
Sebelum kecerita utama kita intro dulu~
Hai semua! Nama gue ReIN dan terima kasih karena telah memberikan gue kesempatan untuk menemani malam jomblo loe! Jika kalian menyukai cerita ini maka berikan jempol ke atas dan jika tidak cukup vote lalu sebarkan cerita ini. Jangan lupa berikan komentar dan tips agar sang Author tetap semangat update ceritanya!
.
.
.
“Apakah kau yakin melakukan ini, Kuro?" tanya Hilda.
"Hmm... tentu saja, aku yakin tentang ini, Hilda. Lagi pula siulan daun yang aku tiup tadi merupakan sebuah pesan rahasia walaupun hanya beberapa orang saja yang tahu," jawabku. "Hilda?"
"Hmm?"
"Bisakah kau melepaskan pelukanmu terhadap tangan kananku?" pintaku.
Secara perlahan dan bertahap wajah Hilda memerah dari bagian bawah wajahnya hingga akhirnya atasnya. Dan ia langsung melepaskan pelukannya lalu membungkuk meminta maaf.
"Sudahlah, tidak apa-apa, lagi pula kau belum pernah melakukan ini, kan?" ucapku sambil tersenyum kecil lalu memandangi langit.
"Sepertinya kau sedang dalam keadaan senang ya, Kuro," sahutnya.
Kini ia berjalan di samping kiriku sambil menyimpuhkan kedua tangannya di bawah.
"Seperti itulah"
"Sekarang?" tanyanya kebingungan.
"Kita akan pergi menuju rumah orang tua angkatku."
Setelah itu kami pun berjalan menyusuri lereng tebing itu dengan menggunakan sihir angin. Agar memudahkan kami untuk cepat sampai di kediaman Ayah angkatku, aku harus menggunakan jalan pintas.
Seperti biasa dengan pohon-pohon rindang yang menjulang ke atas. Dedaunannya yang lebat begitu hidup ketika di terpa oleh angin. Batangnya yang cokelat padam menandakan bahwa beberapa pohon sudah berumur puluhan tahun.
Karena kami sekarang berada di lereng, terpaan angin yang cukup kencang terkadang berhembus ke arah kami. Tetapi karena kamu menggunakan sihir angin itu sendiri, sehingga efek yang di timbulkan tidak terlalu berpengaruh.
Kami pun akhirnya sampai di jalan utama menuju rumah lamaku. Sebuah kediaman besar dengan tempat pelatihan yang cukup luas, itulah rumah lamaku. Terdiri dari beberapa ruangan dengan fasilitas yang hampir di katakan lengkap.
Beberapa tanjakan lagi dan akhirnya aku dapat melihat atapnya itu dengan jelas, semakin aku melangkah maju bangunan itu semakin terlihat. Aku pun menceritakan kisahku kepada Hilda... bagaimana aku tinggal di sini selama empat tahun terakhir.
Namun sisanya ketika ia bertanya tentang sebelumnya, aku hanya menjawab 'di sebuah panti asuhan, desa di luar Kerajaan Astarte'. Hilda tampak meminta maaf lagi kepadaku, tetapi aku menghiraukannya karena ia sebenarnya tidak perlu meminta maaf.
"Dan inilah rumah lamaku."
Setelah sampai tepat di depan rumah lamaku, Hilda memperhatikan rumah itu dengan seksama.
Namun ia juga secara perlahan memasang kuda-kuda seperti ingin bertarung. Suara yang sedikit berisik dan juga ngilu terdengar dari pintu depan. Pintu itu terbuka dan menampakkan seorang perempuan berpakaian pelayan dengan paras wajahnya yang mempesona.
"Claudya?!" ucapku spontan karena kaget.
"Claudya? Siapa?" Sementara Hilda kebingungan, Claudya datang menghampiriku dengan tergesa-gesa.
Aku bisa melihat wajahnya yang sembab sembari menutupi mulutnya dengan kedua telapak tangan. Entah mungkin karena efek debu atau matanya yang sedang kesakitan.
Penampilannya tidak jauh berbeda, hanya saja sekarang terlihat lebih dewasa. Tubuh semampai dengan wajah yang cantik, bermata merah muda dan berkulit putih kecokelatan. Bagian atas dadanya menyembul keluar dan terlihat olehku. Ia juga sedang membawa kemoceng yang tampak lusuh.
