
Setelah aku menghabiskan waktu untuk mengasah dan melatih kemampuanku yang baru, aku pun menyusuri hutan ini dengan perut yang lapar.
"Ughhh ... sial, ternyata perut kosong itu bisa membunuhku secara pelan juga."
Jalanan yang aku lalui semakin menanjak, berhenti untuk beberapa saat dan melihat sekitar. Napasku secara perlahan menjadi berat, mungkin karena faktor lokasi, ya? Aku juga tidak tahu. Tetapi, tepat di atas sana aku melihat beberapa pohon besar layaknya menara pengawas.
Begitu aku sampai di antara mereka, ternyata aku berada di atas tebing yang cukup curam. Sedangkan pemandangan yang ada di depannya adalah sebuah tempat besar, mungkin sebuah kerajaan lain? Bisa saja.
Aku juga tidak tahu apakah mereka menyambut orang asing atau pendatang baru dengan ramah atau tidak.
Setidaknya dengan kekuatanku saat ini melompat dari atas tebing setinggi ini tidak akan terlalu menyakiti kakiku, itulah pemikiranku di saat tubuhku dengan sendirinya menjatuhkan diri.
Di sepanjang kerajaan itu dilingkari oleh tembok batu yang kokoh, pada bagian atasnya juga di lengkapi oleh atap kayu. Sedangkan pada bagian sana... mungkin dekat samping kanan, aku melihat gerbang raksasa yang tampaknya terbuat dari logam murni berwarna putih mengilat.
Setelah aku berhasil mendarat tanpa luka, aku pun memutuskan untuk pergi ke sana, dan mendapati beberapa orang sedang menjaga gerbang itu. Ya, sejauh ini aku tidak memiliki kartu identifikasi atau yang biasa dikenal sebagai kartu identitas.
Yang aku harapkan semoga saja tidak terjadi apa-apa denganku ketika masuk ke dalam sana. Apalagi hingga di tahan karena dicurigai tidak memiliki kartu identitas. Walaupun seperti ini, diriku ini adalah orang yang taat peraturan lho.
Ketika aku sedang terdiam mengamati sekitar, tiba-tiba saja aku merasa ada sentuhan dingin menyapa pundak kiriku.
"Wahhhh ..."
"Ssttt ... tenang kawan, aku bukanlah hantu. Hanya saja kami kekurangan orang untuk dapat masuk ke dalam Kerajaan Astarte. Jadi bisakah kau ikut bersama kami," tcapnya dengan santai.
Kerajaan Astarte? Jadi nama kerajaan itu adalah Astarte.
"Hmm ... baiklah, lalu apa yang akan aku lakukan?"
"Cukup bertindak sebagai penjaga saja, kau menggunakan Jubah Magistra mereka jadi tidak akan mencurigaimu," jelasnya ringan. "Satu lagi, santai lah. Rilekskan tubuhmu jangan di buat tegang, namaku adalah Kali Hielt. Panggil saja aku Kali," lanjutnya sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Sedangkan di sana adalah anak buahku."
Dalam waktu yang singkat aku merasa ragu, tapi karena mereka terlihat sangat meyakinkan. Jadi aku memutuskan untuk ikut bersama mereka. Dan sejak saat itulah aku selalu membantu mereka bekerja dan sebagai upahnya aku di berikan beberapa keping perak dan jika mereka mendapatkan keuntungan lebih, aku bisa mendapatkan bonus tambahan.
***
"Heii ... Kuro, jangan bengong saja. Cepat ke sini"
"Baiklah ... boss," sahutku dengan senyum usil.
"Sudah berapa kali jangan panggil aku boss, tapi Kali. Walaupun tubuhku lebih besar daripada dirimu bukan berarti aku seorang boss," balasnya dengan tawa khehehe.
"Tapi kau yang mengajakku hingga saat ini bukan?"
"Ya ... mau bagaimana lagi, mungkin takdir?"
Aku hanya tertawa cekikikan lalu menghampirinya. Bersama dengan anakbuahnya, kami cukup akrab dan mereka menganggapku sebagai keluarga.
"Baik, baik ... cokelat hangat buatan Bibi Hana sudah menungguku di sana. Aku tidak boleh mengecewakan mereka."
Kali hanya tersenyum kecil sedangkan anak buahnya bernyanyi-nyanyi penuh kemenangan. Dengan hasil sebanyak ini mereka bisa makan enak di kedai Bibi Hana.
