
Sebelum kecerita utama kita intro dulu~
Hai semua! Nama gue ReIN dan terima kasih karena telah memberikan gue kesempatan untuk menemani malam jomblo loe! Jika kalian menyukai cerita ini maka berikan jempol ke atas dan jika tidak cukup vote lalu sebarkan cerita ini. Jangan lupa berikan komentar dan tips agar sang Author tetap semangat update ceritanya!
.
.
.
Setelah kami sarapan pagi, kami pun segera pergi kembali menuju Kerajaan Astarte untuk menikmati hari kedua Astarte Festa. Di hari ini murid-murid gabungan akan melakukan suatu pertunjukan.
Menurutku ini menarik berhubung karena mereka semua di latih untuk dapat menguasai keahliannya masing-masing. Tidak hanya dalam bidang pertarungan saja, melainkan bidang olahraga, kesenian, dan juga agrikultural.
Mereka yang memiliki sihir unik seperti elemen alam sangat ahli dalam bidang agrikultural.
Begitu kami tiba di sana, banyak sekali orang yang datang ke festival ini. Bahkan mereka saling berdesak-desakan. Berkat Keributan yang semakin ramai, pasukan disiplin pun datang. Mereka adalah para panitia yang di tugaskan untuk mengendalikan masa.
Berjalan hingga ke tengah kerajaan, dekat bangunan antik dan beberapa toko cermin. Banyak sekali yang sedang melakukan aksi pantomim. Di antara beberapa atraksi yang mereka lakukan, aku sangat suka sekali saat si pemain pantomim itu melakukan atraksi pura-pura mati.
Namun akhirnya ia hidup kembali karena di tarik oleh tali, rupanya ia tidak mati melainkan hanya tertidur. Karena gestur dan juga posisinya yang meyakinkan, para penonton terbawa ke dalam permainan mereka.
Aku dan Hilda saja sampai di buat terkagum-kagum oleh penampilan mereka. Kini penampilan Hilda tidak jauh berbeda dari kemarin. Masih menggunakan pakaian kasual yang menggugah selera dan sedikit mengumbar kulitnya yang mulus.
Lalu kami beranjak menuju Akademi Swordia di mana pertunjukan para murid akan di laksanakan. Berjalan melewati jalanan sempit seperti gang hanya saja dapat di lalui oleh tiga orang sekaligus.
Nuansa aroma teh kini mulai tercium, disertai beberapa harumnya bunga yang baru mekar. Ternyata tepat di samping kanan kami toko teh berjajar dengan rapi, seperti barisan yang telah di atur dengan baik.
Toko bunga berada di sela-sela toko roti, kue basah dan kering serta toko pakaian. Seperti saling menempel dan tidak mau berpisah, hmm... cukup aneh menurutku.
Setelah itu menyusuri beberapa jalan kecil agar jarak tempuh semakin kecil. Dari mulai menginjak buntut kucing dan wajahku di cakar, terbentur palang penanda toko hingga terpeleset dan untungnya tidak jatuh ke saluran pembuangan air.
Sungguh berat sekali, Hilda yang mengkhawatirkanku juga tampak sedikit panik. Tapi ia memberikanku sihir penyembuh dan untungnya luka-luka itu dapat sembuh juga.
Akhirnya kami sampai di Akademi Swordia yang telah penuh dengan orang-orang penasaran dengan atraksi serta pertunjukan lainnya.
Kami berdua menggunakan sihir angin untuk melapisi kaki, setelah itu melompat, dan menggunakannya sebagai tumpuan agar tetap dapat mengambang di udara. Aku juga tidak mengira jika banyak sekali yang datang untuk menyaksikannya, sehingga mau tidak mau aku harus menggunakan cara ini agar bisa melihatnya.
Saat ini mereka sedang mempertunjukkan beragam pertunjukan dalam bidang keahlian masing-masing yang di akhiri dengan akrobat. Di beberapa bagian itu ada yang saling menggabungkan sihir-sihir mereka. Mungkin itu untuk membuat para penonton takjub akan kombinasi sihir yang berbeda.
Setelah cukup puas dan yakin bahwa mereka baik-baik saja kami berdua pun lekas pergi kembali untuk melihat-lihat hal lainnya.
Tidak terasa kami telah melihat banyak hal dan begitu juga hari yang telah menggelap. Benar-benar hari yang luar biasa dan tampaknya tidak ada sesuatu\ yang mencurigakan terjadi.