"Hmm ... apa kau mengenalku? Tetapi kenapa aku tidak mengenal dirimu?" Claudya mempunyai sifat seperti keibuan-ibuan walau terkadang ceroboh dan kekanak-kanakan.
Di adalah pelayan yang dulu mengasuhku, tapi aku tidak tahu apakah dia juga mengetahui tentang kejadian itu.
Tampaknya ia sedang memperhatikanku dengan seksama, sementara Hilda ku perintahkan agar tetap tenang karena perempuan ini di depanku ini bukanlah musuh. Tetapi seorang kerabat.
Sepertinya dia mulai mengenalku karena tatapan sudah mulai mencerah.
"Ahhhh ... siapa ya?"
Ughh ... penyakitmu itu belum sembuh juga ya, Claudya.
"Claudya, ini aku Reiss—ehmm... maksudunya Kuro," jawabku.
"Ahh, Tuan Muda." Ia pun langsung memeluk dengan kasih sayang, seperti seorang ibu.
"Ughhh ... lepaskan aku— ... aku tak bisa bernapas—“
Ia memelukku dengan erat sekali, merangkul kepalaku lalu memendamkannya di antara dadanya yang besar. Sontak aku meronta dan tak sadar bahwa aku meremas bagian kanannya.
"Hnghhh ..., Tuan Muda kau sudah besar tetapi kau masih ingin minum susu?" tanya Claudya
"Hentikan itu."
Tiba-tiba saja Hilda memukul kepala Claudya dengan bagian pipi telapak tangannya.
Aku pun terlepas dari jebakan maut itu, sementara Claudya ia memegang kedua kepalanya. Kini ia tidak berekspresi... firasatku mengatakan akan ada sesuatu yang buruk datang.
"Ahhh... sepertinya gawat."
__ADS_1
Kini Claudya seperti monster bermata merah menyala dan ia mengeluarkan sebuah pedang besar dari lingkaran sihirnya.
"Siapa kau WANITA ******! Jangan pernah mencampuri cinta kami berdua," ucapnya lantang.
CINTAA?!
Di sisi lain Hilda pun bersiap dengan kuda-kuda bertarung, kaki kanannya terangkat dan ada aura mengerikan yang keluar adri belakang punggungnya.
"Heehh, cinta rupanya. DASAR LEMAK TAK BERMUTU! jangan sentuh tuanku!"
Sepertinya ini tidak akan pernah selesai—tanpa pikir panjang, aku pun menjitak kepala mereka berdua secara bersamaan.
"Kalian berdua hentikan itu dan Claudy ... sejak kapan kita menjalin kasih, HUH?!" geramku kesal.
Saat ini aku hanya menatapi mereka dengan mata dingin. Mereka berdua langsung tertunduk sambil memegangi kepalanya masing-masing. Claudya tampaknya telah tenang walau masih mengerang kesakitan.
Dan untuk Hilda ia juga sama tertunduk sambil mengerang kesakitan karena kepalanya ku pukul.
"Nahh ... Claudya, sekarang aku ingin pergi ke kamar Ayah. Untuk itu apakah aku bisa bertemu dengan Ayah?" tanyaku.
Walau terkesan egois karena tiba-tiba datang setelah menghilang bertahun-tahun. Tetapi pertanyaanku ini biasanya tidak pernah di abaikan, namun ekspresi Claudya tidak meyakinkan.
"Master Raphael telah mati empat tahun yang lalu," tuturnya pelan.
Ughhh ... rasa sesak di hatiku ini kembali menghinggap dengan keras. Seperti sebuah tikaman pisau kecil yang begitu tajam. Aku tak mengira bahwa ayah angkatku telah mati.
"Maaf tentang itu, aku sama sekali tidak tahu," ucapku sambil mengelus bagian kepala belakangku.
"Tidak apa-apa, lagi pula Tuan Muda sudah kembali. Jadi Claudya tidak akan kesepian lagi," ucapnya ringan dengan wajah berbinar.
"Maaf? Ke mana pelayan yang lainnya?" Sepertinya tidak mungkin bagi para pelayan yang lainnya untuk kabur sama sepertiku.
Mereka di sana di perlakukan dengan baik, tanpa kekerasan, diskriminasi ataupun pelecehan. Tetapi mengapa rasanya ada yang aneh.