Setelah Kali mengaktifkan Kristal Athea dan kami semua langsung ter-teleportasi menuju Kerajaan Astarte. Tepat berada di depan gerbangnya. Setelah itu kami pun dapat masuk dengan mudah, karena penjaga gerbang di sana sangat mengenali kami dengan baik.
"Seperti biasa kalian mendapatkan hasil yang banyak," ucap salah satu penjaga.
"Hahaha ... tentu saja, ini namanya kerja keras," sahut Kali lalu memamerkan otot-otot lengannya yang kekar.
"Hahaha ... jangan lupakan kami tentunya, ok"
"Tenang saja, malam ini aku akan mengirimkan daging panggang yang besaruntuk kalian."
Para penjaga dan anak buah Kali saling menatap, kemudian terjadilah pesta tawa yang tak terhentikan. Setelah itu mereka mengizinkan kami masuk ke dalam kerajaan. Langit mulai menggelap, hamparan kain kegelapan mulai menyelimuti langit dengan tenang.
Sesudah kami mengirimkan pasokan Kristal Zenith itu kepada Arc Enchanters, kami mendapatkan imbalan yang cukup banyak. Lalu pembagian hasil menurut kinerja di bagikan secara merata.
Aku telah mendapatkan jatahku dan setelah itu langsung berpamitan dengan mereka. Melangkahkan kakiku keluar dan berjalan menuju kedai Bibi Hana.
Jalan setapak yang aku lalui terbuat dari bebatuan murni yang di ukir dengan khusus. Selain itu suasana malam hari di kerajaan cukup berbeda dengan Kerajaan Ronove dan yang paling membuatku bersemangat adalah hidangan malam penuh kehangatannya.
Rumah-rumah yang padat dan berjajar dengan rapi. Lampu-lampu gantung menerangi luasnya jalanan membuat semua orang di kerajaan ini menjadi lebih berwarna. Senyum mereka yang di tunjukan karena hal yang menggelikan dan menyenangkan.
Tawa mereka yang melihat sesuatu yang sangat langka dan terkadang membuat perut mereka geli. Ramainya jalanan ini bukti bahwa Kerajaan Astarte adalah kerajaan yang sangat makmur dan juga tenteram.
Beberapa rumah lagi dan aku akan sampai di kedai Bibi Hana. Sebuah rumah dengan plang bergambar roti panggang dan juga segelas teh hangat. Ya, itulah kedainya. Setelah aku sampai di sana aku langsung menghambur masuk ke dalam.
Orang-orang yang sedang makan di sana langsung memandangku beberapa saat. Lalu setelah itu mereka tersenyum.
"Hei... Kuro, kau akan memesan cokelat panas lagi, ya?... hahahaha."
Itulah kata-kata yang menyambutku begitu tiba di sana, mereka sangat mengenaliku dengan baik. Walaupun saat pertama kali datang ke sini aku di sambut dengan tidak baik.
"Tentu saja lebih baik dari segelas susu hangat bukan?" sahutku dengan senyum lebar, lalu melangkah masuk menuju meja di dekat jendela pojok.
Mereka hanya tertawa cekikikan. Para lelaki berperut buncit yang selalu meneguk bir selalu menyambutku dengan lelucon, para kesatria dan juga beberapa Magi yang aku kenal juga menyambutku dengan tawa. Terkadang aku melihat beberapa anak yang sedang menyantap roti panggang manis di dekatku.
"Oo!! ... Kuro, kau mau satu?" tawar mereka dengan serempak.
Kuambil dengan tangan kananku dengan lembut, lalu menyentil sekeping perak ke langit-langit dan koin perak itu mendarat tepat di atas meja makan mereka, "Yup dan inilah bayarannya," ucapku dengan senyum kecil.
"Bibi Hana, seperti biasa aku memesan secangkir cokelat panas dan juga beberapa roti gandum!" teriakku.
Sementara anak-anak tadi terkagum-kagum dengan koin perak yang mendarat tepat di meja mereka. Bibi Hana melambaikan tangannya lalu memberikan jempol tangan kanannya kepadaku dan ia berkata, "Tentu saja, Kuro."
Suaranya khas, memiliki kesan yang berbeda dengan kebanyakan perempuanlainnya. Apakah karena ia terlalu rajin di dapur?
Aku pun membalasnya dengan menyunggingkan ujung sisi mulutku hingga merata dan terciptalah senyum dua senti ke kiri dan ke kanan. Bibi Hana hanya tertawa kecil lalu masuk ke dalam dapur. Sementara anaknya yang bernama Elly datang dan duduk tepat di depanku.
__ADS_1
"Kuroooo! Bagaimana hasil perburuanmu kali ini?" tanyanya dengan antusias.
