
Sebelum kecerita utama kita intro dulu~
Hai semua! Nama gue ReIN dan terima kasih karena telah memberikan gue kesempatan untuk menemani malam jomblo loe! Jika kalian menyukai cerita ini maka berikan jempol ke atas dan jika tidak cukup vote lalu sebarkan cerita ini. Jangan lupa berikan komentar dan tips agar sang Author tetap semangat update ceritanya!
.
.
.
Sementara Satella kali ini memfokuskan sihir penyembuhnya untuk Erina dan juga Kyle. Rena dan Shiren harus berhadapan dengan iblis tingkat tinggi yang menyerupai manusia. Dengan warna tubuh hitam gelap, mengeluarkan aura gelap yang mengelilinginya.
Dan setiap langkahnya meninggalkan jejak permanen pada tempat yang ia pijak. Saat iblis itu mulai menyerang Rena dengan lincah dan juga cepat. Pedang ramping milik Rena benar-benar di paksa mundur secara bertubi-tubi.
Suaranya saling berbenturan, walau pun telah di bantu oleh lesatan beberapa sihir dasar dari Shiren. Tetapi tetap saja tidak bisa membuat iblis tingkat tinggi itu mundur.
Semua sihir dasar yang di lesatkan dengan akurat itu dapat di hindarinya dengan mudah. Sementara Rena berfokus pada pertahanan, Shiren terus melesatkan sihir dasar satu demi satu.
Ketika sebuah kesempatan berhasil mengenai sisi wajahnya. Sebuah goresan tercipta dan meninggalkan bekas luka yang mengeluarkan cairan hitam. Ketika itu lah Rena mulai beraksi.
Menendang samping kanan tubuhnya dengan kaki kuat miliknya. Menggoyahkan keseimbangan iblis itu, lalu dua buah tusukan singkat terhunus ke dada bidang miliknya dengan cepat. Seperti permainan anggar yang lincah, saling memperebutkan sebuah poin.
Iblis itu mengerang kesakitan sambil menyentuh lukanya itu dengan tangan kanan. Kali ini kedua matanya telah berubah ke tingkat yang lebih berbeda dari pada tadi. Sekarang kedua matanya itu mengeluarkan tetesan darah yang tidak berhenti sama sekali.
Sedangkan mulutnya semakin robek hingga menyentuh pelipis telinga. Mulutnya terbuka lebar, lidahnya keluar menjulur seperti pecut mencambuk-cambuk sekitarnya. Kedua tanduknya kini bercabang dan api yang berada di
tengah-tengahnya bertambah besar dan sesekali berkecamuk liar.
Dan cairan asam yang melelehkan bebatuan dengan sekejap. Dengan pedang yang di miliki oleh Rena, mungkin saja tidak akan bertahan dengan lama. Apalagi serangan iblis tingkat tinggi itu benar-benar seperti entakkan yang sangat kuat sekali.
Setiap serangan yang di terimanya pasti selalu membuatnya terpaksa mundur dan kini sosoknya yang mengerikan itu telah bertambah mengerikan lagi. Sosoknya yang besar dan padat itu menghilang dari pandangan Rena.
Sebuah hantaman yang sangat keras sekali menghantam Rena yang sedang dalam kondisi lengah, melayangkannya tinggi hingga belasan meter ke belakang. Wajahnya tampak kesakitan sekali.
Apalagi serangan itu hanya berhasil di tahan setengahnya saja, lalu setengahnya lagi langsung mengenai tubuhnya yang ramping. Secara refleks Shiren berteriak tak jelas sambil melesatkan semua sihir dasarnya yang ia tahu satu
persatu dengan cepat.
Seperti sebuah mesin penembak cepat, membabi buta namun semua sasarannya mengenai sosok iblis besar itu dengan tepat. Cairan hitam bercucuran dari tubuhnya yang besar, namun ia sama sekali tidak bergeming melainkan tetap melangkah maju mendekati Shiren berada.
Dengan tatapan nafsu yang membuatnya bergidik, iblis itu kembali lenyap. Shiren menggeleng-geleng pelan, mencari sosoknya yang besar hitam itu dengan seksama dan juga jeli.
Tetapi sayangnya ia tidak berhasil menemukannya. Bayangan hitam menutupi tubuhnya dari belakang, ketika ia memalingkan wajahnya sedikit. Kedua matanya berhasil menangkap sosok iblis itu sedang berdiri tegak tepat di belakangnya.
Tubuh besarnya itu penuh dengan luka akibat serangan sihir dasar milik Shiren, namun semua luka bakar, goresan ataupun lebam dalam itu satu persatu menghilang dari tubuhnya seperti di sembuhkan dari dalam. Setelah semua luka itu menghilang.
