Sword Anthem

Sword Anthem
Chapter 42 - Hitung Mundur


__ADS_3

Sebelum kecerita utama kita intro dulu~


Hai semua! Nama gue ReIN dan terima kasih karena telah memberikan gue kesempatan untuk menemani malam jomblo loe! Jika kalian menyukai cerita ini maka berikan jempol ke atas dan jika tidak cukup vote lalu sebarkan cerita ini. Jangan lupa berikan komentar dan tips agar sang Author tetap semangat update ceritanya!


 


.


.


.


 


“Pilihan yang bijak. Nah, apa kalian siap untuk ronde selanjutnya?”


Kata itu muncul begitu ringannya sehingga membuat Oz dan lainnya sedikit tertekan. Kekuatan Meist bukanlah isapan jempol belaka, hanya dengan kehadirannya mereka semua seperti anak kecil yang sedang melihat tembok


raksasa—begitu tinggi, tebal, tak tertembus bahkan tanpa celah.


Ganthus yang sedari tadi terdiam pun mulai mengeluarkan raungannya lagi. Menciptakan sebuah tekanan udara yang mengentak sekitar bahkan membuat aula bergemuruh beberapa saat.


Oz, Selina, Aresya, Irina, dan Fear yang tak berdaya karena ketidaktahuannya dengan situasi yang sedang mereka alami hanya dapat menatap kosong seperti sebuahboneka.


Namun tiba-tiba saja makhluk wajah raksasa itu meledak terkena sebuah sihirserangan jarak jauh yang dilesatkan dari langit.


“Oya, sepertinya kita kedatangan tamu baru,” ucap Meist ringan dengan seringai kecil.


“Maaf semuanya. Aku terlambat, siapa sangka aku akan menghadapi begitu banyak monster diperjalananku tadi.”


Itu adalah Regin Sang Raja dari Kerajaan Ronove. Ia terbang dengan kaki yang\ menapaki udara di langit, melihat ke bawah memastikan semua orang yang berada di dalam aula selamat.


Berkat kedatangan Ganthus, langit-langit aula telah hancur dan hanya meninggalkan beberapa puing-puing.


Suara kegaduhan terdengar dari luar dan beberapa jeritan melengking menyakitkan telinga. Regin pun memasang wajah kecut ketika melihat situasinya saat ini.


“Aku sudah menginstruksikan para instruktur lainnya untuk mengevakuasikan semua orang. Mereka yang terluka di luar aula pun sudah aku berikan perawatan pertama, sisanya tinggal...,” jelasnya sambil melirik Meist dengan iris yang mengecil. “Kau....”


Tanpa pandang dulu ia pun langsung meluncur. Tubuhnya kini diimbuhi oleh beberapa lapisan sihir penguat dan juga pertahanan. Sosoknya yang selalu tenang dan berpikir logis itu tampak tak terkendali.


Selina dan lainnya yang bahkan tidak dapat mengatasi Meist pun langsung di serang oleh Regin. Itu artinya walaupun ia berhasil melukainya, bukan berarti dapat mengalahkannya, karena kekuatan lelaki yang sedang memasang ekspresi tenang itu lebih kuat dari mereka semua.


Regin tahu akan hal itu, tetapi ia tidak bisa membiarkannya begitu saja.


Setelah berhasil memukul mundur sementara Ganthus. Ia pun langsung menyerang Meist yang tampaknya sedang bersantai memandanginya dengan mata terpejam.


“Hmm. Jadi kau adalah tipe orang yang suka dengan kecepatan?”


Meist pun memiringkan kepalanya sedikit.


“Baiklah, aku akan dengan senang bermain denganmu... tapi, sebelum itu... Ganthus!”


“Regin berhati-hatilah!” teriak Aresya.


Walaupun Aresya telah memperingatinya, nyatanya Regin sama sekali tidak mendengarkan hal itu, dan tanpa pandang dulu langsung mengeluarkan sebuah pedang sihir dari telapak tangan kanannya.