"Elly, apakah kau akan selalu seperti itu setiap kali aku selesai berburu? Tentu saja aku berhasil mendapatkan hasil yang banyak"
"Seperti yang di harapkan dari kesatria cokelat panas, kau hebat," tuturnya dengan wajah yang memerah.
"Ughh ... lagi-lagi kau menyebutku dengan kesatria coklat panas. Bukan berarti karena aku hanya menyukai cokelat panas kau bisa memanggilku seperti itu gadis nakal," sahutku dengan guyon.
"Tapi julukan itu cocok untukmu, Kuro. Hahahaha"
"Ya, ya, ya, terserah padamu saja. Nona makanan hangus," sahutku meledek.
"Kuro!!"
Lalu tepat setelah itu Bibi Hana muncul lengkap membawakan segelas besar cokelat panas, satu gelas air putih dan semangkuk roti-roti gandum dengan aneka rasa, "Kuro, makanlah selagi hangat," ucapnya lembut.
"Bi, umurku sudah 20 tahun. Apakah kau akan selalu memanggilku seperti kau memanggil Elly setiap kali aku memasan sesuatu?" protesku. "Perasaan aku tidak memesan air putih?"
"Tapi itu cocok untukmu, Kuro," tuturnya sambil memegang pipi kirinya. "Tidak, tidak itu bonus untukmu, Kuro."
Ughhh ... tidak anak tidak ibu keduanya sama saja, mereka keras kepala.
"Baiklah, terima kasih."
Lalu ia pun kembali ke dapur. Sedangkan Elly hanya tertawa kecil ketika mendengar perbincangan kami tadi. Kau hanya memandanginya dengan tatapan seorang penguntit. Ia pun memerah dan segera membuka topik baru.
"Neh ... Kuro, apakah kau sudah mendengarnya?"
"Huh ... maksudmu Astarte Festa? Tentu saja aku sudah mendengarnya" ucapku lalu merobek roti gandum dan memasukkannya ke dalam mulutku.
"Ya, festival yang di adakan untuk memperingati hari terbentuknya kerajaan ini"
Setelah mengunyah cukup lambat, aku pun langsung meneguk gelas yang berisi air putih untuk mempercepatnya, "Ya, tentu seperti itu. Sepertinya festival kali ini terbuka untuk umum, huh?"
"Ya. Karena ini kedua kalinya Astarte Festa diadakan, sehingga mungkin saja yang mulia ratu ingin memberitahu orang-orang bahwa Kerajaan Asatarte selalu tenteram," sahutnya. " Lalu setelah ini apa yang akan kau lakukan, Kuro? Apakah kau akan mengajar lagi di Akademi Swordia?"
"Yang benar saja, aku akan langsung pergi ke rumah pastinya. Di sana istriku menunggu," sahutku dengan bangga.
"Baiklah, yang kau maksud istrimu itu hanyalah sebatas tempat tidur kesayanganmu, kan?"
"Tentu saja, ia selalu menjagaku di malam hari. Menghangatkan bahkan tidak pernah minta yang aneh-aneh, benar-benar istri idaman ... hehehe"
"Dasar, kalau begitu aku pergi membantu ibu dulu. Jangan lupa membayarnya, ya," ucapnya. "Terakhir kali kau makan di sini kau tiba-tiba pergi keluar tanpa sepatah kata apapun."
Setelah itu Elly pun meninggalkan meja tempatku berada dan langsung segera menuju meja pesanan.
Aku tahu itu, lagi pula saat itu ada keadaan genting.
Aku hanya berharap jika festival ini dapat berjalan dengan lancar agar aku bisa dengan tenang menikmati cokelat panas ini setiap hari.
Tiba-tiba sebuah suara menjengkelkan muncul, membuatku harus kembali terganggu dengan mereka yang mengerumuniku.
"Nheil ... apa yang kau lakukan di sini?" sahutku geram.
Seorang bocah laki-laki berambut cokelat dengan wajah percaya diri menghambur dengan berbagai pertanyaan. Tingginya hanya sekitar pundakku dengan wajah yang memancarkan aura kepercayaan diri. Selain itu ia sangat aktif.
"Saya telah meneliti Instruktur semenjak Anda mengajar di Akademi Swordia. Tinggi sekitar 177cm, rambut hitam pekat, berat badan 71 kg, makanan kesukaan adalah makanan buatan rumah, minuman kesukaan adalah cokelat hangat dan juga teh mint, warna kesukaan merah, putih dan juga hitam, ukuran sepatu 42 dan yang terakhir adalah Anda masih menyendiri," tutur seorang perempuan berambut cokelat panjang.