Seperti biasa Hilda membuat makan malam dengan makanan dan resep barunya. Aku juga ikut membantunya, jika berdua maka akan lebih cepat dan menyenangkan. Kembali dengan cerita-cerita lawas yang membuatku geli. Di sana kami saling bertukar pemikiran tentang kejadian di Menara Entia.
Tentang pelahap pedang yang tiba-tiba saja muncul. Dengan sosoknya yang begitu besar mana mungkin sebuah suara tidak terdengar. Itu adalah teka-teki pertama lalu mengapa ia di kirim ke Menara Entia tepat setelah aku mengambil Buku Takdir Dunia?
Itu adalah teka-teki ke dua. Lalu dengan tujuan apa Ayah angkatku membeberkan kebenaran yang begitu pahit dan juga menyedihkan. Ia baru menjelaskannya ketika aku sudah pergi dari rumah, apakah ada alasannya? Dan itu menjadi teka-teki ketiga untukku.
Ada juga saat kejadian di Padang Rumput Graughas, mengapa para makhluk kematian itu mengincarku? Tidak hanya di sana saja bahkan lawan-lawanku di masa lalu untuk apa mereka mengincar diriku.
Apakah karena Pedang Regalia yang tertanam di dalam tubuhku? Mungkin dan itu bisa saja menjadi alasan utama. Ataukah Omega sedang mengawasiku? Jika iya dengan cara apa makhluk terkutuk itu mengawasiku jika sosoknya saja belum bangkit.
Semua pertanyaan itu mungkin akan terjawab dengan pasti, suatu saat. Aku pun merapatkan tubuhku ke punggung Hilda saat ia sedang mencuci piring. Pada saat itu aku berbisik tepat di telinga kanannya dengan halus.
“Tolong... hiduplah.”
Ketika ia mendengarnya, piring di tangannya jatuh dan langsung berbalik memelukku. Tubuhnya bergetar hebat, aku sampai kaget dengannya. Apakah permintaanku itu begitu mengerikan, ya?
Aku hanya mengajukan sebuah permintaan yang sangat sederhana. Karena saking gemetarnya, ia sampai-sampai meremas punggung belakangku. Seakan-akan tidak ingin melepaskanku.
Ketika ketakutan menyerang, pasti akan ada saatnya semua berakhir. Begitu juga dengan dirinya yang kini masih menggigil dalam pelukanku.
Pada saat terakhir itu ia menginginkan sesuatu dariku. Aku pun mendengarkan permintaannya yang tidak seberapa. Karena ini mungkin adalah pemintaan pertama dan terakhir yang mungkin saja bisa aku kabulkan.
“T-tetaplah bersamaku malam ini....”
Mendengar itu aku pun mendorongnya, kemudian menggendongnya. Kubawa tubuh ringan dalam gendonganku itu ke atas ranjangku di kamar. Ketika ia menatapku dengan berkaca-kaca, aku hanya terdiam dan memberikannya senyum paling tulus yang bisa kuberikan.
Pada saat itu kami tidur dengan saling bergandengan tangan. Berpisah dengan keluarga memanglah menyakitkan, tapi berpisah dengan seseorang yang sangat berharga adalah mimpi buruk bagi sebagian orang—ya, salah satunya adalah diriku sendiri.
Berpisah dengan keluargaku yang tercinta, kedua istriku, dan juga teman-teman seperjuanganku. Kenangan sekaligus masa lalu yang selalu menghantuiku jika hal itu terjadi lagi.
Waktu yang kami habiskan mungkin sebentar, tetapi mungkin baginya waktu yang ia habiskan bersamaku akan kembali membeku. Hilda terus menangis dalam mimpinya sambil terus menyebut namaku.
Keesokan harinya saat aku terbangun, Hilda telah berpakaian rapi lengkap dengan pakaian pelayannya. Raut wajahnya kembali segar dan menawan. Aku pun beranjak dari ranjang menuju dirinya, perasaan lega ini tidak buruk juga, setelah itu aku mengecup keningnya.
“Ini pasti terlalu berat untukmu. Aku tidak bisa berjanji apapun, tetapi setidaknya inilah yang bisa aku lakukan untukmu,” ucapku sambil membelai pipi kanannya.
Hilda merupakan salah satu anggota keluarga terakhirku selain Paman Lucifer. Karena itulah perkataanku tadi sangat berat untuk aku keluarkan, tetapi setidaknya perasaan yang mengganjal di dalam hati ini bisa lepas tanpa
penyesalan sedikit pun.
“Jika aku tidak kembali. Tolong pergilah ke sisi Paman Lucifer untukku,” ucapku halus.
__ADS_1
“Ya,” sahutnya sambil menggenggam telapak kananku pada pipinya.