Menyerupai sebuah pedang biasa, tapi transparan dan terus bersinar mengeluarkan mana yang terkondensasi. Itulah pedang sihir yang kini digenggam oleh sang Raja Regin.


Meist pun tak mau kalah dan mengeluarkan hal yang sama, tapi warna mana miliknya berwarna hitam, sedangkan Regin berwarna kuning keemasan.


Mereka pun saling beradu pedang di langit-langit aula yang telah hancur selagi Ganthus kembali bangkit dan membuat pertarungan itu menjadi berat


sebelah.


Berkat bantuan makhluk raksasa panggilan lelaki itu, situasi Regin menjadi bertambah rumit.


Di sisi yang lain Selina berusaha menyadarkan Fear yang sedari tadi tampak tidak memiliki jiwa. Ia mengeluarkan sihir penenang dan juga panggilan roh, tapi sayangnya semua itu tampak sia-sia.


Sebaliknya Aresya sedang berusaha menyembuhkannya dari tekanan mental karena sebab yang belum pasti. Satu hal yang ia percayai adalah kehadirannya tidak ada bersama mereka.


Sosok lelaki yang menyatukan mereka semua telah menghilang, itulah perkataan Meist yang mengaku telah membunuhnya. Tapi, walaupun seperti itu mereka tidak mempercayai kata-katanya.


“Meskipun kau seorang raja... sendiri tanpa uluran semua orang, kau hanyalah cangkang rapuh yang berlagak layaknya pahlawan,” tutur Meist sembari menghindari tebasan pedang sihir Regin.


“Mungkin itu memang benar. Tetapi, setidaknya masih ada orang yang membutuhkanku,” sahut Regin sambil melancarkan sihir es yang meledak hebat tepat di hadapan wajah Ganthus.


Sang raksasa pun kembali merintih dan terjatuh menciptakan getaran hebat yang mengguncang seisi aula dan sekitarnya.


“Luar biasa. Tampaknya Reiss tidak sia-sia mendidikmu, huh?”


“A-apa?! Bagaimana—“


“Karena akulah yang membunuhnya.”


Selagi Regin kaget mendengar itu, Meist memanfaatkan momentum itu untuk mendaratkan pukulan keras tepat di ulu hatinya. Sebuah kekuatan mutlak yang berhasil menghempaskan Regin dalam sekali serang dan membuatnya terkapar di sebelah pilar aula.


“Bhuakss—“

__ADS_1


“Regin!”


“Keparat kau!” rutuk Oz.


“Hinalah aku, bencilah diriku, dan rasakan keputusasaan ketika berhadapan dengan kekuatan mutlak,” tutur Meist dingin.


Tubuhnya perlahan turun dengan beberapa putaran angin lembut di sekitar kakinya. Tatapannya tidak berubah, nadanya pun tetap mengeluarkan kejutan baru, dan sikapnya yang angkuh terlihat penuh akan kesedihan.


“Kau belum merasakan apa yang disebut sebagai keputusasaan. Berhadapan denganku seperti ini saja tidak berdaya... menyedihkan”


“Ya. Karena identitasmu bukanlah makhluk sembarangan....”


Tiba-tiba saja terdapat beberapa belasan pedang cahaya yang menghujani Meist dari berbagai arah. Tetapi, ia berhasil mematahkan semua pedang itu dalam beberapa gerakan cepat.


“Hmm? Aku kira siapa... ternyata rupanya kau... Reiss,” ucapnya menoleh sambil menyipitkan mata.


***


Beberapa menit sebelum kejadian....


Sepertinya memang akan terjadi bencana yang telah diramalkan oleh batu prasasti kerajaan langit dan juga peringatan Kakakku. Aku tidak menyangka akan secepat ini.


Beberapa hal yang pasti adalah kemunculan para monster dari seluruh penjuru kota. Aku pun segera menerjang mereka untuk menyelamatkan orang-orang. Tidak lama kemudian beberapa personil instruktur datang membantuku.