“Setidaknya bisakah kau menghilangkan kata ‘menyendiri’ itu, Reina? Dan... sejak kapan kau mengetahui semua itu!? Sepertinya ada yang minta dihukum, ya?”
Perempuan yang satu ini memiliki kebiasaan buruk, ya, kebiasaannya adalah meneliti seseorang yang sangat menarik perhatiannya, ia hampir mirip seperti penguntit.
"Heii!... Jangan mengganggu Instruktur Kuro! Lihat ia menjadi kesal," tutur seorang perempuan berambut hitam panjang di pinggirku. Ia tiba-tiba menggandeng tangan kiriku dan menyentuhkan dadanya dengan erat ke tubuhku.
Satella, bahkan kau juga.
Perempuan yang berada di sisiku adalah seorang Diva yang cukup terkenal di akademi. Ia datang ke Akademi Swordia ini untuk belajar tentang keahlian berpedang, tetapi setelah itu ia selalu menempel padaku setiap kali ia melihatku.
"Satella ... hentikan itu, kau curang," ucap seorang perempuanberambut hitam panjang.
Ahhh .. tidak, mengapa Fiana juga ada di sini?
Kali ini adalah seorang perempuan cantik yang selalu berpegang pada pendiriannya, tetapi ia selalu berubah ketika melihat benda-benda yang lucu. Terkadang ia menjadi sangat galak jika hal yang disukainya di ambil secara paksa ataupun di rebut.
"Kalian semua hentikan, jika kalian meneruskannya. Mungkin Instruktur Kuro akan mengamuk."
Seperitnya ini ulahmu ya, Wes?
Dan terakhir adalah seorang lelaki berambut pendek dengan setelan seperti kesatria khusus yang membawa pedang melengkung di tangan kirinya. Ia menggunakan sepasang sarung tangan putih yang sangat bersih.
"Kalian semua, bisakah setidaknya tidak menggangguku untuk satu hari saja," pintaku dengan memohon. "Mengapa kalian selalu saja mengganggu guru kalian ketika santai, apakah itu adalah kebiasaan buruk kalian?"
"Tidak, itu karena aku menyukai instruktur," ucap Satella dengan riang.
"Satella, aku adalah gurumu. Sebaiknya kau mencari orang lain karena aku sudah bertunangan," ucapku meyakinkannya. "Reina, Fiana, Satella segera pulang, hari telah malam dan untukmu Wes dan juga Nheil temani mereka. Setelah ini aku masih ada misi yang harus di kerjakan"
"APA!?"
Wajah ketiga perempuan itu langsung pucat dan untuk Nheil hanya tertawa cekikikan, sedangkan Wes ia menyembunyikan tawanya dengan menutupi wajahnya sendiri.
"Itu bohongkan, Instruktur Kuro. L-lagi pula aku tidak pernah mendengarnya," celetuk Satela dengan histeris.
"Di sini memang tidak tapi di Kerajaan Ronove, iya."
Hihihih ... semoga ideku berhasil.
Kulihat Reina langsung membuka catatan kecilnya lalu menulis sesuatu. Tetapi, tangannya bergetar seakan apa yang ia dengar baru saja adalah suatu bencana. Sedangkan untuk Satella, wajahnya berubah menjadi mode yang tidak pernah kubayangkan.
__ADS_1
Namun itu tidak membuatku takut sama sekali , karena wajah iblisnya itu seperti sebuah boneka yang manis. Di antara semua itu hanya Fiana saja yang tampak tenang, ia masih melihatku dengan mata harapan.
"Fiana, apa kau baik-baik saja? tanganmu bergetar tuh," ucapku sambil tertawa kecil. "Aku akan pergi dulu, sebaiknya kalian segera pulang. Wes, Nheil tolong jaga mereka. Tic a toe, kalian terjebak," lanjutku lalu keluar dari meja makan.
Wajah ketiga perempuan itu kemudian berubah menjadi sangat lega.
"Tapi sebenarnya aku sudah menikah."
Setelah itu aku beranjak pergi dan meninggalkan mereka, tetapi dari gelaktawa Nheil dan Wes yang meledak sepertinya aku mendapatkan skor lagi.
Setelah itu pergi ke meja pesanan untuk membayar pesananku. Lalu aku punkeluar, kemudian mengambil sebuah Kristal Athea sebesar jari kelingking. Kristal ini memiliki tiga fungsi.
