
Setelah tangan hangat itu menghilang dari genggaman tangan kananku. Setitik cahaya turun entah dari mana, cahaya itu kemudian memudar lalu menghilang, dan akhirnya hanya meninggalkan sebuah pesan di dalam kepalaku.
—Pangeran, tolong kami.
Aku tidak tahu siapa itu tapi yang pasti suara itu bukan hanya satu buah suara melainkan seperti satu pleton bahkan lebih. Kemudian aku tersadar kembali bahwa misiku belumlah selesai. Aku bangkit dan segera bergegas mencari petunjuk tentang bayangan misterius itu.
Entah bagaimana aku bisa sampai ke tempat ini, tetapi satu hal yang pasti....
“Bagaimana bisa aku tersandung dan bisa berada di sini? Sebuah lubang rahasia? Yang benar saja...,” gerutuku kesal.
Sebelum aku menyadari ada yang aneh di sekitarku, hutan ini berubah. Entah seperti ilusi semata, tetapi semua rerumputan, pepohonan bahkan bayangan dan cahaya menghilang dalam sekejap.
Lalu tiba-tiba saja aku berdiri tepat di tengah-tengah ruangan. Ruangan itu gelap, hanya beberapa cahaya yang bisa kabur dari kaca pecah di atas sana, Yang bisa memberikan penerangan samar akan tempat ini.
Dengan refleks aku pun menggunakan sihir api kecil yang mencuat pada ujung jari telunjuk kananku. cahaya pada jariku mulai menerangi setiap bagian sisi ruangan dan seketika itu pun semuanya menjadi jelas.
Sisi kanan dan kirinya terdapat sebuah rak buku minimalis berwarna cokelat pudar. Dengan buku-buku usang yang sudah tak terurus kembali.
Di atas rak itu ada beberapa ornamen, lilin dan juga beberapa benda yang tidak aku ketahui. Atap yang tertutup rapat dan bahkan seberkas cahaya tidak dapat tembus. Bagian bawah yang kini kuinjak adalah sebuah karpet berwarna merah.
Dengan beberapa motif yang unik menyerupai kurva dan bidang datar seperti segitiga dan juga segi enam. Lalu aku melihat sebuah kursi di depan sana yang cukup tinggi, bersembunyi di balik sebuah meja kotak yang penuh dengan debu.
Di sebelah kanan atas meja itu ada sebuah Globe yang terikat oleh jaring laba-laba. Kusam dan tak terurus sama seperti rak-rak di bagian pinggirnya. Lalu dua buah buku yang saling menindih berwarna putih ke hijauan.
Sebuah gelas kayu yang bersandar pada Globe dan satu buah piring kayu lengkap dengan garpu dan juga sendoknya di tengah-tengah. Dengan sendok yang berada di dalamnya dan garpu yang berada di luar piring itu.
Di belakang kursi yang bersembunyi itu, hanyalah bongkahan batu yang disusun menjadi tembok kokoh, tidak ada yang spesial. Kemudian pada bagian atasnya, sebuah kaca yang berlubang.
Dengan lingkaran warna-warni yang menggambarkan dua buah makhluk yang memberikan mahkota pada seorang yang duduk pada sebuah takhta. Sebelah kiri bersayap hitam, sedangkan yang kanan bersayap putih.
Orang yang akan di berikan mahkota itu menggunakan sebuah jubah merah dengan mengekspresikan wajah yang kecewa. Aku tidak tahu apa maksudnya namun karena rasa penasaran, aku pun mengambil salah satu buku dan membuka sebuah halaman secara acak.
Lalu entah mengapa aku merasa familiar dengan sebuah kata dan sebuah angka pada kalimat itu, namun aku tidak paham betul dengan isinya.
Omega consurget destruere vitam colligeret dabit spiritum 100,000 ad suscitandas tribus mensibus geminos nocte stella -
"Hahaha ... aku benar-benar tidak paham dengan kalimat ini, tapi kata Omega dan angka sebesar itu sepertinya bukanlah berita yang baik," ucapku pelan lalu menutup buku itu dan menyimpannya kembali di rak tempatnya berasal.