"Setelah Tuam Muda pergi dari rumah ini, Master Raphael mengusir mereka karena Master mengetahui mengapa sebabnya Tuan Muda kabur dari rumah," jelasnya sambil tersenyum kecil.
"Fuhhhh ... seperti yang di harapkan dari Ayah angkatku. Jika kau berada di sini berarti kau tidak ikut dalam perbincangan mereka bukan?"
"Tentu saja aku berada di sana juga," sahutnya ringan.
"Eh ... "
"Tuan Muda pasti ingat tentang kalimat ini ' Hei kenapa kau tertawa itu tidak sopan, kejam, kalian benar-benar kejam' itu adalah perkataan saya, hehehe," tuturnya dengan wajah yang ceria.
"Pantas saja aku sepertinya mengenali suara itu, jadi itu adalah dirimu Claudya."
Hilda kembali kebingungan dengan pembahasan yang kami, aku dan Claudya lakukan.
Jadi aku memutuskan untuk langsung ke intinya saja, "Jadi bisakah aku masuk, aku ingin memastikan sesuatu terlebih dahulu."
Aku pun sampai di dalam rumahku, tidak berubah sama sekali. Lukisan-lukisan itu, guci-guci itu, bunga-bunga dan beberapa pot artistik milik mendian ayah angkatku.
Kini kami berjalan di lorong yang menghubungkan tempat latihan dengan taman buka samping rumah. Di antara itu kamar ayah angkatku berada. Kulihat semua barang-barang di sini terjaga dengan baik.
Artinya Claudya walaupun tak memiliki majikan lagi tetapi ia masih merawat rumah ini dengan baik. Walau aku datang kembali ke rumah ini, itu bukan artinya aku akan kembali tinggal di sini. Hanya saja keberadaanku di sini untuk menemukan petunjuk.
Ya... petunjuk mengapa Ayah angkatku yaitu Raphael mengadopsiku. Padahal di antara anak-anak yang lainnya bisa saja, kan. Jadi mengapa harus aku?
Apakah ia memiliki hal di dalam dirinya sehingga aku yang di adopsinya?
Semua itu akan terungkap jika aku telah menemukan sesuatu di dalam kamar mendiang ayahku.
"Tuan Muda?"
"Ah ... tentang itu, panggil saja aku Kuro. Panggilan Tuan Muda itu sedikit berlebihan, lagi pula aku bukan lagi Tuan di rumah ini, Claudya," tuturku ringan.
"Baiklah kalau begitu," sahutnya mengerti. "Lalu untuk apa, Tuan Kuro ingin masuk ke ruangan mendiang Master Raphael?" tanyanya sambil terus memimpin jalan di depan.
Lagi-lagi ... Tuan? Sama seperti Hilda.
"Tentang itu aku takut bahwa mendiang Ayahku angkatku membuat sebuah surat atau sebagainya saat aku meninggalkan rumah ini," jawabku spontan.
"Jadi Anda tidak akan tinggal di sini?"
Sepertinya ada yang aneh dengan pertanyaan kali ini. Walaupun samar ada aura tidak bersahabat dari Claudya yang tampaknya begitu tidak menyukai kehadiranku di sini.
"Aku akan berkata iya, kau ingin melakukannya seperti dulu lagi, Claudya?" tanyaku. "Kalau begitu aku menerima tantanganmu," lanjutku tegas
"K-Kuro, maksudmu tantangan apa?" tanya Hilda yang kini berada di samping kiriku.
"Dulu Claudya adalah pelayan pribadiku ketimbang Ayah angkatku karena sesuatu," ucapku ringan.
"Sesuatu?"
"Ya, itu karena aku berhasil mengalahkannya dalam sebuah kompetisi walau dapat kubilang adalah sebuah keberuntungan," jelasku.
Hilda pun mengerti dan ia segera menyisih ke belakang. Sementara itu Claudya berbalik ke belakang, kini ia berhadapan denganku. Wajahnya memerah dan tampak pada matanya cahaya kerlap-kerlip akan sebuah perintah.
"Baiklah kalau begitu Tuan Kuro, siapapun yang menang kali ini akan menuruti perintahnya. Apa itu cukup adil?" saran Claudya dengan memasang wajah penuh teka-teki.
"Tidak masalah, jadi apa taruhanmu?"
__ADS_1
"Jika menang, saya ingin Tuan Kuro tinggal di sini selamanya dan menjadi tuan saya kembali," tuturnya sambil tersenyum kecil.