Sepertinya aku tidak perlu mencemaskannya lagi, mungkin yang perlu aku cemaskan sekarang adalah para murid-murid dari akademi. Aku juga penasaran bagaimana kabar mereka saat ini.


Setelah satu tahun tidak bertemu mereka, aku cukup penasaran seberapa jauh mereka telah berkembang, dan apa yang terjadi setelah aku pergi dari sana.


Tiba-tiba saja perhatianku teralihkan oleh suara raungan keras yang berhasil membuat angin bergetar. Begitu aku berbalik, tepat di depan sana terdapat sesosok makhluk raksasa yang ukurannya tiga kali lebih besar dari bangunan di bawahnya.


Sial... di saat seperti ini mengapa makhluk seperti itu muncul. Terkutuklah kau orang yang memanggilnya ke sini.


Aku pun langsung pergi ke sana dengan anggapan tidak akan terjadi hal-hal yang lebih aneh dari kemunculannya di sana.


Beberapa kali aku menemui makhluk hitam legam besar yang pernah aku kalahkan ketika menjalankan misi penumpasan. Dan lagi mereka sangat familiar di benak ingatanku, ya... benar, mereka adalah makhluk-makhluk yang sama seperti di Padang Rumput Graughas.


Aku pun mendecakan lidah karena ingatan itu muncul begitu saja. Saat itu aku harus mengeluarkan semua kemampuanku untuk mengalahkan mereka dan menjamin keselamatan murid-murid yang aku latih.


Sepertinya firasatku waktu itu tidak salah. Ternyata ini semua adalah ulahnya....


Kejadian munculnya Naga di Akademi Magistra, pasukan makhluk kematian di Padang Rumput Graughas, kebangkitan Omega di Hutan Kematian Nethervile, hingga pengejaran Titan saat berada di perbatasan.


“Apakah kau tidak puas hanya dengan menikam dan menjatuhkanku ke bumi... Meist!”


Aku tidak perlu memikirkannya lagi, saat ini waktu adalah segalanya, dan pemikiran yang penuh keraguan adalah hambatan yang harus aku segera hilangkan.


“Aku tidak akan membiarkannya begitu saja....”


Setelah itu aku pun menambahkan kecepatan melompatku dengan sihir angin. Melompat dari atap satu ke atap lainnya, jarak kami semakin mengecil, dan di saat tubuhnya terjatuh karena sesuatu... aku pun memanfaatkan momentum itu untuk menghancurkan jantungnya dalam sekali serang.


Alhasil tanpa adanya gangguan dan juga serangan balik, aku berhasil mengalahkannya dengan mudah.


Aku juga bisa melihat beberapa orang yang kukenal di sana... seperti para Kesatria Legiun, terutama Reya dan Hiro. Rena juga berada di sana dengan para instruktur Akademi Magistra lainnya.


Namun aku tidak melihat keberadaan Instruktur Van dan Fay, mungkin mereka sedang berpatroli di kota bersama instruktur lainnya yang menyebar untuk mengevakuasi orang-orang.


Aku tidak tahu sejauh mana serangan ini akan berlangsung, tetapi jika bisa aku ingin mengakhirinya secepat mungkin agar tidak ada korban berjatuhan lagi.


Sudah cukup aku melihat orang tua yang melindungi anaknya dari serangan monster, begitu juga para lansia yang mati karena tertimpa reruntuhan rumahnya sendiri.


Kondisi kota ini juga sudah cukup kacau. Beberapa rumah ada yang hancur, jalanan retak, jembatan meledak, dan bahkan hingga pada beberapa monumen yang patah.


Langit pun menjadi suram dengan warna abu-abu seperti akan turun hujan. Semakin menggelap dan mengeluarkan suara gelegar kilat yang mengentak gendang telinga.


Suara jeritan dan rasa takut, permohonan dan keinginan, semua itu bercampur menjadi sebuah keinginan untuk tetap bertahan hidup. Mereka semua panik dan tidak tahu apa yang terjadi.