Kemudian berjalan pelan menuju meja di depan sana. Setiap kali aku melangkah sebuah gambaran tiba-tiba saja muncul di dalam benakku. Gambaran itu adalah seorang bocah kecil yang berlari-lari di sebuah taman bersama dengan tiga orang.
Yang satu adalah seorang lelaki tinggi dan cukup kekar, menggunakan sebuah mahkota perak pada kepalanya. Lalu seorang perempuan yang menggandeng tangannya dengan halus, berambut coklat panjang terurai.
Lalu yang ke tiga adalah seorang lelaki yang hampir sama dengan bocah kecil itu. Ia berambut hitam, berwajah ceria dengan senyumnya yang begitu tulus. Mereka berdua berlari di sebuah taman yang sangat luas.
Di atas sana terbentang langit yang luas dengan bilang yang bersinar hangat. Lalu mereka berdua pun saling kejar-mengejar. Namun sang bocah kecil selalu terjatuh sesekali sedangkan lelaki yang bermain bersamanya menari dengan riang di taman itu.
Ke dua orang dewasa itu hanya bisa tersenyum melihat kelakuan mereka berdua. Tidak lama kemudian lelaki yang bermain bersama bocah kecil itu mengeluarkan dua buah sayap putih laksana seperti cahaya kebenaran.
Ia pun tersenyum kepada bocah kecil itu, lalu ia pun terbang secara perlahan. Bibirnya bergerak sembari mengulurkan tangannya ke arah bocah kecil itu—
... Reiss, ayo kita bermain di langit sana.
Bocah kecil itu tersenyum lebar dan meraih tangan lelaki yang sedang terbang
rendah. Kepalanya mengangguk dan ia pun berkata....
.. Tunggu aku, Kakak.
Wajahnya kemudian memerah dan ia pun berlari ke arahnya –
"Ahkk ... tadi itu apa?" gumamku.
Aku pun sedikit tertunduk lemas melihat gambaran aneh itu, tetapi aku kembali melangkahkan kakiku menuju meja di depan sana. Staminaku seperti terkuras seiring aku mendekati meja di depan sana.
Lalu secara perlahan aku pun berhasil sampai di meja itu. lalu ku tatap dengan seksama, tidak ada yang aneh sama sekali namun setelah kudongakkan wajahku dan melihat kaca di atas sana.
Kaca yang cukup buram namun dapat cukup jelas memperlihatkan gambar yang terlukis di sana. Dan sekali lagi gambaran itu muncul di dalam benakku. Sebenarnya siapa laki-laki itu?
... Reiss, kakak mohon cepatlah. Kita tidak mempunyai banyak waktu lagi.
... Ta-tapi Kak—
... Kumohon Reiss, kakak tahu bahwa kau tidak ingin melakukannya.
... Kalau begitu biar aku ikut bersama dengan kalian—
... Tidak kau harus tetap hidup apapun alasannya.
... Reiss, hanya kau satu-satunya yang bisa melakukan tugas ini.
... Kami semua sudah teracuni, jadi kami tidak rela jika roh kami di
pakai untuk membangkitkan Omega.
... Reiss, ku mohon. Kakak akan mempercayai pedang Regalia ini di
tanganmu.
... Kak, aku tidak sanggup—
__ADS_1
... Reiss mungkin kau akan sanggup jika melihat wajah mereka semua—
Lelaki itu kemudian membuka sebuah pintu. Di mana di dalamnya terdapat semua personil kerajaan. Dari mulai raja, ratu, menteri, pengawal, dan penjaga yangsangat di percaya.
Mereka tersenyum lebar dengan wajah yang berseri. Sang raja dan ratu saling bergandengan tangan sambil memberikan sebuah senyuman terakhir mereka untuk lelaki berambut cokelat yang berdiri tepat di samping lelaki berambut hitam pekat.
Sedangkan para menteri berdiri sambil membusungkan dada mereka. Para pengawal mengangkat pedang mereka dan para penjaga merebahkan tangan mereka untuk menjatuhkan perisai emas mereka.