Mulutnya tersenyum keji dengan lidah yang menjulur, membelai samping tubuh Shiren sekaligus melenyapkan pakaian tempurnya. Tangannya kini terangkat ke atas sementara Shiren tak bisa bergerak sama sekali karena ketakutan.
Rena berteriak keras memanggil namanya, tetapi sayang sekali Shiren tak bisa mendengarnya dengan jelas karena detak jantungnya kini berdegup dengan cepat dan tak beraturan sama sekali.
Ketika tangan besar gelapnya sudah cukup tinggi, ia pun memukul Shiren dengan cepat—
SSHHTTT .... STINGGG!!!
Tangannya itu bergesekkan dengan dua buah pedangnya yang sangat luwes, mengiris kulit bagian bawahnya dengan mudah. Lalu mementalkan tangan besarnya itu hingga membuat iblis itu terjatuh ke belakang.
Sesosok laki-laki berambut pirang dan mengenakan dua buah pedang kembar yang sangat unik. Dengan ciri khas senyum yang meremehkan dan terkadang memiliki humor keterlaluan.
"Si-siapa?!—“
"Apa kalian lupa siapa aku?" potongnya dingin.
“I-instruktur Oz?!” sahut Rena.
Di dalam pikiran Shiren kali ini, lelaki ini sebenarnya baik? Masa bodo? dingin? Atau hebat? Ia tidak bisa memikirkan semua itu dengan jelas. Karena tiba-tiba saja ia datang menghadang serangan iblis besar itu mudah.
"Jangan berpikir yang buruk tentang diriku, nona muda. Setidaknya aku datang atas perintah tuan muda," ucapnya datar.
__ADS_1
Begitu melihat lawannya lebih besar dari ukuran tubuhnya sendiri, Oz hanya dapat tersenyum kecut layaknya sebuah ejekkan.
Shiren hanya dapat menghela napas sesaat lalu menepuk dadanya dengan tangan kanan lalu bergumam.
"Sudah kuputuskan jika orang ini aneh"
“Anggaplah sesukamu,” sahut Oz.
“Ekk!—“
Lalu setelah itu ia pun menerjang iblis besar itu dengan cepat. Memainkan pedangnya dengan lihai. Sementara Satella masih mengobati Kyle dan Erina. Rena masih berusaha bangkit dengan menggunakan pedangnya untuk menopang berat tubuhnya sendiri.
Sementara itu Shiren tampaknya sudah mulai tenang dan stabil saat Oz datang membantunya.
***
Di sudut yang lain kelompok Hiro, Nheil, Fiana dan Mea tengah berjalan dengan letih menuju tengah Kerajaan Astarte. Kondisi mereka lusuh terutama Hiro dan Nheil yang terkena serangan telak oleh monster sebelumnya..
Kini kedua lelaki itu sedang dalam pengobatan sihir milik Fiana. Walaupun ringan setidaknya itu cukup membantu mereka bebas dari rasa letih yang menyesakkan.
Walaupun seperti itu mereka juga masih dalam keadaan siaga jika ada monster yang datang kembali. Semua itu juga di bantu oleh pendengaran dan pengamatan yang jeli dari Mea.
"Bagaimana?" tanya Fiana ringan.
"Ahh ... terima kasih untuk itu, Fiana," sahut Hiro pelan.
Nheil hanya mengangguk karena sepertinya ia mengantuk dan kedua matanya juga mulai sedikit tertutup Fiana tersenyum kecil, lalu ia pun meneruskan sihir penyembuhnya itu.
"Bersiaplah, mereka datang.”
Tiba-tiba saja Mea yang sebelumnya duduk sambil mengamati kini bangkit sambil bersiap dengan busur lebar dan juga anak panah angin miliknya..
"Berapa lawan kita, Mea?" tanya Hiro pelan.
"Satu—“
Tetapi begitu melihat ekspresi wajah Mea yang seperti memucat, Hiro menjadi lebih penasaran. Tetapi, musuh seperti apa yang membuatnya hingga seperti itu. Selama pertempuran tadi yang membuatnya hingga bisa mengeluarkan ekspresi seperti itu hanyalah monster berparuh itu.
"Hahahaha ... jangan bilang kalau monster itu hidup lagi. Lagi pula bukankah kita sudah membunuhnya tadi?" tanya Hiro memastikan sambil tertawa kecil.
"Hiro aku tahu kau sangat senang karena mengeluarkan sihir yang di larang oleh Instruktur Kuro, tetapi dugaanmu 100% benar—“
"Jangan bercanda Mea, mana mungkin ia hidup kembali," potong Nheil cepat.
"Tapi sayangnya aku pun takut jika itu terjadi, tetapi yang kulihat ini bukan ilusi... bahwa monster itu kembali hidup. Sekarang ia sedang berjalan pelan menghampiri kita dari jarak tiga blok rumah ini," jelas Mea.