"Baiklah kalau begitu, aku terima tantanganmu," ucapku.
"K-Kuro, kau yakin akan melawan mantan pelayan pribadimu?" tanya Hilda memastikan.
"Walaupun seperti itu, dia itu mantan seorang kesatria suci, dan umurnya tidak beda jauh denganku," ucapku lalu segera menuruni lorong dan langsung pergi ke tempat latihan.
"Hmm... Tuan Kuro, memberitahukan umur seorang wanita itu tidak baik."
Setelah itu Claudya menyusulku ke tempat latihan. Sementara Hilda berdiri di dekat tiang penyangga atap di dekat kolam ikan yang kecil. Ia akan menjadi seperti pengawas kami berdua. Baik aku dan Claudya sudah siap di posisi
masing-masing.
"Dilarang menggunakan senjata hanya di perkenankan menggunakan sihir dengan skala kecil dan tidak lebih."
Hilda pun langsung mengangkat tangan kanannya dan itu artinya pertandingan ini di mulai.
Claudya dengan cepatnya telah berada di samping kananku dan ia melancarkan sebuah tendangan diagonal yang cepat. Aku berputar untuk menghindarinya, tetapi ia menjatuhkan diri menggunakan kedua tangannya sebagai tumpuan pengganti kaki dan kedua kakinya berputar seperti baling-baling.
Sial aku tidak bisa menghindar.
Alhasil serangannya berhasil menghempaskan tubuhku cukup jauh. Sepertinya ia benar-benar serius tentang ini.
Setetes darah keluar dari mulutku, "Woi woi ... Claudya, tampaknya kau serius sekali tentang ini. Sepertinya aku juga akan mengeluarkan kekuatanku," ucapku sambil mengusap bekas darah itu.
"Tentu saja aku serius. Ini namanya bentuk kasih sayang dari seorang pelayan untuk Masternya," sahutnya sambil mengedipkan mata kanannya.
Kembali dengan serangan-serangan cepat yang terkoordinir, Claudya melesatkan beberapa jab acak ke arah perutku. Aku menahannya berulang kali dengan menggunakan telapak tangan, setelah itu ia kembali dengan tendangan cepatnya.
Aku melompat ke belakang untuk menghindari itu. Walau aku dapat menghindarinya, tetapi sebelah kiri pipiku kini telah tergores dan mengeluarkan darah. Sungguh lawan yang tangguh, jika ia menggunakan pedangnya.
Mungkin rumah ini akan hancur. Kali ini giliranku yang melancarkan serangan kepadanya, dengan awalan berupa uppercut yang cepat, kupancing dirinya untuk melangkah mundur. Tepat sesuai prediksiku ia melangkah mundur ketika aku melancarkan pukulanku.
Dengan menambahkan sebuah akselerasi pada kedua kakiku, kaki kiriku meluncur seperti sebuah sepatu roda, dan dengan cepat aku telah berada di hadapannya.
Kedua matanya melebar dengan cepat. Tetapi, aku tidak menunggunya, dan langsung melancarkan sebuah tendangan menyamping yang cepat dan tepat mengarah kepalanya. Ia menunduk tetapi aku sudah tahu itu.
Aku pun melakukan hal yang sama sepertinya.. Menjatuhkan diri, berdiri menggunakan kedua tanganku. Kuangkat tubuhku dan sebuah tendangan layang mendarat tepat di dagunya dengan keras... bhuakkk.
Tidak seperti diriku ia bisa menahannya dengan kedua telapak tangannya. Tetapi, ia melayang ke atas, aku melompat dan meluncurkan sebuah tendangan salto. Karena ia tidak bisa bergerak di langit akhirnya tendanganku itu berhasil mendarat di punggungnya.
Dengan kecepatan yang sangat cepat kini tubuhnya meluncur seperti sebuah pelontar. Melesat dengan cepat hingga akhirnya mendarat tepat di permukaan tanah dengan punggung yang membentur tanah.
Benar-benar perempuan yang tangguh. Namun karena tubuhku sama dengannya, sehingga aku pun meluncur ke permukaan tanah dengan kedua kakiku yang selamat. Dari kepulan asap buram yang berada di sekitar Claudya, aku tidak bisa melihat keberadaannya.
"Sebaiknya Anda menyerah, Tuan Kuro. Ini adalah kemenanganku."
