
Kerajaan Astarte, Akademi Swordia
Beberapa orang dengan seragam hitam muncul dari arah gerbang dan mereka dipimpin oleh seorang wanita anggung berambut abu yang sanga elegan—tidak lain ia adalah Aresya.
Tidak lama kemudian Fiana datang menyambut mereka bersama dengan kedua rekannya.
"Nona Aresya, terima kasih telah datang ke akademi ini," ucapnya sambil membungkuk, kedua orang di belakangnya pun ikut membungkuk.
"Ahhh... tidak apa-apa, apakah Kepala Sekolah Irina ada?"
"Kepala sekolah sedang menjalankan misi dengan sekretarisnya"
"Ohh... kalau begitu apakah tidak apa-apa jika kami masuk tanpa memberitahunya?"
"Tidak... sebenarnya beliau telah menitipkan pesan kepada saya. Ia berpesan agar menyambut Anda begitu tiba di akademi ini"
"Ara ... sungguh tidak terduga sekali, kalau begitu kami masuk," ucapnya kemudian melangkah masuk tetapi terhenti sebentar. "Mereka adalah instruktur dan orang-orang yang telah saya pilih untuk mengikuti Astarte Festa
nanti"
"Wahhh... terima kasih, kalau begitu silahkan masuk."
Setelah itu mereka pun dituntun olehnya menuju ke dalam akademi. "Mari ikuti saya, saya akan menunjukkan jalan menuju ruang pertemuan," ucapnya lalu berjalan terlebih dahulu.
Di sepanjang perjalanan mereka, banyak sekali orang-orang yang sedang membicarakan tentang Astarte Festa. Ada juga mereka yang ikut berpartisipasi mempersiapkannya dengan wajah girang dan penuh antusias.
"Apakah persiapan Astarte Festa sudah selesai?" ucap Rena.
"Emmm ... jika tidak salah Anda adalah Nona Rena sekretaris Nona Aresya, ya?" sahutnya. "Maaf, sebelumnya saya telat memperkenalkan diri. Perkenalkan nama saya adalah Fiana"
"Ya, betul. Lalu perkembangan Astarte Festa sudah sampai sejauh mana, Reina?"
"Menurut data yang telah saya dapatkan, persiapan Astarte Festa baru seperempatnya selesai"
"Hmm... seperti itu rupanya"
"Saat kita telah sampai di ruangan pertemuan, penjelasan lebih lanjutnya akan di jelaskan di sana," ucapnya ramah kemudian kembali berjalan.
Di dalam benaknya Rena pada saat itu, ia berpikir jika perkembangan Astarte Festa telah mencapai tahap akhir. Tetapi, perkiraannya itu meleset.
"Ehehhehe ... Fear!, akan aku pastikan kau makan banyak di Astarte Festa ini," ucap Selina genit sambil berusaha menangkap Fear yang sedari tadi berusaha menghindarinya sekuat tenaga.
"Tidak, aku tidak akan menurutimu," sahutnya.
"Instruktur Selina, bisakah Anda berhenti untuk hari ini saja. Fear ketakutan dengan tingkah laku anda," ucap Velia.
"Velia, tingkah lakuku ini natural. Jadi mungkin akan susah untuk menghentikannya... iyakan Fear? ... hehehehe"
"Selina dasar kau ini," ucap Oz lalu menahan kerah bajunya agar ia tidak berulah lagi.
"Ouu... Oz, terima kasih," sahut Fear dengan lega.
"Sama-sama, Fear"
"Oz, lepaskan aku," gerutu Selina sambil memberontak.
"Apa kau tidak malu, Selina?"
"Tidak sama sekali, karena sayangku pernah berkata 'Jadilah dirimu sendiri, karena itu adalah hal terindah yang hanya bisa orang itu lakukan' begitu, jadi lepaskan aku."
Oz hanya berdeham dan wajahnya tampak kesulitan mengatasi tingkah laku Selina yang seperti anak-anak saja. Tetapi sisa lainnya hanya kebingungan dengan sosok Oz yang dapat menghentikan putri cantik nan seksi itu tanpa kerepotan dan yang membuat mereka kebingungan adalah sosok yang ia panggil dengan sebutan ‘sayang’.
