
Sebelum kecerita utama kita intro dulu~
Hai semua! Nama gue ReIN dan terima kasih karena telah memberikan gue kesempatan untuk menemani malam jomblo loe! Jika kalian menyukai cerita ini maka berikan jempol ke atas dan jika tidak cukup vote lalu sebarkan cerita ini. Jangan lupa berikan komentar dan tips agar sang Author tetap semangat update ceritanya!
.
.
.
Di sudut lain kota kelompok yang di pimpin oleh Reya terhenti akibat kepungan Imp dan juga beberapa Wyvern. Mereka adalah Reya, Grey, dan beberapa instruktur dari Akademi Swordia.
Reya dan Grey mulai membuka pembukaan dengan saling bekerja sama. Pedang dari masing-masing pinggulnya telah terlepas dari sabuk pengaman dan siap melesat kapanpun dan di mana pun. Dua buah tebasan melayang membuka jalan hingga ke sudut sebuah rumah.
Menghempaskan beberapa Imp dalam sekejap, lalu di susul oleh sihir es dari beberapa instruktur. Membekukan hampir seperempat pasukan Imp di sekitar mereka. Kemampuan mereka juga di dukung oleh sihir penguat .
Tiba-tiba saja beberapa Wyvern menyemburkan bola api hitam kemerahan ke arah mereka berempat. Dengan
sigap Grey melancarkan teknik lesatan cepatnya dalam beberapa detik sekaligus melumpuhkan mereka dalam waktu yang singkat.
Reya tersenyum tipis dengan kemampuan rekannya itu. Teringat akan kenangan lama, Reya mulai fokus terhadap pedang di tangan kanannya. Aliran petir kuning keperakan menyelubungi pedangnya yang sedikit bercahaya.
Ia pun melompat, mengangkat tangannya yang sedang menggenggam pedang. Lalu dalam satu tarikan napas ia kerahkan kekuatan di tangannya itu dalam satu kali serangan. Aliran petir itu terlepas dan membentuk sebuah gelombang petir yang menggelegar ke arah musuh.
Sambarannya cukup dahsyat sehingga membuat pasukan musuh menjerit-jerit ketakutan. Akhirnya mereka memutuskan untuk menyatukan diri mereka sehingga menjadi besar. Giant Imp.
Giant Imp terdiam sementara, wajahnya tertunduk ke bawah, Reya dan yang lainnya bersiaga jika saja ada serangan kejutan yang sangat fatal. Lalu tubuhnya yang besar itu mulai bangkit, busung dadanya hijau dan juga hitam.
Lengannya besar dengan dua buah kepalan tangan yang dapat meremukkan apa saja jika di hantamnya dengan kuat. Kali ini ia berteriak keras, seperti tangisan namun tidak ada tetes air mata ataupun sejenisnya yang mengalir.
Taring-taringnya keluar, memanjang ke atas. Sepasang sayapnya keluar, melebar ke dua sisi. Menghancurkan bangunan yang menghalanginya untuk bebas. Kini ia bersiap dalam posisi berlari dengan kedua tangan meremas tanah di bawahnya.
Reya mulai berlari cepat lalu melompat ke sebuah tembok bangunan di samping kanannya dengan lincah. Sementara para instruktur mengucapkan beberapa Rune singkat untuk menguatkannya.
Sementara itu Grey menghilang dalam bayang-bayang, meninggalkan kepulan asap hijau kehitaman yang dengan cepat kabur. Dengan cepat ia telah berada tepat di samping Giant Imp itu berada dengan pedang lancipnya yang terasah. Melebar lalu melesat diagonal, menebas kedua kaki Giant Imp itu dengan cepat menciptakan luka sayatan yang mencipratkan darah hijau segar yang busuk.
Kini giliran Reya yang telah diperkuat oleh sihir imbuhan, setelah ia berhasil mendarat di permukaan tembok yang miring. Kedua kakinya berfungsi sebagai per yang elastis, memantul cepat.
Tubuhnya melesat Giant Imp yang sedang mengusir Grey di hadapannya, selagi ia lengah. Tiga buah tebasan acak yang cepat mendarat di tubuh besarnya itu dalam sekejap mata. Dengan manuver cepat yang saling berkoordinasi dengan tubuh Giant Imp itu.
Setelah itu di akhiri oleh serangan kuat dari Reya yang menukik tajam seperti meteor jatuh. Kumpulan udara yang menjadi percikan api itu langsung membelah tangan kanan makhluk besar itu. Tergeletak jatuh dan akhirnya
menyemburkan darah yang banyak.
Kemudian keduanya berhasil melancarkan serangan itu, mereka pun mundur. Tetapi, bukannya terpojok malah Giant Imp itu tersenyum lebar, memperlihatkan rentetan gigi karamnya yang runcing.
