Sword Anthem

Sword Anthem
Chapter 45 - Musuh Yang Tangguh


__ADS_3

Sebelum kecerita utama kita intro dulu~


Hai semua! Nama gue ReIN dan terima kasih karena telah memberikan gue kesempatan untuk menemani malam jomblo loe! Jika kalian menyukai cerita ini maka berikan jempol ke atas dan jika tidak cukup vote lalu sebarkan cerita ini. Jangan lupa berikan komentar dan tips agar sang Author tetap semangat update ceritanya!


.


.


.


Sementara itu kelompok Lily, Sightmund, Fay, Wesley dan Reina sedang menuju taman bunga Kerajaan Astarte. Terletak tepat di persimpangan gerbang selatan kerajaan. Begitu mereka tiba di sana, tiba-tiba saja sesosok makhluk menyerupai kadal menghadang mereka..


Monster itu menempel di dinding salah satu rumah yang cukup besar. Matanya merah dan mengeluarkan darah yang terus-menerus menetes. Sementara tubuhnya di balut oleh kulit hitam yang bersisik.


Mereka yang sepertinya tampak terburu-buru langsung melancarkan beberapa serangan ke arah kadal itu. Tetapi, mereka tidak mengira bahwa musuh mereka bukan monster kadal itu saja.


Sebelum Sightmund dan Fay mengeluarkan sihir api dan cahaya. Tepat di belakang mereka muncul seekor Gigant yang tiba-tiba saja menghancurkan beberapa bangunan dan langsung berjalan ke arah mereka.


Sightmund, Fay, Reina berjaga di depan sekaligus mengambil bagian untuk menyerang monster kadal raksasa. Sedangkan Lily dan Wesley menjaga bagian belakang mereka dari sang Gigant.


Pada saat Fay melepaskan sihir cahayanya, pada saat itu pula mereka langsung berlari ke arah musuh mereka masing-masing. Sightmund langsung meluncur dengan kecepatan yang mampu berjalan di dinding bangunan secara miring.


Mata pisau pedangnya telah bersinar karena pantulan sihir cahaya milik Fay. Di saat ia melompat ke atap di sampingnya, ia pun kembali melompat lagi seperti memantul dan di saat itu bilah mata pedangnya teracung ke atas, melesat menujukepala monster kadal yang sedang menempel di dinding.


Namun karena monster itu menjulurkan lidah hijau masamnya, Sightmund yang sudah tidak bisa mengganti arah serangnya terhempas hingga merusak salah satu atap rumah di belakangnya.


Pada saat itulah sihir milik Fay berhasil mengenai monster kadal itu hingga setengah tubuhnya menjadi gosong. Sementara kaki belakangnya hancur dan mengeluarkan darah yang banyak.


Monster itu mendesis kesal, lalu ia pun melompat-lompat dengan cepat. Kini Fay kerepotan karena ia kecepatan monster itu membuatnya bidikannya menjadi kacau.


Begitu monster itu menyentakkan ekor besarnya. Sightmund yang telah bangkit langsung melompat dan berlari dengan mengangkangkan kaki kanannya. Siap untuk melesat tajam ke arah wajah monster kadal itu dan berkat tendangan kakinya yang berhasil menghempaskan sang yang ingin menyerang Fay.


Fay pun dengan refleksnya yang cepat langsung memberikan sihir perlindungan untuk Sightmund, sedangkan Reina sedang mempersiapkan sihir berskala cukup besar. Sightmund yang menyadarinya bergegas untuk melesatkan beberapa serangan cepat untuk mengulur waktu bagi Reina.


Monster kadal itu kembali bangkit dengan kaki belakangnya yang hancur. Pergerakannya menjadi lambat, walau begitu ia masih bisa menyemburkan beberapa serangan jarak jauh. Benar saja ia melompat dengan bantuan ekor besarnya.


Tinggi ke atas, lalu ia mengeluarkan cairan masam dari mulutnya. Tetapi, Sightmund langsung menghancurkan tanah di sekitarnya, puing-puing yang terangkat akibat serangannya ia lemparkan ke arah cairan masam.


Alhasil serangannya hanya menghancurkan bebatuan itu. Uap mengepul dan langsung melelehkannya.


Sightmund langsung menguatkan kedua kakinya lalu meloncat cepat ke arah sang monster kadal yang kini masih melayang pelan. Fay membantunya dengan melesatkan gelombang kejut cepat dan berhasil melewati tubuh Sightmund dengan sempurna.


Pada akhirnya serangan itu menghantam monster kadal itu hingga membuatnya kehilangan keseimbangan, Sightmund berputar di langit-langit sambil menyiapkan pedangnya. Dalam satu hitungan ia langsung menghunuskannya tepat ke arah jantungnya.