Wajahnya kini berkeringat dingin sementara yang lainnya tercekat begitu mendengarnya dari Mea. Bahkan untuk Hiro sendiri ia tidak percaya, sehingga ia menggunakan sihir air untuk memperjelas monster itu.
Tidak lama kemudian sosok yang mereka bicarakan muncul sambil mengeluarkan tawa serak yang terus mengeluarkan darah.
Melihat itu Hiro pun meneguk ludahnya sendiri. Mengingat kondisi mereka belum lah siap untuk menghadapi monster itu, Fiana dalam sekejap menghentikan sihir penyembuhnya, dan bangkit membelakangi kedua rekannya yang masih membutuhkan perawatan.
“Aku masih bisa, jadi kau tidak usah terlalu mengkhawatirkanku, Fiana”
“Begitu juga diriku.”
Hiro dan Nheil pun bangkit dan kini berdiri di samping Mea dan Fiana.
Mea menyiapkan anak panahnya, Hiro membaca Rune singkat dan mengeluarkan sihir angin. Meletakannya tepat di hadapan Mea sebagai lingkaran penguat.
Ketika satu tarikan mulai terlepas, anak panah itu meluncur dari busur lebar milik Mea. Menembus lingkaran sihir itu dan membuat serangan baik itu kecepatan daya hancurnya bertambah.
Setiap jalan yang di lewatinya hancur berserakan karena terkena arus angin putar yang cepat sekali. Melayangkan setiap objek yang di sentuhnya ke langit. Ketika anak panah itu berhasil menghantam monster berparuh yang tengah berjalan terpincang-pincang itu.
Sihir angin yang membungkusnya meledak dengan hebat, menciptakan pusaran angin kuat ke atas. Membuat monster itu berputar-putar sembari berteriak kesakitan. Kedua lengan dan juga sayapnya terangkat lalu terlepas.
Kulit-kulitnya kembali terkelupas satu-persatu tanpa waktu jeda sedikit pun. Menjerit, mengerang, meronta kesakitan dengan langkah kaki yang tertatih-tatih. Walaupun mendapatkan serangan luar biasa itu, tubuhnya masih berdiri tegap.
__ADS_1
Ia juga masih terus berjalan dengan wajah berparuh miliknya yang masih menganga. Mea tidak percaya itu sehingga raut wajahnya itu kembali memucat. Hiro pun dapat merasakannya, tetapi mana mungkin monster itu masih berdiri jika menerima serangan gabungan seperti itu.
Sihir angin itu bukan lah tingkat satu melainkan tingkat tiga. Dengan daya hancur yang sangat hebat. Kali ini Hiro mencoba serangan tunggal dengan sihir petir hitamnya. Nheil dan Fiana hanya yang dapat menyaksikannya.
Sementara Mea mengamati dengan kemampuan pengamat miliknya dengan seksama. Setelah beberapa baris Rune di ucapkan. Suara guntur menyeru keras, sebuah bola plasma muncul di atas telapak tangan Hiro.
Warna hitam dan memercikkan jeritan-jeritan petir kecil yang beringas. Hiro pun menekannya dengan kuat, menjadikannya seperti sebuah kerikil kecil. Menaruhnya di himpitan punggung telunjuk atas dan juga depan jempol. Kemudian menyentilnya ke atas, bentuknya yang kini seperti kerikil kecil itu terbang ke atas. Melayang pelan lalu kembali jatuh ke bawah, setelah berada di dalam jarak pukulan Hiro.
Lengannya mulai beraksi, di kepalkan tangannya itu kuat-kuat. Lalu meninju kerikil sihir itu sekuat tenaga, awalnya tidak terjadi apa-apa. Tetapi ketika pukulan Hiro telah selesai, kerikil sihir kecil itu mengeluarkan cahaya menyilaukan.
Kemudian sebuah laser listrik keluar, di balut dengan sengatan listrik-listrik yang memantul-memantul di dalamnya. Terlebih lagi suaranya menyeru kuat sekali. Bangunan-bangunan yang di lewatinya berubah menjadi abu sekaligus.
Bertaburan menumpuk menjadi sebuah bukit kecil yang saling menimbun. Sangat cepat dan akhirnya menyambar monster berparuh itu. Kilatan petir berkecamuk hebat, menyambar apa saja yang berada di dekatnya.
Merubahnya menjadi butiran debu, hingga pada akhirnya berubah menjadi tanah berpasir hitam. Sementara monster itu masih berdiri tegap tetapi mendapat siksaan yang sangat luar biasa hebatnya.
Seruan petirnya meledak-ledak dan di akhir serangan itu berubah menjadi ledakan yang sangat dahsyat. Mengeluarkan gelombang kejut yang melebar dengan sangat cepat dan menyebar tanpa henti.
