Sword Anthem

Sword Anthem
Chapter 5 - Contoh


__ADS_3

Setelah aku berhasil menghancurkan balok kayu itu, semua mata tertujupadaku. Mata mereka kaku dan terbuka lebar, sedangkan mulut mereka tampak seperti di tahan oleh sesuatu.


"Ouu ... Kuro lumayan juga," Cceletuk Fear yang tiba-tiba saja memutuskan untuk berbicara.


"Kenapa kau baru sekarang bicaranya, huhh ... habiskan dulu permen itu. Setelah ini kita akan keluar kerajaan jadi persiapkan dulu dirimu"


"Baiklah," sahutnya kemudian kembali memakan permen


Kayu Almite yang memiliki unsur anti-magi dapat hancur hanya dengan sihir tingkat pertama. Inilah yang membuat mereka terdiam.


"Baiklah, karena kelas ini adalah kelas yang menjadi tanggung jawabku. Sekarang kita akan pergi keluar kerajaan"


"EHHHHHHH?!! ...."


Aku hanya dapat tersenyum kecil ketika mengatakan itu dan sepertinya mereka kembali mendapatkan kejutan dari wali kelasnya sendiri.


Kami pun segera pergi menuju keluar akademi, dari apa yang aku lihat sekarang, sepertinya mereka mulai menerimaku sebagai wali kelasnya.


Saat kami berada di lapangan, tempat yang harus kami lewati terlebih dahulu sebelum mencapai gerbang akademi. Aku melihat beberapa orang yang tampaknya adalah seorang instruktur seperti diriku.


Di sana aku melihat dua orang yang sedang berdiri memberikan arahan.


Jika tidak salah perempuan berambut putih berpakaian mirip seperti gadis kuil suci itu adalah Fay Reizan. Aku sering mendengar namanya ketika melewati tempat ini, satu-satunya instruktur seksi yang cantik menurut kalangan murid laki-laki.


Entah ... tapi, menurutku bukankah itu terlalu berlebihan? Aku tidak tahu tepatnya ia memiliki kemampuan seperti apa dan keahlian dalam bidang apa, tetapi melihatnya dapat dengan mudah mengatur murid-murid kelas itu, tampaknya ia adalah salah satu instruktur yang sangat disegani.


Selanjutnya adalah seorang laki-laki berperawakan tegap dengan rambut hitam lurus bergaris kebiruan samar. Pakaian yang ia kenakan terkesan mirip seperti seorang pasukan khusus ketimbang pakaian akademi.


Van Handeraz ... itulah namanya. Setelah murid laki-laki yang mengatakan bahwa Fay adalah instruktur yang sangat cantik, maka kali ini giliran kalangan murid perempuanlah yang menyebutnya sebagai calon suami idaman.


Semakin sini aku jadi semakin tidak ingin terlibat dengan mereka berdua. Hanya akan ada masalah jika aku berurusan dengan mereka berdua. Mereka juga adalah apa yang aku sebut sebagai sumber perhatian dan titik kumpul.


Banyaknya murid-murid yang mengagumi mereka membuat instruktur lainnya yang bekerja di sini layaknya seperti karakter sampingan.


Aku pun terus berjalan santai melewati lorong dari sisi pinggir lapangan. Hingga perhatianku teralihkan oleh sebuah tatapan tajam namun hangat. Begitu aku menoleh, ternyata itu adalah tatapan dari Velia, sepertinya ia berada di


kelasnya Fay.


DAMSSSSS ... !!!!!!


Tiba-tiba saja tidak jauh dari samping kiri mereka muncul sesuatu yang jatuh dari atas, menghantam tanah begitu keras hingga menimbulkan getaran yang cukup hebat.


Ketika aku memperhatikannya lagi secara seksama, makhluk yang baru saja jatuh itu adalah seekor Orc besar berkulit hijau kehitaman.


Di sekitar lehernya terdapat kulit serigala yang telah di awetkan. Memakai kulit kayu untuk menutupi bagian bawahnya, dan di sekitar pangkal lengan terdapat zirah perak yang kusam. Ia juga menggunakan baja putih untuk


melindungi tubuhnya dan sebuah bongkahan kayu ia panggul di bahunya.


Namun ada yang aneh pada dirinya yaitu ia menggunakan sebuah kalung yang terbuat dari beberapa kristal.


Mungkinkah kristal itu ....