Setelah itu ia memelukku untuk beberapa saat, lalu pergi meninggalkanku dengan air mata yang jatuh tepat sebelum aku ingin meraih tangannya.
Aku juga tidak ingin mengecewakannya. Karena saat ini tidak ada yang bisa kulakukan selain melakukannya.
Saat inilah untuk pertama kalinya aku menggunakan semua atribut lengkapku. Satu set lengkap tempur; sebuah kemeja hitam lengan panjang dengan sabuk yang terpasang pada bagian lingkar dada dan bahu kanan. Di antara itu terdapat dasi pita merah yang menyilang dan menempel pada bagian luarnya. Sebuah jubah merah-kecokelatan dan sarung tangan merah gelap yang diimbuhi oleh sihir pelindung. Sisa bawahnya adalah celana panjang dan sepatu khusus yang dibuat untuk pertarungan.
Hal terakhir yang aku lakukan adalah melepaskan kekuatanku. Begitu panas dan terasa menyakitkan seakan-akan belenggu di dalam tubuhku hancur. Bahkan kedua mataku merasakan sesuatu yang berbeda, di mana mata kiri terasa panas menyengat sedangkan mata kanan dingin yang menyakitkan.
Mengapa aku bertaruh pada hari inilah semuanya akan terjadi?
Kecurigaanku berawal dari hari pertama ketika aku dan Hilda berada di alun-alun. Pada saat itu ada yang menampilkan atraksi padahal saat Irina mengumumkan susunan acara mengatakan; hari pertama sebagai pembukaan tanpa adanya atraksi atau penampilan spesial.
Saat itulah perasaanku mulai tidak enak. Tetapi, aku tidak bisa memberitahu Hilda karena tidak ingin mengacaukan harinya.
“Sekarang atau tidak sama sekali. Meist... aku datang.”
***
Akademi Swordia, Aula Utama
Di sana terdapat Irina yang sedang memberikan arahan di hari terakhir Astarte Festa. Ia sedang berada di atas podium, untuk para instruktur mereka di berikan tempat duduk di belakang podium. Sedangkan para murid yang bertugas sebagai panitia mengelilingi tempat itu.
Tempat itu disusun sedemikian rupa agar dapat dipakai dengan nyaman. Berbentuk setengah lingkaran yang menanjak dari arah podium. Begitu Irina sedang memberikan pemaparan pada hari terakhir itu, tiba-tiba semua kaca yang berada di aula pecah.
Berkat hal itu hampir dari semua orang yang berada di sana mulai panik. Tetapi, Irinia bersama dengan bantuan Aresya menenangkan mereka dalam sekejap.
Tidak lama setelah itu sebuah suara tepuk tangan terdengar menggema. Satu-satunya suara yang membuat semua orang keheranan. Lalu di susul oleh suara langkah kaki yang mengentak lantai.
“Luar biasa. Seperti yang di harapkan dari sang legenda, kalian berhasil menenangkan kepanikan ini dalam sekejap.”
Nadanya terdengar hangat, tapi dari balik itu tersirat bahaya yang akan datang. Sosok yang selama ini bersembunyi dalam bayang-bayang itu pun muncul, menampakkan sesosok laki-laki cantik dengan rambut putihnya.
“Siapa kau?!” tanya Irina sembari mengacungkan pedangnya ke arah sosok itu. “Aku tidak tahu siapa dirimu, tetapi
berani sekali kau mengacaukan aula ini”
“Aha... haha... khuahahaha! Pidato yang sangat menyenangkan. Tidak pernah terpikirkan sama sekali jika sambutan yang aku dapatkan adalah sebuah pedang, nona muda. Perkenalkan namaku adalah... Meist,” ucapnya sambil membungkuk pelan dengan seringai lebar yang terukir di wajahnya.
Lalu hanya dalam satu jentikkan saja seluruh aula itu dipenuhi oleh beragam monster dan makhluk kematian yang
muncul dari setiap bayangan orang-orang.
“Sebagai permintaan maafku, apakah ini sudah lebih dari cukup?”
menyiratkan rasa kebencian.
Setelah itu semua monster yang telah bangkit langsung menjerit dengan suara keras. Tetapi, sebelum mereka
sempat menyerang Irinia telah menghabisi lebih dari setengah pasukan yang akan menyakiti para tamunya.
Walaupun seperti itu, Meist sama sekali tidak terkejut. Ia hanya memasang ekspresi wajah yang sama dan tidak
berubah sama sekali, seakan-akan tindakan Irina telah ia prediksi dengan cermat.
