
Fear langsung memeluk lelaki yang telah kehilangan nyawanya itu dengan kuat, ia menangis tiada henti. Lalu kemudian Aresya dan Rena berusaha bangkit dari keterkejutan itu, mereka menghampiri sang lelaki
sambil mengeluarkan sihir penyembuh.
Dalam benak mereka apakah benar bahwa orang mati dapat di hidupkan kembali dengan sihir penyembuh?
Velia melompat dari lantai dua gedung akademi, ia langsung berlari tergesa-gesa ke arah lelaki itu berada. Melihat reaksi Fear yang begitu hebat, Velia tidak bisa memungkiri apa yang ia lihat. Ia tidak bisa berkata ini 'bohong' lagi.
Kemudian di susul oleh guru-guru yang lainnya, Fay lah yang paling tidak percaya di bandingkan instruktur lainnya. Sebab perkataan sang lelaki tersebut telah menjadi kenyataan 'Tolong jaga akademi ini jika aku tidak ada'.
Ia hanya bisa menangis tersedu-sedu, lelaki tersebut telah memberikan segudang warna pada akademi ini walaupun hanya sebentar. Tetapi, kini ia telah tiada untuk selamanya.
Murid-murid yang telah mulai merasa lega keluar dari kelasnya karena mendengar teriakan seorang perempuan. Hiro dan Reya bergetar hebat ketika mengetahui wali kelas yang mereka sayangi itu telah tiada, ia bersimbah darah dengan kedua matanya yang telah tertutup sempurna.
Sedangkan sisa dari Kesatria Legiun lainnya hanya dapat mematung, mengetahui bahwa guru yang baru saja menemani mereka berlatih terbujur tak berdaya dengan darah yang membasahi tubuhnya.
"Hmmm ... ada apa? Kenapa kalian mematung?" tanya seorang murid laki-laki yang baru saja keluar kelas.
"Loki, bagaimana apakah aman?" seorang murid perempuan mengikuti lelaki itu, ia kini berada di belakangnya. Berambut oranye cerah dan ia menggunakan kaca mata.
"Mai ... bisakah kau geser sedikit aku penasaran." Kali ini adalah murid perempuan berambut cokelat cerah yang mencoba untuk keluar.
"Heiii ... Loki, Mai, Shiena, bagaimana keadaan di luar apakah aman?" tanya salah satu orang murid yang berada di dalam kelas.
Ketika Loki bingung harus berkata apa, ia penasaran mengapa raut wajah para Kesatria Legiun menjadi sangat tegang. Bahkan Hiro dan Reya, mereka berdua berlutut dengan wajah yang sembab. Lalu ia pun mengarahkan
pandangannya keluar akademi dan mendapati seorang laki-laki berambut cokelat pendek bersimbah darah.
Kepala sekolah, Fear dan ketua Velia mengucurkan air mata di sekeliling lelaki itu. Kemudian ia sedikit mengubah penglihatannya hingga menyamping, dan akhirnya dapat melihat wajah lelaki tersebut dengan jelas.
Loki tersungkur lemas, ia pun berlutut layaknya Reya dan Hiro dengan mulut yang gemetar, " Instruktur... Kuro?"
"Ada apa dengan Instruktur Kuro? Loki?" tanya Shiena kebingungan. Sebuah suara yang hanya ia tahu membuatnya sedikit kaget. Ternyata itu adalah Mai yang sedang menangis, ia tidak bisa menahannya sama sekali.
Air mata terus saja berjatuhan tiada henti. Lalu Shiena ikut melihat keluar akademi dan ia pun seperti di sengat oleh listrik. Wajahnya membeku dan ia pun ikut meneteskan air matanya. "Instruktur KURO!!!"
Aresya dan Rena yang telah berusaha untuk setidaknya melihat kedipan mata dari sang lelaki telah menyerah. Aresya hanya terdiam dengan wajah yang syok, ia kembali mengingat masa lalunya yang kelam.