Sebelum aku selesai menganalisanya, tiba-tiba saja Van langsung menyerang monster itu dengan hunusan pedangnya yang sangat cepat bahkan hingga menciptakan gelombang es.


Di sisi lain aku melihat Fay sedang menciptakan sebuah pelindung cahaya yang menyelubungi murid-muridnya, menjadikan mereka seperti sayuran di dalam pot. Tapi, itu adalah langkah yang bagus untuk memastikan tidak ada yang terluka akibat serangan monster itu.


Antara heran dan penasaran, mengapa mereka terpana dengan serangan Van? Seharusnya mereka panik karena ada serangan tiba-tiba’ kan? Apakah mereka baik-baik saja? Maksudku di sini adalah ketika ada sesuatu yang aneh muncul dan membahayakan nyawa seseorang, reaksi yang pas untuk itu bukankah panik, ya?


Namun sayangnya serangan Van itu menghilang tanpa jejak sama sekali. Layaknya ditelan oleh sesuatu yang tak terlihat.


Van yang menyadari serangannya tak mempan mulai mengambil jarak lalu melepaskan beberapa serangan selanjutnya. Tiga hingga empat buah gelombang dingin melesat memunculkan hawa biru yang memercik.


Namun, sekali lagi serangan itu gagal dan berakhir dengan geraman remeh dari Orc di hadapannya.


Orc itu pun menghantamkan kayu raksasa di genggamannya dengan keras ke tanah. Permukaan tanah itu pun hancur berkeping-keping kemudian mementalkan berbagai material seperti bebatuan kerikil, butir-butir pasir yang membutakan pandangan dan juga serpihan kayu yang tajam.


Namun Van bergerak cepat sehingga serangan Orc itu meleset. Gerakan kakinya lincah, aku juga bisa merasakan tatapan dan fokusnya hanya terarah pada monster itu.


Melihat Van sedang sibuk dengan Orc di sana, aku mulai memanas-manasi muridku sendiri dengan sedikit motivasi di ujungnya.


"Ayo, katanya sihir dasar gampang? Anak kecil saja bisa melakukannya,bukan? Coba, instruktur kalian ini ingin melihat perkataan itu jadi kenyataan. Jika Mai bisa, bukankah kalian juga seharusnya bisa?”


"E-ehhh?!!—“


"Hmm ... jangan jadi tong kosong nyaring bunyinya dong. Coba tunjukkan, aku yakin kalian pasti bisa kok," bujukku hangat sambil tersenyum kecil.


Meskipun sesaat tapi aku bisa melihat wajah murid perempuan tersipu malu, sedangkan murid laki-laki menggaruk belakang kepala sambil menggumamkan sesuatu.


"B-baiklah, jika itu maumu rakya jelata"


"Loki, kau juga pasti bisa. Mana semangatmu ketika kau mengejek instrukturmu ini saat di kelas"

__ADS_1


"Tchh ... merepotkan, kalau begitu tidak ada pilihan lain." Balas Loki


Mereka berdua terdiam, kemudian kepala mereka berdua mendongkak secara perlahan. Lengan kanan mereka di angkat dan dan diarahkan ke monster itu. Secara bersamaan mereka mengucapkan apa yang ku ucapkan saat pelajaran di kelas.


“Lightningg!!”


“Lightningg!!”


Setelah Shiena dan Loki melesatkan sihir dasar itu. Semuanya mulai mengikuti mereka berdua dan berteriak lantang seakan-akan serangan itu adalah serangan terhebat yang pernah ada.


Dua buah kilatan petir biru yang tidak terlalu besar melesat ke arah Orc itu dengan cepat. Kemudian di susul oleh petir-petir biru lainnya, menggelegar, dan melesat cepat menerjang monster itu. Beberapa murid berbisik bahkan ada yang menertawakannya. Aku tahu apa yang mereka pikirkan ... jika serangan Van tidak berhasil, mana mungkin murid biasa seperti mereka bisa melukainya?


Aku hanya mengingatkan mereka kembali, tersenyum dalam diam. Pikiranku yang mulai menggelitik ini ingin sekali rasanya menertawakan balik murid-murid luar yang tidak tahu tentang teknik ini.


Bahkan Reya dan Hiro pun tersenyum kegirangan karena melihatnya.


Seperti yang kuharapkan ... seranganini 100 % pasti akan—


Dengan suara ledakan yang besar dan raungan yang memekik petir itu akhirnya menghantam Orc itu.