Walaupun mereka berdua baru satu tahun menjadi instruktur di Akademi Magista, tetapi para murid telah memberikan mereka julukan. Oz si tampan nan tenang yang dingin dan Selina si seksi nan cantik yang genit.
Pada awalnya Aresya sendiri ragu jika menjadikan keduanya sebagai seorang instruktur di akademinya. Tetapi, karena sedikit rayuan dari Selina akhirnya ia pun menyerah dan menjadikan keduanya sebagai instruktur.
"Apakah kalian penasaran siapa sayangku? Sepertinya wajah kalian jujur. Aku akan memberitahukannya jadi simak baik-baik."
Akhirnya Selina pun menjelaskannya dengan kalimat-kalimat panjang tentang perasaannya kepada mereka. Oz hanya dapat terdiam sambil menunjukkan wajah yang kerepotan. Aresya hanya tersenyum sendiri.
Sedangkan Velia dan Fear sepertinya mereka tahu siapa orang yang Selina jelaskan.
"Jadi sekian dan itulah sosok sayangku yang sangat aku cintai," jelasnya mengakhiri.
"Hmm... sungguh beruntung sekali lelaki itu bisa mendapatkan cinta Instruktur Selina," ucap dua orang laki-laki secara bersamaan.
Mereka adalah Hiro dan juga Grey.
__ADS_1
"Heee ... apa jangan-jangan kalian berdua cemburu, Hiro? Grey?" celetuk Mai.
"Heiii... Instruktur Selina itu sangat terkenal di kalangan laki-laki bahkan bagi kami para Kesatria Legiun," sahut Grey dengan mengusap-ngusap bawah hidungnya. Bukankah begitu Reya?"
Wajah kedua laki-laki yang tadi disebutkan itu langsung memerah, sedangkan Reya hanya terdiam tanpa ekspresi. Saat ini ia sedang memikirkan suatu teknik yang baru saja Oz ajarkan kepadanya.
"Jika untukku... mungkin hanya sebatas rasa hormat. Karena Instruktur Selina sangat hebat dalam menjelaskan tentang berbagai macam jenis sihir sama seperti wali kelas kita dulu yang membuatku terkagum-kagum," ucap Reya dengan wajah yang sangat tenang dan juga penuh dengan arti.
Hampir dari mereka mengangguk setuju. Perlahan sebuah senyum tipis terlihat di wajah mereka berharap bahwa sosok wali kelas itu sedang memperhatikan mereka saat ini dari jauh.
Namun untuk Oz dan Selina mereka bingung, sebenarnya siapa wali kelas mereka yang dulu. Murid-murid kelas itu tidak pernah menceritakannya secara gamblang ataupun sembunyi-sembunyi. Karena itulah mereka tidak tahu.
Lalu setelah itu mereka sampai di ruang pertemuan. Fiana pun mempersilahkan mereka duduk di bangkunya masing-masing kemudian ia pun memberitahukan Reina untuk segera menjelaskan kelanjutan tentang Astarte Festa.
Di dalam ruangan itu terdapat sekitar 20 orang bahkan lebih, orang-orang yang berada di dalam ruangan itu adalah orang-orang yang sangat ahli dan mereka memimpin jalannya Astarte Festa ini.
Sedangkan untuk murid-murid lainnya yang tidak memiliki peran. Mereka di berikan tugas untuk menyebarkan informasi ataupun membantu persiapan Astarte Festa.
***
Reruntuhan Pulau Langit, Kastil Armhade, Kota Kehancuran
“Walaupun aku telah meratakan mereka berulang kali, tampaknya itu sia-sia."
Aku tidak tahu sudah berapa belas atau puluh makhluk yang aku habisi dan mereka terus terlahir kembali seakan-akan seranganku tidak artinya. Mungkin diantara mereka terdapat sesosok makhluk yang dapat melahirkan mereka kembali dengan cepat.
