk sisa mayat-mayat iblis yang telah aku kalahkan.


Semua mulai memperhatikan, begitu juga dengan para instruktur, dan para Kesatria Legion Aresya hanya tersenyum sedangkan Rena seperti kesal, ia menggembungkan kedua pipinya.


"Iblis, sebenarnya mereka tidak sejahat apa yang kalian kira. Mereka adalah roh-roh yang tersesat, lalu dipaksa oleh sang raja alam bawah untuk berbuat


kejahatan, mereka disiksa, dilatih sedemikian rupa bahkan di lecehkan berulang


kali"


"Mengapa aku mengetahuinya? Itu adalah rahasia," ucapku dengan


senyum usil.


Ketika wajah mereka menjadi masam, hanya Aresya saja yang tersenyum kecil


mendengarnya.


"Sekarang lihatlah baik-baik apa yang akan terjadi," ucapku lalu duduk.


Dari mayat-mayat itu keluar sebuah cahaya kebiruan yang kemudian melayang di sekitar padang rumput. Sedangkan mayat-mayatnya menghilang menjadi serbuk cahaya kuning dan juga hitam. Setelah itu roh-roh itu berbicara kepadaku, tetapi tampaknya bukan hanya aku saja yang bisa mendengarnya.


 


... Kami sangat berterima kasih sekali karena telah membebaskan kami dari


siksaan ini wahai pendekar ...


... Kami ucapkan rasa syukur ...


... Ya, kakak terima kasih ...


... Anak muda aku sangat bersyukur sekali ...


... Sekali lagi terima kasih, terima kasih, terima kasih ...


 


Kemudian para roh itu menghilang.


"Jika kalian mendengarnya sama seperti diriku, artinya kekuatan kalian telah meningkat, dan satu lagi tentang Mana. Mana tidak hanya berasal dari alam tetapi juga berasal dari para roh-roh yang menjaga kestabilan alam. Mereka hidup di sekitar kita walaupun tidak terlihat."


Aku pun mendongak menatap bulan di atas sana.


"Dan sepertinya kalian baru pertama kali melihatnya, jangan menganggap mereka bahaya karena sebenarnya mereka baik dan tidak jahat. Tetapi jika kalian menyerang mereka maka kalian juga akan di serang oleh mereka."


Setelah itu aku kembali menoleh ke arah semua muridku.


"Jadi karena itulah aku melarang kalian agar tidak membunuh makhluk hidup. Jika kalian melanggar ini maka aliran Mana kalian akan terkunci kembali," jelasku, "Kalian paham?"


"Ya, instruktur kami paham"

__ADS_1


"Bagus, kalau begitu bubar. Jangan ada yang keluar malam-malam seperti ini, ok," lanjutku sambil mengembangkan senyum tulusku.


__ADS_2