"Berhasil  ... benar’kan?"


Petir-petir itu berhasil melubangi tubuhnya walaupun tidak terlalu besar. Tetapi, serangan itu berhasil menarik perhatian semua murid yang berkumpul bahkan Van dan Fay juga ikut menatap muridku dengan wajah yang tidak percaya.


"Kerja bagus, Loki, Shiena ... semuanya," ucapku lalu memberikan jempol kepada mereka.


Sepertinya mereka terharu ketika mengetahui serangan kecil itu dapat melukai Orc ketimbang serangan tingkat tinggi namun sama sekali tidak mempan sama sekali.


Aku bahkan dapat melihat wajah kebanggaan Loki menjadi seperti itu, terharu dan bahkan masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Sedangkan untuk Shiena ia seperti memerah pada bagian kedua pipinya.


"Nah ... selamat untuk kalian semua, simpan rasa terharu itu untuk lain kali sekarang perhatikan instruktur kalian ini."


Mereka pun langsung memperhatikanku tidak peduli bahwa di tengah lapangan terdapat Orc yang sedang mengamuk kesakitan. Karena mereka sekarang percaya apa yang akan ku katakan, setelah melihatku di kelas dan juga setelah melihat Mai, Loki dan juga Shiena.


Mungkin sekarang mereka mempercayaiku sepenuhnya. Walaupun saat pertemuan pertama mereka tampak menganggapku sebagai penjahat kelamin dan juga menjijikkan, tetapi sekarang anggapan seperti menghilang dan menjadi rasa hormat.


"Aku sudah menjelaskannya saat di kelas tadi, bahwa I-Rune ini dapat berevolusi bukan?"


Mereka semua mengangguk dan sepertinya mereka paham dengan apa yang baru saja aku katakan.


"Instruktur, apakah sihir kita bisa menjadi lebih kuat jika kita berlatih menggunakan I-Rune ini?" tanya Hiro dan Mai dengan serentak.


"Wahh ... rupanya ada yang sangat menantikannya, betul apa yang dikatakan oleh Hiro dan juga Mai. Sihir kalian dapat berevolusi seiring dengan latihan yang kalian lakukan. Tetapi setiap orang memiliki kekurangan dan juga kelebihan. Itu berarti setiap orang memiliki latihannya masing-masing dan terkadang latihan yang dibutuhkan sangatlah khusus untuk meningkatkan keterampilan ini," jelasku


"Satu lagi, ketika sedang melakukan latihan ingat keselamatanlah yang paling utama. Usahakan agar tidak melukai diri kalian sendiri ataupun orang lain. Bahkan jangan pernah melakukannya untuk melenyapkan nyawa makhluk hidup. Jika kalian melakukan itu maka latihan ini tidak berguna sama sekali," Lanjutku sambil memeragakannya dengan kedua lenganku.


Fear tampaknya sangat senang ketika melihatku seperti ini. Kedua matanya berkilauan dan wajahnya tampak memelas. Permen yang dimakannya baru habis setengah. Seperti yang sudah kuduga, ini gadis cilik sangat menghayati sekali jika berurusan dengan makanan manis.


Saat aku lihat semua murid selain di kelasku tampak kebingungan dengan caraku mengajar. Mengapa ada orang yang mengejar di tengah bahaya seperti ini. Baik Fay dan Van memasang wajah keheranan sama seperti wajah para muridnya.


"Sisanya akan aku jelaskan saat pelajaran selanjutnya, sekarang cukup perhatikan diriku. Aku akan memeragakan apa itu Evolusi," ujarku kemudian berbalik menghadap Orc yang sedang mengamuk itu.


Orc itu berlari dengan amarah yang membara dan tak terkendali. Matanya merah menyala dengan sangat dalam, urat-uratnya keluar dan membekas di permukaan kulitnya yang hijau dan kentara. Ia membanting-bantingkan batang kayunya ke sana-kemari dengan membabi buta.


"Ingat ini namanya I-Rune yang telah berevolusi," ucapku sambil tersenyum kecil.


"Instruktur Kuro, awassss!! ...," teriak Velia lantang.


Bisa-bisanya perempuan itu mengkhawatirkanku di saat seperti ini. Mau bagaimanapun, julukan itu bukanlah pajangan semata. Karena kekuatanku belum selesai, ini baru permulaan ... saat ini aku mengubah persepsi dan cara bertarungku sebagai ....