Sayangnya serangan itu berhasil di tahan, dengan mengorbankan kedua tangannya. Kedua tangannya itu terbelah menjadi dua bagian yang pada akhirnya terlepas, melambung ke langit. Reina tidak diam saja, ia juga ikut melesat ke arah monster kadal yang telah kehilangan keseimbangan dan siap untuk menerima eksekusi terakhir dari pedang miliknya.


Jubahnya berkibar tertiup angin yang menerjangnya, mulutnya tersenyum kecil dan sesekali kaca mata bergoyang karena getaran yang ia hasilkan. Sebilah pedang muncul dari bawah pinggulnya dan langsung melesat seperti kurva menuju jantung monster kadal itu.


Satu hunusan cepat yang langsung membelah tubuhnya menjadi dua, mencipratkan darahnya ke mana-mana. Hingga menutupi setengah wajah elegannya. Sementara itu Sightmund berhasil mendarat dengan selamat tepat di samping Reina.


Ketika Sighmund menyentuh pundak kanannya, ia pun menoleh.


"Ughhh ... Instruktur R-Reina, apakah itu kau?" tanyanya memastikan begitu melihat wajah penuh darah milik Reina.


Namun tiba-tiba saja Fay kehilangan keseimbangannya begitu melihat wajah Reina. Dibandingkan seekor monster ataupun makhluk yang ganas, tampaknya ia lebih takut pada penampilan Reina saat ini.


"Apakah Anda baik-baik saja, Instruktur Fay?" tanya Lily sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya.


Matanya mulai terbuka dan kepalanya sedikit terangkat.

__ADS_1


"A-aku baik-baik saja. Ini memalukan karena aku tiba-tiba saja lemas setelah melihat wajah Reina," sahutnya sambil menyentuh keningnya sendiri.


Sighmund dan Reina pun hanya saling memandang dan bertanya satu sama lain.


Di samping itu Lily dan juga Wesley sedang berhadapan dengan seekor Gigant dengan tinggi kurang lebih menyamai tiga orang dewasa. Tubuh kekar besarnya menjadikan makhluk itu lambat dalam bergerak.


Wesley mulai menghilang tertiup angin, kehadirannya tiba-tiba saja sedang melayang di atas makhluk besar itu. Sedangkan Lily sedang fokus untuk memanggil roh di sekitar tempatnya berada.


Sebuah angin ****** beliung muncul dari arah Wesley dan menyatu dengan tubuhnya bersamaan sebilah pedang yang berputar di tengah-tengahnya. Serangan itu kini tertuju pada Gigant yang sedang terdiam.


"APA?!"


Namun serangan itu berhasil dihentikan oleh sang Gigant hanya menggunakan jari telunjuknya saja.


Dari arah yang lain Lily melesatkan dua buah tebasan berapi merah dan putih. Berbentuk silang dan meluncur cepat hingga menghantam sang Gigant. Serangannya itu berhasil menyatu dengan kemampuan milik Wesley.


Kobaran api berdesis di antara hiliran angin yang berhembus melewatinya. Menggosongkan rumah-rumah yang ada di sekitarnya menjadi hitam dan lama-kelaman menjadi arang lalu hancur. Namun sosok Gigant itu masih terlihat di tengah-tengahnya, baik Lily dan Wesley pun kembali dalam posisi siaga.


Namun siluet bayangan yang besar itu tiba-tiba bergerak, lalu ... BHASSS!!!


Angin ****** beliung api itu langsung menghilang dalam sekejap mata dan memunculkan seekor monster raksasa yang sedang tersenyum keji. Kepalan tangannya terangkat dengan cepat lalu melesat cepat ke arah Wesley dan Lily secara bersamaan.


Karena daya serangnya yang jauh lebih besar, mereka bertiga terpental jauh hingga merobohkan beberapa bangunan dalam sekali serangan itu.


"Ahkss ... aku tidak mengira, monster itu begitu kuat," ucap Wesley yang mulai bangkit kembali menggunakan pedangnya sebagai tumpuan.


Gigant itu mulai berjalan mendekatinya, tubuhnya yang seperti tembok raksasa itu menghalangi pencahayaan. Membuat penglihatan Wesley menjadi sedikit runyam, tapi yang ia tahu bahwa kini tangan kanan sang makhluk besar itu mulai terangkat.


Dan... SLEBSSS!!!


Tiba-tiba saja Sebuah pedang menancap tepat di punggung sang Gigant. Di balik pedang itu Sightmund sedang berusaha untuk lebih memperdalam tusukan pedangnya. Wesley tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.


Gigant itu akhirnya roboh bersimbah darah, suara setapak kaki yang bergerak cepat terdengar tidak jauh dari arah mereka berada. Itu adalah Reina yang sudah membersihkan kembali wajahnya dari darah dan juga Fay yang sudah tenang.