Masa lalu yang memperlihatkan hal yang sama dengan kejadian yang sekarang ia alami. Di mana orang tersayangnya menghilang untuk selamanya, meninggalkannya dalam kesendirian. Hanya sebuah kalimatnya
lah yang membuatnya dapat hidup hingga sekarang dan itu ' Hiduplah, kau tidak harus melihat masa lalu. Tapi lihat masa depan yang menantimu'.
Dan ia ingat sekali dengan raut wajah orang itu, tapi kali ini ia tidak bisa melihat raut wajah orang yang terkasihinya itu lagi. Untuk selamanya dan tidak ada kata pengulangan waktu lagi, ia telah mati.
Ia berpikir untuk memberikan kehidupan abadi miliknya untuk lelaki tersebut namun ia tidak bisa. Jika ia menyerahkannya sama saja ia yang mati, ia menginginkan itu namun akibat perkataan lelaki itu ia
mengurungkan niatnya.
Rena hanya terpaku melihat lelaki berambut cokelat itu bersimbah dengan cairan merah yang banyak. Hampir menyelimutinya dengan sempurna, hanya menyisakan matanya yang indah yang membeku.
Sosok periang yang terkadang usil itu kini terlihat seperti boneka mati dengan kulit yang pucat dan wajah yang membeku. Bersimbah darah layaknya genangan kenangan dan rambut layu layaknya tanaman mati.
Ia pun mengambil tangan kiri lelaki itu, kemudian mengangkatnya dan meletakkannya di pipi, "Begitu dingin, walaupun aku tahu rasa ini pernah hangat," ucapnya sambil *** tangan lelaki itu dengan kuat, wajahnya
tak kuat lagi untuk menahan bendungan di kedua matanya.
Bendungan itu akhirnya hancur dan mengeluarkan butir-butir air yang mengalir jatuh melewati kedua pipinya yang lembut. Velia hanya dapat meratapi lelaki yang di cintainya itu dengan wajah yang tersedu-sedu.
Dadanya naik turun seakan-akan sangat berat sekali untuk melihat ini dengan kedua matan miliknya. Padahal baru dua hari ia bersama dengannya, ia adalah sosok yang sangat berharga sekali bagi dirinya.
Sosok yang dapat memberikan kenyamanan dan kehangatan. Sikapnya yang ramah dan terkadang usil selalu dapat memberikan warna baru bagi kehidupannya. Senyumnya yang dapat membuat dirinya tenang dan juga
hangat kini telah berubah menjadi dingin.
Lelaki itu, lelaki yang pernah menyelamatkannya dari kesendirian namun kali ini ia meninggalkannya lagi dan untuk selamanya. Gelap, dingin tanpa kehangatan sekali pun. Hatinya hancur menjadi kepingan puzzle yang telah menghilangkan satu buah keping yang dapat menjadi pelengkapnya.
Fear ia hanya terus dapat menangis dengan suara khasnya yang seperti boneka rusak, apakah ia akan dapat terus hidup jika lelaki yang telah di anggapnya itu sebagai kepingan hati miliknya sendiri menghilang?
Tanpa dirinya yang selalu menemaninya setiap hari, tanpa dirinya yang selalu dapat membuatnya tersenyum lebar, tanpa dirinya yang selalu ada canda dan tawa, tanpa dirinya—
"Kuroooo ... jangan tinggalkan aku, aku takut..."
Namun sang lelaki hanya terdiam membeku, tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Karena kunci untuk membuka pintu mulutnya telah hancur dan tidak akan pernah bisa kembali.
Semua murid hanya bisa kaku, mereka tidak bisa berkata apa-apa. Mereka menggigit lidah mereka sendiri agar terbangun dari mimpi buruk ini. Sedangkan Van hanya bisa memalingkan wajah seakan terlihat tegar.
Tidak lama setelah itu Fay mulai kehilangan keseimbangannya dan akhirnya terjatuh lemas.
__ADS_1
***
Akademi Magistra
Setelah kejadian kemarin, seorang pahlawan telah gugur. Ia bertarung untuk menyelamatkan nyawa-nyawa yang tidak bersalah dengan mengorbankan nyawanya sendiri. Akhirnya Aresya memimpin pemakaman sang pahlawan
tersebut.