Mereka semua pun langsung berpegangan pada benda yang menurut mereka bisa untuk menahan gelombang itu. Walaupun mereka tidak terbang ke langit, tetapi tubuh mereka berkibar-kibar seperti kain persegi panjang yang di gantung.
Setelah yakin serangan dahsyat itu berhasil, Hiro terduduk lemas dengan lutut yang bergetar.
"Tadi itu adalah serangan terakhirku, kugabungkan sihir berelemen petir, air, api, dan juga angin di saat bersamaan. Pasti kali ini monster itu musnah," ucap Hiro lemah.
"Seperti yang kau katakan, Hiro. Seranganmu itu berhasil melenyapkannya," sahut Mea sambil tersenyum kecil.
Ketika mereka ingin bernapas lega. Ekspresi Mea yang sebelumnya tenang kini memucat.
"*-*-*-tunggu dulu sebentar."
Mea kembali bergidik, bulu-bulu kuduknya mulai berdiri dan ia juga mengeluarkan keringat di areal wajahnya.
"M-m-monster itu kembali hidup d-d-d-dan tubuhnya kembali sedia kala," tutur Mea, tak percaya apa yang ia lihat sekarang ini.
Hiro hanya bisa menundukkan wajahnya dengan tatapan kosong. Ia tidak percaya sihir sebesar itu masih belum bisa menyingkirkan monster besar berparuh itu.
Kini Mea dan Fiana tak tinggal diam. Mea mengambil empat anak panah sekaligus mengapitnya di antara jari tangan kanannya yang masih belum terluka. Sementara Fiana melafalkan Rune singkat yang tidak terlalu panjang.
Setelah selesai ia pun memegang pedang di tangan kanannya kuat-kuat. Sekumpulan elemen angin dan api berputar mengelilinginya. Dan di dalam waktu yang sama, mereka berdua melepaskan serangannya itu.
Melesat begitu cepat. Dengan empat anak panah yang seperti serangan burung elang, setelah berada di udara. Keempat anak panah itu menukik tajam, keempat anak panah itu juga telah di desain khusus oleh Mea agar dapat melakukan manuver seperti itu.
Sedangkan serangan Fiana yang berupa gabungan dua elemen sihir menjadi sebuah pusaran api yang berputar, melesat cepat ke arah monster berparuh itu berada. ketika dua serangan ini berhasil menghantam monster itu dengan telak.
Betapa kagetnya mereka berdua, serangan mereka di pentalkan begitu saja. Hanya oleh sebuah lengan yang terkibas dan anehnya serangan mereka berdua dapat dengan mudah di patahkan.
Kini keduanya memucat sembari terjatuh lemas.
Dan entah mengapa sosok monster itu yang tadi tertatih-tatih sekarang mulai terbang cepat ke arah mereka di langit kelam. Nheil yang berusaha menahan serangan itu sayangnya tidak bisa bertahan lama.
Tubuh kecilnya pun terempas cukup jauh ke belakang, membentur sebuah gerobak dan menghancurkannya. Mereka sama sekali tidak sempat membantu karena masih terenyak mengetahui bahwa monster ini dapat kembali hidup setelah mereka kalahkan sebelum semua ini terjadi.
Kini monster berparuh itu meraung di hadapan Fiana dan Mea yang masih terjatuh lemas dengan lutut yang lesu. Saat monster itu membuka paruh besar dan lebarnya itu untuk memakan Fiana.
Tiba-tiba saja tubuhnya membeku kemudian berubah menjadi bongkahan es yang besar. Suara setapak kaki terdengar dari belakang Nheil yang tengah kesakitan. Sosoknya begitu anggun dan juga cantik.
Menggunakan sebuah gaun indah yang ia robek bawahnya cuma-cuma. Rambutnya abu panjang dan juga wangi. Dan ia pun menyembuhkan luka Nheil dalam sekejap. Setelah selesai, ia pun berjalan pelan ke arah bongkahan es yang di dalamnya terdapat monster berparuh itu.
Setelah berada di depannya, ia tendang kuat-kuat makhluk itu sekuat tenaga. Menghempaskannya ratusan meter ke belakang sana. Di saat yang sama ia juga menyembuhkan Mana Hiro dan Fiana yang telah habis.
"K-kepala sekolah ... Nona Aresya?!" celetuk Mea kaget.
Aresya tersenyum kecil, "Jika Kuro tidak memberitahu ini, maka mungkin saja kalian akan dalam masalah besar," tuturnya ringan.
Ia pun melafalkan beberapa Rune dan mengeluarkan sebuah buku sihir di atas telapak tangan kirinya.
"Saatnya pembalasan," gumamnya pelan.
__ADS_1