“Aku harus segera menemukannya....”
Satu tebasan menghabisi setiap makhluk hitam yang berada di hadapanku, dua tebasan makhluk hitam yang menyerangku hancur dalam sekejap mata, dan tiga tebasan mereka yang dapat terbang di atasku mulai menghilang seiring waktu berlalu.
Aku berlari, melompati setiap atap-atap rumah yang telah hancur. Mereka menghalangi jalanku menuju Menara Entia, di saat yang sama juga aku harus menemukan sosok kuat itu.
Beberapa menit kemudian aku merasakan getaran hebat. Sebuah bayang-bayang hitam menguak dari tanah layaknya dinding raksasa. Kemudian bayang-bayang itu menggumpal membentuk makhluk hitam dengan perut besar bermata merah tanpa hidung ataupun telinga.
Sosok yang menciptakannya ternyata cukup pandai juga. Apalagi lidahnya menjulur meneteskan cairan korosif yang menguap begitu menyentuh tanah. Tak dapat bergerak tanpa kakinya dan hanya menjadikannya sebagai dinding raksasa yang hidup.
Ini cukup merepotkan juga.
Makhluk itu mulai mengangkat tangan besar miliknya lalu menghantamkannya ke arah kota di bawah. Entakkan itu menciptakan sebuah getaran hebat yang merangkap dengan sebuah ombak hitam raksasa—menyisir setiap makhluk di jalurnya, tetapi mengangkat, dan memasukkan mereka ke dalamnya menjadi wabah hitam.
Ukuran mereka mengecil... ya, itu memang tidak terlalu aku khawatirkan. Tetapi ukuran ombak itu hampir setengah dari ukuran makhluk raksasa itu.
"Arluüc Incüisà!!!"
Tidak lama setelah itu lagi-lagi tempatku berpijak bergetar hebat dan meledakkan beberapa bangunan yang masih berdiri secara acak. Meledak hebat layaknya gelembung rentan yang meletup terkena belaian angin.
Aku pun membuat sebuah perisai medan mana untuk melindungi diriku sendiri dari gempuran puing-puing yang berjatuhan dari langit.
Setelah semuanya reda, kakiku kembali berpacu melesat cepat menerjang makhluk raksasa itu sambil melancarkan sebuah gelombang sabit.
Ketika makhluk itu terdorong mundur, kumanfaatkan momentum itu untuk melompat tinggi hingga menembus batas tingginya. Memutarkan tubuh dan mengerahkan titik berat badan pada bahu kanan, lengan kanan dan kiriku tengah bersiap mengayunkan pedang sekuat mungkin.
Begitu aku mengayunkannya dengan kuat sebuah ledakan dahsyat menghantam makhluk besar hitam itu dengan hebat. Kobaran api mengepul dengan indah di langit-langit.
Lalu semua makhluk hitam yang tersebar di setiap penjuru kota lenyap sekaligus tanpa tersisa satu ataupun ancaman lainnya, hingga tiba-tiba saja sebuah lesatan benda tajam melayang tepat mengarah menuju kepalaku.
Mengidentifikasi arah serangan itu, aku pun kembali mendarat dengan sempurna, dan kembali menerjang tempat serangan itu dilancarkan. Begitu aku sampai di sana, sosoknya menyerupai seorang perempuan ramping yang terlihat siap untuk bertarung.
Aku pun melancarkan tendangan tinggi yang cukup cepat dan ia dapat menghindarinya dengan sempurna. Di susul oleh beberapa jab cepat akurat sebagai serangan lanjutan, kali ini ia berhasil mengalihkan seranganku berkat telapak tangannya.
Mengambil jarak dan siapa yang akan menyangka ia telah berada di hadapanku ketika aku berusaha mengambil napas. Sebuah pukulan lurus melesat cepat dari arah kanan, aku menunduk cepat, lalu kembali melompat ke belakang.
Serangan tangannya saja dapat membuat gelombang cepat yang menghancurkan sebuah dinding. Ternyata kekuatannya melebihi dugaanku.