" ... Black God Slayer," bisikku halus.


Membuka batas kekuatan ... Drive.


Aku berjalan pelan menghampiri Orc itu dengan langkah pelan. Saat Orc itu telah berada dalam jarak pandang seranganku, aku pun mendongakkan wajahku.


Meskipun hanya sesaat aku bisa merasakan ketakutan yang muncul dari raut wajahnya, tubuhnya gemetar, dan lututnya tampak terlihat lemas. Dengan lihai kutendang kakinya dengan keras.


Tubuhnya melayang dalam seperkian detik, setelah itu aku menendang perutnyahingga melambung tinggi di udara.


Aku merasakan keheningan yang sangat nyaman karena saat ini semua inderaku hanya tertuju pada monster yang sedang melayang di atas. Mengeluarkan pedangku,bunyi gesekannya membuat indera pendengaran serta penglihatanku menajam.


"Divine Ligtning—” bisikku cepat.


Aku pun melompat tinggi dengan suara getaran yang hebat dan langsung membelakanginya. Setelah itu menguatkan kelima jariku, lalu menggenggam bilah sambil mengeratkan kuda-kuda.


“—Strike!!!! "


Kemudian di akhiri dengan sebuah dive cepat ke bawah yang disambung oleh tebasan kilat petir putih raksasa yang singkat. Membelahnya menjadi dua bagian sekaligus menghanguskannya menjadi abu.


Berhasil mendarat dengan sempurna, mulutku menyungging kecil. Serangan yang baru saja aku lakukan mirip seperti pisau guilotine—alat eksekusi untuk kriminal. Jika serangan itu aku keluarkan baik itu monster atau musuh apapun yang terkena oleh serangan itu akan langsung mati menjadi abu.

__ADS_1


Walaupun beberapa saat tadi aku mendengar teriakan kesakitannya, tapi teriakan itu langsung menjadi senyap ketika aku mengibaskan pedang. Setelah yakin dengan semua telah selesai, aku pun menyarungkannya kembali.


Setelah itu aku pun berjalan kembali ke arah murid-muridku dengan santai.


"Nah itulah yang aku maksud dengan I-Rune yang telah berevolusi."


Mereka semua masih terdiam kemudian Hiro dan Reya memulainya—


"Whuooaaaa!!! ... Instruktur Kuro tadi itu hebat sekali," teriak mereka sekaligus.


Setelah itu murid yang lain menyusul reaksi Hiro dan juga Reya yang kegirangan melihat aksi yang aku lancarkan. Setelah itu semua murid kelasku bertanya kepadaku dengan antusias yang berlebihan.


"Ouu ... Kuro, kau mau pamer ya?"


Fear tiba-tiba naik ke atas punggungku dengan cepat lalu duduk di atasnya. Setelah itu meneruskan apa yang sebelumnya ia hentikan. Yaitu, kembali mengemut permennya yang sampai saat ini belum habis.


"Huhhh ... sebenarnya aku tidak ingin pamer, tapi lebih tepatnya memberikan mereka sebuah peragaan yang akan memotivasi mereka. Tetapi aku tidak tahu akan jadi seperti ini," balasku dengan pasrah.


Aku pun menoleh kesekitar dan mendapati wajah bodoh dari hampir semua orang yang melihatku melakukannya—baik murid-murid di kelas Fay dan Van, terkecuali nona muda yang menatapku dengan gairah ... ya, itu adalah Velia.


"Untuk menjawab semua pertanyaan itu, aku akan menjawabnya di pelajaran selanjutnya. Dan sekarang kita harus segera pergi menuju tempat latihan selanjutnya mengerti," ujarku dengan halus kemudian tersenyum kecil lalu


memimpin murid-murid kelasku untuk segera pergi dari Akademi Magistra.


"Instruktur ... Kuro ‘kan?  ... yang tadi itu apa?" tanya Van dengan penasaran.


"Hanya sebatas serangan biasa, tidak lebih kok"


“Serangan ... biasa?”


Kami pun akhirnya pergi dari tempat itu dengan diikuti oleh berbagai tatapan yang beragam.


***


Di sebuah ruangan yang terletak di lantai pertama dekat dengan ruang penyimpanan senjata antik. Tepatnya di ruang kepala sekolah dua orang perempuan sedang mendiskusikan sesuatu.