Entah bagaimana bisa ia berada di belakangku dengan cepat, terlebih ia juga menekan tengkuk leherku cukup keras.
"Sepertinya kau tidak bisa melihatku, Claudya"
"Huhh ... tetapi bagaimana?"
Sebenarnya sosok yang kini ia tekan hanyalah bayangan angin yang bergerak cepat atau biasa di sebut afta dimnyr.
"Itu mudah, eshtora. Aku hanya memanfaatkan kesadaran dan titik butamu untuk dapat melakukan teknik ini," ucapku ringan.
Kini tanganku berada tepat di tenggorokannya, kedua tangan Claudya terangkat dan pertandingan berakhir. Setelah itu Claudya berbalik dan langsung memelukku dengan erat lagi, aku mengeluh tentang kebiasaannya ini.
Hilda pun langsung menghampiriku, ia menarik lenganku ketika sampai di dekatku. Tetapi usahanya sia-sia saja, karena pelukan Claudya sangatlah kuat walaupun tidak dapat meremukkan tulang rusuku.
Aku memintanya untuk melepaskanku, tetapi yang ku dapat adalah kecupan yang mendarat di pipi kananku dengan sebuah pernyataan yang membuatku bingung.
' Izinkan saya tinggal bersama anda' itulah yang ia sebutkan ketika memelukku. Sekarang kami telah berada di ruangan atau lebih tepatnya kamar Ayah angkatku. Setelah aku menelusuri sekitar ruangan, aku menemukan sebuah surat yang ditujukan padaku.
Surat itu terletak di bawah laci meja kerja mendiang ayahku. Aku pun mengambilnya lalu membacanya dengan seksama. Benar-benar sebuah kejutan, mengetahui bahwa ayah angkatku adalah jendral perang di kerajaan langit
tempatku tinggal.
Ia mengadopsiku karena sebuah tugas, walau saat itu ia sedang melaksanakan sebuah misi. Ia juga menjadi satu-satunya saksi yang mengetahui bahwa aku tidak bersalah atas insiden malam hari itu.
Insiden pembunuhan seluruh anggota keluarga kerajaan dan yang lebih mengejutkannya lagi selain diriku dulu membunuh keluargaku, ternyata aku juga sudah membunuhnya.
Bahkan di surat itu tertulis tentang sejarah awalnya Pedang Regalia tercipta. Aku tidak menyangkanya bahwa pedang itu benar-benar mengerikan. Di sana tertulis bahwa pedang ini akan merubah majikannya menjadi seorang monster.
Tetapi monster? Apakah itu mungkin. Bahkan orang yang pertama kali menemukan konsep terbentuknya adalah Kakakku. Ray Veil Drag Reizhart. Kak sebenarnya apa yang kau lihat saat kau berhasil memegang bentuk asli dari Pedang Regalia ini?
Setelah itu aku pergi dari rumah itu dan segera kembali ke Astarte Festa. Aku meminta Claudya untuk menjaga rumah itu karena itu adalah peninggalan mendiang Ayah angkatku.
Pada awalnya ia cukup merepotkan karena menolaknya secara mentah-mentah. Tetapi aku menjelaskan kondisiku pada saat itu bahwa sesungguhnya aku sudah tidak bisa lagi—
"Kuro, mengapa kau melamun?" tanya Hilda tiba-tiba.
"Ahh... tidak, sebenarnya aku hanya memikirkan apa yang harus aku beli lagi saat di sana. Ya, seperti itulah ... hmmm," sahutku sambil berlaga sok serius.
Hilda tertawa kecil dan sesekali berdeham walaupun kedua pipinya memerah. Sementara itu tepat di kamar mendiang ayahku, aku pasti sudah mengetahuinya. Aku takut menjelaskan kebenarannya pada Claudya, karena waktuku tidak banyak lagi.
Itu sudah jelas karena Claudya, walaupun ia seorang pelayan. Saat aku masih tinggal di rumah itu, kami berdua telah berjanji tidak akan saling meninggalkan satu sama lain. Tetapi aku sudah melanggarnya satu kali dan tampaknya mungkin akan dua kali.
Aku masih ingat bagaimana raut wajahnya saat itu....
__ADS_1
"T-Tuan K-Kuro... akan mati?... Tolong j-j-jangan tinggalkan aku sendiri lagi."
Dan setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya yang berkaca-kaca.