“Khuh... aha... ahahaha. Seperti yang diharapkan dari salah satu legenda. Aku tak berpikir jika responsmu begitu
cepat,” ucap Meist dengan tawa mengejek.
“Apa maksudmu?!”
“Bukankah aku sudah mengatakannya? ‘apakah ini sudah lebih dari cukup, ‘kan?’”
Raut wajah Irina pun menjadi menegang dan ia berusaha menyerang Meist secepat mungkin. Tetapi, ketika ia
berhasil menebas dadanya. Tubuh lelaki itu lenyap menjadi sekumpulan bayang-bayang.
“Tenanglah Nona muda, aku tidak akan ke mana-mana karena tujuanku saat ini sudah berada di sini.”
Sosoknya kembali muncul dari samping kiri aula, di mana ia sedang bersandar pada sebuah pilar dengan kedua lengan yang disilangkan.
“Wuoahh! Tenanglah kawan... lelaki pemarah tidak akan disukai perempuan, lhoo!” tuturnya santai sambil menghindari serangan Oz yang berhasil membelah pilar besar di belakangnya menjadi dua bagian.
“Apakah kau seorang badut?” tanya Oz dengan tatapan sinis.
“Badut? Aku? Mana mungkin. Lebih ramai lebih meriah, banyak orang banyak pertunjukan, dan itulah mengapa aku suka menakut-nakuti kalian. Karena ekspresi itu... ya, ekspresi itu membuatku ketagihan.”
Perlahan-lahan tubuhnya mengambang, semua mata tertuju padanya, dan tidak ada satupun yang berani mengganggunya. Bahkan bagi Oz dan Irina sekalipun, mereka berdua bukanlah lawan yang setara baginya.
Kini sosok Meist berada di depan sebuah kaca langit-langit, di mana terdapat dua buah lingkaran yang bersinar.
“Dan... BANG!!”
Tiba-tiba saja terdengar sebuah raungan keras yang mengakibatkan dinding di belakangnya hancur. Menampakkan
sesosok makhluk raksasa bertanduk tiga.
“Mengamuklah... “
__ADS_1
“Sial! Aresya! Selina! Cepat gunakan sihir pelindung!” jerit Oz putus asa.
Berkat peringatan Oz yang sangat cepat, kedua perempuan itu pun langsung mengerahkan kekuatannya untuk membuat sebuah pelindung.
Namun hanya dengan sebuah pukulan dari makhluk raksasa itu, sihir pelindung yang mereka kerahkan langsung retak.
“Arghh!—“
“Kyaaa!!—“
“Aresya! Selina! Bertahanlah... keparat!” rutuk Oz sambil menatap tajam Meist.
“Ada apa? Sudah menyerah?”
Meist hanya dapat tertawa terbahak-bahak ketika melihat Aresya dan Selina jatuh berlutut karena tidak kuat
menahan serangan dari makhluk panggilannya.
Ganthus—makhluk raksasa yang tinggal jauh di dataran tinggi sebelah selatan Kerajaan Magistra. Penampilannya menyerupai manusia pada umumnya, tetapi karena Meist menggunakan sihir kegelapan yang menggabungkan beberapa makhluk yang berbeda. Makhluk itu pun berevolusi menjadi sesosok makhluk kegelapan.
Tidak ada yang tahu hal ini akan terjadi dan tidak juga ada yang mengerti mengapa semua ini terjadi. Tetapi, hanya satu hal yang mereka ketahui... dan itu adalah kematian.
Instruktur dan juga beberapa orang-orang terkuat di sana bahkan tidak bisa menandingi kekuatan Ghanthus.
“Jika kalian ingin hidup, maka serahkan wanita itu padaku...,” ucap Meist dengan nada dingin.
Kini sorot matanya terarah pada Velia dan Fear. Walaupun banyak diantara mereka yang tidak bisa melihat, Fear. Mengetahui lelaki itu bisa melihatnya membuat mereka berdua merinding.
“A-aku tidak akan membiarkannya!”
Tiba-tiba saja Aresya berlari ke arah Velia. Walaupun kakinya masih gemetar karena tekanan yang kuat dari Ganthus dan Meist, ia tetap berdiri membela muridnya.
“Kau? Dengan kondisi itu? Yang benar saja... ingatlah, kejahatan tidak akan selamanya mati, begitu juga sosok pahlawan yang belum tentu selamat, dan para manusia tidak bersalah yang belum pernah mengenal rasa belas kasihan. Apa kau ingin mengorbankan dirimu sendiri demi orang lain?”