Ia hanya membersihkan tubuhnya saja, namun pakaian yang di gunakan adalah pakaian yang sama seperti kemarin. Velia dan Fear ikut membantu memandikan jasad lelaki tersebut. Setelah selesai mereka langsung
memakaikan pakaian yang sangat ia sukai sejak dulu.
Setelah itu mereka keluar untuk memberitahukan Van. Ia lah yang akan mengangkat mayat serta memasukkannya ke dalam peti yang penuh dengan bunga mawar putih. Reya dan Hiro serta Loki ikut membantu juga karena
ini adalah penghormatan terakhir yang mereka bisa lakukan kepadanya.
Akhirnya mereka memasukkannya ke dalam peti lalu mengangkatnya ke luar lapangan. Semua personil, murid, guru berada di lapangan itu berbaris rapi dengan menggunakan seragam akademi Magistra dengan rapi.
Peti itu di angkat ke tengah lapangan, lalu setelah itu di taruh ke atas sebuah meja kayu berwarna cokelat cerah. Di sebelahnya terdapat pedang milik sang pahlawan, pada gagangnya di ikat sebuah kain putih.
Kain putih itu melambangkan kekuatan serta kebaikannya. Lalu Aresya maju ke depan beserta semua instruktur yang menghadiri pemakaman tersebut. Tetapi yang paling menonjol hanya dua instruktur mereka adalah Van Handeraz dan Fay Reizan—Van Handeraz, lelaki tampan berwajah tenang, berambut biru serta memiliki sifat yang terkesan dingin namun perhatian.
Lalu di sebelahnya adalah Fay Reizan, perempuan berambut putih seputih salju. Dengan wajahnya yang manis dan juga dewasa ia selalu bisa membuat sebuah keputusan yang tepat. Dalam situasi tertentu sifatnya dapat berbalik 180ᵒ hingga seperti iblis.
Mereka semua menggunakan seragam rapi berwarna putih-kebiruan. Dari samping kiri bahu mereka terlentang sebuah tali hingga menuju pinggul kanan mereka. Berwarna hitam kelabu dan di hias dengan indah.
Dua buah saku pada bagian sisi perut kanan dan kiri, dengan dua buah kancing putih sebagai pengaitnya. Bagian tengahnya di buat menyerupai jahitan rapi dengan motif dedaunan. Pada pangkal lengan kiri dan kanannya di batasi oleh garis biru dan hitam yang saling sejajar.
Sebuah dasi putih yang cukup panjang dan sebuah pin yang menempel pada kerah baju bagian kiri. Berlambang sebuah kepala naga dengan dua buah pedang yang saling menyilang dan di kelilingi oleh dedaunan perak.
Untuk bagian bawahnya adalah celana panjang putih untuk lelaki dan rok selutut untuk perempuan. Sepatu boot hitam untuk laki-laki dan untuk perempuan adalah sepatu pantofel hitam. Fay menggunakan stocking hitam dari paha atas hingga pangkal kaki sehingga kulit mereka tidak terlihat.
Dan bagian pelengkap adalah jubah hitam yang menempel pada bagian bahu kiri dan kanan. Di kaitkan oleh sepasang kain putih dan kancing hitam. Membuat mereka layaknya seperti pasukan khusus.
Sedangkan Aresya berpenampilan serba abu, hampir menyerupai para guru hanya saja warna yang memamerkan bentuk tubuhnya yang indah adalah abu. Sehingga memperlihatkan derajat dan juga tingkatan pada mereka.
Aresya maju ke depan lalu menyampaikan pidato kepada murid-muridnya yang berbaris rapi, sedangkan Fear melihatnya dari atap gedung Akademi Magistra.