Lelaki berambut cokelat itu kemudian tertunduk lemas. Wajahnya sangat pucat dan giginya bergemertak. Kedua tangannya bergetar sedangkan tubuhnya menggigil. Sekarang wajahnya penuh dengan butir-butir air mata yang tidak rela.
Semua orang yang melihatnya hanya dapat tersenyum, walaupun hati mereka sakit melihat sang lelaki yang di sebut pangeran itu tertunduk dengan berlinang air mata. Sedangkan sang lelaki berambut hitam yang berada di sisinya memegangi pundaknya dengan lembut.
... Reiss, anakku kuatkanlah hatimu. Ayah dan ibumu bangga memiliki anak
seperti dirimu.
.. Pangeran, kami tahu seharusnya kami tidak memberikan tugas seberat ini
padamu.
... Pengeran, jika kita dapat bertemu kembali. Jangan lupa ajak kami
bermain seperti biasa.
... Reiss, lihatlah mereka. Bahkan kakak mu ini tidak rela jika kau yang
harus melakukannya.
... Reiss ... Pengeran ... anakku ... kami mohon agar kehidupan di bumi
tidak hancur.
Kemudian lelaki berambut coklat itu mendongakkan kepalanya untuk melihat lelaki yang ia sebut sebagai kakaknya. Lelaki itu tersenyum lebar dengan berlinang air mata, ia terisak-isak dan tidak rela melihat adik tercintanya melakukan hal yang tidak bisa ia maafkan.
... APA YANG KALIAN KATAKAN!??? A-AKU TIDAK INGIN MEMBUNUH KALIAN.
... KALIAN ADALAH K-KELUARGA YANG SANGAT BERHARGA UNTUKKU.
Lelaki berambut hitam itu tidak bergeming, kemudian ia pun berjalan menuju sang raja, ratu, menteri dan para pengawal serta penjaga itu berada. Kemudian ia berdiri di tengah-tengah mereka sambil tersenyum ke arah lelaki berambut cokelat itu.
... Reiss, kami mohon.
... KALIAN TIDAK TAHU PERASAANKU SEKARANG, JANGAN MEMERINTAHKU LAGI!
... S-SUDAH KU KATAKAN AKU TIDAK INGIN MEMBUNUH KALIAN SEMUA!
Lelaki berambut coklat itu kemudian bangkit dengan kaki yang bergetar hebat. Dua buah pedang yang tepat berada di depannya. Tertancap pada lantai kristal, ia cabut. Pedang kanan berwarna hitam sedangkan pedang kiri berwarna putih.
Setelah itu ia menggenggam keduanya dengan tangan kiri miliknya. Dan tiba-tiba ia memukul wajahnya sendiri dengan tangan kanan. Mereka semua kaget, tetapi setelah ia memperlihatkan wajahnya kembali.
Mereka lega, karena sekarang wajah lelaki itu menjadi penuh dengan tekad dan juga tanggung jawab. Mereka kembali senyum—
... Reiss ... Pangeran ... Anakku ... semoga kita bertemu kembali di lain
hari.
Mereka tersenyum dengan sangat tulus. Sang lelaki berambut coklat itu menerjang mereka dengan memainkan kedua pedangnya. Dengan sangat cepat dan hanya dalam beberapa menit, ruangan itu bersimbah darah.
Dan di tengah-tengah itu seorang lelaki yang diselimuti oleh darah yang memegang dua buah pedang. Ia kembali menangis dengan hebat, sebuah teriakan yang keluar dari mulutnya tak henti-hentinya meneriakkan orang-orang yang ia sayangi.
Satu-persatu ia sebutkan dengan sangat dalam. Dan dari situ—
"Hah huhhhh .... hah... huhh."
Aku pun tersadar kembali dan sedang memegangi sebuah buku coklat tua yang usang. Lalu tiba-tiba saja rasanya tanganku basah. Kubuka mataku dan dua buah butir air terjun bebas dari pelupuk mataku. Tepat sekali mengenai punggung kedua tanganku yang tak bisa berhenti bergetar dengan hebat.