Tangan kanannya yang tergeletak itu ia ambil, kemudian ia dekatkan dengan bagian yang terpotong. Serat-serat serta urat-uratnya memanjang mengeluarkan lendir hijau. Menyatu dengan lengan yang terpisah kemudian suara beberapa tulang patah terdengar Krekk.
Reya dan semua yang ada di sana pun kaget dengan situasi yang mereka alami kali ini sehingga mereka pun kembali bersiap melancarkan serangan koordinasi yang kedua kalinya. Tetapi, Giant Imp itu mengibaskan sayapnya, lengan kanan dan kirinya terangkat sedikit. Lalu hembusan angin yang ganas itu menerpa para instruktur yang menyerangnya. Membutakan pandangan mereka sesaat, setelah angin itu berlalu sosok Giant Imp di depan mereka menghilang.
Sebuah bayangan raksasa menyambar Grey dengan keras, menyentak serta mementalkannya jauh sekali hingga tubuhnya yang ringan itu menghantam sebuah jajaran pohon hingga tumbang semua.
__ADS_1
"Grey!!"
Setelah itu giliran para instruktur yang terpental jauh hingga menghancurkan sebuah kedai makanan dan juga toko bunga menjadi reruntuhan sesaat.
Meleburnya menjadi kabut abu batu yang menyesakkan paru-paru mereka. Darah keluar dari hampir seluruh bagian tubuh mereka, mengalir pelan melewati kulit, dan mereka juga terbatuk-batuk dengan sesak.
"Sial!"
Reya memutar badannya dengan cepat dengan melesatkan tendangan berputar. Tetapi, tendangannya di tahan oleh lengan Giant Imp itu dengan mudahnya. Tidak hanya di situ, lelaki yang dijuluki sebagai salah satu Kesatria Legiun itu juga menggunakan salah satu kemampuannya untuk membuat makhluk besar di hadapannya kaget berkat teriakannya yang lantang.
“Daein Howl!!"
Begitu Giant Imp itu terseret mundur, Reya memanfaatkan momentum itu dengan menghantamkan perisai tepat ke arah wajahnya. Makhluk itu pun terhempas jauh dan ia langsung mundur sambil melihat kondisi teman-temannya.
Namun, apa yang ia dapatkan adalah kondisi teman-temannya yang kini terkapar, mereka masih sadar dan berusaha untuk bangkit. Reya pun hanya tersenyum geli.
“Apanya yang Kesatria Legiun? Menyedihkan...,” rutuknya sambil memejamkan mata dan mengeluarkan napas.
Kini seluruh tubuhnya mengeluarkan uap dingin. Napasnya pun naik lalu turun, kuda-kuda tangguh. Kaki kanan mengentak tanah dengan tegas, lalu pedangnya itu kembali keluar dengan kecepatan sonik. Melengkingkan suara dan membuatnya menjadi gelombang sabit yang tajam.
Namun Giant Imp dapat menghindarinya dengan mudah, sayangnya Reya telah mendahuluinya. Tepat di atas kepalanya sinar putih mengilat yang samar memantulkan bayangan Giant Imp itu sendiri.
Sosok itu adalah Reya yang kini sedang mengangkat dan berisap untuk membelah makhluk itu menjadi daging potong.
SCRASTTTT!!!
Tubuh makhluk besar itu pun terbelah menjadi dua. Darah keluar deras bahkan hingga membasahi sepatu milik sang Kesatria Legiun itu.
Reya pun mengambil napas untuk menenangkan dirinya. Walaupun kini paru-parunya naik-turun-naik-turun, tapi seperti raut wajahnya yang datar, ia berhasil kembali dalam keadaan tenang.
"Maaf me-merepotkanmu, Reya," ucapnya dengan kepala yang tertunduk.
"Tidak masalah."
Kini Reya kembali pada semua instruktur yang terluka cukup parah.
Setelah berada di antara mereka berdua, ia pun kembali dengan mengangkat tubuh mereka yang tampak letih. Luka yang mereka dapatkan bervariasi, tapi yang pasti mereka dapat dikatakan akan sulit untuk berjalan.
Mengingat pertarungan sebelumnya. Belum lama setelah itu wajahnya yang tak bisa di lupakan hanya beberapa saat tadi kini berada tepat di depan mata Reya. Jelek, bau, bergigi runcing dan memiliki rahang tinggi yang tajam.
Reya tersentak mendapati Giant Imp itu masih hidup, tapi lebih parahnya lagi mereka saling bertatap wajah. Lidah amisnya menjilati bibirnya yang kering dan kusam, dengusan angin dari hidungnya mengeluarkan bau menyengat.
Dan seringai beringas itu kembali muncul tepat di depan matanya. Reya sontak dengan respons yang cepat mengambil langkah mundur, sementara Giant Imp itu melesatkan serangan tajam lurus yang cepat.