"Selamat pagi kepada seluruh murid yang telah bersedia untuk berbaris rapi pada momen sedih ini. Seorang instruktur yang baru saja masuk dan bergabung bersama kalian murid kelas satu, yaitu Instruktur Kurokami Rei"
"Walaupun ia baru masuk beberapa hari ini, tetapi berkatnya akademi ini menjadi lebih hidup. Memberikan hal-hal yang tidak terduga, saya selaku orang yang merekrutnya sangat sedih ketika mengetahui bahwa
"Di mana ia rela mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan kita, menyelamatkan kita orang-orang yang mungkin ia belum tahu. Orang-orang yang mungkin saja meremehkannya, orang-orang yang sama sekali tidak
peduli terhadapnya"
"Namun ia tidak ragu untuk mempertaruhkan nyawanya demi kita, murid-murid serta personil Akademi Magistra di Kerajaan Ronove ini. Ia adalah sosok yang harus kita teladani dan patut kita contoh karena keteguhan hatinya yang rela berkorban"
"Banyak di antara kalian yang mengetahuinya sebagai seorang kesatria gagal, namun tidak untuk hari ini. Saya dan juga Raja dari kerajaan Ronove ini memberikan penghargaan sebesar-besarnya kepada Instruktur Kurokami Rei dengan memberikannya nama kedua sebagai Heroes Of Magistra"
Semua murid langsung bertepuk tangan dengan meriah, ada yang bersiul dan ada yang mengangkat salah satu temannya ke atas kemudian menangkapnya kembali.
"Sekarang saya akan membacakan pesan terakhirnya—"
Semua murid terheran-heran mengapa orang mati bisa meninggalkan pesan terakhir apakah ia menggunakan sihir. Tetapi, mereka semua kembali tersadar ke alam semula dan tahu bahwa itu tidak mungkin.
Aresya mengeluarkan sebuah kertas yang penuh dengan noda dara. Dan akhirnya misteri itu terpecahkan, ternyata pesan terakhir itu tertera dalam selembar kerta yang penuh dengan noda merah.
"Ehmmm ... baiklah sekarang saya akan mulai membacanya ...
Untuk semua murid-muridku tercinta, terutama kelasku. Jika kalian membaca atau setidaknya mengetahui surat ini ada, berarti saya telah tiada dan telah meninggalkan kalian untuk selamanya.
Kali ini saya hanya akan mengucapkan sesuatu kepada murid-murid yang saya latih dan juga kembangkan. Pertama untuk Loki Minaghyr, perhatikan sekitarmu dengan baik atau kau tidak akan pernah bisa menyadari bahwa celanamu pernah berlubang bahkan baju bawahanmu robek.
Seluruh murid dan instruktur yang mendengar itu tertawa geli mendengar pesan terakhir dari sang pahlawan tersebut, sementara murid yang di sebutkan menahan rasa malunya.
Yang kedua adalah untuk Shiena Khizwart, percaya dirilah dengan tindakanmu. Dan jangan terlalu mendominasi sekitarmu jika kau tidak ingin di sebut sebagai ratu sadis oleh teman-teman sekitarmu.
Lagi-lagi suara tawa terdengar cekikikan dari arah barisan murid-murid Magistra. Tetapi, perempuan yang di sebutkan tidak merasa malu sama sekalipun bahkan ia terkesan sangat bersyukur karena di beritahu.
Yang ke tiga adalah untuk sang ketua kelas Mai Grels. Kau memiliki potensi yang sangat luar biasa jika kau dapat mengembangkannya. Tolong mintalah kepada Instruktur Fay untuk dapat mengembangkan tingkatan sihirmu serta pelatihan bela diri.
Jika kau masih seperti ini, kau tidak akan tahu bahwa murid laki-laki yang berada di luar kelasmu selalu memperhatikanmu dengan tatapan mesum. Jika kau menemukannya hajar dan banting saja .. instrukturmu ini telah memberikan izin kok, hehehehe.
Wajah Mai merona dengan sangat malu namun sangat bahagia dan Fay tampak tersenyum senang mendengarnya.