Serangan terjadi di mana-mana, baik di darat ataupun langit, pasukan makhluk hitam itu menyerang membabi buta. Walaupun seperti itu aku harus tetap fokus dan menyelesaikan masalahku di sini.


Setelah aku berhasil mengalahkan makhluk raksasa ini dan masuk ke dalam aula tanpa di sadari oleh orang-orang, aku mendengar suara yang sangat tidak asing. Begitu kental akan kebencian dan juga kesedihan.


Sosoknya mungkin telah berubah menjadi orang yang tidak aku kenali. Tetapi, atmosfer yang berada di sekitarnya tetap sama... memancarkan rasa persahabatan yang penuh pengorbanan. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya setelah selama ini.


“Kau belum merasakan apa yang disebut sebagai keputusasaan. Berhadapan denganku seperti ini saja tidak berdaya... menyedihkan,” ucapnya angkuh.


“Ya. Karena identitasmu bukanlah makhluk sembarangan....”


Aku pun melepaskan pedang sihirku dan menciptakan belasan pedang


cahaya yang mengelilinginya. Begitu aku mengepalkan tanganku, semua pedang


cahaya itu langsung menyerang Meist secara bersamaan.


Namun ia berhasil mematahkan semua itu dengan permainan pedangnya. Gaya itu, teknik itu, dan kecepatan serta akurasinya... ternyata ia masih menggunakan gaya permainan pedang yang diturunkan oleh Kakakku.


“Hmm? Aku kira siapa... ternyata rupanya kau... Reiss,” ucapnya lalu menoleh ke arahku sambil mengarahkan


pedangnya dengan aura kesedihan.

__ADS_1


Aku bisa melihat jelas semua itu dari dalam niatnya yang begitu bias. Aku tidak tahu mengapa ia melakukan semua ini, tetapi yang pasti ini sudah terlalu jauh.


“Sepertinya kau tidak berubah sama sekali, Meist.”


Untuk beberapa saat kami berdua saling bertukar pandang. Aku tidak tahu apa yang ia pikirkan sekarang, tetapi aku berharap bisa segera menghajar wajahnya.


Setidaknya aku ingin memukul pipinya sekuat mungkin. Itulah tujuanku saat ini, membalas apa yang telah ia berikan padaku—pengkhianatan. Luka tikaman itu masih terasa hingga saat ini, walaupun bekas lukanya telah menghilang meninggalkan kenangan pahit.


“Apa kau siap untuk kutikam... wahai mantan sahabatku?”


“Hahahaha. Menggelikan, sejak kapan kau menganggapku sebagai sahabatmu?”


“Sejak janji saat itu,” tuturku dingin, “kalian cepatlah pergi keluar, mereka masih membutuhkan kalian... Selina, Oz, Aresya, Regin, dan Irinia. Kau bisa meninggalkan Fear bersamaku”


“T-tapi, Tuan Muda!”


“Ikuti perintahku, Oz,” ucapku dingin.


“Aha... hahahaha. Ternyata kau bisa menjadi seperti itu juga, Reiss,” timpal Meist dengan seringai kecil.


Oz yang mendengar perintahku itu hanya bisa memperlihatkan wajah kecut. Dengan cepat ia pun langsung membopong Selina dan Aresya di kedua bahunya.


“Maafkan, aku....”


Setelah itu mereka pun pergi, walaupun kulihat Selina meronta-ronta. Tetapi, mengingat kekuatan Oz yang besar, usahanya itu sia-sia dan sama sekali tidak membuahkan hasil.


Sementara itu Irina masih memperhatikanku dengan mata berkaca-kaca, tatapan itu seperti mengharapkan sesuatu. Tetapi, yang pasti aku hanya bisa membalasnya dengan senyum tipis yang mengisyaratkan ‘pergilah,


jangan khawatirkan aku’.


Melihat itu kini gilirannya lah yang membawa Regin dalam gendongannya dan melompat tinggi meninggalkan kami. Walaupun terkadang Meist mengganggunya, tapi aku langsung menggagalkannya begitu saja.