Namun ia tidak membiarkanku istirahat, karena hanya dapat waktu singkat itu ia kembali melesatkan serangan cepat yang akurat. Aku berusaha menghindarinya, tetapi beberapa serangan berhasil menggores pipiku hingga menitikan darah.
Pertarungan jarak dekat seperti ini memang yang terbaik. Kepulan asap cokelat berkeliaran secara masal. Menutupi arah pandangku, kemudian sesosok siluet keluar dari asap itu.
Seorang perempuan berambut pendek, memakai pakaian merah dengan lengan panjang. Sebuah celemek dan sebuah asesori putih di kepalanya. Bukankah ia mirip seperti pelayan?
Apakah aku terpukul mundur oleh seorang pelayan? Ini sama sekali tidak lucu, bung....
Ia juga menggunakan sepatu highheel yang cukup tinggi dengan stocking hitam yang menyelimuti kaki indahnya. Wajahnya cukup oriental, memiliki dua buah mata merah yang terlihat sadis tetapi sepertinya ia baik.
"Kau ... siapa kau berani-beraninya datang ke bagian kerajaan langit ini?!" teriaknya lantang." Beritahu alasan dan namamu atau tidak kepalamu ku penggal!."
Perempuan tapi kok sikapnya sadis gini, ya?
__ADS_1
"Namaku Hilda, aku pelayan setia dari Kerajaan Langit Faustia ini. Aku ingatkan... jika kau berani melangkah dari batas ini. Akan kupastikan tubuhmu tergantung di sana!" ucapnya sambil menunjuk sebuah pilar tinggi berwarna
hitam legam.
Aku pun hanya meringis sendiri, tersenyum kecut mendengar perkataannya. Raut wajahnya memerah marah dan akhirnya langsung menerjangku dengan sebuah tendangan menyamping yang keras.
Tendangan itu berhasil menghancurkan tiga buah rumah yang tidak terpakai lagi, untungnya aku dapat menghindari itu dengan cepat, atau tidak aku akan kembali terpental sangat jauh bahkan mungkin aku tubuhku akan hancur.
Karena situasi ini aku jadi ingin mempermainkannya, walaupun ia memiliki kekuatan setara dengan dewa perang. Tetapi, hal itu malah lebih membuatku semakin semangat untuk melesatkan setiap pukulan dan juga tendanganku.
Ia kembali melihat ke arahku, lalu secara membabi buta melancarkan pukulan-pukulan berat secara terkoordinir. Aku menangkis semua serangan itu dengan menepis bagian bawa lengannya.
Wajahnya tampak sedikit tersentak, apakah ia kaget?
Setelah itu ia kembali menerjang dengan dua buah tendangan layang yang cukup berat dan cepat.
Sekali lagi aku menangkis serangan itu layaknya membalikkan telapak tangan. Dengan mudahnya dan sangat enteng, kini giliranku yang akan menyerangnya.
Aku pun memberinya sebuah tendangan berputar yang di ikuti oleh lima buah tendangan lurus yang cepat.
Ia mengelak dengan sangat lincah dan berhasil menghindar dari serangan cepatku itu. Kini ia melancarkan satu buah pukulan yang sangat cepat, namun ia tidak menyadarinya. Bahwa kaki kiriku berputar dengan cepat dan langsung berada di sampingnya.
Kutendang tinggi lengan kanannya yang berusaha memukulku. Ketika ia sedikit terlempar ke belakang, aku pun menguatkan kakiku dan segera berlari ke arahnya sambil memberikan sebuah lariat kuat.
Lehernya pun tersentak sangat kuat, lalu aku menghantamkannya pada tanah sekeras mungkin. Bunyi pukulan kuat membuatku yakin jika aku telah melakukannya dengan sangat baik.
Mulutnya terbuka lebar dan ia tidak bisa bangun lagi karena tendangan yang aku kerahkan tadi berhasil membuat persendiannya terkilir. Aku pun mendekatinya lalu berjongkok.