Yang ke empat, untuk Hiro Einher. Kuasai batas kemampuanmu, kau sangat handal dalam memainkan sihir-sihir cepat namun kau sangat buruk pada pertahanan. Jika kau tidak segera membuat dirimu untuk berkembang kau akan selalu di pandang sebagai bocah tengil oleh Instruktur Rena.
__ADS_1
Hiro tampak gelisah, sedangkan Rena menganggapnya seperti bocah tengil? Tetapi matanya menunjukkan cahaya kelegaan karena ia di beritahukelemahannya secara detil. Namun untuk Rena ia sangat malu sekali. Van menertawakannya sesekali, tetapi ia tidak menyadarinya sama sekali.
Yang ke lima dan terakhir adalah untuk Reya Leshar. Kau terlalu percaya diri akan kekuatanmu hingga tidak mengetahui bahwa kau banyak sekali kelemahan dalam setiap gerakanmu. Jika kau ingin mengeluarkan serangan yang besar maka perhatikan gerak kaki dan postur tubuhmu, jika kau tidak memperhatikannya bisa-bisa kau akan di tegur oleh Kyle dan Grey.
Reya kaget mendengar itu ia tidak pernah mengetahui bahwa instrukturnya itu mengetahuinya hingga sampai seperti itu. Sedangkan Kyle bahkan Grey hanya dapat terkagum-kagum karena pelatihnya itu dapat mengetahui kebiasaan mereka.
Cukup sekian ... ahhh, ada satu lagi. Kalian penasaran di mana surat atau pesan terakhir ini di temukan? Jawabannya adalah di dalam celana dalamku –
Semua murid, instruktur bahkan Aresya yang membacanya sendiri kaget dengan pernyataannya yang begitu tiba-tiba. Mereka tertawa geli mendengarnya, sebelum Aresya melanjutkan bagian selanjutnya ia tidak bisa menghentikan tawanya. Bahkan guru-guru yang lain sampai ada yang tak bisa berhenti tertawa.
Setelah itu Aresya kembali melanjutkan bacaannya.
—Apa kalian bodoh? Huh! ... mana mungkin aku menyimpannya di sana. Yang pasti ini berada saku bajuku ... hahahahahaha.
Jika kalian marah karena hal tadi maka salahkan yang membacanya –
Aresya kembali tersentak namun ia hanya dapat terkekeh sendiri.
Kalau begitu cukup sampai disini, salam hangat ... Kurokami Rei.
"Cukup sekian, dan tampaknya Instruktur Kurokami sepertinya berhasil mengenai kita semua ... hahaha."
Ekspresi yang di tunjukan semua murid dan guru yang berbaris rapi tampak cerah. Gumpalan awan mengambang dengan lamban, seperti siput yangmengejar sebuah bis. Langit biru dan sinar matahari yang tidak begitu terik membuat suasana menjadi sangat cerah dan sejuk.
Setelah itu Aresya pun menutup momen sedih itu dengan acara terakhir yaitu pembakaran peti sang pahlawan. Dalam kepercayaan rakyat Kerajaan Ronove, jika ada seorang pahlawan yang gugur dalam misi mulianya.
Ia harus di bakar hingga menyisakan abunya saja agar rohnya tidak khawatir lagi. Aresya beserta ketujuh guru yang lainnya membaca sebuah Rune bersamaan dan dengan cepat sebuah hulu api tercipta di pinggir peti itu.
Api itu berwarna biru kemerahan, berkobar dengan sangat hebat. Pedang sang pahlawan sedikit demi sedikit mulai meleleh dan menjadi gumpalan timah. Sedangkan peti di mana sang pahlawan tertidur abadi mulai berubah menjadi serpihan abu yang tertiup angin.
"Kak Reiss, walaupun Kakak telah tiada. Kakak masih bisa memberikan kami sebuah lelucon yang dapat membuat kami semua tertawa dengan riang, kami akan selalu mengenangnya. Karena Kakak adalah salah satu instruktur terbaik yang pernah kami punyai ... beristirahatlah dengan tenang," gumam Aresya.