Mulutku menganga namun aku tidak bisa berkata apa-apa. Gambaran tadi rupanya adalah—
"Ingatanku...."
Dadaku sesak, tubuhku menjadi dingin dengan tiba-tiba. Staminaku pun serasa di cabut secara paksa. Apa... apaan ini?
"W-walaupun aku tahu, w-walaupun aku tahu bukan seorang pangeran. N-amun mengapa ak-aku memiliki ingatan ini? MENGAPAAAA?!! ... ARGHHHHHH!" teriakku dengan keras lalu membanting meja di depanku dengan sangat keras.
Kumpulan kertas, buku-buku berterbangan dengan hebat ke langit-langit. Mereka kemudian mengambang dengan pelan, lalu sebuah kertas menarik perhatianku. Kerta itu memiliki sebuah noda merah di ujung kanannya dengan
sebuah cap jari yang tergurat di bawahnya.
Aku pun mengambilnya lalu membacanya sambil menenangkan diriku....
Untuk Anakku Tercinta,
Reiss Veil Drag Reizhart,
Kutulis surat terakhir ini untukmu, surat ini telah berisi perasaan ayah,
ibu dan juga kakakmu. Ku harap kau tidak menyalahkan dirimu sendiri dengan
__ADS_1
kejadian itu. Ayah hanya ingin kau bahagia dengan kehidupanmu sekarang ini.
Kakak dan Ibumu bahkan lebih mengkhawatirkan dirimu di bandingkan ayah,
jika kau membaca surat ini tolong segeralah pergi menuju Menara Entia. Pada
menara itu tersimpan sebuah buku yang akan menjelaskan semua kejadian bahkan
alasan kami semua melakukan itu.
Dan jika kau sudah menemukannya, segeralah pergi menemui Hughes E.
Reficul. Dia adalah sahabat ayah walaupun ia seorang malaikat jatuh, serta
pimpinan di sana. Setelah berhasil menemukannya, lalu mintalah dia untuk
menggunakan buku yang kau temukan di menara Entia.
Lalu tanyakanlah apa yang akan kau lanjutkan setelah berhasil menggunakan
buku itu. Ayah harap kau segera mengambil tindakan sebelum Menteri Enthoma
membangkitkan Omega.
Ini yang terakhir Hughes selalu bisa membaca pikiranmu jadi jangan pernah
berbohong kepadanya. Dia bisa tahu siapa kau dan tahu masa lalumu karena dulu
ia pernah bermain bersamamu walaupun kau melupakannya.
Ia juga memiliki kebiasaan buruk untuk membalikkan nama belakangnya.
Reficul bukan seharusnya Lucifer, dan nama lengkapnya adalah Hughes El Lucifer.
Mungkin hanya sampai di sini ... Kami mencintaimu.
Ayah....
"Hehh ... Tuan Hughes selama ini membodohiku, aku kira aku berhasil mengelabuinya. Tetapi sepertinya ialah yang berhasil mengelabuiku," ucapku tiba-tiba. "Dasar kakek-kakek beruban ... hahaha."
Tanpa kusadari, sebuah tawa kembali menempel di wajahku. Dan ingatan menyakitkan itu telah berhasil aku hilangkan dengan membaca surat ini. Entia? Sebuah buku?
Seperti yang di katakan Tuan Hughes, ia seperti memiliki hubungan dengan buku ini. Tapi surat ini benar-benar membuat semuanya jelas, mengapa ada misi investigasi ini. Dan sepertinya sebentar lagi aku akan bertemu dengan si pelahap pedang itu.
Bayangan hitam adalah elemen miliknya, dan ia seperti sebuah bayangan di malam hari. Dan menampakkan wujud aslinya di siang hari, ketika sang surya telah berada tepat di atas langit.
Sebaiknya aku harus segera keluar dari kastel ini untuk memenuhi harapan keluargaku yang sangat berharga. Ayah, Ibu, Kakak, para menteri, para penjaga dan juga para pengawal. Walaupun aku masih belum bisa menerima kenyataan bahwa aku adalah seorang pangeran.