Kepalanya menengadah sambil menatapku dengan tatapan kebencian. Kupegang dagunya yang manis sambil menatap wajahnya. Karena potongan ingatanku telah berhasil kudapatkan, sehingga aku ingat bagaimana cara mengaktifkan 'Imperial Crest'.
"... Ohh, nona cantik, jika kau pelayan keluarga Kerajaan Langit Faustia. Berarti seharusnya kau melayaniku," ucapku sambil terkekeh-kekeh.
"Apa maksudmu!? Semua keluarga kerajaan telah mati!"
"Tidak, itu tidak sepenuhnya benar. Karena lelaki yang kau tatap ini adalah pangeran kedua dari kerajaan tersebut, Reiss Veil Drag Reizhart. Atau sekarang kau bisa menyebutku Kuro," ucapku lalu tersenyum kecil.
Apa yang aku rasakan sekarang mirip seperti saat pertama kali aku menggunakan sigil mata ini. Rasanya panas dan ingin sekali aku mencabutnya, tetapi setelah beberapa kali percobaan, akhirnya aku bisa menggunakannya secara leluasa.
Jika tidak salah ingat, mataku akan berubah menjadi merah dan pada bagian tengah pupilnya akan membentuk simbol kerajaan berupa sebuah pedang suci—Regalia.
Ia pun kaget melihat itu dan langsung mengucurkan air mata.
"Nah, Nona Hilda yang garang, apakah kau akan menyambutku dengan ramah atau dengan sebuah pukulan?"
"Aku tidak percaya ini, bukankah seharusnya pangeran telah mati?"
“Seharusnya aku yang tidak percaya. Bagaimana mungkin kau yang selayaknya seorang perempuan sama sekali tidak terluka dengan pukulan lariatku?” tanyaku kebingungan.
Setelah itu aku pun mengalirkan sedikit manaku padanya. Tiba-tiba saja ia mengerang dengan wajah yang memerah. Aku tidak tahu rasanya seperti apa jika di aliri oleh sebuah mana. Tetapi jika kulihat wajahnya, mungkin ia sangat menikmatinya.
Luka-luka yang berada di tubuhnya pun perlahan-perlahan menghilang sama juga dengan diriku. Darah yang berada di kepalaku serta luka lebam di bahu kiriku telah menghilang.
"Jadi bisakah aku masuk ke Menara Entia itu?"
Hilda pun bangkit sambil memperbaiki penampilannya yang kacau, setelah itu kedua tangannya bersimpuh, "Seperti yang Anda perintahkan, Yang Mulia Pangeran Re—“
"Eittt ... Kuro saja sudah lebih dari cukup," potongku.
"Baiklah,Tuan Kuro"
Tuan... ??? heh?
“Aku bilang cukup Kuro saja, mengerti?”
"Umm, Baiklah kalau begitu... K-K-K-Kuro.”
Panggil nama saja masih gelagapan begitu, hahh.
“Silahkan ikuti saya menuju menara Entia," ucapnya lalu ia pun mulai berjalan dengan tenang di depanku. "K-Kuro, apakah Anda selama ini berada di bumi?"
"Kurang lebih seperti itu, lagi pula aku hampir tidak mengingat tempat ini sama sekali"
"Jadi... K-Kuro sekarang tinggal di mana? Dengan siapa? Apakah dia seorang perempuan? Apakah Anda makan secara teratur? Apakah Anda selalu mencuci pakaian dengan benar?" tanyanya beruntun.
Aku merasa Deja Vu dan ini lebih mirip seperti berhadapan dengan Ibuku sendiri, hahh.
"Apa kau benar-benar pelayan keluargaku, Hilda? Sepertinya kau lebih mirip pengasuh"
__ADS_1
"Ya, karena itu sudah menjadi tugas saya selaku pelayan Kerajaan Langit Faustia. Apalagi jika dihadapkan oleh pangeran seperti Anda. Baiklah, kita sudah sampai," ucapnya. "Selamat datang di Menara Entia atau biasa disebut sebagai Taman Mistik Entia," lanjutnya membuka pintunya dengan pelan.