Kemudian semua personil akademi Magistra memberikan penghormatan terakhir dengan menembakkan sihir es tingkat dua ke langit di sertai sihir api dan juga petir secara bersamaan.
Sebuah fenomena tercipta dan menghias langit kala itu dengan indah.
Selamat tinggal, Instruktur Kurokami Rei ... kami akan selalu mengenang Anda di dalam hati kami ' Dari kelasmu tercinta'.
Fear pun beranjak dari atap gedung akademi Magistra kemudian turun kebawah, ia ditemani oleh Velia untuk pergi ke rumah mereka bersama dengan pahlawan yang telah tiada. Namun mereka tegar menerimanya,
sehingga mereka berdua dapat menjalani hidup mereka dengan tenang dan juga penuh dengan tawa.
\~\~\~
Satu tahun telah berlalu semenjak kematian sang pahlawan. Kehidupan Velia bersama Fear sangat tenang namun karena ulah Fear yang selalu membuatnya tertawa menjadikannya tidak merasa bahwa ia sendiri lagi.
Walaupun lelaki yang di cintainya telah tiada, tetapi itu tidak membuat dirinya merasa murung ataupun sedih. Kini akademi telah memasukisemester baru, Velia juga telah menjadi kelas dua, sedangkan Fear di angkat menjadi Wali kelasnya oleh Aresya.
Rena bertugas di bagian pelatihan keselamatan, sedangkan Van dan Fay bertanggung jawab atas kelas satu dan dua. Kini sistem penerimaan Akademi Magistra lebih di perketat lagi.
Walaupun ada beberapa calon murid yang melalui jalur belakang, tetapiAresya menolaknya dengan keras. Bahkan kini di akademi Magistra setelahkelulusan kelas tiga, hanya tersedia beberapa bangku di kelas tiga karena ketidakkompetenan murid kelas dua yang terdahulu.
Untuk calon murid kelas satu mereka akan di tes oleh Rena, namun bukan hanya tes pertarungan saja. Bahkan tes keterampilan dan lain-lainnya, menjadikan Akademi Magistra menjadi salah satu akademi paling di minati di Benua Exhar.
Klub-klub telah di perluas dan akademi Magistra sendiri memiliki beberapa gedung baru dan juga fasilitas baru. Di sisi yang lain....
"Hmm ... jadi ini ya, tempat sayangku dulu mengajar."
Seorang perempuan cantik tiba-tiba saja melangkah masuk ke depan gerbang akademi Magistra dengan elegan. Ia berambut kuning cerah dengan aksesori bunga biru di sebelah kiri atas telinganya.
"Berhentilah menyebut tuan muda dengan kata seperti itu, Selina."
Di belakangnya menyusul seorang lelaki berambut putih dengan dua buahmata yang sangat tajam sekali. Ia cukup tinggi dan berpenampilan rapi dengan membawa sebuah pedang di pinggang belakang.
"Lagi pula tuan muda telah tiada, dan sekarang adalah giliran kita untuk mengajar di akademi Magistra ini." lanjutnya dengan bangga.
"Oz, walaupun sayangku telah tiada, tetap saja aku menganggap ia lah satu-satunya suamiku dan tidak ada yang lain," jawabnya. "Lagi pula kepala sekolah di sini adalah Aresya si manja bukan, dia itu muridku jadi mungkin saja kita akan di berikan kemudahan mengajar di sini," lanjutnya sambil tersenyum kecil.
"Huhh ... kebiasaanmu memanggil tuan muda dengan sebutan seperti itu terkadang membuatku kesal. Tapi ini pengecualian karena tuan muda sendiri yang memperbolehkannya," sahut Oz dengan sedikit kesal.
"Oz ... "
"Huh?"
"Jika bukan karenanya, kita tidak mungkin berada di sini. Jadi kita tidak boleh mengecewakannya walaupun sekarang ia telah tiada dari dunia ini," tutur Selina dengan menunjukkan raut wajah yang sedikit sedih.
"Hmm ... perkataanmu tentang hal itu bisa juga menjadi kesalahan kita di masa lalu, Selina."
__ADS_1