Mereka berdua secara bersamaan mengeluarkan sihir api yang menyelubungi pedang yang mereka genggam masing-masing. Di saat yang sama mereka pun melompat tinggi ke udara, pedangnya terangkat lalu di balikan sampai ujung mata pedangnya berada di bawah.


Seperti jatuhnya komet kecil, ujung mata pedangnya yang terselubung oleh api menjerit keras dari langit hingga akhirnya meluluh lantahkan tempat sang Gigant itu berada, untungnya Wesley dan Sightmud telah menghindar sebelum serangan Fay dan Reina berhasil membuat makhluk besar itu meraung kesakitan.


Suaranya bergema dengan di barengi oleh hulu ledak dari kedua pedang milik Fay dan juga Reina secara bersama-sama, menciptakan ledakan yang sangat hebat dan besar. Kepulan asapnya meluap dan meluas hingga memasuki sela-sela kota yang sangat sulit untuk di jangkau.


Ketika semua asap itu telah menghilang, sesosok besar monster telah tergeletak engan mulut yang terbuka dengan permukaan kulit yang gosong berwarna hitam kemerahan.


"Akhirnya... cepat kita harus kembali pergi," ucap Sightmund.


***


Di sisi lain kota Mea, Nheil, Hiro, dan Fiana sedang menuju gerbang utara untuk memastikan tidak ada yang masuk melalui pintu gerbang itu. Sebelum mereka sampai di sana, mereka telah di hadang oleh puluhan Ogre dan juga beberapa Homogoblin yang cukup besar.


Fiana tidak mengulur waktu, ia langsung saja menerobos paksa dengan pedangnya yang ganas. Mengeluarkan hawa es yang sangat dingin dan juga tajam.


Semua yang di laluinya langsung menjadi patung es seketika.


Dengan sentuhan sihir milik Hiro dan juga tembakan panah milik Mea, patung-patung es itu langsung hancur menjadi serpihan kecil berkilauan. Nheil pun langsung melompat tinggi hingga kini berjalan di atap-atap rumah.


Ia melihat bahwa kelompok yang lain juga sedang berusaha untuk sampai di tengah kerajaan. Fiana bersiap membaca sihir imbuhan. Dengan bantuan Nheil yang memaksimalkan jangkauan sihir area, ia menjadikannya sihir area.


Mereka dengan mudahnya menembus pertahanan sekumpulan Ogre dengan kelihaian dan juga permainan pedang milik Fiana.


Pedangnya seakan menari-menari dengan indahnya. Setiap langkah kakinya menjadi hamparan es yang membuatnya dengan cepat bergerak dan meluncur seperti bermain Ice Skating. Sementara pedangnya melakukan tugasnya dengan baik dengan memberikan jalan agar tidak tertahan oleh pasukan musuh.

__ADS_1


Tebasan demi tebasan di luncurkan oleh Fiana dengan bantuan Mea yang melesatkan anak panah angin berkecepatan suara. Semua makhluk yang berada di depan mereka pun lenyap meninggalkan potongan tubuh yang bergeletakan.


Sekarang Mea mulai memimpin dengan menggunakan kemampuan mata elang miliknya ditambah dengan kemampuannya sebagai penembak ulung, menjadikannya sebagai penembak paling akurat dengan jangkauan terluas.


Fiana yang membuka jalan di bawah sedangkan Mea dengan kemampuannya memanah, Hiro dengan kemampuannya mengeluarkan sihir dan Nheil dengan kemampuannya menggunakan tombak spiral peraknya yang dapat menyerang musuh dari jarak jauh.


Semua berjalan dengan lancar hingga mereka sampai di persimpangan dekat dengan menara lonceng. Lonceng itu berdentang dan mengeluarkan suara yang cukup nyaring dan berdenting berulang kali.


Tiba-tiba saja mulai hening dan muncul sebuah bayangan raksasa di dekat menara lonceng itu. Tepatnya di samping kanannya, sebuah tangan muncul dan meremukkan fondasi menara lonceng hanya dengan satu kali cengkeraman.


Lalu di susul oleh sebuah kaki berwarna hitam, tetes-tetes cairan merah keluar dari pori-pori kaki itu. Kini bagian kepalanya lah yang keluar, kedua matanya sipit dengan iris seperti hewan liar. Berparuh serta memiliki rahang


dan juga gigi runcing yang tajam.


Hanya memiliki satu sayap yang robek. Ketika ia telah muncul dengan keadaan yang terlihat jelas, Nheil, Mea, dan juga Fiana bersiap dalam posisi menyerang—


"HROARGGG!!!"


Sosok itu tiba-tiba menghilang dan muncul di antara Hiro dan Nheil, begitu kagetnya mereka berdua langsung berusaha menjauh, tapi sayang mereka terlambat. Monster berparuh itu telah lebih dahulu menggenggam lengan mereka dan langsung melemparnya jauh menghantam menara lonceng itu sendiri


“ARghh!!!—“


“Aghkk!!—“


Mata mereka melebar sambil memuntahkan dari mulutnya. Mea yang ikut kaget tidak sengaja melepaskan sebuah anak panah yang melesat ke arah kepalanya.