Aku tidak ingin melibatkan mereka terhadap urusan pribadiku, apalagi ini adalah momen-momen yang selalu aku tunggu-tunggu sejak beberapa ratus tahun lalu. Mengingat kehadirannya yang membuatku berada di sini, aku harus mendapatkan jawaban langsung darinya.


“Sepertinya kau memiliki rekan yang menarik, Reiss”


“Lagi pula namaku sekarang adalah Kuro. Reiss? Aku tidak tahu siapa yang kau bicarakan,” sahutku datar,


“Heh! Hanya mengganti nama tidak akan mengubah apapun, lelaki penyendiri”


“Lalu apa yang kau lakukan di sini? Tidak mungkinkan hanya sekedar berkunjung?” tanyaku sarkas.


“Apa kau buta? Lihatlah penampilanku ini? hahahahaha!”


“Ya, kau memang orang yang tidak waras. Seharusnya aku sudah tahu itu sejak pertama kali kita bertemu.”


Aku pun berjalan mendekati Fear yang masih terlihat kebingungan. Apakah ini efek dari penyatuan mereka... tapi mengapa aku baru sadar jika Velia adalah tubuh utama miliki Fear. Aku sama sekali tidak menyangkanya, tapi yang lalu biarlah berlalu.


“Apa kau datang terlambat karena sengaja ingin menjadi pahlawan kesiangan? Atau kau selama ini tahu hal ini akan terjadi?” tanya Meist sambil mendarat mulus di


lantai.


“Simpanlah itu untuk imajinasimu sendiri. Aku tidak memiliki sesuatu yang hebat seperti itu,” tuturku dingin.


“Ha?! Mungkin ini adalah takdir kita dipertemukan di tempat seperti ini, persis ketika kau berjanji akan menjadi seorang pangeran yang hebat, benar, ‘kan... Reiss,” timpalnya sembari cekikikan.


“Kau kira ini lucu? Walaupun kau berada di atas kasta yang berbeda, bukan berarti kau bisa menggunakannya untuk melakukan hal seperti ini”


“Reiss, Reiss, Reiss... meskipun ini sudah beratus-ratus tahun lamanya, kau masih memiliki sifat lembek seperti itu. Kalau begitu....”


Ketika ia menjentikkan jari, sosok Fear tiba-tiba saja menghilang. Aku tidak tahu apa yang ia lakukan kepadanya, apakah itu adalah sihir perpindahan sama seperti yang dipakai oleh Fear pada saat itu?


“Waktu terus bergulir dan hari penghakiman akan segera tiba. Kau memang seorang pemegang takdir, tapi apakah kau bisa menghentikannya hanya dengan kekuatanmu sendiri?”


“Apa maksudmu?! Ke mana kau bawa pergi Fear!”


“Dengarkan makhluk tercela—“


Huh?! Suaranya berubah?


“—Meskipun kau berhasil membangkitkan pedang terkutuk itu, kau sama sekali


bukanlah tandinganku!”


Baik penampilan dan caranya berbicara seperti tertelan oleh aura kegelapan. Sebenarnya apa yang terjadi padanya selama ini?


“Sang Penghakim, Omega! Ingatlah itu makhluk tercela, takutlah, gemetarlah, dan akui kekuasaanku!”


“Sepertinya percuma saja aku berbicara denganmu... Omega, eh? Sudah berkali-kali aku mendengar nama itu, nama yang telah diramalkan akan menghancurkan kehidupan.”


Setelah itu ia hanya tertawa terbahak-bahak dengan mulut yang merekah dan mata menyala kehijauan. Tidak lama beberapa saat sebuah lingkaran sihir raksasa muncul di tengah-tengah tempat ini.


Berbagai pilar bermunculan satu demi satu dan di pilar itu terdapat monster yang terikat oleh rantai beraura hijau.


“Musnahkanlah!”


Dari teriakannya itu muncul sebuah tekanan yang kuat dan entah dari mana tempat ini sudah dikerubungi oleh kabut hitam.

__ADS_1


__ADS_2