"Bagaimana Rena? Itulah mengapa aku merekrutnya menjadi instruktur di sini," ucapnya sambil tertawa kecil.


"I-i-itu tidak mungkin, itu adalah salah satu teknik suci dari tiga kesatria legendaris! T-tapi bagaimana bisa?"


"Tentu saja itu bisa terjadi, bagaimana jika ketiga ksatria legendaris itu masih hidup sampai sekarang?"


"T-tapi bukankah itu tidak mungkin! Mereka mati pada perang suci 300 tahun yang lalu!"


"Itu memang benar, tapi apakah kau tidak berpikir sebuah reinkarnasi? Itu semua bisa terjadi karena lelaki yang baru saja melakukannya adalah salah satu dari mereka yang berhasil mencegah kehancuran yang bahkan kami para Guardian of Life tidak bisa melakukannya," ucapnya dengan tersenyum kecil, "The Divine One ... Tetapi, Kuro adalah pengecualian ... hehehe," lanjutnya sambil tertawa kecil


"A-aku sama sekali tidak mempercayai itu, Nona Aresya. Bukankah kalian para Guardian of Life yang melakukannya?"


"Hmm ... bagaimana aku menjelaskannya, ya? Begini, kami memang tidak bisa mengalahkannya, tetapi dengan adanya mereka dan pengorbanan mereka ... semua yang terjadi saat ini tidak mungkin akan terjadi," jelasnya singkat, “setelah kejadian itu kami berpisah dan tidak bertemu lagi hingga saat ini, tapi untungnya aku bertemu dengan Regin dan Eve ... hahaha. Dia tampak kacau sekali rupanya saat ini"


"Nona Aresya, sebenarnya siapa yang Anda bicarakan itu?"


"Tentu saja raja Kerajaan Ronove ini. Regin Vin Deilragnas, penyihir terkuat sekaligus kesatria sihir yang menyandang gelar Pandora Door ... aku sangat senang sekali melihat raut wajahnya ketika sedang memeriksa beberapa dokumen ... hahaha," jelas Aresya dengantertawa terkekeh-kekeh.


"APA?! Jadi selama ini raja kita adalah salah satu Guardian of Life sama seperti Anda, Nona Aresya?" sahur Rena


dengan raut terkejut.


"Tentu saja, apa kau belum menyadarinya sama sekali? Kau adalah kandidat ketua di Kesatria Legion, tetapi kau menolaknya lalu meminta secara personal kepadaku untuk menjadi asistenku’kan? Ohh ... satu lagi jangan beritahu siapapun tentang pembicaraan ini, ya. Bisa-bisa aku dimarahi oleh Regin ... hahaha"


"Baiklah, Nona Aresya."


Rena yang mendengar informasi mengejutkan itu langsung terdiam dalam pikirannya sendiri.


"Kurokami Rei, sebenarnya siapa dirimu yang sebenarnya?" gumam Rena dengan pelan.


***


Di dekat sebuah hutan, beberapa orang dengan seragam sedang berjalan di belakang seorang lelaki berambut cokelat tua yang sedang menggendong seorang gadis kecil bersamanya. Gadis kecil itu memiliki warna rambut merah marun cerah dengan pakaian yang hanya menggunakan gaun one piece.


"Ahcooo ... heii Fear, apakah kau tidak kedinginan?"


"Ouuu .. Kuro, tidak ... tidak sama sekali. Lagian ini adalah posisi yang enak, aku seperti mengendarai seekor kuda," balasnya polos dengan mata yang berbinar lebar.


"Tampaknya kau sangat senang sekali ya, dan jangan samakan aku dengan KUDA!" ucapku jengkel, "sepertinya kali ini aku yang dikutuk olehnenek sialan itu, ahcoo ... ahcooo."


"Instruktur, sebenarnya kita mau ke mana?" tanya Mai dengan tiba-tiba.


"Ahhh ... maaf-maaf, sebentar lagi kita sampai."


Beberapa menit kemudian telah terlewati dan di depan sebuah pemandangan yang menyejukkan menyapa kami. Sebuah padang rumput yang sangat luas.

__ADS_1


Angin bertiup sedang di sana, rumput bergoyang seakan ingin mengadakan festival, dan pemandangan hangat yang membuatku tenang.


"Inilah tempat latihan selanjutnya, Padang Rumput Graughas," ucapku sambil tersenyum lebar.


__ADS_2