Sword Anthem

Sword Anthem
Epilog


__ADS_3

Angin bersiul menerpa dedaunan yang sangat hijau. Wangi semerbak bunga yang bermekaran begitu indah untuk di lihat. Dedaunan bergoyang sambil diiringi instrumen alam.


Dataran hijau membentang sepanjang mata memandang. Langit cerah dengan awan tipis seperti permen kapas yang manis saling tumpang-tindih satu sama lain, saling dorong-mendorong, dan menyapa.


Beberapa kelopak bunga melayang tanpa tahu arah. Terombang-ambing di daratan hijau itu dengan anggun, hingga akhirnya mendarat di atas tubuh seorang lelaki berambut hitam.


Ia tengah tidur dengan posisi bersandar pada sebuah batang pohon besar tidak jauh dari aliran sungai yang jernih.


Sosoknya terlihat sangat tenang dengan raut wajah penuh kekhidmatan. Mata terpejam, kepala miring sedikit, dan tangan yang bersimpuh tepat di atas perutnya.


Rambut hitamnya yang sedari tadi menunggu aba-aba akhirnya mulai bergerak akibat sapaan angin. Tetapi, tidak lama setelah itu ia pun terbangun dengan mata yang terbuka secara perlahan.


Berkedip beberapa kali, setelah itu meregangkan kedua tangannya sambil menguap lebar. Ada yang aneh dari pergerakannya, ia terlihat seperti kebingungan dengan kepala yang sedari tadi menoleh ke arah kiri dan kanan.


Mirip seperti seseorang yang sedang mencari sesuatu, hingga akhirnya ia bangkit, dan melihat sekitarnya hanya berupa dataran hijau sejauh mata memandang. Angin yang stagnan membuat beberapa ombak di tengah-tengah sana.

__ADS_1


Sinar matahari yang tidak terlalu terik menjadi faktor pendukung cuaca yang pas. Tidak terlalu panas dan juga tidak terlalu dingin, tapi setidaknya cukup dapat dikatakan sebagai cuaca yang cocok untuk bersantai.


Namun, baginya yang sama sekali tidak mengerti akan hal itu hanya terus berjalan menuruni tempat itu. Begitu ia tepat berada di depan aliran sungai yang jernih itu, ia pun mendongak.


“Benar-benar hari yang indah....”


Setelah itu ia menunduk dan mendapati pantulan wajahnya berada di atas permukaan air sungai.


“Ini sangat asing....”


“Ini aneh, mengapa aku tidak tahu namaku sendiri?” gumamnya, “Hei. Apa kau tahu siapa namaku?” lanjutnya pada pantulan bayang wajahnya yang berada di atas permukaan sungai.


Namun, bukannya mendapatkan jawaban. Tetapi, ia hanya mendapatkan keheningan yang asri. Saking tenteramnya ia bahkan tidak tahu harus berbuat apa di tempat itu.


Karena tidak mendapatkan hasil apapun, akhirnya ia pun berbalik hingga sebuah sensasi yang hangat memeluknya dari belakang. Layaknya dua buah lengan yang tidak asing berusaha merasakan kehangatan tubuhnya.

__ADS_1


Reiss... itulah bisiknya. Lelaki yang ia sebut sebagai Reiss itu pun berbalik berharap menemukan sesuatu. Sayangnya sama seperti sebelumnya, ia sama sekali tidak mendapatkan jawaban itu.


Setidaknya kali ini ia mendapatkan suatu petunjuk, yaitu sebuah nama. Ya, sebuah nama yang cukup singkat bahkan terbilang mudah untuk di ucapkan.


“Reiss... apakah itu namaku?”


Pertanyaan yang ia lontarkan pada dirinya sendiri untuk memastikan itu dapat dikatakan sebagai sesuatu yang aneh. Hanya saja bagi dirinya—Reiss, ia sama sekali tidak tahu pasti apakah ada makna dari namanya itu.


“Reiss...,” gumamnya dengan senyum tipis sambil memejamkan mata.


Belum sempat ia ingin mengucapkan terima kasih, mata kirinya mulai mengeluarkan air mata yang mengalir melewati pipi hingga akhirnya jatuh ke tanah.


“Eh?... kenapa? Aku... menangis?”


Tanpa jiwa, tanpa hati, dan tanpa ingatan yang pasti. Tetapi, perasaan yang barus saja ia rasakan terasa nyata bahkan hingga membuatnya merasa hidup.

__ADS_1


Terima kasih....


__ADS_2