Menyerupai seperti serangan ujung tombak yang sangat kuat dan tajam. Ketika serangan itu tepat berada di depan wajah Reya hanya beberapa inci lagi, lengannya berhenti bergerak secara tiba-tiba.
Kukunya yang cokelat dan berjamur itu menyentuh kening Reya yang mulus. Menorehkan luka kecil, membuka kulit terluar dan meneteskan darah kecil ke tanah. Reya bernapas lega karena selamat namun siapa yang melakukan ini.
Tiba-tiba saja tubuh Giant Imp itu terpotong-potong menjadi serpihan kecil lalu musnah di telan dua buah sihir dahsyat yang tiba-tiba datang entah dari mana. Melahapnya dengan habis tanpa sisa sedikit pun.
Kini tepat di hadapan Reya sesosok laki-laki dengan gagahnya berdiri dengan tegap sambil menyarungkan pedang yang di genggamnya.
__ADS_1
"I-I-Instruktur Van?!"
Reya terkejut bahwa itu adalah gurunya di Akademi Magistra. Lelaki itu hanya tersenyum kecil lalu mengulurkan tangan kanannya.
"Kau baik-baik saja, Reya?" tuturnya ringan.
Ia mengangguk lalu meraih uluran tangan Van. Setelah itu bangkit lalu menoleh ke arah rekan-rekannya sesaat, lalu kembali beralih kepada Van. ru saja ia musnahkan.
"Mengapa Anda bisa di sini?"
"Ah ... Reya, sepertinya kelompokmu dan kelompokku bertetangga, kami sedang melawan monster besar di sebelah sana," sahutnya.
"Apakah tidak apa-apa meninggalkan mereka begitu saja?" Alis Reya terangkat sebelah selagi menyarungkan pedangnya.
"Tenang saja, mereka adalah ahlinya. Aku tidak akan terlalu khawatir tentang mereka, terlebih lagi setelah mendengar teriakanmu tadi... aku langsung kemari melewati atap di rumah sebelah sana."
Van pun kembali bersiaga, meregangkan pedang berhawa dinginnya dalam keadaan menyerang. Suara aneh terdengar di belakang mereka. Lalu sebuah bangunan hancur berkeping-keping menjadi serpihan yang berterbangan ke mana-mana.
Reya berlari ke arah teman-temannya yang terluka, melindungi mereka dari terjangan puing-puing bangunan yang tak terarah. Sosok hitam berapi dengan kalung berduri melingkar di lehernya muncul.
Dengan tiga kepala dan sebuah api yang samar mengepul di ketiga kepalanya.
"CERBERUS?!”
Van segera bergegas mengambil posisi, pasalnya kondisi kelompok Reya terlihat lebih parah daripada yang ia kira.
“Sepertinya aku akan menarik kata-kataku tadi,” gumam Van.
Van mendecak kecil lalu melayangkan sebuah gelombang dingin ke arah Cerberus itu berada.
Membuat seluruh permukaan tanah di arah radius serangnya membeku total menjadi hamparan es yang tipis. Tetapi, makhluk itu kembali mencairkannya dengan mudah sambil menggonggong beberapa kali.
Van yang tampak kesal melompat tinggi, melayangkan pedangnya ke langit. Membaca beberapa Rune pendek dengan cepat, melapisinya dengan imbuhan. Kini kedua pergelangan tangannya di lapisi oleh es berbentuk kepala serigala.
Setelah pedangnya kembali ke dalam genggamannya dengan rapat. Kepala serigala es itu menyelubungi pedangnya, kini pedang itu di balikan ke bawah. Meluncur cepat lalu menghunjam Cerberus dengan dahsyat.
Memercikkan butir-butir es yang tajam ke langit-langit. Tubuh Cerberus itu menciut lalu membeku diselubungi oleh sihir milik Van dengan perlahan. Setelah semua telah terselubungi dengan sempurna, satu entakkan dari kaki Van
menghancurkannya berkeping-keping.
Ia tak menyangka bahwa seluruh anggota kelompoknya telah terlibas habis oleh makhluk tadi.
“Aku harap kalian siap dengan hal ini,” ucapnya ke arah Reya, “dan aku tidak menyangka akan secepat ini terjadi”
“Tenang saja, Instruktur Van. Kami telah siap dengan hal ini, hanya saja....”
Untuk sesaat Reya hanya bisa menundukkan kepalanya. Van yang menyadari akan hal itu hanya menepuk pundaknya kemudian pergi ke arah Grey.
“Tenang saja. Ini bukan salahmu,” sahutnya ringan.
Wajah Reya yang sebelumnya kecut kini kembali tegar setelah mendengarkan kalimat itu.
__ADS_1
"Sebaiknya kita istirahat dulu sejenak," ucap Van.
Semua yang masih sadar menanggapinya dengan mengangguk pelan.