Ingatanku masih belum sepenuhnya pulih. Aku hanya mengingat kejadian 285 tahun yang lalu dan tidak mengingat apapun sebelum itu. Di mana saat aku pertama kali bertemu dengan Oz dan juga Selina, kemudian, Regin, Aresya, dan juga Irina.
Tetapi sepertinya kali ini aku berhasil mendapatkan lima buah keping puzzle lalu merangkainya di atas papan yang aku sebut ingatan ini. Jika seperti itu....
"Terima kasih semuanya, kalian menitipkan tugas ini kepadaku dan selalu berharap aku bahagia."
Aku pun segera berbalik meninggalkan meja dan juga ruangan itu, namun aku mengambil sebuah buku yang usang berwarna merah gelap dan di sana tertulis “Diary Keluarga Tercinta”.
Semoga dengan membacanya aku dapat mengingat sesuatu yang lebih spesifik. Setelah aku berjalan keluar dari ruangan itu. Tiba-tiba saja aku kembali terteleportasi ke tempat semula.
Yaitu tempat pertama yang aku injakan setelah masuk ke dalam Lembah Mour, yaitu reruntuhan Kastel Langit Armhade.
“Sepertinya hari mulai malam, Kristal Ignium juga berubah menjadi keungu-hitaman.”
Dan untuk Kristal Athea yang menempel pada pilar batu melingkar itu berubah menjadi putih. Sepertinya kedua kristal ini sangatlah kontras dengan warnanya masing-masing.
Aku pun mencabut Kristal Athea itu dan sebuah kejutan memukul kedua mataku dengan pemandangan yang sangat luar biasa.
Apa yang aku lihat sekarang adalah sebuah kota yang hancur penuh puing-puing dan hawa hitam yang melekat layaknya asap semu.
Posisiku saat ini adalah berada di atas langit, tepatnya di sebuah pulau yang mengapung. Bulan tampak begitu dekat, bersinar terang bersama kawanan bintangnya.
Ada beberapa makhluk berwarna hitam yang tidak jelas berkeliaran di kota itu. Bahkan ada yang memiliki perawakan tubuh besar serta dapat terbang. Sepertinya mereka sedang menjaga sesuatu yang entah apa itu.
Tepat di pusat kota hancur itu terdapat sebuah menara utuh. Layaknya menara baru dan terlihat segar, aura hitam pun bahkan tidak bisa masuk ke dalam jangkauan sekitarnya.
Memiliki warna putih mencolok dengan atap yang sedikit runcing berbentuk silinder. Jendela tampak menghiasi pinggirnya, memutar seperti spiral, dan di dari bagian bawah hingga pertengahannya terdapat tumbuhan merambat hijau yang bersemi dengan indah.
Namun karena adanya makhluk hitam yang berkeliaran di sana, sepertinya surat Ayah ada benarnya. Jika kuingat kembali sepertinya menara itu adalah Entia dan mungkin mereka sedang menjaga buku yang sangat berbahaya sekali.
Maka dari itu ayah menulis surat itu. 'Segera menuju menara Entia, lalu ambil buku yang ada berada di dalamnya'. Kata-kata itu langsung membuatku melompat turun menuju kumpulan makhluk hitam.
Begitu aku mendarat dengan sempurna, kedua tanganku terbuka dan dua buah proyeksi pedang muncul menciptakan luapan angin kejut. Alhasil semua objek yang berada di sekitarku pada saat itu terhempas jauh.
Aku pun bangkit dan menatapi satu-persatu makhluk hitam dengan mata yang tenang. Jantungku berdetak dua kali, lalu aku pun melesat cepat menciptakan sebuah gelombang sabit dengan jalur laju vertikal.
Makhluk hitam besar yang tadi aku lihat pun terbelah dua dan semua makhluk di sepanjang jalur seranganku musnah menjadi debu hitam.
“Majulah...,” ucapku dingin sambil mengarahkan pedangku ke arah menara.
__ADS_1