Kini ia memberikan sebuah tekanan pada tubuh Aresya menggunakan sihir angin dan juga suara. Walaupun seperti itu, perempuan yang dijuluki sebagai salah satu legenda, dan bahkan sudah dikenal oleh banyak orang itu tidak gentar.
Sorot matanya masih bersinar menandakan bahwa tekadnya bukanlah sebuah lelucon yang bisa ditertawakan.
“Aku akui tekadmu itu cukup hebat juga, tetapi sayangnya waktunya telah tiba. Bangunlah....”
Mendengar perkataannya tubuh Fear bersinar terang mengeluarkan partikel butiran cahaya kecil yang pecah dan melebur ke segala arah. Tetapi, semua partikel itu menjadi sebuah pedang berwarna kehitaman yang elegan.
“—Putri Langit, Fear Relestya....”
Mendengar itu wajah Selina dan Oz menjadi pucat. Mereka tidak percaya jika sosok roh gadis kecil yang memiliki
nama seperti rekan mereka dulu adalah wadah sementara.
Ketika pedang hitam itu masuk ke dalam tubuh Velia. Tubuhnya pun langsung dikerumuni oleh beberapa helai kain
transparan yang terbentuk akibat gabungan partikel roh dan tubuh utama.
Begitu kain itu menyelimuti tubuh Velia—perempuan berambut putih dan mata violet yang sering di kenal sebagai
kapten Kesatria Legiun itu pun menjadi sesosok wanita anggun nan cantik bak malaikat langit.
Rambutnya berwarna merah muda pasi seharum bunga di musim semi, dengan wajahnya yang manis itu berhasil membuat lelaki di sana terpana akan kecantikannya. Seakan-akan sosok perempuan di hadapan mereka adalah anugerah paling nyata yang pernah mereka lihat.
Melihatnya dari kejauhan, Meist mengeluarkan ekspresi yang puas. Ia bahkan bertepuk tangan, tetapi dari balik ekspresi puasnya itu seperti menyimpan arti lain.
Pada awalnya Oz dan Selina ingin ikut bergabung melindungi Velia—Fear. Tetapi, karena tekanan yang diberikan oleh lelaki aneh di atas sana, mereka tidak bisa melakukannya, dan hanya bisa terdiam memandangi semua itu dalam kerisauan.
"Bagaimana sekarang? Apa kalian mengerti maksudku?" tanyanya dingin dengan nada yang datar.
Hal pertama yang keluar dari Fear kala itu adalah nama seorang lelaki atau lebih tepatnya sesosok yang ingin sekali ia lihat pertama kali, “Reiss...,” gumamnya lirih.
Saat ini kondisi Fear sangatlah lemah dan ia bahkan hanya bisa duduk denganwajah memelas melihat keadaan sekitarnya.
“Apa yang kau harapkan dari pengkhianat itu, Putri Fear? Lagi pula laki-laki itu sudah mati di tanganku,” tutur Meist dingin.
“Kau pembohong! Lelaki itu masih hidup!” bantah Selina.
“Lantas apa yang membuatmu percaya jika orang itu masih hidup? Sebuah kenangan? Huh! Kau hanyalah makhluk fana yang masih terkurung dalam kenangan lama! Sadarlah... dan akui, perkataanmu tadi hanyalah pembelaan tanpa bukti.”
Meist pun perlahan-lahan turun. Setelah ujung kakinya menyentuh lantai, ia pun mulai berjalan menghampiri Fear.
“Reya! Hiro! Cepat evakuasi yang lainnya bersama para Kesatria Legiun yang masih sadar!”
“B-b-baiklah, kepala sekolah...,” sahut Reya ragu.
Reya yang mendengar perintah langsung dari kepala sekolahnya itu segera membopong Hiro dan menyadarkan para Kesatria Legiun lainnya. Setelah mereka sadar, Reya pun meminta mereka untuk mengevakuasi murid-murid lainnya.
Baik Nheil, Weis, dan Fiana serta murid-murid yang masih bisa bertahan pun ikut membantu mereka. Sesaat Reya akan pergi meninggalkan aula itu, wajahnya menoleh ke arah Aresya seakan-akan bertanya ‘apakah
ini yang terbaik, kepala sekolah?’
Namun Aresya hanya memberikan sebuah senyuman tipis untuk membalas pertanyaan Reya itu. Pada akhirnya Reya dan semua orang yang bersamanya pergi meninggalkan aula tanpa ancaman Meist.
“Pilihan yang bijak. Nah, apa kalian siap untuk ronde selanjutnya?”
__ADS_1