Serangan tanpa di dasari kesadaran itu anehnya berhasil menyentak kepalanya hingga menembus keluar dan meneteskan darah dari ujung mata anak panahnya. Tetapi monster aneh berparuh itu terdiam, kepalanya berputar pelan sehingga kedua mata sipitnya itu melihat Mea yang sedang bergidik.


Mulutnya tersenyum riang, ia pun langsung tertawa terbahak-bahak. Suaranya geram dan juga serak. Bahkan keberadaannya yang cukup besar itu tiba-tiba menghilang dari pengawasan Mea. Tubuh besarnya kini berada tepat di depannya dengan paruh yang terbuka dan memunculkan jajaran gigi yang runcing penuh dengan darah.


Kepalanya yang masih tertancap anak panah sama sekali tidak memberikan dampak yang terlalu besar. Lengan kanannya terangkat hingga menutupi pandangan Mea. Tetapi Fiana langsung melompat, ia langsung melancarkan sebuah tendangan menyamping.


Membuat monster itu terhempas dari hadapan Mea. Tubuhnya yang besar menghancurkan permukaan tanah dengan hebat dan sebuah bola api raksasa menyusul dan meledakkannya bersamaan dengan jalanan yang berkobar-kobar.


"Ha-hahah, ughh. Ini menyakitkan, tetapi... akhirnya aku bisa mengeluarkan sihir yang di larang oleh Instruktur Kuro," gumam Hiro.


Sayangnya makhluk masih terdiam, hingga keberadaannya itu melompat tinggi untuk menghindari serangan yang di lancarkan oleh Hiro. Tetapi, Mea tidak membiarkan itu, dengan cepat lengan kanannya itu mengapit beberapa anak panah yang siap di luncurkan dari sarangnya.


Pertama adalah empat buah, lalu tiga, dan disusul oleh lima buah yang di ikuti oleh satu tembakan tunggal dari sihir petir milik Hiro. Serangan jarak jauh itu berhasil mengenainya dan membuatnya jatuh hingga tepat berada tepat di depan menara lonceng..


Ketika siluet yang menampakkan tubuhnya terjatuh, di sisi lain Nheil yang terlihat kesakitan telah bersiap dengan serangan polonya. Kedua kakinya di kuatkan seperti menaiki seekor kuda.


Kedua matanya fokus dan tombak spiralnya siap menerjang monster itu, ketika ia ingin melompat menerjangnya. Monster itu kembali bangkit sambil berteriak tidak jelas. Nheil pun tidak peduli dan tetap menerjangnya sambil mengacungkan tombak tepat ke arah jantung monster itu. Tetapi, serangannya berhasil tertangkap oleh tangan sang makhluk berparuh itu.


Ia mulai merintih kesakitan hingga akhirnya sebuah cahaya hitam muncul dari dalam paruhnya yang runcing. Nheil hanya dapat terus menekan tombaknya, tetapi seiring usaha Nheil berlangsung cahaya hitam di paruhnya itu terus membesar.


Namun tidak di sangka-sangka dua buah tusukan berhasil menyumbat cahaya itu. Dua buah tusukan langsung melesat dari belakang Nheil, menembus paruhnya hingga keluar dari kepala belakang. Dan berkat tusukan itu kekuatan genggamannya menjadi lemah, pada akhirnya ia serangan miliknya berhasil menembus jantung sang makhluk berparuh.


Terus mendorongnya hingga menekan kuat tubuh besarnya rata bersama dengan jalan. Tubuh besarnya kini bersimbah darah dengan tatapan kosong kepalanya terarah ke atas. Paruhnya yang runcing terbuka mengeluarkan darah.


"Huh, hah... huh. Terima kasih atas bantuannya," ucap Nheil ringan.


Melihat keduanya yang babak belur akibat serangan monster berparuh itu, kini kedua tersenyum karena berhasil menggenggam kemenangan. Walaupun tulang rusuk mereka belum sepenuhnya sembuh tapi serangan fatal seperti bisa saja membuat mereka koma seketika.


Setelah itu Mea dan Fiana membantu Hiro yang tampaknya menerima luka paling banyak hingga berjalan terpincang-pincang. Mereka berhasil melewati dan juga mengalahkan monster itu dengan telak.


Tidak jauh dari posisi mereka muncul sesosok makhluk bergelimangan darah yang sedang mengunyah sepotong tangan utuh.


“Khahahaha!!!”

__ADS_1


Ia pun menjilati sisa darah pada bagian pinggirnya mulutnya. Setelah itu menelan utuh tangan itu sambil menyeringai lebar.


__ADS_2