Bukan hanya sekedar untuk teleportasi saja, tetapi fungsi keduanya adalah sebagai alat komunikasi. Dan fungsi ke tiganya adalah sebagai penampil gambaran. Aku menekan bagian atasnya yang datar dan seketika itu muncullah
tampilan seorang perempuan yang sangat aku kenali.
"Apa yang bisa aku bantu untukmu Irina~"
“Kakak! Berhentilah memanggilku dengan seperti itu, aku sudah dewasa!”
Walaupun ia protes tapi wajahnya menunjukkan antusias yang terlihat sangat jelas.
"Huh, berhenti? Tapi bukankah kau abadi seperti Aresya?" tanyaku, “ohh, satu lagi, Irina sekarang namaku bukan Reiss tetapi Kuro, jadi tolong gunakan nama itu, ok"
“E-etoo baiklah. Hmm... i-itu benar sih, tapi tolong jangan panggil seperti itu. Kakak melihatnya sendiri, bagaimana pertumbuhanku sekarang?”
"Ya, itu sih aku juga sudah tahu. Tapi—“
“Tapi?”
"Kau begitu manis, jadi aku tidak bisa menahannya ... hahaha"
“M-manis!?”
Aku dapat mengetahui bagaimana reaksi wajahnya sekarang.
"Yang terpenting, kau masih sehat dan juga selamat, Irina"
“Emm, terima kasih, Kak. Tetapi aku tidak tahu kalau Kakak sekarang mengajar di Akademi Swordia”
"Hanya pekerjaan sampingan, kok"
“Walaupun hanya pekerjaan sampingan, aku tidak sabar bertemu dengan Kakak lagi”
"Hahahaha ... apakah semuanya baik-baik saja?"
“Ya. Setidaknya untuk saat ini semuanya baik-baik saja, kalau Kakak sendiri bagaimana?”
“Sama seperti sebelumnya. Sangat baik sekali”
“Syukurlah. Aku kira Kakak akan dalam masalah lagi sama seperti saat waktu itu”
"Hahaha... aku bukanlah pembuat onar dan kau sangat tahu akan hal itu, Irina. Lalu bagaimana rasanya menjadi seorang seorang kepala sekolah?"
“Cukup merepotkan juga rasanya”
"Nah, sekarang kau merasakan apa yang kurasakan 283 tahun yang lalu"
“Hahaha, mungkin seperti itu. Tapi kan Kakak hanya mengajari kami bertiga”
"Irina, apa kau tidak tahu bagaimana sifat Aresya. Setidaknya kau dan Regin tidak seperti dirinya"
“Hahahaha, benar juga apa kata Kakak”
"Kalau begitu sudah dulu, aku sekarang akan pergi ke rumah untuk tidur"
“Ahh, Kak, aku ingin meminta pertolonganmu”
"Tentang apa?"
“Ada kabar bahwa sekumpulan kesatria di bunuh secara tidak manusiawi di dekat Lembah Mour. Selain itu ada seorang saksi hidup yang telah memberikan kesaksian kepada salah satu prajurit kerajaan”
"Lalu apa kata saksi hidup itu?"
“Menurut kesaksiannya, ia melihat seekor monster dan ia senang sekali memakan pedang. Tidak hanya itu, monster itu juga telah melenyapkan ribuan nyawa yang tidak bersalah”
"Hmmm ... jadi pelahap pedangkah?"
“Pelahap pedang? Kalian pasti tidak akan mengetahuinya, karena mereka adalah ras yang sangat langka. Terakhir kali aku, Oz dan Selina hampir mati karenanya"
“HUH!? Sekuat itukah hingga dapat memojokkan Kak Oz dan bahkan Kak Selina yang kuat itu?
"Ya, yang penting aku sarankan kau tidak berhubungan dengan mereka karena mereka tidak mengenal musuh ataupun kawan"
“Baiklah. Aku mengerti, Kak”
"Satu lagi, jangan memberitahu Aresya ataupun Regin, kalau aku sudah menghubungimu"
“Aku mengerti. Tapi, kenapa, Kak?”
"Itu—“
“Itu?”
"Rahasia, semoga mimpimu indah Irina"
“Eh! K-Kak! T-t-tunggu—“
__ADS_1
Setelah itu transmisi telah berakhir dan lingkaran sihir di dekat telinga kananku menghilang. Aku berjalan santai sambil menikmati malam ini. Di mana jembatan bintang terbentang lebar di langit sana maka akan ada suatu keajaiban yang menunggu setiap orang dengan harapan dalam mimpi mereka.
"Malam yang indah. Itulah yang selalu aku harapkan...."